Alasan Memilih Caleg Perempuan


Ya, pesta demokrasi tinggal menghitung hari. Rabu, 9 April adalah hari yang istimewa bagi masyarakat Indonesia yang akan memilih wakil rakyat yang akan duduk di DPR, DPD dan DPRD. Bagi masyarakat Lampung, pada hari yang sama akan dipilih Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru. Bukankah itu sebuah pesta demokrasi yang teramat meriah? sayangnya tak ada satupun politisi perempuan yang mencalonkan diri menjadi calon Gubernur atau Wakil Gubernur Lampung. Apakah politisi perempuan di Lampung dijegal secara sengaja untuk menjadi calon Lampung 1 atau memang mereka belum memiliki kapasitas untuk sejajar dengan politisi pria dalam memperebutkan kursi istimewa tersebut?

Maka, aku tergelitik untuk menulis mengenai hal krusial dalam pilih-memilih calon wakil rakyat dari kalangan perempuan yang selama ini hanya digadang-gadang sebagai 'keterpaksaan partai politik' dalam upaya pemenuhan kuota 30% keterwakilan perempuan di gedung dewan. Tulisan ini kupersembahkan bagi para politisi perempuan, calon pemilihnya dan bangsa ini secara umum. Berikut ini adalah alasan-alasan mengapa aku dan para perempuan sebaiknya memilih caleg perempuan pada pemilu legislatif 9 April 2014 ini: 

Belajar dari prestasi politisi perempuan dunia
Sejak lama aku selalu terkesan oleh banyak kisah tentang para pemimpin dan politisi perempuan dunia. Sebut saja Benazir Bhutto dari Pakistan, Malalai Zoya dari Afghanistan, Aung San Suu Kyi dari Myanmar, Hillary Clinton dari USA, Angela Merkel dari Jerman, Corazon Aquino dari Filipina, Begumm Khaleda Zia dari Bangladesh, Chandrika Kumaratunga dari Srilanka, Dilma Rousef dari Brazil dan yang lainnya. Nama-nama besar itu mengguncang dunia bukan saja karena keberanian mereka untuk memikul tugas publik yang berat, namun juga dalam menghadang resiko dan ancaman yang begitu dekat dalam perjuangan mereka. Angela Merkel yang dicintai dan dibenci secara bersamaan ini misalnya bahkan dinobatkan sebagai politisi perempuan paling berpengaruh dan hebat versi majalah Forbes tahun 2012 karena kesungguhannya dalam meredam krisis utang Uni Eropa. 

Yuk belajar dari Angela Merkel, politisi perempuan tangguh dari Jerman
Memilih terjun ke dunia politik dan menjadi 'penolong' bagi masyarakat yang lemah bukan perkara mudah bagi perempuan manapun di seluruh dunia, sebab sejak lama selalu dianggap sebagai warga dunia kelas dua. Perjuangan mereka di ranah global maupun di negara masing-masing seperti mengatakan kepadaku bahwa perempuan lebih dari sekadar mampu menjadi pemimpin, melainkan sebuah keharusan dalam kondisi-kondisi yang rentan. 

Di Indonesia juga aku mengenal banyak nama para tokoh perempuan yang menjadi pemimpin yang terus dikenang hingga hari ini, seperti Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Kartini, dan sebagainya yang merupakan generasi pra-kemerdekaan. Kepemimpinan mereka banyak menginspirasi kaum perempuan Indonesia untuk bangkit menjadi perempuan terdidik dan berjiwa pejuang. Termasuk kisah-kisah heroik para politisi perempuan yang sejak beberapa tahun kebelakang menjadi sorotan publik seperti Megawati Soekarnoputri, mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Khofifah Indah Parawansa, Meutia Hatta dan sebagainya. Eksistensi mereka dalam panggung politik dan pemerintahan di Indonesia bukan saja memberi dampak positif bagi bangkitnya gerakan perempuan Indonesia, juga menjadi bukti bahwa perempuan memiliki kemampuan yang setara dengan lelaki dalam mengurus urusan publik. 

Tak terbayang jika di dunia ini para perempuan tidak pernah eksis dalam urusan publik dan politik. Dunia dan kehidupan akan dikendalikan atas kehendak laki-laki dan menjadi tidak seimbang. Jadi, perempuan harus eksis dalam urusan publik. Perempuan harus ada dan memberi kontribusi dalam keputusan-keputusan politik. Bahkan dalam kondisi tertentu, perempuan harus memimpin perubahan dan menjadi aktor utama yang menggerakkan perubahan. Inilah alasan pertama aku mendukung caleg perempuan. 

Yang Personal adalah Yang Politis
Percaya atau tidak, setiap hal dalam kehidupan kita merupakan hasil keputusan politis. Sebut saja air yang kita minum, bahan pangan yang kita makan, pasar tempat kita berbelanja, pakaian yang kita kenakan, rumah yang kita tinggali, udara yang kita hidup, kendaraan yang kita pakai sehari-hari, jalanan yang kita lalui, tata kota yang kita kagumi atau benci, lampu jalan yang berwarna-warni, trotoar yang kita lewati, acara televisi yang kita tonton, konten media cetak yang kita baca, film kartun yang disukai anak-anak kita, pembalut yang kita pakai setiap bulan, listrik yang kita pakai setiap waktu, gadget kesayangan kita, mode yang berkembang, hingga kosmetik yang kita gunakan. Kesemua hal itu merupakan hal pribadi bagi kita, tetapi banyak diantara kita yang tak sadar bahwa kebutuhan pribadi kita sekalipun ditentukan oleh keputusan politis, yang palunya diketuk di gedung dewan. 

Organisasi lingkungan hidup terbesar di Indonesia, WALHI, bahkan menyatakan dalam kertas kebijakannya soal ini. "The personal is politics" atau yang personal adalah yang politis. Kebijakan ini, sebagaimana telah kujelaskan sebelumnya, untuk mengingatkan kita semua bahwa hal-hal personal dalam hidup kita ditentukan oleh keputusan politik. Jika politik menghasilkan kebijakan yang baik maka kebaikan akan hadir di rumah kita bahkan baik untuk pribadi kita, dan sebaliknya. WALHI memberi contoh, jika kebijakan lingkungan hidup dipolitisir mengikuti kehendak pengusaha dan penguasa, maka perempuan adalah pihak pertama yang akan menanggung dampaknya mengingat perempuan adalah pengatur kebutuhan keluarga mulai dari air, pangan, kesehatan dan pakaian. Jika bangsa ini mengalami krisis air misalnya akibat kebijakan kehutanan dan tata kota yang kacau balau, maka perempuan akan kesulitan melakukan pemenuhan akan kebutuhan air bersih untuk dirinya sendiri, keluarganya dan masyarakat secara umum, sebab secara persentase kebutuhan perempuan akan air lebih besar daripada laki-laki (terutama saat haid dan pasca melahirkan). Dengan demikian, maka perempuan harus menentukan sikap politiknya untuk bukan saja agar hak dan kebutuhannya terpenuhi, juga agar hak dan kebutuhan masyarakat secara umum terpenuhi. 

Secara pribadi aku memandang kebijakan pemenuhan kuota 30% keterwakilan perempuan di gedung dewan sebagai langkah awal bagi perjuangan sesungguhnya. Sebab, hal paling krusial atas eksistensi perempuan di kursi legislatif bukan terletak pada persentase keterwakilan, melainkan suara dan dukungan untuk memenuhi hak dan kebutuhan perempuan sebagai anggota masyarakat. Jika legislator perempuan mampu menggiring suara para legilsator lainnya baik perempuan maupun laki-laki untuk mendukung sebuah kebijakan yang pro terhadap hak perempuan dan anak misalnya, maka sedikit atau banyaknya jumlah perempuan tidak menjadi soal. 

Namun, kebiasaan DPR dalam menggunakan perolehan suara terbanyak/ voting dalam pengambilan keputusan menjadi tantangan tersendiri sehingga saat ini kuantitas legislator perempuan menjadi sangat penting untuk mendulang dukungan akan kebijakan yang pro terhadap hak dan kebutuhan perempuan. Hal inilah yang menjadi alasan kedua bagiku untuk mendukung dan memilih caleg perempuan dalam pemilu kali ini. Dengan harapan, kuota mereka bertambah di parlemen dan suara perempuan akan didengar. 

Dari Perempuan Untuk Perempuan
Diakui atau tidak, legislator perempuan telah banyak mendorong lahirnya kebijakan yang pro terhadap perempuan. Sebut saja berdirinya Komnas Perempuan; lahirnya kebijakan mengenai kesetaraan gender di lingkup eksekutif mulai dari pemerintah pusat hingga kabupaten, dipercayanya beberapa politisi perempuan memegang jabatan sebagai Menteri, Gubernur, Walikota, Bupati, Camat hingga posisi strategis lainnya di pemerintahan termasuk menjadi pemimpin partai politik; dimasukannya konsep kesetaraan gender sebagai tolak ukur dalam berbagai kebijakan seperti anggaran yang responsif gender; UU Pornograi, RUU Perlindungan PRT, UU Perlindungan Anak; UU Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; UU Penghapusan KDRT dan sebagainya. Dengan demikian, eksistensi para perempuan berpendidikan, berkomitmen sosial tinggi dan hebat dalam pemerintahan akan semakin memudahkan terwujudnya agenda pemenuhan hak perempuan dan anak. 


Kita tak boleh tutup mata dan melupakan bagaimana kerasnya perjuangan legislator perempuan di gedung dewan. Bukan saja untuk mempertahankan eksistensi para legislator perempuan yang punya prestasi, juga untuk menumbuh suburkan dukungan atas lahirnya kebijakan-kebijakan baru yang pro terhadap hak-hak perempuan atau koreksi atas berbagai kebijakan lama yang cenderung merugikan perempuan. Aku meyakini bahwa perempuan akan berjuang untuk perempuan, sebab mereka paham betul kebutuhan perempuan. Ya, inilah alasan lainnya mengapa aku akan memilih caleg perempuan. Dengan memilih caleg perempuan, aku berharap dukungan untuk politisi caleg perempuan akan semakin besar dan kesempatan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik akan terwujud dengan lahirnya kebijakan-kebijakan yang adil dan pro hak perempuan. 

Peran Perempuan Tak Boleh Dilupakan
Kita tak boleh lupa bahwa selama kurun waktu puluhan tahun sebelum dan sesudah proklamasi kemerdekaan pada 1945, perempuan Indonesia telah banyak melakukan gerakan-gerakan politis dan kebangsaan. Namun, karena kepemimpinan laki-laki yang dominan menyebabkan gerakan ini padam dan sebagiannya 'sengaja' dipadamkan. Organisasi perempuan yang ada dan didukung negara hanya organisasi-organisasi yang para istri pegawai negeri sipil, seperti Dharma Wanita. Perempuan tak boleh independen dan harus selalu berada dan mengekor laki-laki. Sejak pemilu 1999 keran itu telah kembali dibuka. Para perempuan dipanggil kembali untuk bersama laki-laki memperjuangkan hak-hak masyarakat melalui jalur politik. 

Sayangnya, sumbatan atas peran perempuan selama kurang lebih 80 tahun telah menyebabkan keterkejutan. Perempuan yang serta-merta diminta tampil belumlah siap. Kecerdasan mereka dalam memimpin belum bisa dibuktikan sebab menjadi politisi membutuhkan pengalaman lapangan yang mumpuni. Permintaan pemenuhan kuota 30% keterwakilan perempuan kemudian menjadi bahan olok-olok manakala para politisi perempuan yang muncul adalah yang karbitan, berasal dari kalangan selebiritis atau keluarga politisi mapan, atau yang hanya mengandalkan kecantikan fisik sebagai 'iklan' lip service partai politik untuk lulus mengikuti pemilu. 

Saatnya melawan lupa, saatnya perempuan bangkit dan bebas melakukan gerakan-gerakan positif dan didukung oleh suara wakilnya di DPR atas perjuangan legislator perempuan. Boleh saja, eksistensi politisi perempuan karbitan menjadi olok-olok, namun jika politisi perempuan sejati mampu mengajak mereka bergabung, maka suara perempuan akan menguat dan perjuangan kaum perempuan akan diperhitungkan kembali. Goalnya tentu saja kiprah perempuan tak dilupakan dan generasi mendatang akan membaca mereka melalui sejarah. Inilah alasan keempat aku mendukung dan memilih caleg perempuan. 

Politik Adalah Kewajiban Semua
Perempuan adalah warga negara yang rentan. Kerentanan ini tidak saja berdampak negatif pada perempuan, juga kepada anak-anaknya. Contoh yang paling mengiris hati adalah nasib buruk yang sering menimpa para pekerja migran perempuan di luar negeri. Negara yang dikendalikan laki-laki seringkali abai akan kewajiban mereka menjaga keselamatan warga negara perempuan yang menjadi pahlawan devisi ini. Kasus Satinah dan lainnya yang dianggap enteng negara menjadi pukulan telak bagi perempuan, bahwa perempuan tak berpendidikan dan tak memiliki pengaruh bagi keluarga pejabat dianggap tak penting untuk diselamatkan. Padahal, kepergian mereka ke ke luar negeri dilandasi oleh abainya negara akan hak mereka dalam pendidikan, pekerjaan dan pemenuhan hak-hak dasar warga negara.



Kukira, momen ini menjadi penting bagi para perempuan untuk bangkit dan menyatukan agenda pemenuhan hak perempuan dan melawan kebijakan negara yang abai terhadap perempuan. Para politisi perempuan memiliki kewajiban untuk masuk ke ranah ini dan mendobrak kebiasaan buruk negara dalam memperlakukan perempuan. Maka kewajiban kita semua para perempuan untuk mendukung para caleg perempuan untuk memperoleh suara yang signifikan sehingga mereka bisa masuk ke gedung dewan dan memperjuangkan hak perempuan. Kukira, alasan ini cukup masuk akal untuk menentukan pilihanku pada caleg perempuan di pemilu legislatif mendatang. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam "LOMBA BLOG TENTANG CALEG PEREMPUAN UNTUK BLOGGER INDONESIA "KENAPA PILIH CALEG PEREMPUAN"



Bandar Lampung, 7 April 2014 

Referensi
http://dunia.news.viva.co.id/news/read/345915-100-wanita-terhebat-di-dunia--siapa-juaranya-
http://forum.kompas.com/teras/130503-inilah-inilah-7-wanita-paling-berpengaruh-di-indonesia.html
Komnas Perempuan, Pemetaan Kekerasan Terhadap Perempuan dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam, Jakarta, 24 Nopember 2008
http://foto.okezone.com/view/13975/ajak-masyarakat-pilih-caleg-perempuan
http://www.algemeiner.com/2012/08/29/german-circumcision-ban-shows-jew-hatred-back-in-fashion/angela-merkel/
http://www.komnasperempuan.or.id/en/2009/01/80-tahun-gerakan-perempuan-di-indonesia/
http://bkbpmpbjm.info/sosialisasi-pusat-pelayanan-terpadu-pemberdayaan-perempuan-dan-anak/
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=729107893788466&set=a.728507407181848.1073741827.728141017218487&type=1&theater
http://sindotechno-recruitment.yolasite.com/

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram