Raibnya 4000 Buku di Tanjung Priok


Hari itu, 21 April 2014, ketika orang-orang sibuk merayakan Hari Kartini, aku dan kawanku berpanas-panasan ke Pelabuhan Tanjung Priok. Langkah kami berdua begitu heroik untuk menyelamatkan 4000 eksemplar buku hibah dari Selandia Baru. Meski hari itu diwarnai drama pencopetan di angkot Jakarta Kota-Tanjung Priok, kami berdua begitu penuh harap bisa membawa buku-buku itu dengan menyewa sebuah pick up. Kami membayangkan ada ribuan wajah yang tersenyum saat mereka menerima buku itu. Buku dari sahabat di negeri selatan. 

Ditemani seorang pekerja kasar pelabuhan asal Tegal yang kami temui di angkot, aku dan kawanku melenggang ke area pelabuhan. "Kok belok?" tanyaku was-was saat si Mas mengajak kami masuk jalan tikus. Bukan apa-apa, perempuan selalu takut dengan berbagai modus yang mengarah pada pelecehan seksual atau perampokan. "Ya biar nggak panas aja mba jalan sini, kesana kan panas, jauh lagi," ujar si Mas dengan logat Tegal yang kental. Logatnya itu mengingatkanku pada artis Cici Tegal. Sambil meringis menahan panas, aku dan kawanku mengikutinya sampai kami menemukan bangunan yang dibuat dari bekas peti kemas. "Ihhhhh keren!!!" spontan kami berdua berteriak seperti anak kecil. Aku dan dia sama-sama suka rumah peti kemas bercat putih itu. 

Dan sampailah aku di sebuah jalan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan yang mengangkut peti kemas aneka warna dan 'merk' perusahaan. Oh, pertama kalinya dalam hidupku aku masuk ke salah satu pelabuhan paling sibuk se Indonesia. Bergunung-gunung peti kemas tersusun rapi di setiap gudang milik berbagai perusahaan. Kendaraan-kendaraan besar lalu lalang membawa barang. Kapal-kapal terlihat sandar di kejauhan. Oh, disinilah triliunan uang bekerja. "Mas kan dari Tegal, kok kerja disini? apa enaknya kerja disini?" tanyaku. Dengan logat Tegalnya itu ia menjawab ringan, "buat cari pengalaman saja mb," pungkasnya dan aku hanya manggut-manggut. Pekerja yang bijaksana dan suka petualangan. 

Hari itu, aku dan kawanku penasaran pada 4000 eksemplar buku yang katanya masih belum keluar dari pelabuhan itu. Ceritanya, temanku itu mendapat informasi dari temannya di Selandia Baru bahwa komunitas mereka telah mengirim 4000 buku ke Indonesia atas nama A yang biaya pengirimannya dibayar KBRI Selandia Baru. Buku-buku itu dikumpulkan oleh banyak orang untuk anak-anak di Indonesia. Rencananya aku akan kebagian sekitar 100 eksemplar, karena buku itu juga rencananya akan dibagikan ke puluhan Taman Baca di Jawa dan Timur Indonesia. 



Nah, masuklah kami ke kantor Bea Cukai. Meski lelah, lusuh, dan kelaparan, kami berdua mengikuti pentujuk yang diberikan untuk melapor dan bertanya kepada bagian A, B, C, D dan E. Ribet sekali. Nah, akhirnya sampailah kami harus melapor ke bagian F (aku lupa namanya) dan bertemu seorang petugas tampan bernama pak Johan, hehehe. Kawanku itu menerangkan duduk perkaranya dan kami mendapat jawaban bahwa buku itu tidak bisa kami ambil kecuali kami memenuhi prosedur yang tepat.  

"Ini pertama kalinya saya urus yang beginian, Pak. Tadi kami sudah masuk ke beberapa loket dan akhirnya diminta kesini, karena barangnya hibah," ujar kawanku saat kami menghadap Pak Johan. Setelah dicek, dengan tersenyum manis Pak Johan bilang bahwa yang harus urus adalah si penerima hibah, atau dia kuasakan kepada lembaga berbadan hukum. "Oke, kalau gitu kami pengen tahu aja nih status barangnya gimana? masih ada atau gimana? soalnya saya penasaran. Kata temen-teman saya yang di Jakarta, mereka males ngurus kesini karena ribet," kawanku lantas meminta cokelat di tasku untuk kami bagi kepada Pak Johan. "Oke, saya cek keatas dulu ya status barangnya dimana," kata Pak Johan. 

Nah, Pak Johan pergi entah kemana untuk menanyakan status barang itu. Sambil menunggu Pak Johan aku dan kawanku terkekeh-kekeh karena Pak Johan itu udah baik, cakep lagi, hehehe. Tak lama seseorang datang ke Pak Johan dan bilang bahwa ke 4000 buku tersebut belum menjadi barang negara dan masih bisa diupayakan selagi si penerima mau memberikan surat kuasa. "Soalnya, barang impor itu beda dengan barang pos. Ada aturan yang harus diikuti. Ini kan 4000 buku, nggak logis kalau penerimanya individu," kata Pak Johan menjelaskan bahwa barang individu berupa buku ya maksimal 200 eksemplar. "Ya, saya pengen tahu caranya aja, soalnya kalau nanti saya ditanya teman saya yang kirim itu kan saya enak jawabnya. Soalnya yang kumpulin buku itu banyak orang," pungkas kawanku. Dia manggut-manggut setelah mendengar penjelasan Pak Johan soal status buku-buku itu. 

Dan, pada kenyataannya sejak awal dokumen yang ada mengenai impor buku itu sudah salah.  "Nah ini lagi, yang terima kan A, tapi surat dari kejaksaan namanya D, bukannya dia orang KBRI?" dan pertanyaan itu makin memperjelas kesalahan dokumen impor. "Harus diubah. Disamakan penerimanya. Juga dokumen aslinya," dan pak Johan tersenyum melihat wajah kami yang berubah pias karena  buku-buku itu dengan jelas akan lepas. "Lain kali, kalau mau impor barang kontak kami dulu supaya dicek, kalau begini kan susah. harus urus ke pusat dan ganti nama penerima," dan kami hanya bisa nyengir karena kehabisan kata-kata.

Jadi, meski buku-buku tersebut belum menjadi barang milik negara yang bisa dilelang atau dimusnahkan, kami tak bisa mendapatkannya sebab kami harus mengulang prosedur dari awal. (pertanyaan gila kami: barang kan udah di pelabuhan, trus mesti dibalikin supaya bisa ikutin prosedur dengan benar? gile aja....), "Ya udah lah! lagian kan aku cuma penasaran pengen tahu status barangnya. Yang penting nggak dimusnahin aja," ujar kawanku sambil tersneyum simpul. Kami pun berpamitan pada pak Johan. "Enak ya kalau pak Johan yang layanin mah, " kata salah seorang petugas kepada kami sambil terkekeh-keheh dan pak Johan hanya tersenyum. 





Akhirnya, setelah sekitar 1 jam konsultasi dan bertanya banyak hal soal tata cara impor barang, kami melenggang pulang ditengah kepul polusi dari kendaraan yang lalu lalang. Tubuh lengket kami semakin lusuh karena kehilangan 4000 eksemplar buku, seakan menandakan padamnya senyuman calon pembaca buku yang kini terpenjara di pelabuhan. Dan kesedihan ini bertambah manakala aku ingat bahwa hari itu adalah Hari Kartini, peringatan tahunan kisah seorang perempuan Jawa yang dikenal dengan surat-suratnya. Bukankah seharusnya di hari nasional itu kami bisa memberikan 4000 buku kepada anak-anak yang dikhawatirkan masa depannya oleh Kartini? ah, waktu itu aku mau menangis, tapi aku malu, sebab banyak orang pulang kerja, hiks..

Nah, untuk mengetahui tata cara klaim barang impor di kantor bea cukai, kita harus memahami prosedur yang telah ditetapkan. Sebab impor barang berbeda dengan mengirim barang lewat pos. Klik BEA CUKAI

Bandar Lampung, 25 April 2014



Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram