Mengais Rupiah di Emperan Jakarta Kota



Saat kaki melangkah keluar dari stasiun Jakarta Kota, maka tampaknya puluhan lapak pedagang kecil memenuhi trotoar. Aku berusaha memotret dengan Tabletku dan serta-merta seorang pria menunjukkan dua jari saat melihatku hendak memotretnya. Sebut saja TT, lelaki penjual tahu goreng dan embacang pas didepan jalan keluar stasiun mengaku telah berjualan sejak 1997. "Dulu kan di dalem. Sejak ada commuter itu kita diluar," ujarnya. Meskipun sebenarnya dilarang berjualan di trotoar sekitar stasiun, tapi ia mengaku bahwa ia dan pedagang lainnya tak punya pilihan lain. Para penumpang kereta kan konsumen yang membutuhkan makanan dan minuman. Mereka konsumen yang sangat potensial. "Lumayan lah mba buat hidup," pungkasnya sambil tersenyum. 

Seorang pedagang yang ngobrol dengan konsumennya



Aku mencoba berkeliling dan melihat-lihat. Ada seorang gadis yang menyiapkan jualannya berupa aksesoris. "Pilih aja mbak, " ujarnya ramah sambil menyusun aneka aksesoris yang diambilnya dari sebuah kantong belanjaan. Ada sepasang ayah dan anak yang menikmati lontong sayur. Ada seorang karyawan yang dengan lahapnya menikmati gado-gado. Sedangkan para pedagang umumnya menata dagangan mereka. Hatiku berdesir melihat kerja keras dan sikap pantang menyerah mereka. Meski di beberapa sisi aku merasa mereka curang. Misalnya si pedagang gado-gado tak menutup dagangannya sehingga beberapa lalat asyik mencari makan di atas sayuran dan gorengannya. 

Dengan kerja keras demikian, apakah mereka berhasil mengumpulkan rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidup? padahal dalam sehari mereka harus menyetor Rp. 3.000 untuk uang kebersihan. Meski aku tak tahu apa yang dikerjakan petugas kebersihan karena wilayah itu terkesan kotor dan kumuh. Sampah dimana-mana. Lalat-lalat berterbangan. 

Membandingkan kehidupanku dengan mereka aku menjadi bersyukur. Aku bisa sekolah tinggi, menikmati hidup sesukaku dan kadangkala bisa leha-leha karena masih hidup sendiri. Semoga, dengan mengingat kehidupan mereka aku menjadi pribadi yang rendah hati, tidak ambisius dan selalu semangat untuk bekerja keras. 

Depok, 22 April 2014


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram