Melepas Cinta



Ia terpana tatkala matanya terpaku pada setangkai dandelion yang menari tertiup angin. Ia melihatnya pertama kali saat mengambil bola kecil milik puteranya. Dandelion itu tumbuh di dekat serumpun bunga liar berwarna merah muda dan kuning, dibalik batu besar, di dekat tebing. Ia memetiknya satu. Memandangnya sebentar dengan kedua mata menyipit dan kening berkerut. Ia mendekatkan bunga liar itu ke cuping hidungnya sambil memejamkan mata. Mulutnya terbuka perlahan, mengucapkan sesuatu yang hanya bisa didengar angin. 

Ia melangkah cepat menuju puteranya yang menunggunya, meminta bola di tangannya. Ia melempar bola itu dan anaknya menangkapnya sambil melompat. Mereka tertawa bersama. Sembari melihat puteranya bermain bola sendirian, ia duduk di kursi kayu sambil memandangi dandelion di tangan kirinya. Seketika wajahnya memerah. Panas. Bunga itu membawanya ke masa lalu, kepada seorang perempuan asing.

Ia hendak ke cafetaria ketika sepasang matanya melihat seorang perempuan melangkah ke halaman sembari menggeret sebuah koper besar berwarna merah menyala. Ia terpaku melihat perempuan itu. Ia bertanya siapakah perempuan dengan style yang tak pernah ditemuinya di negaranya. Perempuan itu memakai penutup kepala hingga ke dadanya berwarna semerah kopernya. Wajahnya oval seperti bulan purnama yang diselubungi kain. Perempuan itu berhenti di depan ruang 114, menyandarkan kopernya ke dinding. Perempuan itu lalu berdiri, menoleh ke arahnya dan tersenyum manis. Pertama kalinya seumur hidupnya ia melihat senyum yang sangat manis dengan pancaran mata yang bening. Ia tahu perempuan itu tulus. 

Tak lama kemudian perempuan itu mengambil kunci dari saku jaket cokelat dari kulit berwarna cokelat. Tak lama ia menggeret kembali kopernya dan masuk kedalam apartemen yang hingga kemarin masih kosong. Lalu ia tak melihat siapa-siapa dan merasa heran mengapa ia harus berdiri seperti patung hanya karena kedatangan seorang perempuan dengan senyum yang sangat manis. Perempuan itu telah masuk dan mungkin sedang berbaring di ranjang barunya di lantai atas. Ia melangkah sambil bersiul-siul saat melewati ruangan 114. Hatinya kembang kempis.

Sekarang ia tak tau dimana perempuan itu. Tujuh tahun sejak perempuan itu memutuskan untuk kembali ke negaranya ia tak pernah menerima kabar darinya. Kabar terakhir yang ia dengar perempuan manis itu tinggal di sebuah pulau di utara Sumatera. Dan tiba-tiba saja ia ingin bertemu perempuan itu. Mungkin untuk berbagi cerita sambil menikmati secangkir cappucino. Atau berjalan-jalan berdua di taman sambil menggoda burung-burung merpati dengan dengan sekantung jagung kering. 

"Dad, are you okay?" Puteranya menepuk bahunya. Oh, rupanya ia tidak mendengar panggilan puteranya. "I am okay, of course..." Ia mengacak rambut pirang puteranya, menciumnya. Lalu dengan sigap ia menendang bola ke arah anaknya yang buru-buru berlari ke arah halaman hijau. Ia tersenyum. Ia merasa bahagia melihat pertumbuhan puteranya selama beberapa tahun terakhir. 

Ia menunggu gelisah di ranjangnya, tak sabar untuk mendengar cericit burung pukul 5 pagi. Ia ingin bertemu perempuan manis itu. Ia ingin melihat senyum manisnya, dan mungkin menciumnya dengan tiba-tiba. Ia berguling ke kiri, menopang kepalanya dengan lengan kanan, dan ia membayangkan bisa menikmati senyum manisnya setiap hari. Lalu ia telentang dan melipat kedua tangannya di kepala, diatas bantal. Matanya terpejam dan membayangkan bahwa suatu saat ia akan berjalan berdua saja dengan perempuan itu di sebuah pantai di Miami atau Thailand atau Bali. Ia juga penasaran mengapa ia harus memakai penutup kepala dengan kain merah itu. Apakah ia tak punya rambut? Atau ia sengaja menyembunyikan rambutnya yang seindah milik Rapunzel?

Pagi hari, ia sengaja menunggu perempuan itu keluar agar bisa berkenalan dan berceloteh tentang udara pagi yang selalu dingin. Benar saja, setelah sepuluh menit menunggu, ia melihat perempuan itu keluar. Ia memakai jeans, kemeja krim selutut, dan jaket kulit. Ia memakai penutup kepala berwarna cokelat hangat. Ransel hijau tua yang menempel di punggungnya umpama cangkang kura-kura. Serta merta ia membuka pintu, menguncinya dan buru-buru mengikuti langkah perempuan itu. 

"Hi, are you the newbie?" dan perempuan itu mengangguk, lalu tersenyum manis.
"Jeremy." Ia mengulurkan tangannya yang dingin. Perempuan itu menyambutnya. Ia bisa merasakan tangan yang halus, kecil dan hangat. "Aliya." Perempuan itu menyebut namanya. 
"Oh, that's  pretty as you.." Ia benar-benar suka melihat senyum manisnya.
"Ohh...thank you." Ia kembali bisa menikmati senyum manis perempuan itu. Mereka berbincang sambil berjalan terburu-buru agar cepat sampai di halte bis. Dan ia tak menyia-nyiakan kesempatan untuk duduk berdampingan dengan Aliya sambil mengobrol tentang banyak hal. Ia sangat terkesan ketika tahu bahwa Aliya berasal dari Sumatera, karena itu mengingatkannya pada sebuah merk kopi populer di tempatnya. 
"I brought some coffee from my hometown. You shall try it. Come to my room." Dan ia ingin sekali berteriak gembira sambil berjingkrak-jingkrak saat mendengar tawaran manis itu. Ia berjanji tak akan melewatkan kesempatan menikmati kopi Sumatera dan senyum manis Aliya. "Of course, Aliya..."
Ia bertanya soal penutup kepala. "Hm, Aliya, hm...what is this? I mean why you have to cover your head, your hair?" Ia gugup dan khawatir Aliya marah karena ia bertanya soal privasinya.
"I am a Moslem." Jawab Aliya tegas, sambil tersenyum manis.
"I see..."

Ia bangkit dan berjalan menuju puteranya yang masih saja asyik memainkan bola. Ia berkata bahwa ia akan kedalam dan mengirim email kepada seorang teman di Asia. "Yes, Dad." Puteranya memberi persetujuan dan melanjutkan menendang-nendang bola sendirian. "Thank, you. And, oh... be careful with those rocks!" teriaknya dari pintu. Ia tak ingin puteranya melihat rahasianya dibalik batu dekat tebing. 

Ia membuka MacBook, menulis email singkat untuk Aliya. Berharap perempuan itu tak lupa padanya. 

Dear Aliya, 

How are you? How have you been doing? 

Miss you so badly

Jeremy,
 

Dua bulan lamanya ia menunggu. Tak ada balasan. Ia merasa Aliya telah melupakannya atau mungkin membencinya. Tetapi setidaknya Aliya bisa membalas emailnya dan mengatakan tak perlu berhubungan lagi dengannya. Ia begitu gelisah. Ia tak bisa tidur dan tak selera makan. Ia hanya ingin mendengar kabar Aliya. 

Pada bulan keenam ia semakin gelisah. Tak ada balasan dari Aliya. Ia tak tahu siapa teman Aliya. Dulu ia hanya peduli pada Aliya seorang. Ia hanya melihat Aliya dan hanya ingin tahu tentang Aliya. Ia heran mengapa Tuhan mengirim perempuan manis itu padanya dan membuatnya tergila-gila. Ia begitu muda dan dengan mudah jatuh cinta pada Aliya. Ia tak ingin melepas Aliya dan ingin memeluknya setiap hari. 

"Jeremy? Are you okey honey?" tiba-tiba ia dikejutkan oleh Jessie, istrinya saat ia tersadar bahwa ia menangis. "Oh, I'am okay..." Ia tersneyum pada Jessie yang membawa segelas jus jeruk. "What honey?....hm...do.. you know a cute girl named Aliya?" dan Jessie hanya berdiri memantung dengan kening berkerut. "I know her well. You too..." Jawab Jessie.
Ia mengerutkan kening. Ia merasa bingung. "Are you sure, honey? who is she?"

Dan Jessie tiba-tiba tertawa. Jessie duduk disamping Jeremy dan menaruh nampan di pangkuannya. Ia lalu bercerita bahwa Aliya adalah tokoh dalam novel Jeremy yang tak pernah diterbitkan. Jessie mengingatkannya bahwa sebulan sebelum novel itu dikirim kepada editornya, ia melihat seorang perempuan yang sangat mirip tokoh Aliya di Schiphol Airport, saat ia dan Jessie dalam perjalanan liburan ke Netherland. 

Selama di Belanda itu, liburan mereka pun dipenuhi kegiatan mencari si gadis misterius. Ia dan Jessie begitu penasaran mengapa ada seseorang yang sangat mirip dengan tokoh dalam novelnya padahal mereka baru bertemu setelah naskah novel itu rampung. Sebulan pencarian yang melelahkan tak menghasilkan apa-apa selain rasa penasaran. Lalu Ia dan Jessie memutuskan untuk tidak mengirimkan naskan novel itu sebelum bertemu dengan gadis itu. 

"We will never see her again. What now?"
Jessie memeluk suaminya. "Just like a dream. It will never come twice, honey. Forget it..." Jessie bangkit setelah mencium pipinya. Tetapi ia merasa sangat heran dengan dirinya. Ia merasa bahwa ia pernah puluhan kali memeluk Aliya dan berjalan bersama ke halte bis setiap pagi. Ia juga masih ingat rasa kopi Sumatera yang Aliya bawa dari pulaunya. Ratusan kali Aliya meracik kopi untuknya. Siapa yang ilusi sehingga ia harus melepas Aliya?

Dan tak ada email dari Aliya pada bulan ke 12. Ia heran mengapa dandelion itu ingin ia lihat dan bola puteranya nyasar ke bebatuan di tepi jurang. Dua bulan lalu dandelion itu mati, layu seperti tak pernah hidup dengan segarnya. Ia berusaha melupakan drama dandelion dan Aliya. Melupakan harum kopi Sumatera, senyum manis yang tulus, getah rumput dan dandelion. Ia kini lebih sering menemani puteranya bermain di halaman sambil sesekali menulis tentang langit, laut dan rindu. 

Bogor, 16 april 2014


Sumber gambar:


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram