Jodoh dari Bandung


Mona, begitu kusebut nama seorang sahabat. Aku mengenalnya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Mona adalah bocah tomboy yang terkenal di Kabupaten kami. Selain cerdas, anak juru photo terkenal, cantik, juga pemimpin kelompok baris berbaris yang selalu menjadi juara dalam lomba baris-berbaris menjelang peringatan hari kemerdekaan RI. Sampai aku duduk di bangku SMP aku belum pernah bertemu dengannya. Hanya mendengar nama besarnya saja. Kupikir dia adalah gadis kecil dengan kehidupan sempurna. 

Kami pun bertemu di SMP yang sama dan kami selalu sekelas. Mona yang terkenal tomboy memutuskan untuk berjilbab sejak masuk SMP dan aku tidak. Saat kelas 1 aku lupa Mona sebangku dengan siapa, tetapi kami mulai berteman. Saat kelas 2 kami duduk sebangku. Siapa yang tak suka duduk sebangku dengan Mona yang baik, cerdas, cantik, murid kesayangan guru-guru dan disukai banyak cowok. Dari Mona aku mulai mengenal banyak hal. Ia suka membawa majalan Annida ke sekolah. Kakaknya yang sedang kuliah di Universitas Lampung selalu membawakannya majalah Annida terbaru. Aku dan beberapa teman lain pun sering main ke rumah Mona dan mengenal lebih dekat keluarganya yang terkenal itu. Saat kelas tiga dan kami sama-sama masuk kelas teladan, Mona sebangku dengan seorang anak cerdas lain yang sangat tomboy. Anak seorang teknisi di proyek PLTA Way Besai. Aku benci kelas itu bukan saja sikap diskriminasi yang diterapkan guru-guru, juga pada sikap beberapa teman yang cenderung sombong dengan kemampuan mereka, apalagi setelah mereka tahu aku adalah satu-satunya siswa di kelas itu yang mendapat nilai 2 saat ulangan Matematika, meski aku cenderung berprestasi di pelajaran ilmu-ilmu sosial seperti Geografi, Sejarah dan sebagainya. Tetapi Mona yang baik tetap bersikap sama. Ia temanku yang hebat.

Kemudian kami masuk SMU yang sama dan kami sekelas lagi. Saat aku memilih masuk organisasi Pramuka, Mona masuk organisasi PMR. Pas kelas 2, Mona menjadi ketua OSIS dan memimpin organisasi sekolah dengan baik. Kami pun mulai paham mana teman yang baik dan kurang baik. Saat itu kami juga mendirikan organisasi Islam sekolah bernama Rohis. Oh ya, saat masuk SMU aku memutuskan untuk berjilbab. Saat itu jilbab sedang tren dan hampir semua teman-temanku berjilbab. Dengan organisasi Rohis, kami dibimbing beberapa orang aktivis mahasiswa dari Universitas Lampung. Diantara para kakak mahasiswa itu ada seorang yang paling tampan dan paling berkesan, sebut saja namanya kak Ilham. Mona suka pada Kak Ilham dan ia suka berkhayal bahwa suatu saat kak Ilham akan melamarnya. Tetapi kemudian, saat kelas 3 kami mendengar kabar bahwa kak Ilham telah menikah dengan seorang aktivis mahasiswi yang juga pernah ke sekolah kami. Rupanya, kak Ilham dan istrinya merupakan kader partai Islam tertentu yang sedang melakukan kaderisasi pada calon mahasiswa. Oh oh...

Mona juga pernah jatuh cinta pada seorang kakak kelas yang terkenal sangat cerdas, berwibawa dan baik hati. Sebut saja Don. Nah, Don itu adalah kakak teman sekelas kami yang bernama Dul. Satu sekolah tahu bahwa Don dan Dul adalah jago Matematika, Fisika, Kimia dan pelajaran IPA lainnya. Tetapi, cinta Mona bertepuk sebelah tangan. Ternyata tak lama kemudian Don jadi pacar salah seorang teman kami bernama Purnama. Ya, Purnama merupakan gadis yang cantik, ceria, suka senyum dan menyenangkan. Meski pun demikian, sebenarnya Don juga suka sama Mona. tetapi status ekonomi keluarga Don jauh dibawah keluarga Mona yang terkenal itu membuat Don tak berani berterus terang dan memilih mencintai Mona didalam hatinya saja. Hm, kayak sinetron aja kisah Mona dan Don. Dan Mona pun patah hati.

Hari terus berganti dan kami mendapatkan kabar bahwa aku dan Mona merupakan dua dari beberapa siswa yang lulus masuk Universitas Lampung melalui jalur PKAB. Aku di FISIP dan Mona di FKIP. Tetapi karena kami masuk fakultas yang berbeda dan Mona mengalami beberapa masa sulit, persahabatan kami mulai renggang. Kami jarang bertemu. Mona yang waktu SMU merupakan aktivis dakwah sekolah mendapat beberapa tentangan dari orangtuanya. Bahkan masuk FKIP di Universitas Lampung pun sebenarnya bukan pilihannya, melainkan pilihan orangtuanya. Semua kakak Mona adalah guru dan lulusan FKIP Unila. Sebenarnya Mona ingin belajar Sastra Arab di Universitas Padjajaran di Bandung sebab ia bermimpi memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi S2 di Universitas Al-Azhar, Mesir. 

Ia juga mendapat tantangan soal jilbab. Saat SMU kami semua berjilbab lebar karena pengaruh pendidikan si aktivis mahasiswa yang ternyata merupakan kader sebuah partai Islam yang saat itu sedang berkembang dan menuju populer. Pernah suatu kali, Mona mondok di sebuah Pesantren terkenal di Kecamatan dan membawa satu kardus koleksi majalah Annida yang ia dapatkan dari kakaknya dengan maksud berbagi pengetahuan dengan teman-temannya di pesantren. Tetapi kemudian pihak pesantren mengetahuinya dan membakar majalah-majalah tersebut yang membuat Mona kecewa telak dengan sistem Pesantren yang tak terbuka pada ilmu pengetahuan. Mona juga mendapat tantangan dari keluarganya, dimana ia dilarang ngaji dengan kelompok yang berhubungan dengan partai Islam yang selama ini dekat dengannya. Kemana ia pergi, ia selalu dibuntuti kakak iparnya yang siapa melapor pada orangtuanya. Juga saat Mona mampir ke rumahku atau ke rumah teman-teman kami yang lain. Pemberontakan kecil kami rupanya membuat orangtua Mona resah. Pernah juga Mona mengeluh bahwa ibunya membelikannya jilbab tipis dan pendek untuknya setelah mereka membakar jilbab-jilbab panjangnya. Alasan klisenya adalah orangtua Mona khawatir bahwa dengan berjilbab panjang Mona akan terperosok pada aliran sesat.

Di kampusnya Mona cukup terkenal. Dia gadis yang sangat cantik, cerdas dan memikat hati banyak mahasiswa. Tetapi mungkin Mona sedang patah hati dan ia hanya fokus pada studinya. Sampai suatu hari di acara duka salah seorang teman kosanya, seorang bapak tertarik pada Mona. Si Bapak bermaksud menjodohkan Mona dengan puteranya yang baru saja patah hati karena tunangannya selingkuh. Si Bapak mengenalkan Mona pada puteranya, sebut saja Raja, yang tinggal dan bekerja di Surabaya. Mona dan Raja pun pacaran jarak jauh. Mona yang saat itu ingin melepaskan diri dari pengintaian berlebihan orangtuanya berharap pertemuannya dengan Raja akan berakhir bahagia, yaitu pernikahan. Mona mempersiapkan segala sesuatunya untuk sampai pada pernikahan. Tetapi karena mereka tidak berjodoh, Mona dan Raja putus. Setelah lulus, Mona menenggelamkan diri dalam pekerjaannya sebagai seorang guru di sebuah sekolah internasional di kota Bandar Lampung. Kami pun jarang bertemu. 

Lalu pada suatu hari aku mendengar Mona akan menikah. Ia bertemu dengan seorang pemuda baik hati dan soleh di Bandung. Sebut saja Yusuf. Aku tak bisa datang ke pernikahannya karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Tetapi aku bisa melihat photo-photo pernikahan Mona dan Yusuf. Ia tak banyak bercerita soal pertemuannya dengan Yusuf, tetapi bagi Mona menikah dengan Yusuf merupakan jawaban atas doa'doanya selama ini. Yusuf datang sebagai hadiah dari Allah untuk menyembuhkan semua sakit di hatinya karena sikap orangtuanya dan beberapa kali patah hati karena cinta yang kandas. Tak lama setelah ia resign dari kantornya, ia diterima sebagai guru PNS di almamater kami di SMU kesayangan kami. Ia pun tinggal bersama orangtuanya dan menjalani hubungan jarak jauh dengan Yusuf karena suaminya itu merupakan seorang PNS di kota Bandung. Telah empat tahun lamanya Mona mengurus surat kepindahan ke Kota Bandung tetapi belum dikabulkan. 

Mona memiliki sebuah blog. Ia banyak bercerita tentang rumah tangganya di blog itu, terutama tentang betapa ia mencintai suaminya dan puteri kecil mereka. Meski begitu sulit menjalani pernikahan semacam itu, Mona bersyukur telah dipertemukan dengan Yusuf. Baginya, Yusuf seperti penawar bagi luka-luka dihatinya. Bersama puteri kecilnya, ia selalu menanti saat-saat Yusuf memiliki kesempatan untuk libur dan pulang ke pelukannya. Didalam blog itu, aku membaca bagaimana kekuatan cinta terpatri dalam tulisan-tulisannya. Tulisan yang mencerminkan kerinduan dan rasa syukur. Juga photo-photo perkembangan puteri kecilnya. Blog itu seakan menjadi media baginya dan suaminya untuk sama-sama menikmati perkembangan puteri kecil mereka dari tempat yang berjauhan. 

Dalam beberapa kesempatan aku berkomunikasi dengan Mona, ia selalu mengatakan bahwa ingin seperti aku dan melakukan hal-hal yang aku lakukan. Ia melihat bahwa aku bisa melakukan apa saja secara bebas tanpa gangguan dari siapapun, termasuk keluarga. Kadangkala, katanya ia ingin sepertiku dan pergi kemana saja seperti yang kulakukan. Tetapi disisi lain aku ingin seperti dia dan memiliki hidupnya. Bagaimanapun kami tahu sama tahu tentang kehidupan kami sejak kami masih bocah. Aku selalu merasa kehidupan Mona sempurna, apa yang kurang dari hidupnya dibandingkan hidupku? Ya, mungkin Mona menginginkan kebebasan seperti yang kumiliki, tetapi mungkin jika Mona tahu, Mona tak akan hidup sepertiku, sebab ada hal lain yang tak akan sanggup ia tanggung dari hidupku dibalik kebebasan yang ia inginkan itu...

Ya, hidup memang begitu, kehidupan orang lain tampak begitu menggiurkan dan setiap orang menginginkan kehidupan orang lain menjadi hidupnya, tanpa memahami jurang dalam kehidupan yang diinginkan itu. Menurutku, Mona telah mendapatkan karunia lebih dari cukup. Ia bahagia dalam pandanganku. Ia telah memiliki apa yang ingin setiap perempuan miliki dalam hidup mereka. Dan jodohnya dari kota Bandung itu membuat iri perempuan manapun, termasuk aku. 

Bandar Lampung, 26 Januari 2014
-kangen Mona-

Sumber gambar:

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram