EKSPRESI CINTA LAKI-LAKI



Junsei Agata adalah seorang restorator lukisan yang berbakat. Meski memiliki kekasih yang begitu muda, cantik dan sangat mencintainya, Junsei merasa selalu kesepian dan terbayang-bayang akan kenangan masa lalu. Ia tumbuh bersama kakeknya, seorang pelukis Jepang yang masih berjaya hingga usianya 70 tahun. Ayahnya adalah seorang ambisius dan tinggal di Amerika, bersama ibu barunya. Junsei membenci ayahnya sebab membuatnya ibunya bunuh diri dan membuatnya kehilangan kasih sayang seorang ibu. Saat memutuskan untuk sekolah di Jepang tanpa mengenal budaya Jepang, ia jatuh cinta pada Aoi. Teman Aoi selama sekolah di sebuah sekolah internasional orang Jepang di Milan, Takashi, yang mengenalkannya. Junsei jatuh cinta pada Aoi pada pandangan pertama. Aoi yang tenang, lembut, dan kadang malu-malu membuatnya menemukan ketenangan dan kasih sayang. 

Sebagai restorator lukisan ia menemukan sebuah pekerjaan yang mengasyikan di Firenze, Italia. Bersama seorang guru bernama Jovana, ia banyak melakukan pekerjaan restorasi lukisan-lukisan terkenal dari abad pertengahan. Ia juga seringkali menjadi model lukisan Jovana, yang tentu saja mengingatkannya pada Aoi yang juga sering menjadi objek lukisannya ketika mereka masih sama-sama di Tokyo. Jovana bukan saja guru. Kadang-kadang ia menemukan kasih sayang seorang ibu pada sosoknya. Kasih sayang yang menenangkan dan membuatnya damai. Bersama Jovana dan Memi, pacarnya, ia mengagumi Firenze sebagai kota yang tak pernah tumbuh. Firenze adalah kota yang memelihara masa lalu. Tak ada bangunan baru di Firenze. Semua warga kota bekerja untuk menyelamatkan masa lalu dan berusaha merestorasi bangunan-bangunan tua yang lapuk oleh waktu. 

Di Firenze, ia suka sekali mengunjungi museum dan mengagumi lukisan-lukisan indah dari pada pelukis terkenal. Lukisan yang paling ia sukai adalah "The Great Virgin and Child" karya Raffaero, di Museum Paratina. Setiap kali melihat lukisan itu, hati Junsei merasa tenang. Ia melihat kelembutan seorang ibu yang menenangkan. Firenze juga mengingatkannya pada Aoi dan janji mereka semasa kuliah. Ia berjanji akan menunggu Aoi pada 25 Mei 2000, pada hari ulang tahun Aoi ke 30. Janji yang kadang-kadang ia tertawakan karena mungkin terlalu kekanakan, tetapi mengikatnya kuat selama bertahun-tahun. Bayangan Aoi semakin lekat, mengikutinya kemana-mana. 

Suatu kali, ia menemani Memi ke Milan. Gadis campuran Jepang-Italia itu hendak mencari ayahnya. Memi tak terlalu bisa bahasa Italia dan Ayahnya sudah lupa bahasa Jepang. Pertemuan tak terkira antara ayah dan anak itu membuat Junsei ingat akan ayahnya yang dibencinya dan ibunya yang tak dikenalnya, juga tentang Aoi yang sangat ingin ia temui. Sampai satu waktu, saat berjalan-jalan di keramaian kota Milan, ia melihat sosok gadis mirip dengan Aoi di kejauhan. Junsei melepaskan tangan Memi dan berlari mengejar gadis itu, berharap bahwa memang benar itu adalah Aoi. Tetapi, hingga Memi berhasil mengerjarnya dan ngambek karena ditinggalkan begitu saja, Junsei kehilangan jejak gadis itu. Peristiwa itu sangat menyiksanya, dan kenangan dengan Aoi muncul satu persatu seperti hantu.

Ketika Junsei sedang gundah karena merindukan Aoi, dan merasa bersalah karena seakan-akan ia menjadikan Memi hanya sebagai pelarian atas hasrat kebinatanganya, ia mendapat kabar buruk. Seseorang merobek lukisan Francesco Cozza yang sedang dikerjakannya sebagai sebuah proyek restorasi di studio gurunya. Itu membuatnya marah dan frustasi, dan tentu saja mencoreng nama baik studionya. Ia curiga pada Angelo dan Takanashi sebagai biang keroknya, tetapi sampai kemudian studi ditutup dan ia belum mencari pekerjaan baru, ia belum menemukan siapa pelakunya. Jovana sendiri memilih untuk berhenti sementara dan akan mengajar teknis restorasi lukisan di sekolah seni. Junsei semakin terpuruk dan hanya Aoi yang ia inginkan. Ia menyebut nama Aoi sesering mungkin, bahkan ketika bersama Memi yang membuat gadis itu sangat cemburu.

Kembali ke Jepang, ke apartemen lamanya semasa kuliah dan mulai mengumpulkan ingatannya akan sosok Aoi sebagai mahasiswa. Memi, setelah 6 bulan ditinggalkannya tanpa kabar, menyusulnya dan mereka jadi lebih sering bertengkar gara-gara Aoi. Setahun lamanya Junsei menganggur karena tak ada pekerjaan sebagai restorator lukisan yang menghampirinya dan Memi menyangsikan kalau Junsei bisa hidup hanya dari melukis saja. Tiba-tiba Takashi, teman kuliahnya dan Aoi mampir ke apartemennya. Ia juga memberi tahu kalau Aoi ada di Milan dan hidup bahagia dengan pacarnya yang orang Amerika. Bermodal alamat yang diberikan Takashi, Junsei menulis surat yang panjang pada Aoi dan menyatakan permintaan maaf atas peristiwa masa lampau yang sangat kasar, yang membuat Aoi pergi dari kehidupannya. Tak lama, ia merasa bahwa Aoi menelponnya dari Milan. Ia tak kemana-mana selama berhari-hari dan berharap telepon dari Aoi. Sampai suatu hari ia mencoba menelpon Aoi, tapi suara seorang lelaki mengatakan "Aoi tak ada." dalam bahasa Jepang yang terbata-bata. Junsei pun mengira bahwa Aoi sudah pergi dari alamat yang diberikan Takashi. 

Tak lama setelah ia bekerja di sebuah studio restorator Jepang yang direkomendasikan kakeknya, kakeknya jatuh sakit. Dalam momen-momen itu ia teringat Aoi, dan bertengkar hebat dengan ayahnya saat lelaki itu datang. Ia menuntut pertanggungjawaban ayahnya atas kepergian Aoi. Saat itulah Memi paham, bahwa meskipun ia mencintai Junsei sepenuh hatinya, Junsei tak bisa melepaskan Aoi dari ingatannya, dari hatinya. Memi merasa sangat benci ketika Junsei tak menghargai cintanya yang tulus dan selalu kembali pada Aoi dimasa lalu.

Memi kabur dari apartemen Junsei. Akira Tanakasi secara tiba-tiba muncul dan mengatakan bahwa Jovana telah meninggal karena bunuh diri. Tanakasi mengatakan bahwa Jovana yang merobek lukisan Cozza yang dikerjakannya karena iri pada kemampuan Junsei dalam melakukan restorasi. Junsei merasa semua tak mungkin dan ia teringat pada lukisan Cozza yang tiba-tiba ada di Jepang dengan hasil restorasi yang buruk. Restorasi ulang yang dilakukanya membuat namanya kembali melambung. Tetapi, ia tak menyangka bahwa gurunya yang melakukannya hanya karena rasa iri. Tak pikir panjang ia langsung berangkat ke Firenze setelah meminjam uang pada kakeknya. Saat ia sampai di Firenze, menemui In soo, teman Memi dan berziarah ke makam Jovana, ia mendapat telepon dari Tokyo bahwa kakeknya meninggal dan meninggalkan warisan yang besar untuknya. 
Duomo Firenze, Italia
Tetapi ia tak bisa segera kembali ke Jepang. Ia ingin tetap di Firenze karena sebuah janji pada Aoi. Janji untuk bertemu pada 25 Mei, pada hari ulang tahun Aoi. Dihari itu, ia menaiki Cupola di Duomo Firenze dan menyebut nama Aoi. Kenangan tentang Aoi pun menghambur dari kepalanya. Ia tetap disana sambil menikmati pemandangan kota Firenze dan mengira bahwa Aoi tak akan datang dan sudah melupakan janji itu. Aoi sudah didepannya dan ia terpana, merasa tak percaya bahwa Aoi datang. Ia melihat Aoi yang semakin cantik dan semakin ramping. Ia melihat Aoi yang dirindukannya dengan rambut yang basah oleh keringat. 

Tiga hari lamanya mereka bersama, bercerita mengenai kehidupan masing-masing dan saling menuntaskan kerinduan. Ia melihat Aoi yang berbeda. Aoi yang semakin cantik. Aoi yang tenang seperti dulu. Aoi yang membuatnya gugup dan Aoi yang mengucapkan "semua telah berakhir," dan kembali ke Milan. Junsei mengira bahwa Aoi memang hidup bahagia dengan kekasih Amerikanya. Junsei lunglai dan tak mengira kerinduan yang menggebu-gebu selama bertahun-tahun, ia kira akan dituntaskan saat bertemu Aoi malah menjadi akhir hubungan mereka. Pertemuan 25 Mei seperti mengakhiri semuanya.

***

Cerita di buku kedua ini tak kalah seru dengan cerita di buku pertama. Dalam buku ini ditemukan sosok Junsei yang bimbang dan haus kasih sayang, dan selalu terikat kenangan akan Aoi dan kerinduan yang menggebu-gebu. Meski kisahnya tidak sesepi dan sesedih kisah Aoi dalam buku pertama, buku kedua ini tetap memberi penekanan pada makna kerinduan yang mengikat. Sosok Junsei yang memiliki Memi yang sangat mencintainya tetap tak bisa lepas dari Aoi si cinta pertamanya yang kenangannya selalu menguntitnya bagai hantu. Meski Junsei mencintai dan menyayangi Memi karena sifatnya yang ceria dan berbeda dengan Aoi, ia tak bisa melepaskan Aoi. Ia bahkan rela melepaskan Memi demi mengejar Aoi yang ia tak tahu pasti kehidupannya. Buku ini mengajarkan tentang sikap jujur atas perasaan yang tak bisa ditutupi oleh apapun. Juga tentang petualangan Junsei akan lukisan-lukisan dan museum-museum terkenal di Firenze, Italia.

Buku pasangannya: ESKPRESI CINTA PEREMPUAN 

Buku kecil ini begitu tegas, menarik, penuh informasi dan tidak cengeng dalam menceritakan perasaan tokoh-tokohnya. Aku suka cara penulis menggambarkan kisah ini, meski terdapat beberapa hal yang ambigu mengenai waktu. Buku ini sangat bagus sebagai bahan bacaan mereka yang sedang dilanda rindu dan memaknai kembali kerinduan. Juga untuk para penulis novel-novel cinta untuk belajar mengindari kesan cengeng dalam menulis. 

Depok, 12 Januari 2014 
Sumber gambar: 
gardubuku.blogspot.com
http://thingstodo.viator.com/florence/best-views-in-florence/


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram