[GUEST] Tips Percepatan Meraih Beasiswa S2 Luar Negeri


Saat pertama kali memulai perkuliahan S1, hal pertama yang ada dalam pikiran saya adalah bagaimana caranya agar bisa menyelesaikan S1 dengan cepat, kemudian melanjutkan kuliah ke jenjang S2. Namun, pikiran saya juga sangat memahami kondisi keluarga, dimana untuk membayar biaya masuk S1 ini saja Ibu saya harus berhutang. Sangat tidak mungkin kembali membebani beliau dengan biaya kuliah S2 yang jumlahnya sudah pasti lebih besar. Artinya, saya harus mencari beasiswa S2. Tapi, saya tidak ingin melanjutkan S2 di dalam negeri. Saya harus ke luar negeri agar ilmu dan pengalaman yang didapatkan bertambah dan lebih baik. Ini berarti saya harus mengejar beasiswa S2 ke luar negeri. Praktis, sejak saat itu pikiran saya terfokus pada menyelesaikan S1 dengan cepat lalu mencari beasiswa S2 ke luar negeri. Hal yang sangat mudah diucapkan, tapi tak mudah diwujudkan.

Saya mulai mencari informasi tentang beasiswa S2 luar negeri serta bertanya dengan orang-orang yang telah berhasil mendapatkannya sambil menjalani perkuliahan S1. Hasilnya, saya menyimpulkan kebanyakan orang yang lulus beasiswa S2 ke luar negeri adalah orang yang sudah lulus S1, setelah itu bekerja selama 2/3 tahun, kemudian baru melamar beasiswa S2. Saya tidak bisa menunggu selama itu. Saya inginnya, setelah lulus S1, melamar beasiswa S2 ke luar negeri, dan lulus. Sebuah keinginan yang sempurna, tapi saya sadar tingkat kemustahilannya sangat tinggi sekali. Pikiran saya memberitahu bahwa harus ada rencana untuk menggapai keinginan ini, dan rencana itu harus sesempurna keinginan tersebut.

Singkat cerita, Alhamdulillah saya berhasil mewujudkannya. Lulus S1 di bulan April 2009, bulan Agustusnya saya melamar beasiswa International Fellowship Program, satu tahun proses seleksi, akhirnya di bulan Agustus 2010 diumumkan saya sebagai salah satu penerima beasiswa S2 ini di usia 23 tahun. Dengan beasiswa itu, saya melanjutkan studi di University of Manchester, UK. Saya yakin, keinginan saya waktu itu untuk melanjutkan S2 langsung setelah tamat S1 adalah keinginan sebagian besar orang di Indonesia. Ditambah lagi, bisa melanjutkan S2-nya di luar negeri. Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya ingin berbagi cerita kepada semua teman-teman yang punya semangat mengejar beasiswa S2 ke luar negeri tentang bagaimana cara sukses meraih beasiswa S2 luar negeri dengan cepat. Beasiswa S2 yang saya maksudkan disini adalah beasiswa – beasiswa yang di sponsori negara asing, seperti beasiswa PRESTASI, Fulbright, Australia Awards, Chevening, dan lain-lain.

1. Pahami lima persyaratan beasiswa dan mulailah penuhi satu persatu
Setidaknya ada lima persyaratan pokok beasiswa S2 luar negeri yang harus dimiliki calon pelamar. Kelima persyaratan ini tidak semuanya tercantum dalam kolom persyaratan, tetapi akan kita temui saat mengisi formulir aplikasi beasiswa. Persyaratan tersebut antara lain: TOEFL, Pengalaman Kerja, Pengalaman Organisasi, Publikasi dan Rencana Penelitian Masa Depan. Biasanya, setiap orang akan memiliki kekurangan di salah satu atau dua dari lima persyaratan tersebut, misalnya belum memiliki skor TOEFL yang cukup, belum punya publikasi, atau belum punya rencana penelitian masa depan. Oleh sebab itu, ketika sudah mengetahui persyaratan mana yang tidak dimiliki, segeralah mencari cara agar persyaratan yang kurang itu bisa terpenuhi.
 
Kata kuncinya adalah persiapan dan dimulai dari sekarang agar bisa melakukan percepatan dibanding orang lain. Dulu saya berusaha memenuhi kelima persyaratan itu sambil kuliah S1. Saya masuk ke banyak organisasi baik di kampus maupun luar kampus. Kemudian, di semester lima saya mulai menawarkan diri mengajar English Club  di sekolah-sekolah. Honornya kecil, tapi bukan itu tujuan saya. Persyaratan beasiswa S2 luar negeri salah satunya pelamar harus memiliki pengalaman kerja selama 2/3 tahun. Saya tidak mau pengalaman kerja didapatkan setelah kuliah karena akan membuat keinginan saya lama tercapai.

Semua organisasi, seminar, pelatihan, dan kerja yang telah saya ikuti dan jalankan selalu saya catat di sebuah curriculum vitae (cv), sehingga lengkap tanggal dan bulannya. Soal publikasi, saya mulai belajar menulis karya-karya ilmiah, artikel dan lain-lain sejak semester 1. Setiap lomba yang saya menangi serta artikel yang terbit dicatat di cv dan disimpan dengan baik. Saya dengarkan baik-baik ide-ide dari dosen tentang penelitian dan mulai memilah-milah mana yang cocok untuk dilakukan di S2 nanti. Untuk TOEFL, saya belajarnya di ujung waktu mendekati wisuda, lain waktu saya akan cerita tentang ini. Jadi, selama studi S1 saya berusaha melengkapi kelima persyaratan itu, hingga akhirnya saat lulus saya bisa langsung melamar beasiswa S2 luar negeri. Inilah rahasia melakukan percepatan meraih beasiswa S2 luar negeri. Kelima persyaratan beasiswa ini tidak mudah dipenuhi dan memakan waktu yang panjang, maka mulailah dari sekarang.

Bagi anda yang sedang menempuh studi S1, mulailah penuhi kelima persyaratan ini agar kalian bisa melakukan percepatan. Untuk anda yang sudah tamat S1 tetapi masih ada persyaratan yang belum terpenuhi, segera susun rencana agar bisa memenuhinya. Tidak ada kata terlambat untuk satu hal yang layak diperjuangkan.


Ada hal penting yang harus anda garis bawahi dalam memenuhi kelima persyaratan beasiswa ini. Pertama, skor TOEFL harus memenuhi standar minimal  yang ditetapkan sponsor beasiswa. Jika tertulis skor TOEFL minimal 550, jangan coba melamar beasiswa itu kalau skor anda tidak mencapainya. Skor TOEFL bisa dikatakan sebagai harga mati yang tak bisa ditawar lagi karena berkaitan dengan proses melamar ke universitas nanti. Kedua, pengalaman kerja minimal 2/3 tahun. Sebaiknya, dalam tahun yang sama anda bisa bekerja di lebih dari satu institusi sehingga setelah 2/3 tahun pengalaman kerja anda akan terlihat lebih banyak pengalaman ketika dimasukkan ke cv. Ketiga, organisasi yang disukasi sponsor beasiswa luar negeri biasanya organisasi-organisasi kemasyarakatan, berkaitan dengan isu-isu pendidikan, gender, hukum, kemiskinan, lingkungan, dan lain-lain. Keempat, publikasi bisa artikel yang terbit di koran, tulisan yang terbit dalam bentuk buku atau jurnal, dan lain – lain. Prestasi-prestasi di bidang menulis, seperti menang lomba menulis artikel atau karya ilmiah akan sangat membantu menguatkan profil anda di formulir aplikasi. Terakhir, topik tentang rencana penelitian masa depan kata kuncinya adalah penelitian itu harus bisa bermanfaat untuk orang banyak, terutama untuk komunitas yang terkait di bidang anda, bukan topik penelitian yang hanya secara teoritis saja berguna.

2. Buat perencanaan dan persiapan yang baik
Kebanyakan beasiswa S2 luar negeri ditawarkan setiap tahun. Anda bisa subscribe di website-website yang selalu update informasi tentang beasiswa. Deadline pengiriman aplikasi pun terkadang sama setiap tahunnya. Artinya, anda bisa membuat perencanaan dan memasang target beasiswa mana yang cocok dengan latar belakang anda, kemudian mempersiapkan segala sesuatunya sebelum deadline. Perencanaan dan persiapan yang matang adalah kunci keberhasilan meraih beasiswa. Terutama berhati-hatilah dalam mengisi formulir aplikasi beasiswa, jangan dianggap enteng atau mengisinya dengan terburu-buru. Kalau saya mengatakan, anda harus menyediakan waktu sekitar 2/3 bulan untuk fokus mengisi formulir aplikasi beasiswa sembari melakukan rutinitas keseharian anda yang lainnya.

Setiap pertanyaan esai yang ada di formulir aplikasi itu harus diisi dengan hati-hati dan diskusikan dengan orang lain, terutama dosen anda di S1 lalu. Isi dalam formulir aplikasi inilah nanti yang akan anda pertanggung jawabkan dan menjadi pemandu anda sampai tahap wawancara. Jadi, semuanya harus diisi dengan baik, jelas, punya argumentasi, dan lain – lain agar anda tidak kebingungan ketika sudah lulus proses administrasi menuju tahap selanjutnya. Ingat, proses seleksi beasiswa S2 luar negeri umumnya memakan waktu selama 1 tahun. Prosesnya sangat panjang dan melelahkan. Oleh karena itu, persiapkanlah semuanya dengan baik. Sponsor beasiswa mencari orang-orang yang siap secara keseluruhan, bukanlah orang yang hanya pintar secara akademik.

3. Jaga hubungan baik dengan dosen dan atasan
Salah satu persyaratan umum melamar beasiswa S2 luar negeri adalah melampirkan 2/3 surat rekomendasi dari dosen, teman kerja, atau atasan tempat kerja. Jagalah komukasi dan hubungan baik dengan dosen-dosen serta atasan kerja karena kepada merekalah anda akan meminta surat rekomendasi ini, terlebih lagi dengan mereka yang sudah bergelar Professor. Surat rekomendasi dari seorang Professor sangat kuat sekali, dan bisa memuluskan langkah anda ke tahap selanjutnya.

4. Kenali dan pahami beasiswa yang cocok untuk anda
Ada begitu banyak beasiswa S2 luar negeri, dan masing-masing beasiswa tersebut memiliki ciri-ciri scholar tertentu yang mereka cari. Anda bisa melihatnya dari informasieligibility dan profil dari beasiswa tersebut. Tidak semua beasiswa cocok dengan latar belakang yang anda miliki. Maka, cari sebanyak mungkin informasi beasiswa, kemudian disaring yang mana yang cocok untuk anda. Janganlah bergantung dengan orang lain. Saya banyak menemui orang-orang yang memburu beasiswa S2 ke luar negeri, tapi website-website beasiswa saja tidak tahu, ada yang bertanya tentang apa persyaratannya, dan sebagainya. Ini menunjukkan kalau orang itu tidak serius dan belum memahami sepenuhnya medan yang sedang dihadapi. Bila anda ingin bertanya, terutama pada orang-orang yang sudah mendapatkan beasiswa S2 itu, berikanlah pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa anda temui di website-website beasiswa, pertanyaan yang cerdas, karena sebenarnya semua informasi yang dibutuhkan seorang pelamar beasiswa sudah tersedia lengkap di website penyedia beasiswa tersebut.

5. Perbanyaklah ibadah
Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa dipahami dengan akal pikiran semata, karena semuanya pekerjaan Tuhan. Saya menyarankan, mulai sekarang, perbanyaklah ibadah, berbakti kepada orang tua, serta berbuat baik pada orang lain. Ibadah dan kebaikan-kebaikan itulah yang akan mempermudah jalan anda meraih beasiswa S2 luar negeri. Jangan menunggu sampai proses seleksi sudah terjadi, tapi mulailah dari sekarang. Sadarilah, sekali lagi saya mengatakan, proses seleksi beasiswa S2 ini sangat panjang dan melelahkan. Bila kita tidak bersandar sepenuhnya pada Tuhan, hasilnya bisa tidak sesuai harapan dan kita kehilangan hal yang diimpikan.

_____________________ 

Penulis: Budi Waluyo. Tulisan ini saya kopi dari tulisan aslinya tanpa ditambah atau dikurangi, kecuali gambar dan telah mendapat izin dari pemiliknya untuk saya posting di blog ini. Pertama kali terbit di KOMPASIANA pada 26 April 2014.Budi Waluyo adalah alumni Universitas Bengkulu, Penerima Beasiswa internasional IFP dan alumni University of Manchester, Inggris. Saat ini Budi akan melanjutkan studi S3 ke Amerika berkat beasiswa Fulbright.


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram