Rumah Cantik di Pinggir Hutan

 


Melewati jalan desa yang diapit hutan kampus CIFOR dan hutan Penelitian Dramaga, aku dan kawan-kawanku terpana oleh suasana alami. Pepohonan ramping berlumut hijau lembut menjulang tinggi menggapai langit. Suara gemerisik dedaunan dan desau angin menambah magis suasana. Meski terletak di tengah kota yang padat, sibuk dan tak tertata, kedua hutan itu seolah-olah keajaiban yang tak tersentuh. Seperti seorang perempuan suci ditengah kotornya kehidupan manusia. Sembari menikmati replika hutan tropis ditengah padatnya wilayah barat pulau Jawa, aku bermimpi bahwa kelak Taman Hutan Kota Bandar Lampung akan berwujud seperti ini. Lalu sampailah kami di depan sebuah rumah cantik berpagar bunga kamboja. Terlempar ke Bali kah aku?

Hari itu, jum'at, 18 April 2014, aku dan kawan-kawan berkunjung ke rumah pak Doni. Beliau adalah fasilitator kegiatan lokatulis yang kuikuti di kampus CIFOR. Rumah yang berjarak beberapa kilometer saja dari kampus CIFOR itu begitu asri. Bagian sisi kanan, belakang dan kiri rumah diapit hutan. beberapa rumpun bambu membuat hutan yang tidak terlalu lebat itu terkesan begitu penuh. Bagian depan rumah berbatasan dengan jalan beraspal yang berakhir di tepi sungai Cisadane. Sebuah kenun tanaman Murbei bisa dilihat dari jalan itu. Sedangkan di kejauhan tampak siluet pepohonan dan atap sebuah perumahan.


Ceritanya, pak Doni membeli tanah gawir milik LSM Latin. Tanah itu dibelinya seharga Rp. 4 juta pada tahun 2000. Di wilayah itu, tanah gawir dihargai sangat murah karena dianggap tak ekonomis dan tidak bisa digunakan untuk membangun rumah. Tapi, dengan bekal pengetahuan tentang arsitektur tradisional Indonesia yang dibacanya dari buku-buku arsitektur, ia berhasil membangun rumah tak ubahnya hotel atau villa di Bali. 

Saat memasuki halaman depan, suara air mancur kecil menyambut langkahku. Sedangkan beberapa pohon kamboj, anggrek dan tanaman paku membuatku menghentikan langkah. Aku memandangi mereka sembari menyentuh batu-batu yang menempel kokoh di dinding pagar. Lalu saat menaiki tangga batu, mataku terpaku pada ikan-ikan di kolam yang berlarian dengan gembira. "Ini ruangan ibu mertua saya," ujar pak Doni menunjuk bangunan paling depan. "Ruangan ini yang saya bangun pertama kali. Kami ngumpul disini dulu," tambahnya lagi. Aku dan kawan-kawanku mengikuti beliau menuju bangunan kedua. 



Setelah melewati tangga batu, sampailah kami di bangunan ketiga yaitu dapur. "Nah, ini dapurnya. setiap orang makan disini." Aku merasa terpana melihatnya. Sebuah konsep rumah 'tanpa benteng' yang membuat segala sesuatunya terbuka. Bukan saja terbuka bagi seluruh anggota keluarga, juga bagi para tamu. Lalu tibalah kami di ruang tamu. Konsepnya serupa kolong rumah dalam rumah-rumah panggung. Diatas ruang tamu adalah kamar anaknya yang kedua. Ruang tamu itu hanya diisi oleh sebuah meja panjang yang merupakan bagian tengah kayu yang sangat tua dan besar. Meja unik itu diapit dua buah kursi kayu panjang layaknya di kedai kopi pinggir jalan. Begitu sederhana dan alami.



Sambil menikmati teh hangat dan mengobrol mengenai asal-muasal si rumah, mataku jelalatan memandangi alam terbuka disekitar rumah. Ada rumpun bambu, rerumputan, bunga kamboja dan sebagainya. Rumah semacam ini idaman setiap orang. Aku dan kawan-kawanku tak berhenti berdecak kagum. Apalagi obrolan kami yang sesekali diwarnai derai tawa dicandai suara binatang malam seperti jangkrik dan kodok. Suara gemuruh aliran sungai Cisadane juga mampir ketelingaku. Suasana yang benar-benar membuat hatinya nyaman dan tenang.



Pak Doni juga menyulap sebuah ruangan menjadi kantor. Ia dan teman-temannya memiliki sebuah EO bernama Penala Sinergi. Tak heran jika banyak orang bertandang ke rumahnya untuk membicarakan soal bisnis. Juga kawan-kawan aktivis yang sekedar mampir untuk mengobrol hingga mencari inspirasi untuk menulis. Dengan tulus Pak Doni juga menawarkan kami untuk mampir ke rumahnya jika kelak kami ada kegiatan di Bogor atau menyengaja ingin mencari suasana tenang untuk menulis. 

Rumah seluas 600m2 itu dibangun dengan konsep teras sering seperti konsep sawah dataran tinggi di Indonesia. Teras terendah adalah halaman dan parkir, sedangkan tiga teras lainnya untuk bangunan. Selain membeli tanah dengan harga murah, pak Doni berhasil membangun rumah dengan dana minimal. Misalnya ia menggunakan batu-batu dai sungai Cisadane untuk membuat dinding dan lantai. Ambil batu dari alam gratis toh, selagi itu belum diklaim pemerintah untuk lokasi pertambangan batu. 

Kesimpulan dari arsitektur dan biaya pembuatan rumah adalah rumah ini ramah lingkungan. Pertama, bangunan yang terpisah-pisah ternyata bisa membuat pak Doni hemat listrik. Tidak banyak listrik dipasang, juga AC. Semuanya disediakan alam. Kedua, banyak bagian rumah yang dibiarkan tidak disemen, hanya ditumpuk batu-batu kecil dari sungai saja sehingga kalau hujan air dari bagian atas tebing bisa meresap dan rumah ini tak kebanjiran. Ketiga, rumah ramah lingkungan ternyata membuat anggota keluarganya sehat walafiat sehingga dapat mengurangi biaya medis. Rumah-rumah dengan konsep semacam inilah yang menurutkua harus didorong untuk dibuat oleh masyarakat atau dikembangkan oleh para pebisnis properti. 

Depok, 20 April 2014





Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram