Memandang Mimpi SELAT SUNDA

Sebuah gunung kecil di Selat Sunda
Minggu pagi, 12 Januari 2014 aku memutuskan untuk pulang ke Lampung via darat dan laut. Biasanya aku menyeberang Jawa-Sumatera atau sebaliknya pada malam hari dengan tujuan tidur di kendaraan yang kutumpangi. Karena saat ini aku sedang sangat suntuk dan gampang marah dan menangis, aku memutuskan untuk membalik waktu. Mungkin, dengan menikmati pemandangan selama perjalanan hatiku menjadi tenang dan ada kelebatan inspirasi masuk kedalam kepalaku. 

Aku memakai rute Depok - Pasar Rebo - Merak dan menunggu bis jurusan Merak bersama banyak orang lain yang berburu bis mereka. Aku menemukan sebuah bis berwarna putih AC Ekonomi bertarif Rp. 20.000. Setelah memastikan barangku masuk ke ruang bagasi, aku naik ke bis dan memilih kursi di bagian paling belakang. Bukan karena aku menceburkan diri kedalam kepulan asap rokok dari para penumpang, sebab ruangan itu memang ruangan untuk perokok, tetapi karena aku membutuhkan kursi disamping jendela dan karena semua kursi telah terisi, mau tak mau aku harus memilihnya. Yah, sekalian menunjukkan sisi maskulinku. Kadangkala, dalam perjalanan macam begini aku tak bisa menjadi perempuan yang feminim dan lembut. Pengalaman bolak-balik Sumatera-Jawa via darat menuntutku untuk tampil gagah dalam perjalanan, hehehe....

Pulau kecil dan kapal di Selat Sunda
Perjalanan tanpa hambatan seperti macet dan copet membuat perjalanan tak berat, dan sesekali aku bisa tidur sembari menyandar ke jendela. Bus tiba di pelabuhan Merak yang lengang dan kacau balau dan saat turun serta merta para ojekers menyerbuku. Karena aku kebelet pipis, buru-buru aku mencari toilet terdekat, lalu menyewa ojek menuju kapal Rp. 10.000. Aku masuk ke lambung kapal yang pernah kumasuki entah kapan. Aku sempat memotret dan merekam beberapa hal. Cuaca yang panas menjelang hujan membuat hatiku berdesir. Ya, inilah petualangan di Selat Sunda dengan matahari terik. Dan kesibukan di Selat Sunda membuatku bermimpi mengenai wilayah ini 20 tahun mendatang, yang mungkin semakin sibuk dan menjadikannya sumber pundi-pundi para pekerja keras di Jawa dan Sumatera. 

Setelah menjamak Shalat Dhuhur dan Ashar di Mushalla yang lumayan bersih, aku menuju lambung kanan dan menikmati deburan ombak yang menciptakan buih halus berwarna putih. Aku dan beberapa orang penumpang mengobrol soal banyak hal, termasuk seorang tentara yang merupakan ABK Kapal. Lalu aku makan siang dengan Mi Cup Ramyun, lalu ngobrol dengan penumpang lain yang katanya ketiduran di kapal sehingga dalam sehari ia telah tiga kali menumpang di kapal ini. Kami mengobrol banyak, mulai dari kegiatannya di Jakarta, kegiatan istrinya di Lampung, kebakaran salah satu gedung UI, Kapitalisme pendidikan di beberapa universitas ternama di Indonesia, tentang hipnotis dan keharusan perempuan membawa pisau dalam perjalanan, warna kukuku yang oranye dan membuat kami mengobrol soal cerita-cerita masa kecil hingga cerita-ceritaku tembus Surabaya-Yogyakarta-Jakarta  pakai bis sendirian saja. 

Senang sekali bisa ngobrol dengan kenalan baru tanpa embel-embel berupa pujian gombal layaknya yang diberikan banyak laki-laki yang kutemui dalam perjalanan seperti ini. Dengannya pula aku mengobrol tentang alam Sumatera yang indah, yang membuatku ingin melakukan perjalanan Lampung-Sumatera dengan bis putus-putus agar aku bisa leluasa berhenti dan menikmati pemandangan dan budaya di tempat-tempat tertentu di Sumatera. Ya, aku jadi bermimpi ingin menembus Sumatera tanpa menunggu kehadiran kereta Sumatera. Lampung-Aceh.

Perjalanan semacam ini, yang telah kulalui selama bertahun-tahun, telah memberiku banyak pelajaran tentang cara menilai teman seperjalanan dan gombalan para pria. Karena itulah, salam perjalanan semacam ini aku selalu menggunakan pakaian yang membuatku terlihat smart, punya kemampuan bela diri, pintar, tak mudah ditipu dan gesit. 

Pelabuhan Bakauheni, Provinsi Lampung
Saat kapal mendekat ke Pelabuhan Bakauheni, kulihat Tugu Siger yang merupakan lambang provinsi Lampung sebagai gerbang pulau Sumatera di kejauhan. Aku merekam beberapa momen dan sempat menjadikan teman baruku itu sebagai talent. Meski pulang ke Lampung adalah menghadapi perjuangan yang lebih berat, tetapi aku senang bukan kepalang. Lampung adalah rumah dan pulang ke Lampung seperti pulang ke pelukan ibu. 

video


Ini dia dua video singkat sebagai kenang-kenangan akan Selat Sunda dan perjalananku. 

video

Oh ya, aku lupa cerita, bahwa sepanjang perjalanan dari Pasar Rebo, Jakarta hingga Bandar Lampung hujan terus mengguyur. Ya, musim hujan telah tiba. Bahkan, saat aku tiba di Pelabuhan Bakauheni, hujan turun dengan derasnya. beberapa tempat di ruang tunggu bocor dan air masuk kedalam. Semuanya basah. Setelah menunggu sekitar 5 menit sembari menenggak air mineral dingin, aku mendapatkan bis AC menuju Terminal Rajabasa dan mendapat teman baru. teman baru itu, seorang pria, baru pertama kali melakukan perjalanan darat dari Jakarta ke Lampung. Katanya sih untuk hemat ongkos. Malam harinya, ia akan naik Kereta menuju Palembang, menyusul istrinya yang sudah tiba terlebih dahulu menggunakan pesawat. Dan sebagai orang Lampung baik hati, aku memberinya beberapa tips melakukan perjalanan di Lampung, seperti tips memilih kendaraan dari pelabuhan Bakauheni menuju terminal Rajabasa dan dari terminal menuju Stasiun Kereta Api Tanjung Karang. Dan kami berpisah saat bis tiba di terminal Rajabasa menjelang pukul 8 malam. 

Well, aku tiba di kosanku. Dan hujan turun dengan lebatnya, setelah makan malam dengan telur dadar dengan bawang putih dan bercanda dengan dua teman kosan, aku tidur di ranjangku yang sempat kutinggalkan selama sebulan saat aku di Depok. Kupeluk boneka-boneka kesayanganku. Hm, bau Lampung begitu menyejukkan hatiku. 

Bandar Lampung, 15 Januari 2014

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram