LOVE LUCY # 1



”Kau percaya pada keajaiban?”
”Ya.”
“Hm, Kau pernah melihat Jin?”
”Tidak.”
”Kau pernah menyelam? Hm, ke laut ini?”
”Belum.”
”Atau Kau pernah mendaki gunung?”
”Ya. Sewaktu SMU.”
”Kau suka dermaga ini?”
”Aku?”
”Ya. Apakah kau menyukai sesuatu di dermaga ini?”
”Angin.”
”Ya. Aku juga suka angin.”
”Kau hapal lagu pelangi?”
”Tentu saja. Itu lagu wajib sewaktu aku masih TK.”
”Kau hapal?”
”Ya. Baiklah, kunyanyikan untukmu.”
”Pelangi-pelangi alangkah indahmu...merah kuning hijau di langit yang biru... bagaimana suaraku, lumayan kan?”
”Suaramu seperti kelebatan angin yang menghampiri telingaku.”
”Kau ....maksudku... apakah kau pernah merasa disentuh tangan Tuhan?”
”Ah, seperti apa tangan Tuhan?”
”Lembut.”
”Dia hanya akan menyentuh kita di Surga.”
”Menurutku tidak begitu.”
”Lucy.”
”Hm.”
”Kau nyaman dengan dirimu?”
”Aku? kenapa?”
”Kau....kau seperti tak menjejak bumi.”
”Aku di bumi.”
”Hatimu. Pikiranmu.”
”Hm. Kau tahu....jika aku menikmati angin sembari memejamkan mata...”
”Apa yang kau rasakan?”
”Aku memiliki sepasang sayap.”
”Sayap?”
”Ya. Seperti burung. Rasakan sentuhan angin. Sentuhan angin. Di wajahku.”
”Lucy. Bangunlah.”
“Saat kau punya sayap. Kau bisa terbang.”
“Lucy. Kumohon.”
“Akan kutunjukkan.”
“Lucy.Lucy. Jangan!”
“Aku akan menunjukkan, betapa senangnya terbang seperti burung.”
”Lucy. Lucy. Jangan terjun ke laut. Kau tidak bisa berenang!”
”Aku hanya terbang.”
”Lucy! Lucy!”
”Aku terbang. Aku terbang.”
“Lucy! Lucyyyy!”
Laut bergelombang. Memeluk angin yang melintas. Lucy. Lucy. Lucy.

***
Aku harus pergi. Lihatlah, putriku menunggu. Dia kedinginan. Duduk dan menungguku di beranda. Putriku. Dia sangat cantik. Lihatlah, dia mengulurkan tangan mungilnya. Jemarinya dipenuhi cahaya. Dia sepenuhnya cahaya. Tidakkah kalu lihat matanya? Matanya jernih bagai embun. Senyumnya manis bagai mentari pagi. Aku ingin memeluknya. Aku ingin menemaninya. Aku ingin bermain dengannya.

***
“Lucy.”
“Ya.”
“Apakah kau angin yang berhembus?”
“Hh, aku burung yang melebarkan sepasang sayapnya.”
”Lucy.”
”Ya.”
”Aku ingin hidup bersamamu.”
”Kau?”
”Ya. Aku ingin hidup bersamamu.”
”Kau? Bukankah kau memang hidup bersamakku?”
”Aku, Kau. Hidup abadi sebagai kekasih.”
”Puitis sekali.”
”Kau mau atau tidak?”
”Menurutmu?”
”Maukah kau memakai ini?”
”Cincin?”
”Ya. Di jari manismu.”
“Aku....”
“Aku akan sangat  berbahagia jika kau mau hidup bersamaku. Sepanjang hidupku.”
“Aku tidak bisa. Maaf.”
”Apa arti semua yang telah kita lalui?”
”Kau seperti batu. Kenapa keras kepala sekali?”
”Kau akan menyesal jika hidup bersamaku.”
”Lucy.”
”Kau akan menyesal. Maaf. Aku tak bisa.”
”Lucy. Aku mencintaimu. Mencintaimu.”
”Aku...”
”Katakan Lucy, katakan...katakan bahwa kau juga.”
”Tidak.”
”Apa yang kau inginkan?”
”Pergilah. Jangan datang lagi.”
”Lucy. Kau tak sedikitpun memberi kesempatan. Apa arti semua ini?”
”Sudah kukatakan kau akan menyesal.”
”Lucy.”
”Baiklah. Aku yang pergi.”
”Lucy. Aku bersumpah kau akan hidup bersamaku. Aku bersumpah. Lucy!”

***
”Kau tahu dia?”
”Lucy? Ya. Darimana kau dapat kartu nama ini?”
“Dimana dia?”
“Kau siapa? Sepertinya dia di dermaga.”
“Dermaga apa?”
“Tempat perahu-perahu kecil bersandar.”
“Ya. Aku tahu itu. Namanya apa? Kau mempersulitku saja.”
“Kau ingin bertemu dia? Ada janji?”
“Ya.”
“Wajahmu berkata lain. Kau jangan coba-coba bohong padaku.”
“Hei, aku ingin bertemu perempuan ini. Kenapa kau mempersulitku?”
”Karena jika bertanya padaku kau akan sulit menemuinya.”
”Oh aku lupa. Aku belum membeli kopimu. Ayo berikan aku secangkir.”
”Nah, begitu dong.”
”Sekarang katakan padaku dimana dia? Hm, kopimu enak juga.”
”Ini kopi terbaik di seluruh kafe di kota pantai ini. Beruntung kau bertemu aku.”
”Duduklah dulu kawan. Kuberi tahu sesuatu tentang Lucy.”
”Ah ya, aku akan senang mendengarnya.”
”Lucy.”
”Kenapa dengan dia?”
”Meski kau memujanya, kau tak akan bisa hidup dengannya.”
”Kau pikir aku bermaksud demikian?”
”Ya. Bisa kupastikan. Setiap lelaki yang bertemu dengannya, yang baik atau yang jahat, semuanya akan bertekuk lutut. Lucy perempuan berdarah dingin. Sangat sedikit bicara. Ya, dia memang lumayan dermawan dan murah senyum. Tapi, semakin kau mengenalnya, semakin kau tenggelam dalam pusaran samudera. Lucy bagai samudera yang bisa menampung apapun.”
”Kau baik sekali mau memberiku informasi penting tentangnya. Kau suka blog-nya”
”Bukan dia yang menulis di blog itu.”
”Siapa? Kau?”
”Aku dan seorang teman lain. Kami meng-upload tulisan-tulisan Lucy. Keinginan-keinginannya. Foto-fotonya. Dia tidak peduli dengan semua itu. Dia seperti sedang menginginkan sesuatu yang tak kami pahami. Oh ya, dia sangat baik.”
”Lama kau mengenalnya? Secangkir lagi boleh?”
”Ya, tentu saja. Kopi di tokoku ini sangat nikmat.”
”Lucy? Lanjutkan ceritamu.”
”Dia cukup sibuk. Dia punya banyak pekerjaan.”
”Dia seorang pengusaha? Atau kepala Dinas tertentu?”
”Tidak. Lucy memiliki beberapa perpustakaan. Dia mengelola semuanya. Dia punya beberapa toko bunga dan dia mengelola semuanya.”
”Apakah perpustakaan dan toko bunga membuatnya sesibuk itu?”
”Ya. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di dermaga.”
”Ya. Dermaga yang kau sebut tadi. Untuk apa Lucy disana? Apa yang dilakukannya di dermaga?”
”Entahlah.”
”Maksudmu ...entahlah..?”
”Dia hanya duduk atau berdiri bagai patung. Membiarkan angin menampar-nampar wajahnya. Lucy sangat suka pada laut yang bergelombang.”
”Lalu. Sekarang Lucy di dermaga?”
”Ya. Kesana saja. Aku tak mau mengantarmu.”
”Baiklah. Dermaga mana?”
”Kau tanya saja pada orang-orang. Hanya ada satu dermaga ditempat ini.”
”Kau gila. Jadi kau telah memerasku dengan dua cangkir kopi yang harganya selangit itu? Keterlaluan sekali kau.”
”Tak semahal informasi tentang Lucy, kawan.”
”Baiklah. Aku akan ke sana.”
”Kau mau kemana?”
”Dermaga. Dan aku akan bertanya pada orang-orang dimana letak dermaga itu.”
”Hei, jangan buru-buru.”
”Apa lagi kau ini?”
”Sekarang Lucy tak akan ada disana.”
”Apa katamu? Kau mau memerasku lagi?”
”Tenang kawan.”
”Berapa yang kau mau. Jangan bertele-tele kalau mau memerasku. Sebutkan saja!”
”Ya. Aku ingin mengatakan bahwa Lucy sudah dua hari tak disini. Dia sedang pergi.”
”Pergi? Kenapa kau tak bilang dari tadi? Kemana?”
”Cina.”
”Apa katamu? Cina?”
”Ya. Lucy sedang ke Cina. Seminggu.”
“Oh...”
“Maaf, kawan. Jika kalian berjodoh, aku siap menjadi saksi pertemuan kalian. Di kedai ini, dengan dua cangkir kopi nikmat. Bagaimana”
“Ok. Ini kartu namaku, nomor telepon dan emailku, semua ada dikartu ini. Kalau sampai kau tak menghubungiku karena alasan kartu ini hilang, tak kuampuni kau!”
“Ya. Akan kuberi secara cuma-cuma. Ingat itu.”
“Baiklah, akau akan mengingatnya.”
“Sudah. Pulang sana. Jangan mengacau di kedaiku.”
”Baiklah aku pulang.”
”Merepotkan saja!”

Bersambung...

Bogor, 2 Januari 2014
sumber gambar:

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram