Saat Melody Jatuh Cinta Lagi



Dia 30 dan telah 4 kali patah hati. Saat tepat berusia 30 itu ia duduk menghadap cermin. Cermin itu hadiah dari salah seorang temannya yang tahu bahwa ia teramat suka berlama-lama didepan cermin. Hari itu ia bangun dari tidurnya pukul 7 pagi, ia turun dari ranjangnya dan memindahkan kursi dari meja belajarnya ke depan cermin yang bisa menampung refleksi seluruh tubuhnya. Ia berdiri disana. Ia memandangi seorang perempuan dengan rambut tergerai lembut meski belum menyisirnya, dan belum mandi. "Tiga puluh..." katanya lirih. Setelah melihat bayangan perempuan itu dengan seksama ia menuju kamar mandi. Ia berendam 30 menit lamanya. 

Saat ia masuk universitas dan terdaftar di Fakultas Teknik, ia tiba-tiba jatuh cinta pada seniornya dari Fakultas Hukum. Pertama kali mereka bertemu dalam sebuah kegiatan organisasi mahasiswa. Seniornya itu saat itu sedang memberikan orasi politik atas terpilihnya ia sebagai Presiden BEM. Ia seperti anak kecil yang selalu tergesa-gesa dalam memperoleh mainan dari ibunya, dan dalam menyukai sesuatu yang baru baginya. Ia memutuskan untuk mencintai seniornya. Siapa sih anak kampus yang tak kenal Presiden BEM yang cerdas, aktivis, cool dan punya banyak penggemar? 

Maka ia memutuskan untuk bergabung di BEM dengan harapan bisa semakin dekat dengan seniornya. Ia selalu mendengarkan kata-kata seniornya dengan seksama, seakan-akan setiap kata-katanya adalah rayuan yang akademis. Ia juga suka merekam setiap orasi seniornya dan mendengarkannya ulang di kamar kosnya. Baginya orasi seniornya umpama pernyataan cinta ala aktivis yang penuh idealisme kepada gadis polos seperti dirinya. Dan ia suka melakukannya berulang-ulang, sampai si senior telah menyelesaikan jabatannya. Saat itu, baginya adalah langkah maju untuk bisa semakin dekat dengan seniornya sebab ia bisa berdiskusi soal hukum yang tak ia pelajari di kelasnya. 

Saat berendam itu ia ingat saat-saat ketika ia begitu dekat dengan seniornya, cinta pertamanya. Mereka sering bertemu hanya untuk membahas soal hukum agraria atau hukum lingkungan yang sama sekali tak pernah ia pelajari di kelasnya. Juga tentang banyak kebijakan publik yang tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya oleh eksekutif. Setelah menyelesaikan jabatannya sebagai Presiden BEM seniornya memutuskan untuk bergabung di LBH sambil menyelesaikan skripsinya. Ia tahu bahwa seniornya sedang berusaha membangun karirnya sebagai calon pengacara dan mungkin juga aktivis LBH. Ia mencintainya dan dalam setiap diskusi itu selalu mengatakan bahwa ia akan sangat senang jika seniornya dapat menggapai semua impiannya. Ia yakin bahwa seniornya pemuda yang baik. Saat itu, meski ia hanya berdua saja dengan seniornya, ia tak berani mencium pipi seniornya meski ia ingin. Ia ingin mengatakan bahwa ia mencintai seniornya sejak pertama kali mereka bertemu. Satu setengah tahun setelah pertemuan itu ia mendapat undangan pernikahan dari seniornya. 

Ia bangkit dari bath tub dan mengeringkan tubuhnya. Ia menatap wajahnya di cermin. Ia mengeringkan rambutnya dengan hair-dryer. Ia lalu ingat saat pertama kalinya bertemu dengan Heru, orang yang membuat ia jatuh cinta untuk kedua kalinya. Ia bertemu dengan Heru dalam sebuah lokakarya tentang Green Architecture yang diselenggarakan di Jakarta. Ia baru ingat bahwa Heru adalah kakak tingkatnya di Jurusan Teknik Sipil yang pindah ke ITB saat Heru semester 3. Karena mereka nyambung mereka menjadi dekat satu sama lain. Tak perlu baginya untuk mencintai Heru secara sepihak. Heru memberikan sinyal yang sama kuatnya. Satu tahun setelah pertemuan itu mereka memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Ia merasa hidupnya sempurna saat bertemu Heru dan ia berharap tak perlu patah hati lagi. Heru akan menjadi pelabuhan hatinya. 

Ia dan Heru memutuskan untuk resign dari tempat kerja masing-masing dan melanjutkan studi Master ke sebuah universitas di Luar Negeri. Mereka berencana akan menikah setahun setelah mereka kuliah dan menjalani bulan madu sembari menyelesaikan tahap akhir masa perkuliahan. Ia mengamini semua karena baginya rencana mereka begitu indah, begitu sempurna. Mereka sama-sama mendapatkan beasiswa dan mempersiapkan segala keperluan untuk pindah saat ia mendengar kabar bahwa Heru mengalami kecelakaan mobil. Setelah dua hari mengalami koma, Heru meninggal dunia. Ia harus berangkat sendiri, melanjutkan cita-citanya dan cita-cita Heru. Saat itu, ia seperti melangkah di jalan yang gelap. Kehilangan Heru adalah patah hati yang fatal dibandingkan ketika ia menerima undangan pernikahan dari seniornya bertahun-tahun sebelum bertemu Heru. 

Ia menghapus airmatanya dan mencuci wajahnya, lalu mengeringkannya dengan handuk yang lebih lembut. Ia keluar dari kamar mandi dan mengambil sebuah gaun berwarna peach dari lemari. Ia mengenakannya didepan cermin besar yang menampung seluruh dirinya. Ia kini melihat dirinya berbalut gaun berwarna lembut itu dan bersiap menyisir rambutnya. Saat melihat rambutnya itu ingatannya terbang ke sebuah kampus dimana ia dan Heru berencana untuk belajar bersama. Setahun setelah ia menjadi mahasiswa yang kutu buku dan begitu murung, ia bertemu dengan Jason, lelaki blasteran Spanyol dan Finlandia yang sangat tampan. Jason yang sangat mencintai rambut Indonesianya. Jason yang mengatakan bahwa ia cantik dan begitu Indonesia. Meski ia berusaha mengingkari, ia jatuh cinta pada lelaki tampan dengan wajah yang sangat indah itu. Jason menjadi dunianya yang penuh bunga, tawa dan mimpi-mimpi. Jason seperti sebuah pintu yang membawanya meninggalkan kehidupan setahun yang muram dan patah hati. Bersama Jason ia bisa merelakan Heru pada Tuhan. 

Tetapi ia lupa, bahwa mencintai Jason berarti berhadapan dengan sebuah konsekuensi. Saat itu usianya 27 menjelang 28. Ia ingin serius dan tak ingin patah hati lagi. Maka sebelum ia bisa memastikan bahwa ia mencintai Jason lebih mendalam, ia ingin mendengar apa yang Jason inginkan atas hubungan mereka. Ia kemudian memahami bahwa Jason mencintainya tetapi tak hendak memastikan seperti apa bentuk hubungan mereka. Jason sangat paham bahwa ia tak mau dinikahi kecuali oleh lelaki Muslim. Jason tak bisa. Jason tak percaya agama. Meski ia lahir dari keluarga Katolik, tetapi ia merasa tak pernah memeluk suatu agama. Ia hanya percaya Tuhan dengan caranya. Jason memahami bahwa mereka tak bisa bersama, kesuali ada satu persamaan yang bisa mengikat mereka. Jason pun menghargai bahwa cinta adalah ikatan nomor dua setelah agama baginya. 

"Melody, aku terlalu mencintai diriku dan keyakinanku. Dan aku terlalu mencintai kamu dengan cara yang berbeda. I love you so much. Apakah cintaku padamu cukup untuk sebuah ikatan?" dan ia mengatakan tidak. Ia tak ingin membangun rumah tangga tanpa fondasi. Cinta tak akan pernah cukup untuk ikatan apapun. Cinta akan berganti rasa yang lain seiring waktu. Dan ia tak pernah bisa membayangkan saat Jason berhenti mencintainya dan mereka tak memiliki hal lain untuk menyelamatkan ikatan cinta. Ia memutuskan untuk mengeluarkan Jason dari hatinya sebelum Jason tak bisa dilepaskan. Ia dan Jason memutuskan untuk bersahabat. Jason banyak membantunya ditahun terakhir studinya. Jason dan keluarganya mengantarnya ke bandara saat ia harus pulang ke Indonesia. Saat pesawat naik ke langit, ia belajar bahwa ia tak harus patah hati saat memutuskan untuk mencintai Jason dengan cara yang lain. Meskipun, sisi yang lain hatinya mengatakan bahwa ia begitu patah hati saat meninggalkan Jason. Di kursinya, sambil memandang awan yang menari, ia menangis untuk Jason. 

Ia merapikan rambutnya dan melihat dengan seksama seluruh gambar dirinya di cermin itu. Ia melihat seorang perempuan dengan gaun warna peach yang tak bisa membaca matanya sendiri. "Aku 30..." katanya. Lalu ia tersenyum tipis dan menarik kursi di depan cermin itu ke meja belajarnya. Ia duduk dengan tenang, minum segelas air putih dan membuka buku hariannya. Ia mulai menulis tentang hari ketika ia terbangun di pagi hari saat ia telah berusia 30. Saat menulis itu ia ingat kisah semalam, saat ia mendapat kabar langsung dari Khan bahwa lelaki itu telah menikah. Semalam ia merasa langit runtuh dan ia tercebur kedalam samudera yang dalam. Ia menangis semalaman dan jatuh tertidur. Ia terbangun pada hari ketika usianya telah menjadi 30 dan ia ingat beberapa kisah patah hatinya.

Khan adalah pemuda keturunan India dan Filipina. Ia bertemu dengan Khan sebulan setelah ia kembali ke Indonesia. Sebuah online dating mempertemukan dia dengan Khan. Ia menertawakan dirinya sendiri saat ia memutuskan untuk mencoba menemukan belahan jiwanya melalui sebuah program online dating. Ia belajar dari beberapa temannya yang menemukan jodoh mereka berkat online dating. Sebuah online dating berbasis ilmu psikologi yang dikelola oleh beberapa psikolog. Sebulan setelah ia tergabung dalam program tersebut, mesin pencari memberitahunya bahwa ada seorang pemuda yang cocok dengannya. Khan; India & Filipina; 32; 170cm; 65kg; Muslim. Dan mereka pun bertemu. 

Setahun setelah berbagi cerita, impian dan banyak hal sebagai sepasang kekasih, Khan harus pulang ke India. Ayahnya sakit keras. Ia meninggalkan pekerjaannya di Manado dan Manila secara bersamaan. Khan bilang bahwa kemungkinan besar kami akan tinggal di sebuah kota di India. Khan belum memastikan dimana. Sebulan dua bulan Khan memang rajin memberi kabar, tetapi tak pernah ada kabar yang pasti mengenai hubungan mereka. Padahal Khan sudah bertemu dengan keluarganya dan hendak melamarnya. Ia yakin Khan bukan tipe lelaki pembohong. Lalu dua bulan lamanya ia tak mendengar kabar apapun dari Khan. Semalam, Khan menelponnya dan ia bicara panjang lebar tentang hari-hari yang dihadapinya setelah ia memutuskan untuk meninggalkan semua pekerjaannya di Manado dan Manila. 

Khan bilang ayahnya meninggal sebulan setelah kepulangannya dan ia harus menikah dengan salah seorang gadis yang telah dijodohkan dengannya sejak mereka masih kecil. Khan tak bisa melawan kehendak keluarga besarnya di India dan Manila, meski ia tak tahu. Itu wasiat ayahnya sebelum ia meninggal dan karena ia juga harus menjaga ibunya yang terserang stroke. Ibunya mencintai gadis yang dijodohkan dengan Khan jauh sebelum Khan setuju untuk menikahinya demi baktinya pada orangtuanya. Khan juga bilang bahwa ia akan datang ke Indonesia. Ia mengatakan tak perlu, orangtuanya akan sangat bersedih atas kejadian ini. Ia meminta Khan meneruskan hidup barunya, merawat ibunya yang sakit dan istrinya yang baik hati. Ia mengatakan pada Khan bahwa ia akan baik-baik saja. Setelah menutup telepon itu Ia menangis keras-keras seakan-akan ia ingin menghancurkan tubuhnya sendiri. 

Empat kali sudah Tuhan mengambil semua yang dicintainya dengan sepenuh hati. Ia menangis sendirian sampai tertidur dan bangun dengan mata bengkak. Saat berendam didalam bath tub yang penuh air hangat, ia mengingat semua kegagalan itu. "Tiga puluh....tiga puluh....tiga puluh..." Ia menghitung usianya pada hari itu. Hari dimana Ia mengalami kehilangan besar. Hari dimana ia bermimpi menjadi awan saja. 

Ia telah selesai menulis di buku hariannya saat ponselnya berdering. Ia membaca sebuah pesan. Pelan-pelan ia bangkit dan menuju ruang tamu. Hari itu, ia tidak mengizinkan seorangpun menemuinya, kecuali satu orang saja. Ragu-ragu ia membuka pintu. Dilihatnya sosok yang telah lama ia kubur dalam ingatannya. Tetapi ia masih ingat senyumnya yang sama. "Selamat ulang tahun Melody. Kamu masih seperti yang dulu." Itu kata pertama yang tamunya ucapkan dihari usianya menjadi 30. "Apa kabar, Bang?" tanyanya gugup. Tamunya tersenyum. Ia ingin segera memeluk lelaki itu andai saja ia tak melihat dua gadis kecil dengan wajah kembar. "Mereka puteri kembarku yang kehilangan ibunya." Tamunya memperkenalkan mereka. "Mereka kesini mencarimu." Tambah tamunya lagi. Ia tak kuasa menahan tangis. Serta merta ia menghambur ke pelukan tamunya, seniornya yang ia cintai dengan begitu gilanya. Ia kini tahu mengapa Tuhan mengambil semua cinta yang ditangisinya. 

Bandar Lampung, 8 Februari 2014 
Sumber gambar:

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram