Indonesia: Bencana Sambung-Menyambung


Kelud yang memuntahkan lahar, batu dan awan panas. Gunung satu ini memang unik. Kecil tapi bikin panik. Bayangkan, lokasinya di Jawa Timur, abu letusannya sampai ke bagian barat pulau Jawa. Ini cuma karena kebetulan saja angin bertiup ke arah barat, atau jangan-jangan Kelud sedang menggoda gunung Anak Krakatau? (btw, lupa darimana ambil photo ini sehingga nama pemiliknya tak bisa dicantumkan. Aku lupa betul. Tapi ini bukan photoku, melainkan si fulan yang aku dengan ceroboh tak catat namanya) 
Gunung Kelud mirip dengan besi yang dicairkan di tukang pandia besi, keren tapi serem. (tribunnews.com)
Ketika mendengar Kelud meletus, aku syok! Sinabung kan belum selesai, kok ini udah ikutan meletus sih? Atau memang letusan gunung berapi itu sambung-menyambung antara satu dengan yang lainnya karena mereka memiliki ikatan dalam rangkaian 'dapur magma' didalam bumi ya? Saat melihat gambar Kelud yang tak ubahnya puding didalam mangkok dan berhias fla berwarna krem dan merah. Lalu aku teringat si Anak Gunung Krakatau yang misterius dan berendam di Selat Sunda. Apa yang akan terjadi setelah letusan Kelud pada gunung berapi lainnya di Indonesia? Apakah si Anak akan muntah-muntah dan memporak-porandakan Lampung dan Banten yang sudah payah dibangun?  


Data yang dirilis The Jakarta Post diatas menunjukkan bahwa saat ini terdapat sekitar 19 gunung api di seluruh Indonesia dalam keadaan siaga dan siap meletus kapan saja. Gak kebayang gimana kacaunya negeri ini kalau satu persatu gunung meletus. Bisa kecolongan kita di Pemilihan Umum Legislatif 2014. Jadi, saat ini Sumatera, Jawa dan Sulawesi dalam ancaman krisis pangan! klo tu gunung meletus semua dan ladang-ladang pertanian hancur, kemungkinan pangan impor akan merajai pasar nasional. Oh, semoga saja tak terjadi demikian....


Akibat abu vulkanik gunung Kelud, desa ini seakan disulap menjadi desa hantu yang datang dari masa lampu (tribunnews)
Merajut rasa senasib-sepenanggungan
Ditengah hiruk pikuk perpolitikan nasional menjelang Pemilihan Umum Legislatif pada April 2014 mendatang, berbagai bencana yang menimpa berbagai wilayah justru membuat masyarakat bersatu-padu untuk mengumpulkan dan menyalurkan bantuan dari masyarakat kepada para masyarakat terdampak bencana. Tak terbayangkan jika masyarakat depresi akibat kondisi politik-ekonomi yang kacau, lantai tak saling mengulurkan tangan maka lenyap sudah bangsa ini. Dimana-mana, di Bandar Lampung misalnya, terlihat berbagai kelompok membuka posko peduli korban bencana ekologis dan letusan gunung merapi. Bahkan banyak diantara mereka yang turun ke jalan guna menjemput uang seribu-dua ribu perak dari para pengendara yang sedang melintas. 


Para aktivis lingkungan dan Mapala di Lampung melakukan penjemputan donasi di depan kantor WATALA. Posko ini dibuka ketika gunung Sinabung meletus. Nah, karena sekarang gunung Kelud juga meletus, apa donasinya mau dibagi dua ya? (doc. Buyung)
Sikap kesetiakawanan sosial ini mengingatkanku pada pelajaran PMP yang kemudian diubah menjadi PPKN, dimana materi seperti gotong royong, tepa selira, senasib sepenanggungan selalu menjadi pelajaran paling penting dalam menjaga keutuhan NKRI. Sikap inilah yang kini tumbuh subuh sejak berbagai bencana melanda sejak akhir 2013 dimulai oleh bencana banjir di berbagai daerah seperti Manado, Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan dan sebagainya. Tanpa sikap ini, kita tak akan bisa bertahan melawan ujian dari alam yang keras dan mematikan raga, serta ujian berbangsa dan bernegara yang bisa mematikan iman dan harga diri. Maka aku berharap, sikap inilah yang dapat membawa kita semua bangkit untuk melawan ketidakadilan dalam penyelenggaraan negara. Dan kiranya, kejadian seperti yang menimpa kota Pompeii gara-gara letusan gunung Vesuvius tidak kita alami. Amin. 

Bandar Lampung, 16 Februari 2014


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram