From Manila With Love




Aku tak tahu harus darimana kumulai kisah ini. Kisah cinta Lidya, seorang teman. Saat pertama kali bertemu dengannya pada akhir 2010, aku bisa melihat bahwa dirinya memiliki rahasia-rahasia yang tak diceritakannya pada banyak orang. Ia tak terlalu suka bercerita soal urusan pribadinya. Tetapi, aku tahu bahwa ia tipe perempuan muda yang mudah jatuh cinta. Sedikit-sedikit jatuh cinta, eaaaa.

Lidya adalah seorang guru di sebuah sekolah pemerintah di kota A, sebuah tempat di Sulawesi. Ia memperoleh sebuah beasiswa internasional dan ia diterima di salah satu universitas ternama di Amerika. Menimba ilmu ke Amerika bukan saja sebuah anugerah karena ia ingin sekali memperoleh pengetahuan mumpuni mengenai bidang yang kuasai, juga untuk menghindar dari perjodohan. Ia dipaksa ibunya untuk menikah dengan seorang pemuda pilihan ibunya, yang tidak ia sukai. Maka kepergiannya ke Amerika juga membawa harapan mengenai pertemuannya dengan cinta sejatinya, sehingga ia memiliki alasan untuk tidak menerima pemuda pilihan ibunya.

"Syukur banget aku bisa sekolah ke Amerika. Bisa juah-jauh aku dari calon suami idaman ibuku,"ujarnya dengan wajah sumringah. Lucu juga sih sebenarnya, seorang ibu bisa ngotot agar anak gadisnya menikah dengan pemuda yang disukainya padahal anak gadisnya mentah-mentah menolak.

Sebagai anak gadis, ia tahu betul bahwa ia tak bisa berbuat durhaka pada ibunya sendiri. tetapi, soal pasangan hidup ia percaya bukan ibunya yang menentukan, melainkan Allah. Meski ia berusaha meyakinkan ibunya tentang haknya untuk memilih siapa yang akan dinikahinya, toh ibunya kekeuh bahwa ia harus menikah dengan pemuda pilihan ibunya. Dalam hati Lidya merasa sangat marah atas sikap egois ibunya, tetapi ia harus menemukan sendiri jalannya untuk meyakinkan ibunya bahwa ia bisa memberi ibunya menantu yang sesuai harapan ibunya tetapi juga ia cintai.

Di kampus itu, ia tinggal bersama ratusan mahasiswa internasional dari berbagai negara. Sifatnya yang ceria, baik hati dan disiplin membuatnya dikenal. Kegiatan-kegiatan bersama di asrama itu seperti menari tarian Indonesia dan kegiatan masak-masak juga membuatnya mengenal banyak mahasiswa internasional. Adalah Digba, pemuda tampan asal Nepal jatuh hati pada Lidya. Saat di kosanku, Lidya bahkan sempat memperlihatkan photo-photo kegiatannya di kampusnya dan disanalah kulihat Digba yang ia ceritakan. "Ganteng kan? Gimana aku nggak jatuh cinta sama si Digba ini, coba?" iya sih kuakui Digba itu tipe cowok misterius yang sayang buat nggak dipacari. Lalu kami berdua cekikikan memandangi beberapa photo Digba yang Lidya tunjukkan dengan senang hati.

Ya, Digba memang tampan dan siapa perempuan yang tak terpikat pada ketampanannya? Merasa cocok, mereka pun pacaran. Tetapi, kisah dengan Digba tak bertahan lama. Mereka berbeda agama. Lidya seorang Muslim dan Digba seorang Hindu. Tak ingin saling mencintai terlalu dalam dan paham akan konsekuensi akan perbedaan agama, mereka pun berpisah dengan baik-baik meski tetap disertai derai hujan air mata. Mereka pun memilih bersahabat.

Tak lama, Lidya bertemu dengan Mohan, lelaki tampan bermata kucing asal Pakistan. Bersama Mohan, Lidya memiliki harapan untuk tidak sekedar pacaran. Mohan seorang Muslim, terpelajar dan mapan. Beberapa waktu lamanya mereka pacaran dan Lidya mempelajari kepribadian Mohan. Bersama Mohan Lidya menghabiskan akhir minggu untuk berkunjung ke tempat-tempat indah di pulau tempatnya sekolah. Mereka juga sering melakukan wisata kuliner di beberapa rumah makan Muslim di pulau itu. Lidya seperti dituntun menuju jalan terang untuk bisa meyakinkan ibunya bahwa ia telah bertemu dengan kekasih hatinya. Ibunya tak perlu khawatir lagi dengan jodohnya. Maka, Lidya pun mengirimkan cincin pertunangannya dengan Haikal ke kampungnya yang sontak membuat ibunya terkena stroke.

Hubungannya dengan Mohan pun tak sesuai dengan yang ia harapkan. Meski Mohan mencintainya, Mohan adalah tipe anak penurut yang tak bisa membantah titah ibunya. Mohan adalah putra tunggal. Ayahnya telah meninggal dan ibunya memimpikan menantu yang bisa tinggal dengannya. Ibunya tak mau Mohan memperistri perempuan dari benua lain. Ia khawatir menantunya akan membawa Mohan darinya. Sadar bahwa mereka tak punya masa depan, Mohan dan Lidya memilih mengakhiri hubungan mereka dan jadi sahabat. Saat di kosanku, Lidya menunjukkan padaku photo Mohan dan saat ia bercerita tentang kisah mereka berdua. Ya, Mohan begitu tampan dengan mata kucingnya. Tipe lelaki lembut dan penuh kasih sayang. Perempuan mana yang bisa melepaskan lelaki semacam itu tanpa deraian air mata dan patah hati yang dalam?

Saat liburan musim panas 2012, Lidya pulang ke rumahnya, menemui ibunya. Ia tahu bahwa apa yang telah ia lakukan melukai ibunya, dan keluarganya. Ditambah fakta bahwa ia telah putus dengan Mohan. Lelaki pilihan ibunya, sebut saja Haikal, tetap menunggu Lidya meski ia tahu Lidya tak menyukainya. Lidya selalu mengatakan bahwa bagaimana mungkin ia akan seumur hidup tinggal dengan lelaki yang tidak dicintainya? Memangnya lelaki itu mau hanya mendapatkan fisiknya tetapi tidak dengan hatinya? Ibunya yang sakit itu masih marah pada Lidya. Ia tak mau makan ataupun minum obat meski Lidya membujuknya. Ia hanya mau makan dan minum obat jika Lidya dan Haikal merayunya bersamaan. Meksi berat, Lidya melakukannya jua demi kesembuhan ibunya sebab ia harus kembali ke Amerika dan melanjutkan studinya.

Kemudian lama aku tak mendengar kabar tentang Lidya, pun teman-teman kami yang lain. Padahal ia telah menyelesaikan studinya pada Mei 2013, dan aku pun tahu bahwa ia akan pulang ke Indonesia pada pertengahan tahun 2013 dan memintaku mencarikan kos untuknya di Jakarta sebagai akan mengurus Ijazahnya ke DIKTI. Tetapi aku tak bisa sebab aku telah pulang ke Lampung. Tak lama kemudian kami kehilangan kontak Lidya. Sampai suatu hari aku melihat sebuah photo di Facebook Lidya saat ia berdiri bersama seorang lelaki asing. Ia juga telah merubah statusnya sebagai 'menikah'. Aku kira ia menikah dengan lelaki pilihan ibunya dan aku merasa kasihan padanya. Meski aku bertanya, ia tak membalas pesanku. Saat itu aku beranggapan bahwa ia sedang bersedih karena menikah dengan lelaki yang tak bisa dicintainya. Tak lama kemudian ia menonaktifkan FBnya. Dua bulan kemudian, di awal Januari 2014 aku berhasil berkomunikasi dengan Lidya melalui akun Facebooknya. Ya benar ia telah menikah, tetapi bukan dengan Haikal.

"Aku sudah menikah," kata Lidya menjawab pesanku. Aku memberinya ucapan selamat. 
Lidya bercerita bahwa ia benar-benar tak bisa menikah dengan Haikal. Ia bertemu dengan teman lamanya saat ia mengikuti sebuah kegiatan di Manila bertahun-tahun silam. Lelaki bernama Hilman itu mengatakan ingin taaruf dengan Lidya. Melihat kesungguhan Hilman, Lidya bicara dengan ibunya dan berusaha meyakinkannya bahwa ia telah menemukan menantu idaman ibunya. Tanpa proses pacaran, Hilman pun menemui keluarga Lidya dan melamarnya. Mereka pun menikah. Kini, Lidya mengikuti suaminya, Hilman, tinggal di sebuah negara di dekat Eropa dan Lidya cuti dari kantornya. Lidya mengatakan padaku bahwa ia sedang belajar mengenal dan mencintai suaminya, keluargnya dan kehidupan barunya. Serta bersyukur telah telah berjodoh dengan Hilman setelah melalui kisah yang membuatnya berkali-kali patah hati dan menghadapi kemarahan keluarga. 

Lidya mengatakan padaku bahwa jodoh itu adalah perkara milik Allah semata. Ia belajar dari kisah patah hati yang penuh air mata sebagai jalan menuju suaminya kini yang tak lain orang yang telah dikenalnya bertahun-tahun lalu. Ia juga mengatakan padaku bahwa manusia tak seharusnya memaksakan jodoh apalagi dengan jalan yang salah dalam menjemput jodoh, sebab jodoh itu diberikan oleh Allah. Betul kata Afgan Syahreza dalam sebuah lagunya, jodoh pasti bertemu. 
 
Kisah ini singkat ya? hm, sebab Lidya bukan tipe yang suka berkisah begitu detail tentang kehidupan pribadinya. Jadi, aku hanya mengisahkan apa yang ia gambarkan padaku sebagai temannya. Sekarang, tentulah ia sedang berbahagia bersama suaminya.

Bandar Lampung, 25 Januari 2014
Sumber gambar:

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram