Pilih Caleg Perempuan, Tekan Angka Korupsi


Sering kita mendengar pertanyaan seperti "Udah dikasih kuota 30%, kok perempuan nggak berani maju nyaleg?" dan berbagai pertanyaan lainnya yang menantang perempuan untuk membuktikan dirinya bisa menjadi wakil rakyat mulai dari level pusat hingga kabupaten. Ya, kita semua tentu greget sebab banyak perempuan cerdas, berpendidikan tinggi dan memiliki wawasan luas belum berani mengajukan diri untuk menjadi caleg. Tetapi mungkin masyarakat lupa bahwa 80 tahun lamanya gerakan perempuan di Indonesia dibungkam dan dihancurkan sehingga menyebabkan perempuan memilih sektor lain untuk menunjukkan eksistensi mereka. Maka, ketika keran partisipasi dibuka pada pemilu 1999, perempuan belumlah siap untuk terjun sepenuhnya sebab mereka harus membangun pengalaman politis terlebih dahulu.  

Jumlah Legislator Perempuan Harus Bertambah
Pemenuhan kuota 30% keterwakilan perempuan di parlemen adalah mandat. Jika hingga pemilu 2009 jumlah tersebut belum memadai, maka kita berharap jumlahnya akan tercapai pada pemilu tahun ini. Asumsinya adalah, para pemilih perempuan akan memilih caleg perempuan. Kekecewaan para pemilih perempuan pada partai tertentu yang dianggap korup dalam dalam kurun waktu 10 tahun kebelakang, kemungkinan besar akan beralih pada partai yang menawarkan perubahan dan memiliki riwayat cukup bersih dari KKN. 

Berdasarkan studi yang dilakukan Puskapol FISIP UI pada 2010 kita dapat menyaksikan grafik naik persentase perempuan di parlemen.  Jumlah keterwakilan politisi perempuan di DPR-RI dalam tiga periode pemilu cukup signifikan, yaitu dari 44 (8,8%) orang pada pemilu 1999, menjadi 65 (11%) orang pada pemilu 2004 dan 103 (18%) orang pada pemilu 2009. Berbagai prestasi yang ditorehkan politisi perempuan di parlemen kukira menjadi modal yang cukup untuk percaya diri bahwa pada pemilu legislatif tahun ini jumlahnya akan bertambah secara signifikan. Dengan demikian, harapan kita akan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik akan terwujud melalui kebijakan-kebijakan yang adil dan responsif gender. 

Jika membandingkan persentase perempuan di parlemen dan prestasi mereka dalam mengawal kebijakan yang responsif gender, tentu kita akan berterima kasih atas perjuangan mereka. Sehingga, di pemilu 9 April tahun ini kita memiliki alasan kuat untuk mendukung caleg perempuan mendulang suara signifikan dan duduk di parlemen. 

Selain itu, perkembangan teknologi informasi yang pesat dan keterlibatan perempuan dalam ranah publik memberi indikasi pada kuatnya harapan pemilih perempuan akan memilih caleg perempuan. Jika sebelumnya para caleg perempuan memiliki hambatan yang signifikan dalam melakukan komunikasi dengan konstituennya karena keterbatasan perangkat dan geografi, maka tahun ini ketika teknologi informasi seperti internet sudah masuk ke pelosok para caleg perempuan bisa dikenal dengan mudah melalui perantaraan media sosial seperti Facebook, Twitter, Blog, BBM dan banyak aplikasi lainnya.  

Secara pribadi aku tak pernah melakukan komunikasi langsung dengan para caleg perempuan, tetapi dengan memanfaatkan teknologi internet aku bisa mempelajari latar belakang mereka, visi-misi mereka dan mengapa mereka harus didukung sehingga aku tahu siapa caleg perempuan yang harus kupilih dan kuanggap akan memperjuangkan aspirasi kaum perempuan. Aku berharap tahun ini keterwakilan perempuan di parlemen mencapai angka minimal 28%. Kok bisa? jika kita membandingkan perolehan suara legislator perempuan dari tahun 1999, 2004 dan 2009, terdapat selisih kenaikan 2,2% suara pada pemilu 1999 ke 2004 dan 7% suara pada pemilu 2004 ke 2009. Jika pada pemilu 2004 terjadi peningkatan suara 10% dari pemilu sebelumnya, maka keterwakilan perempuan di DPR RI tercapai. 
Grafik keterwakilan perempuan di DPR-RI, jumlahnya naik secara signifikan pada pemilu 2009, dan itu memberi kita harapan bahwa jumlah keterwakilan perempuan di parlemen akan terus bertambah

Meskipun jumlah persentasenya berbeda dengan studi Puskapol UI, kita masih bisa berharap bahwa wajah-wajah baru para caleg perempuan dari beberapa partai baru, ditambah partai lama akan memberi jawaban atas mandat 30% kuota perempuan yang harus dipenuhi. Untuk mewujudkan itu semua jelas perempuan harus cenderung memilih caleg perempuan. Dan aku akan memilih caleg perempuan untuk menambah jumlah yang diharapkan tersebut. 

Banyak Kebijakan Lama Yang Harus Dikoreksi
Prestasi legislator perempuan di parlemen harus diapresiasi. Meski minoritas, di beberapa sisi perjuangan mereka telah menuai hasil. Namun demikian, masih begitu banyak kebijakan yang harus dikoreksi sehingga kebijakan tersebut bisa diamandemen dan hasilnya akan menjadi kebijakan yang adil dan responsif gender. Untuk mewujudkan harapan itu tentu saja salah satunya harus dilakukan dengan memberikan dukungan kepada caleg perempuan sehingga mereka dapat meneruskan perjuangan yang telah dimulai pada periode sebelumnya. Juga, jika jumlah legislator perempuan bertambah secara signifikan, bisa terjadi proses percepatan perubahan kebijakan-kebijakan lama yang tidak adil dan pengawalan atas kebijakan-kebijakan baru sesuai dengan isu terkait hak-hak perempuan. 

Prestasi legislator perempuan di Parlemen, patut diapresiasi.
Untuk mencapai tujuan ini diperlukan kekuatan suara perempuan di parlemen, dan karena parlemen kita berbasis suara terbanyak/ voting, maka penting sekali mendukung caleg perempuan agar keterwakilan mereka di parlemen bertambah. 

Perlindungan Anak
Isu krusial saat ini yang harus mendapat perhatian adalah soal perlindungan anak. Tindakan kekerasan terhadap anak mulai dari kekerasan oleh anggota keluarga, pelecehan seksual, prostitusi dan praktek penjualan anak, pekerja anak, dan sebagainya cenderung meningkat. Dalam hal ini bukan saja diperlukan kebijakan yang kuat dan mengikat dengan hukuman yang setimpal bagi para pelaku, melainkan juga  kebijakan-kebijakan yang mengikat bagi setiap elemen bangsa untuk bersama-sama punya kewajiban melakukan perlindungan terhadap anak-anak. 

Memberikan kepercayaan pada caleg perempuan untuk mengawal isu ini di parlemen jelas bukan tanpa alasan. Perempuan adalah ibu. Perempuan memiliki kedekatan khusus dengan anak, sehingga perempuan dianggap paling memahami anak dan memiliki pengalaman mumpuni sehingga bisa mengawal isu ini. Dengan memilih caleg perempuan, kita berharap perubahan yang lebih baik akan terwujud dan anak-anal Indonesia akan hidup dalam iklim berbangsa dan bernegara yang nyaman dan terlindungi dari segala ancaman. 


Menekan Angka Korupsi
Memang benar beberapa legislator perempuan tersandung kaus korupsi dan itu memalukan sekali. Namun, sebagian besarnya dinilai cukup bersih. Tak adil memang melihat pelaku korupsi dari sudut pandang jenis kelamin, sebab laki-laki dan perempuan memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan korupsi atau sebaliknya. Namun, jika kita berkaca pada fakta yang ada, kita harus mengakui bahwa jumlah politisi perempuan yang melakukan korupsi jauh lebih sedikit dibandingkan dengan politisi laki-laki. Bisa jadi alasannya adalah karena cara personal politisi perempuan menekan ambisi akan kekuasaan dan kekayaan lebih kuat dibanding laki-laki. 

Selain itu, karakter khas pada diri perempuan secara natural akan menghindarkannya melakukan tindakan korupsi. Beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh Bank Dunia terhadap 150 negara pada 1999 dan penelitian serupa di Peru menunjukkan bahwa tingginya tingkat partisipasi perempuan di Parlemen berdampak signifikan pada turunnya angka korupsi. Dan saatnya para politisi perempuan Indonesia menunjukkan kemampuan dan kekuatan mereka dalam menekan angka korupsi di Parlemen. 

Menyelamatkan Lingkungan Hidup
Menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) "The personal is politics", dimana hal-hal personal dalam hidup kita merupakan hasil keputusan politik. Dalam setiap rumah tangga, perempuan masih merupakan pengatur soal ketersediaan air dan pangan keluarga. Ketersediaan air dan pangan ini berkaitan erat dengan kebijakan kehutanan, lingkungan hidup, pertanian dan perdagangan. Tak pernah terbayangkan oleh kita bahwa negara kaya seperti Indonesia mengimpor pangan dari negara tak punya apa-apa seperti Singapura, Vietnam dan Malaysia. Tak semua orang paham bahwa sesungguhnya yang menyebabkan kecurangan ini adalah kebijakan. 

Selain itu, bencana banjir atau kekeringan akibat kerusakan hutan dan tata ruang yang salah menyebabkan kerugian yang sangat besar. Dalam bencana semacam ini, perempuan dan anak-anak biasanya menjadi korban utama. Perempuan bukan saja kesulitan dalam menyediakan kebutuhan keluarga, juga bagi dirinya sendiri, terutama apabila ia sedang haid atau pasca melahirkan. Pengalaman para perempuan akan dampak buruk kerusakan lingkungan akan menjadikan perempuan lebih responsif atas isu-isu lingkungan hidup. 



Bertambahnya jumlah keterwakilan perempuan di parlemen diharapkan akan mampu memperjuangkan kebijakan demi penyelamatan lingkungan hidup yang saat ini kondisinya semakin rusak. Aku yakin perempuan lebih paham memahami mengapa begitu penting menyelamatkan lingkungan hidup, karena itu berkaitan langsung dengan kehidupan pribadi seluruh warga negara Indonesia. Tanpa lingkungan hidup yang baik, kita tak mungkin bisa hidup tenang dan nyaman di negeri ini. 

Meskipun data WALHI menyatakan bahwa caleg pro lingkungan hanya berjumlah 7%, namun kita tak boleh berkecil hati. Saat ini beberapa aktivis perempuan yang memiliki latar belakang di organisasi lingkungan hidup dan semacamnya yang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Meski jumlah mereka lebih sedikit dari harapan, ini tetap menjadi pertanda baik bahwa kedepan para legislator perempuan bisa memperjuangkan isu ini lebih massif lagi. Secara pribadi, aku akan mendukung caleg perempuan yang memiliki visi-misi memperjuangkan lingkungan hidup. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam LOMBA BLOG TENTANG CALEG PEREMPUAN UNTUK BLOGGER INDONESIA "KENAPA PILIH CALEG PEREMPUAN"


Bahan bacaan:
LIPI dan Konrad Adenauer Stiftung, 2012, Perempuan, Partai Politik, dan Parlemen:  Studi Kinerja Anggota Legislatif  Perempuan di Tingkat Lokal
http://www.tempo.co/read/news/2014/04/03/078567689/Minim-Caleg-Perempuan-Yogya-Teken-Kontrak-Politik
Dina Martiany, Signifikansi Representasi Perempuan Indonesia di Parlemen
http://mahasaksiindonesia.tumblr.com/
http://kitabasmikorupsi.blogspot.com/2012/12/sebagian-wajah-wajah-memalukan-mau.html
Kertas Kerja Kebijakan Gender WALHI, 2007
http://news.bisnis.com/read/20140217/355/203838/kemampuan-caleg-pria-wanita-sama-tapi-beda-soal-korupsi
https://id.berita.yahoo.com/kpi-legislatif-perempuan-relatif-lebih-bersih-korupsi-072211749.html
http://acch.kpk.go.id/perempuan-versus-korupsi;jsessionid=FDE5108420D5C19CB2944C2E689E67FF
http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/03/10/269561083/Walhi-Hanya-7-Persen-Caleg-yang-ProLingkungan
http://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=1628


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram