SANG PEMBEBAS KONSTANTINOPEL



Lukisan Sultan Mehmed II bin Murad II/ Muhammad Al-Fatih/ Fatih Mehmed II/ The Grand Turk Mehmet/ Abu Al-Khair, yang berhasil memimpin penaklukan Kota Konstantinopel pada usia 21 tahun 2 bulan pada Selasa, 29 Mei 1453. Dialah yang disebut-sebut dalam sbeuah hadits Rasulollah SAW sebagai sebaik-baik Panglima yang memiliki sebaik-baik pasukan yang menaklukan Konstantinopel sebagai lambang kekuatan imperium Byzantium dan Kristen Eropa ketika itu. Dia meninggal pada usia 49 tahun setelah selama 30 tahun melakukan berbagai upaya pembebasan di berbagai wilayah di Eropa dan sedang mempersiapkan strategi dan kekuatan untuk melakukan pembebasan atas kota Roma.  Pada masanya lah seorang ksatria Wallacia bernama Vlad Dracul III atau Dracula melakukan pembantaian kepada 25.000 Muslim Utsmani dengan cara disula (sula: memasukkan kayu berujung runcing melalui anus lalu ke perut dan tembus ke kerongkongan hingga ke mulut, dan ditancapkan ditanah kota Tirgoviste ibukota Wallacia dan menantang langit seperti ikan-ikan yang dikeringkan). Dracula yang dalam dunia masa kini disembunyikan kejahatannya dan sosoknya dikaburkan sebagai Vampir haus darah yang hanya bisa ditaklukkan oleh Salib dan bawang putih. 

Baru saja aku selesai membaca buku tulisan ustadz Felix Y Siauw yang berjudul "Muhammad Al-Fatih 1453". Gaya bertutur yang renyah, padat, dan tegas membuatku mampu menyelasaikan buku ini hanya dalam hitungan jam dalam dua hari ini disela-sela aktivitasku yang lain. Buku yang ditulis dengan latar referensi sejarawan Islam dan Barat ini membuat sesuatu dalam jiwaku bangun. Ya, aku seperti seorang Muslim yang lupa dan kembali mengingat ramalan janji Rasulullah SAW tentang pembebasan Roma setelah Konstantinopel. Jika Sultan Mehmed II sebagai generasi ketujuh dari kekhalifahan Utsmaniyyah menjadi panglima pembebas Ibkota imperium Byzantium sebagaimana yang dijanjikan Rasulullah SAW, maka siapakah kelak yang akan menjadi panglima pembebasan kota Roma? 

Membaca buku ini, bukan saja membangkitkan semangatku untuk kembali mempelajari sejarah Islam yang fenomenal dan menggemparkan dunia. Juga untuk menjadi tabungan pengetahuan yang kelak akan kuceritakan kepada anak-anakku. Sebagai Muslim aku menyadari, setelah kehancuran kekhalifahan Islam akibat pengkhianatan Mustafa Kemal At-Taturk pada Maret 1924 dan kebangkitan Barat dan ideologi Kapitalisme, cahaya Islam redup dan kebudayaan Islam terpuruk akibat perpecahan, kebodohan, kemiskinan dan penjajahan Barat. Tetapi kini, abad ini, sebagai abad kebangkitan Islam dan pertanda kedatangan Isa Al-Masih dan Al Mahdi, aku harus siap menjadi saksi atas Firman Allah swt dan kata-kata Rasulullah SAW dalam hadits-haditsnya tentang akhir zaman. 

Terdapat beberapa point penting dalam buku ini yang hendaknya menjadi perhatian bagi setiap Muslim. Pertama, bahwa janji Allah adalah benar dan kata-kata Rasulullah SAW adalah nyata. Hanya waktu dan usaha yang akan memperlihatkan kapan semua akan terlihat jelas atau dirasakan oleh setiap Muslim. Buku ini berkisah tentang janji Rasulullah tentang akan jatuhnya dua imperium dunia yang selama ribuan tahun begitu digdaya, yaitu Konstantinopel dan Roma. Dalam hadist disebutkan bahwa kota pertama yang akan jatuh yaitu Konstantinopel. Setiap khalifah telah berupaya melakukan pembebasan Konstantinopel, tetapi panglima yang dimaksud Rasulullah SAW telah ditakdirkan. Dan dialah pemuda bernama Mehmed II bin Murad II dari dinasti Utsmaniyyah.  

Hagia Sophia yang megah dan indah. Dari Katedral Kristen Ortodoks menjadi Masjid kesultanan Utsmani, dan kini menjadi Museum terpenting di Istanbul, Turki. Tidak saja menjadi monumen sejarah bagi Kristen dan Muslim dengan ornamen kedua agama yang saling menambah keindahan interiornya, juga menjadi saksi mengenai kemegahan arsitektur dan seni dimasa lampau. Ingin sekali aku mengunjunginya.
Kedua, keimanan, persatuan dan ilmu pengetahuan adalah senjata kaum Muslim yang paling ampuh. Manakala semuanya hancur, maka umat Islam akan kalah dan tercerai berai. Dalam berbagai periode pembebasan Konstantinopel, pendahulu Mehmed II mengalami kekalahan telak selama 2 kali, hingga kemudian Mehmed II memimpin. Mehmed yang sangat taqwa, cerdas dan berwibawa menunjukkan kepada dunia dan kepada pasukannya sendiri, bahwa keimanan kepada Allah lah yang menjadi senjata utama dalam melakukan pembebasan Konstantinopel. Saat detik-detik pembebasan berlangsung, pasukan Mehmed II sedang dalam puncak ibadah mereka seperti shalat berjamaah yang diimami oleh Sultan sendiri, puasa sunnah dan senantiasa berdzikir. Sedangkan penduduk Konstantinopel saat itu sedang melakukan campur aduk antara ibadah Kristiani dan takhayul. Perpecahan antara Kristen Ortodoks dan Kristen Roma, serta berbagai sekutu Konstantinopel kala itu menjadikan Konstantinopel sendirian menghadapi kekuatan Islam yang sedang bangkit. 

Keempat, teknologi dan strategi. Selama lebih dari 1000 tahun lamanya, tak ada musuh yang bisa menembus benteng 3 lapis Konstantinopel dan pasukan Islam berhasil melakukannya. Selain selalu mengadaptasi dan melahirkan berbagai teknologi baru seperti jenis perahu, jenis meriam, jenis senjata perang yang menggunakan berbagai teknik fisika. Juga selalu ada strategi baru yang digunakan Mehmed II dan pasukannya untuk mengejutkan penduduk Konstantinopel yang mengejutkan dunia sebagai peralihan abad pertengahan ke abad modern. Saat benteng kota porak poranda, dan Konstantinopel berhasil dibebaskan, tercenganglah dunia. Benteng kedigdayaan imperium Byzantium lantak oleh pasukan Muslim. 

Kelima, keteguhan. Dalam perang, selalu ada siklus antara teguh dan mundur. Terutama ketika telah beberapa kali kalah, berkurangnya bahan makanan, berubahnya musim dan berubahnya berbagai perjanjian antara dua kelompok yang berperang. Tetapi, meski dua kali mengalami kekalahan telak dan beberapa kali kehilangan pasukan dalam jumlah besar, Mehmed II tetap tegak menjadi panglima yang mampu membangkitkan semangat pasukannya. Ia menolak bertele-tele dengan Kaisar Constantine yang kasar dan suka melanggar perjanjian. Dan terbukti, usianya yang belia dan kurangnya pengalaman dalam kepemimpinanya tak membuatnya bisa diremehkan bukan saja oleh musuhnya melainkan juga oleh rakyatnya. Juga bagaimana Mehmed II menjaga keutuhan internalnya, menjaga semangat orang-orang kepercayaannya, menujukkan kemampuannya dalam memimpin dan mengatasi para pengkhianat dan penjilat sogokan dari Kaisar Constantine dalam kabinetnya. 

Kelima, etika. Meski Mehmed II dikenal sebagai panglima perang yang sangat ditakuti Barat ketika itu, sebagian besar sejarawan menulis secara objektif tentang etika perang kaum Muslim. Tak ada pemerkosaan, tak ada pembunuhan kepada perempuan dan anak-anak, tak ada penyiksaan sadis kepada tawanan, tak ada penghancuran pepohonan , tempat ibadah, tempat publik dan rumah-rumah penduduk. Saat ia memasuki kota Konstantinopel, ia membebaskan semua penduduk yang saat itu berkumpul dalam ketakutan didalam gereja Hagia Sophia. Ia bahkan mengangkat seorang pendeta untuk menjadi Paderi dan mengatur segala ibadah dan kehidupan umat Kristen didalam Konstantinopel dalam jaminannya. Juga memberi hadiah yang sama kepada tentara Muslim dan bukan Muslim. Dan menjadikan Konstantinopel sebagai kota yang kuat dan makmur. Ia menjadikan Hagia Sophia sebagai Masjid, membangun pusat pendidikan, taman-taman yang indah dan membangun Istana Topkapi yang megah. 

Ilustrasi saat Sultan Mehmed II memasuki Kota Konstantinopel bersama pasukannya. Ia langsung menuju Hagia Sophia dan meresmikannya sebagai Masjid setelah membebaskan warga kota yang berkumpul didalam Hagia Sophia dalam ketakutan akibat perang. 

Kisah pembebasan oleh kaum Muslim, jika Barat mau mengakuinya secara jujur akan sangat berbeda dengan kisah-kisah penaklukan yang dilakukan Barat pada negara-negara jajahannya. Atau sebut saja saat Timujin atau Jenghis Khan yang memporak-porandakan Kota Baghdad dalam upaya memperluas imperium Mongol, atau saat Jepang memperkosa dan menghancurkan setiap negara Jajahannya di Asia termasuk Indonesia, atau saat orang Eropa merampas tanah bangsa Indian di Amerika, atau saat pasukan Perancis mengalahkan kekhalifahan Islam di Spanyol, atau saat Hitler yang mengeksekusi 6 juta Yahudi, atau saat Polpot melakukan kekejaman perang di Kamboja,  saat Sekutu membombarbir Nagaskai dan Hiroshima yang berdampak pada kecacatan DNA generasi modern Jepang atau saat Amerika melakukan pemusnahan dengan senjata biologis pada perang Vietnam, dan penjajahan-penjajahan terkini yang kita saksikan dilakukan Barat dengan brutal. Maukah kita semua dan Barat mengakuinya secara objektif? Adakah yang melakukan semua kejahatan perang dan perang tanpa etika adalah kaum Muslim? 

Terakhir, buku ini adalah wahana belajar Umat Islam untuk lebih mengenal siapa dirinya dan seperti apa sejarahnya. Allah memang berjanji dalam Al-Qur'an bawah diakhir zaman Islam akan kembali berjaya, setelah pembebasan Roma. Tepi kapan, bagaimana dan siapa pemimpinnya, kitalah, generasi umat Islam yang harus turun tangan dan mewujudkan semua itu. Mari, tak usah lagi malu mengumandangkan Takbir, sebab itu hak kita sebagai Muslim! Jihad kita masih panjang. Bukan saja jihad untuk menegakkan keimanan setiap Muslim secara pribadi, tetapi juga untuk menyatukan umat Islam seluruh dunia dalam satu kekhalifahan dan satu kepemimpinan. 

Depok, 7 Januari 2014
Sumber gambar:

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram