CINTA PERTAMA AYAHKU

Ilustrasi (sumber disini)

Aku mencintai ayahku melebihi cintaku pada siapa pun. Ayahku adalah Rajaku, pelindungku, cinta pertamaku dan tempat aku pulang. Apakah kau mengenal ayahku? Baiklah, akan kuceritakan padamu tentang ayahku, ayah terhebat di dunia. Ayahku itu adalah orang yang paling kurindukan dan paling ingin kutemui setelah aku bepergian seperti saat ini. Oh ya, ayahku juga adalah lelaki paling tampan di dunia. Itulah mengapa teman-temanku cemburu padaku dan para pria patah hati karena tak kunjung jadi pacarku. Ah, ayah...

Pagi tadi, saat aku bangun tidur dan menyambut matahari dari jendela yang menghadap ke laut lepas, aku memejamkan mata sambil membayangkan wajah ayahku. Aku sangat ingin ketika membuka mata, aku akan melihat wajah ayahku pada matahari pagi yang cantik. Sayangnya, imajinasi berlebihan dan tak ada wajah ayahku pada matahari. Tetapi tak apa, aku akan segera pulang dan bertemu ayah. 

Baiklah, sebelum aku benar-benar pulang dan bertemu ayah, aku akan duduk di sofa di hotel ini dan bercerita padamu tentang ayah. Oke, pertama-tama akan kuhidupkan kameraku, kuletakkan di atas meja yang agak tinggi dan aku duduk menghadap kamera sambil tersenyum manis dan memamerkan rambut indahku. Hm, bagaimana harus memulainya ya? Oke, pertama aku akan menceritakan satu hal tentang ayahku yang dunia harus tahu...

Oke, klik...
Namaku Diana (tersenyum mani). Ibuku bilang namaku adalah nama seorang puteri yang sangat cantik di Eropa. Saat aku lahir ke dunia ini, ayahku merasa aku adalah bayi perempuan paling cantik yang pernah ditemuinya. Jadilah namaku Diana. Ibuku juga bilang bahwa saat itu ayahku mengumumkan kepada dunia bahwa ia telah memiliki seorang puteri yang sangat cantik. Lalu, keluarga besarku mengadakan syukuran atas kelahiranku dan kata ibuku lagi, semua orang yang hadir mengatakan bahwa aku memang sangat cantik. Oke, aku berterima kasih kepada Tuhan yang telah membuat wajahku cantik dan membuat ayahku bahagia...(minum air putih, mengikat rambut dan tersenyum pada kamera, seakan-akan tersenyum pada ayah)

Kata ibuku, sejak aku lahir, ayah menjadi betah di rumah. Kata ibu juga, ayah seperti melihat sesuatu dalam diriku yang membuatnya sangat bahagia. Ayah akan selalu meluangkan waktu terbaiknya untuk bermain bersamaku, mencatat perkembanganku di buku hariannya, dan mengatakan kepada para saudara dan tetangga bahwa jika aku dewasa maka aku akan menjadi seorang puteri yang sangat cantik. Kata ibu, ayah juga mengatakan bahwa ayah akan melindungiku sampai tetes darah penghabisan. Hm, ayahku heroik sekali ya (lalu memandangi photo ayah didalam dompet...)

Hm, apa lagi ya....
Oh ya, waktu ibuku meninggal karena sakit, ayahku mengatakan kepadaku bahwa aku tak perlu sedih. Ayah akan melindungiku dan memberikan segala yang kubutuhkan (menyeka air mata). Ayah mengatakan bahwa aku tak boleh menangis. Ayah bilang, saat seseorang meninggal, maka ia akan masuk surga dan tinggal di sebuah istana yang sangat megah. Ayah juga bilang bahwa pada saatnya nanti aku dan ayah akan menyusul ibu dan tinggal di surga selama-lamanya (tersenyum). Jadi, ketika kami menguburkan ibuku, aku dan ayah menaburkan banyak sekali bunga. Waktu itu, aku berdo'a agar aku dan ayah cepat menyusul ibu dan kami akan hidup bahagia sela-lamanya (tersenyum lagi, lalu melap air mata dengan ujung jari)

Setelah itu sampai sekarang, ayah adalah satu-satunya dalam hidupku. Ayah yang menyiapkan sarapanku, pakaianku, perlengkapan sekolahku, dan membantuku merapikan kamar tidur. Ayah juga sering membacakan buku cerita dan berharap bahwa kelak aku bisa bertemu dengan Princes Diana saat aku melanjutkan sekolah ke Eropa. Saat kutanya bagaimana jika keinginan itu tak kesampaian sebab dia sungguhan seorang puteri, maka ayah bilang, biarlah kami bertemu di surga dan saling mengagumi kecantikan masing-masing. Dan benar saja, dia meninggal....

Baiklah, apa lagi yang harus kukatakan? hm...(memandang kamera bingung)
Ayahku adalah pekerja keras dan Ia bekerja keras untukku. Ayahku suka sekali menabung dan mengajariku menabung. Aku dan ayah punya banyak celengan dengan berbagai bentuk yang lucu. Kami memajang semua celengan itu di di sebuah rak buku khusus di ruang belajar dan bermain. "Boneka-boneka yang berharga..." kata ayah waktu kami memandangi semua celengan kami dengan senang hati.  Ayah bilang aku dapat memindahkan semua isi celengan itu kalau aku sudah memiliki buku tabungan. 

Saat aku masuk sekolah menengah, ayah selalu mengatakan kepadaku agar aku selalu terbuka atas segala hal yang kualami. Ayah khawatir jika aku bersedih karena seseorang menyakitiku. Aku yang cantik, kata ayah, adalah permata berharga yang harus selalu dijaga. karena itu, ayah selalu menyempatkan diri mengantar dan menjemputku sekolah. Tentu saja aku senang, dan bisa berlajar bersama teman-temanku di rumah. 

teman-temanku bilang bahwa aku memiliki ayah yang sangat istimewa. Beberapa diantara mereka cemburu padaku. Aku senang mendengarnya dan kukatakan pada ayah bahwa teman-temanku ingin menjadi anak ayah juga. Ayah hanya tertawa dan mencium keningku. Ayah bilang memiliki anak perempuan itu sebuah titipan khusus dari Tuhan, jadi memiliki artinya memiliki tiket masuk surga dan bertemu dengan Tuhan. Ayah juga bilang, memiliki puteri cantik sepertiku membuatnya merasa sangat dicintai Tuhan.  

Akan kutirukan suara ayah ya, begini "Tuhan mencintai ayah dan memberi kepercayaan kepada ayah untuk merawat seorang puteri cantik sepertimu. Bukankah nanti kau akan jadi bidadari saat kita kembali ke surga?" ayah selalu saja memiliki cara yang tepat untuk menyenangkanku. 

Ayah, aku kangen ayah, muachhhh... (mencium ayah lewat kamera)
Oh ya, kumatikan dulu ya, aku mau mandi dulu....

****

Klik...
Oke, aku sudah wangi dan siap cerita tentang ayah (melihat jam)...

Aku ingat, waktu pertama kali aku punya pacar, wajah ayah langsung pias. "Saatnya sudah dekat.." ayah hanya bilang begitu. Karena wajah ayah yang pias dan patah hati, aku memeluknya dan mengatakan bahwa ayah harus mengizinkanku jatuh cinta. Aku bilang pada ayah kalau aku menikah rumah kami akan ramai. Ayah akan punya menantu dan tentu saja seorang cucu. Ayah bilang tentu menyenangkan dan ayah berjanji tidak akan melarangku jatuh cinta pada siapapun. 

Lalu, waktu aku dan pacarku putus, aku menangis sambil memeluk ayah. Ayah bilang putus cinta itu biasa, asalkan setelah itu aku tetap semangat. Lalu ayah memberiku setangkai bunga mawar merah yang dipetiknya dari halaman. Ayah bilang, seorang perempuan akan tersenyum saat menerima bunga itu. Ayah bilang bunga mawar merah adalah tanda cinta. Tentu saja aku tahu bahwa ayah sangat mencintaiku (tersenyum sampai kedua mata hanya berupa garis)

Lalu aku punya pacar lagi, dan beberapa tahun setelahnya kami bertunangan. Ayah bilang sangat senang melihatku telah menemukan lelaki pilihan. Saat hari pertunangan, ayah bercerita ketika mendiang ibu mengenalkannya pada keluarganya. Sikap yang ramah, penuh cinta dan kepercayaan membuat ayah mencintai keluarga ibu saat itu juga. Jadi, saat hari pertunanganku, ayah menyambut keluarga besar Aldrin, tunanganku, dengan sangat ramah. Hari itu aku melihat ayah sangat bahagia. 

Ya ampun! aku belum sarapan. 
Oke, nanti akan kulanjutkan lagi, aku harus sarapan sebelum perutku marah (tersenyum nakal)

***

Klik..
Hm, perutku sudah terisi dan aku kenyang. Pipiku juga terlihat segar kan? (Menggembungkan pipi). Oke, ini cincin tunanganku (memperlihatkan cincin ke kamera) dan rencananya bulan depan aku dan Aldrin akan menikah. Oh, nggak kebayang gimana ayah bakal nangis bombay di hari pernikahanku. Aku juga sedih memikirkan ayah akan sendirian di rumah saat aku dan Aldrin pindah ke kota lain. Hm, gimana ya? (mengigit jari). Itu pikirkan nanti saja ya (mengibaskan tangan dan tersenyum manis) dan setelah pulang dari hotel ini aku dan Aldrin akan mengurus hal-hal untuk pesta pernikahan kami. Tentu saja kalau ada kesempatan ayah akan mendampingi (tersenyum lagi). klik. 

Hari ini adalah hari terakhir liburanku. Aku akan pulang dan memeluk ayah sepuasnya. Aldrin? ya Aldrin juga akan menjemputku bersama ayah di bandara. Pria tampan yang kupilih itu mana berani meninggalkan ayah dalam semua urusan yang berkaitan denganku. 

***

Hari ini aku menikah. Kulihat ayah duduk berhadapan dengan Aldrin. Wajahnya sedih bercampur bahagia. Saat momen paling sakral dalam pernikahan berlangsung, ayah mengucapkannya dengan suara berat seperti ingin menangis. Sebenarnya aku ingin segera menghambur ke pelukan ayah dan menghapus airmatanya. Tetapi, aku harus bisa belajar lepas dari ayah untuk memasuki dunia baruku. 


Dan aku pun punya kesempatan untuk menangis sejadi-jadinya saat prosesi sungkeman dilakukan. Riasan wajahku jadi belepotan dan bibiku jadi misuh-misuh karena harus menghapus air mata yang membasahi wajahku dan membenai dandanaku. Aldrin hanya mesem-mesem saat melihat wajahku berantakan karena menangis terlalu lama. Wajah ayah juga sembab.

Seminggu setelah pernikahan, aku dan Aldrin berangkat ke Maluku dan Papua untuk berbulan madu. Kami berpikir kami harus secepatnya punya momongan agar bisa menyenangkan ayah.

****

Aku melahirkan bayi kembar perempuan yang sangat cantik. Kami menamainya dengan Raihana dan Raihani. Kedua permata hatiku telah menyita perhatian ayah sampai-sampai Ia tak mau tidur dan sulit diajak makan. Ayah lebih banyak menghabiskan waktu bersama bayi kembarku dan berbicara sedikit saja padaku. Aku benar-benar cemburu...

"Mereka itu bidadari kembar ayah, turun dari surga, iya kan cantik?" ujar ayah padaku, lalu pada kedua bayiku. Aku hanya bisa gigit jari. 
"Ayah, aku kan mau gendong bayiku..." rengekku.
"Sebentar saja ya. Kamu kasih dia minum, lalu taruh lagi di di kasur biar mereka bermain-main sama kakek. Iya kan cantik?" ayah sama sekali tak menoleh padaku. Ayah terlalu sibuk dengan bayiku. 
"Ayah, dedek kan mau tidur. Jangan diajak main melulu. Tuh ayah kan belum mandi, bau tahu.." bujukku sambil mencium kemeja ayah. Ayah hanya nyengir saja dan bermain-main lagi dengan kedua bayiku yang juga tak mau tidur. 

Saat kedua bayi berusia 6 bulan, Ayah memutuskan untuk menyewakan rumah kami kepada orang lain dan membawa semua barangnya ke rumahku dan Aldrin. Aku dan Aldrin senang tentunya karena rumah kecil kami akan semakin ramai dan ayah tak akan bersedih lagi. 

Sayangnya, meski kami sudah menyediakan kamar yang luas dan nyaman baginya, ayah malah lebih banyak menghabiskan waktu di kamar bayi. Aku sampai berfikir apakah ayah sudah melupakan aku? Aku dan Aldrin hanya bisa bengong saja karena kami jadi tak punya banyak kesempatan bersenang-senang dengan kedua puteri kami. 

***

Klik...
Tuh ayah tidur disamping bidadari kembar (merekam dari arah pintu). Ayah seperti tak mau kehilangan keduanya seperti ayah tak pernah ingin kehilangan aku. (tersenyum). Lihat, kedua bidadari memegangi jari-jemari ayah. Mereka tidur dengan nafas tenang dan bibir tersenyum tipis. Apa mereka bertemu dalam mimpi yang sama?

Ah ayah...

Bandar Lampung, 25 Mei 2014

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram