Aku, Kamu dan Hujan



Oleh: Feri Damayanti

Aku tak pernah lupa, wajahmu yang terbingkai rintik air hujan
Meski hari telah berganti, dan sang waktu enggan berhenti
Senja itu, hujan turun
Hujan itu baik sekali, mempertemukan aku dengan mu
Membuat kebun bunga yang kutanam mekar kembali

Kala itu, kau tersenyum
Begitu indah
Membuatku bergeming
Hanya mampu terpana

Kala itu, kau menatapku sepersekian detik
Cukup untuk membuatku terkena panah sang malaikat cinta
Seketika sketsa wajahmu terlukis jelas
Tanpa perlu kanvas ataupun sebatang pensil

Dalam gemuruh air hujan, suaramu terdengar begitu merdu
Jenis suara yang menenangkan
Ingin rasanya setiap malam aku mendengar suara itu
Andai saja bisa.

Meski Tuhan turunkan hujan untuk menghapus debu jalanan
Namun hujan tak pernah berhasil menghapus kenangan tentang dirimu
Kusempatkan tersenyum simpul, berharap kau melihatnya
Meskipun ternyata tidak.

Kala itu, jika Tuhan izinkan aku meminta satu hal
Dengan segera aku akan menjawab
Semoga hujan ini tak pernah berhenti. 

___________________________

Puisi ini dibuat oleh seorang perempuan cantik, teman kosku, yang ditulisnya entah kapan. Ia suka menulis puisi dan puisi-puisi yang dikirimkannya ke sebuah surat kabar selalu gagal dimuat. Puisi ini, khas perasaan terselubung seorang perempuan yang malu-malu, tetapi penuh kerinduan. Saat menulis ulang puisi ini, aku bisa membayangkan bagaimana perasaan si perempuan saat bertemu seseorang yang seketika membuatnya jatuh cinta saat hujan turun pada suatu senja. Ya, cinta kadang-kadang datang tak terduga...

Bandar Lampung, 8 Februari 2014
Sumber gambar: 
walid3.deviantart.com

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram