Drama Copet Depok-Jakarta


Kemarin, ada dua peristiwa perihal copet-mencopet di kendaraan umum. Meski keduanya terjadi di jenis kendaraan umum berbeda dengan modus berbeda pula, namun mereka memakai manajemen serupa. Perihal pertama hanya kudengar ceritanya, dan perihal kedua terjadi didepan mataku. Aku dan temanku panas dingin dibuatnya. Ingin sejauh-jauhnya meninggalkan Jakarta. 

Jam 9.30 pagi aku naik Commuter Line dari stasiun UI ke Jakarta Kota. Aku punya janji dengan seorang teman untuk mengurus buku hibah dari New Zealand di kantor Bea Cukai pelabuhan Tanjung Priok. Kereta penuh sesak sebagaimana biasanya. Tapi berhubung masih pagi, tubuh penumpang masih semerbak wangi karena parfum di baju mereka. Sepanjang Depok-Jakarta aku berdiri layaknya ikan teri dalam toples. Tapi tak apa, kalau bonusnya adalah 500 eksemplar buku untuk perpustakaan. 

Eh, ternyata menurut salah seorang penumpang, ada dua pencopet berjilbab di gerbong kami. Ketika ada seorang ibu berteriak bahwa ada copet berjilbab, beberapa cewek berjilbab singut. "Ntu dia kali copetnya ya. Klo tersinggung berarti ngerasa kan?" ujar seorang ibu. Ibu tersebut mengatakan kepada petugas yang datang ke arah kami bahwa manajer si copet itu ada di gerbong campuran yang berbatasan dengan gerbong perempuan. Sayangnya si petugas mengaku nggak bisa melakukan apa-apa karena ia sibuk mengurus beberapa ibu hamil yang nggak dapat kursi. Ya, zaman sekarang, sangat sulit menemukan perempuan muda mau mengalah pada bu hamil. 

Si ibu juga mengaku bahwa sebelumnya ada seorang mahasiswa yang kehilangan laptop dan BB di commuter yang begitu padat. Namun ia mengaku tak mau meneriaki si copet karena takut si copet berteriak balik. "Saya pernah tuh neriakin copet eh saya yang mau digebukin! makanya sekarang mah diem aja klo lihat copet. Takut jadi sasaran," katanya sambil tersenyum miris. Aku mengangguk-angguk saja dan sepanjang perjalanan itu aku memeluk ranselku di bagian depan. 

Setibanya di stasiun Jakarta kota yang jelek dan kuno, aku bertemu temanku. Lalu kami naik angkot jurusan terminal Tanjung Priok. Disepanjang perjalanan kami mengomentari buruknya drainase dan panasnya Jakarta bagian utara. Ya, semakin ke utara semakin terasa joroknya Jakarta. Kami banjir keringat dan ya muka kami lusuh seperti baru pulang berkebun. Penumpang lain juga sama banjir keringat. Hanya saja mereka tak selusuh kami karena sudah terbiasa dengan kehidupan Jakarta. 


Tiba-tiba masuklah seorang lelaki berkemeja putih ala orang kantoran. Ia membawa tas hitam, sepertinya untuk menaruh laptop atau berkas-berkas kantor. Tak lama berselang naiklah dua orang pengamen kedalam angkot. Sebenarnya sih mereka bukan pengamen. Mereka tak menyanyi. Hanya mengatakan bahwa kami harus berhati-hati dengan ponsel kami. Keduanya hanya mengucapkan beberapa kalimat yang bernada pemberi peringatan pada copet. 

Nah, saat kedua orang itu terus berbicara ada sepasang mahasiswa yang sibuk mencari uang receh di tasnya. Setelah keduanya memberi uang receh itu, kedua pengamen pergi.Eh, tiba-tiba di bapak berkemeja putih nyeletuk bahwa ia melihat ponsel si mahasiswa jatuh dan diambil di copet. Tak lama ia turun. Serta merta kedua mahasiwa tadi turun dan mengejar si pengamen. Aku dan temanku hanya bisa melongo. Kupikir sih kedua mahasiswa tadi kena hipnotis sehingga ketika kedua pengamen bilang mereka harus berhati-hati dengan ponselnya, dengan refleks mereka memegang ponselnya. Nah, ketika perhatian mereka teralih pada uang receh, si orang ketiga beraksi. Dan, raiblah si ponsel yang tadi dijaga. 

Jadi, menurut temanku, yang mencopet itu ada 3 orang. Pertama di bapak berkemeja perlente ala orang kantoran dan dua pengamen yang nggak ngamen tapi maksa minta duit receh. Pembagian tugasnya jelas. Si bapak perlente mendekati calon korban dan si pembantunya mengalihkan perhatian. Ah ah Jakarta.

Dua bulan lalu aku juga hampir jadi korban copet di angkot Rajabasa-Tanjung Karang, Bandar Lampung. Kedua copetnya ganteng yang lebih pas jadi karyawan. Untungnya sejak awal mereka naik aku udah curiga jadi aku memeluk ranselku sambil memandangi si copet. Dan ya tuh copet sial.


Lindungi Ransel 
Tips paling sederhana untuk menghindari copet adalah dekap tas/ ransel kuat-kuat saat berada di kendaraan umum, apalagi yang sepenuh commuter line. Kalau bisa peluk ransel/ tas di bagian depan. Jangan sekali-kali terpancing dengan aktivitas atau tepukan mencurigakan. Hati-hati pada orang disekeliling kita. Lalu, fokus. Pokoknya fokus aja dengan melihat dan mendengarkan hal-hal disekeliling, da jangan biarkan pikiran kosong yang biasanya mudah kena tipu/hipnotis. Oh ya, kalau punya cover buat ransel mending dipake juga supaya lebih aman dan terkendali.

Depok, 22 April 2014
Sumber gambar
http://eengsu.wordpress.com/2010/04/06/ciri-ciri-copet-dan-cara-menghindari-copet-diangkot/





Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram