Belajar dari Orang Amerika


Ke kota Fayetteville, negara bagian Arkansas adalah pengalaman pertamaku ke Amerika, ke luar negeri. Perjalanan ini tidak saja membuatku terpana karena bisa melangkahkan kaki dari batas-batas wilayah negara bernama Indonesia ke negara adi kuasa dan raksasa masyarakat internasional. Juga karena aku melakukan perjalanan internasionalku sendirian. Ya sendirian. Sebuah pencapaian yang membuat bapak dan keluargaku bengong saat aku berpamitan dan memohon restu.

"This is Fayetteville, Ika," ujar Alannah dalam perjalanan kami dari bandara ke apartemen di kawasan West Lawson Street, tidak jauh dari kampus Universitas Arkansas. "You can see our beautiful the Ozark Mountains..." tambahnya lagi sembari menunjukkan rengkaian pegunungan di hadapan kami meski kelihatannya mirip tanah kosong berumput ketimbang pegunungan.

Fayetteville, kota pelajar tempatku tinggal merupakan kota yang sepi, ndeso dan natural memang tidak seperti Amerika yang wah. Namun, sebagai bagian dari Amerika kota itu memiliki kesan tersendiri bagiku. Negara bagian Arkansas dikenal sebagai ‘the Natural State’ karena memang lingkungannya yang bersih, bebas polusi dan tidak sesibuk negara bagian lain yang jadi pusat ekonomi di Amerika. Pertama kali tiba di kota Fayetteville, aku mengagumi alamnya yang cantik saat musim gugur. Alam terkembang bagai permadani warna warni. Sungguh indah dan luar biasa. Burung-burung bebas bernyanyi di semua tempat, berterbangan di udara dan bermain-main dengan tupai di halaman berumput tanpa perlu bertengkar memperebutkan makanan. Langit Arkansas adalah langit yang sibuk, sekaligus cantik dan sepi. Pesawat jet saling melintas di udara, mencipta banyak garis putih tipis melintang dan saling bertabrakan, ibarat lukisan anak kecil dalam kanvas biru bersih.

Orang Arkansas juga nampaknya suka sekali menggunakan nama binatang sebagai lambang dari banyak hal. Razorbacks atau babi hutan yang tinggal di hutan-hutan di Arkansas adalah lambang dari tim olahraga University of Arkansas dalam berbagai cabang seperti football, basketball, baseball, dan golf. Si Razorbacks juga menjadi lambang untuk berbagai barang mulai dari bis umum, kaos, jaket, tas, cangkir, gantungan kunci, dan sebagainya dan semua itu bisa dibeli di sebuah toko di gedung Student Union. Para penggemar Razorbacks tim seringkali meneriakan semangat ‘Razorbak! Go Hogs go!’ yang awalnya kupikir berkaitan dengan burung Hogs yang memang bermata tajam dan penyendiri. Selain itu, Fayetteville High School menggunakan Bulldog sebagai lambang sekolah dan tim olahraga mereka dan memberinya warna ungu. 

Tim Razorback merupakan tim yang sangat kuat dan dihormati di Amerika. Tim ini terdiri atas 19 cabang olahraga untuk tim laki-laki dan perempuan. Keseriusan dalam bidang ini bahkan diperlihatkan dengan dibuatnya lapangan khusus untuk tim perempuan, seperti untuk permainan football dan baseball, yang saling berdampingan. Orang-orang Arkansas sangat mendukung tim mereka dan stadion selalu penuh saat pertandingan berlangsung. Jhonnie dan putranya John, penduduk Fayetteville yang menjadi family host-ku, adalah ibu dan anak yang sangat suka football. Ia akan selalu berusaha datang ke stadion untuk menyaksikan pertandingan tim universitas kesayangan mereka melebihi John dan Robert. Katanya, dulu Razorbacks bisa ditemukan dengan mudah di hutan-hutan di seantero Arkansas, tapi sekarang sudah jarang. Jadi mungkin penggunaan nama binatang itu untuk segala hal bisa mengobati kerinduan yang menggigit-gigit untuk binatang malang itu.

Orang-orang dan pemerintah Arkansas sangat peduli lingkungan. Secara kasat mata semua itu bisa dilihat saat aku memiliki kesempatan berjalan-jalan di track khusus untuk sepeda dan pejalan kaki, saat aku hiking ke sebuah taman nasional dan saat perjalanan melintasi Ozark Mountains saat hendak ke Little Rock. Setiap orang yang membutuhkan olahraga ringan seperti lari akan menggunakan track khusus untuk pejalan kaki dan sepeda yang benar-benar aman dan nyaman. Jalan tersebut sangat mudah dikenali oleh siapapun karena lebarnya adalah separuh dari jalan utama dan memiliki garis kuning disepanjang jalan. Track ini secara umum melewati pinggiran sungai, kolong jalan raya, pinggiran rawa-rawa dan melintasi banyak apartemen/kosan.

Pertama kali aku mencoba jalan-jalan sore bersama dua orang teman dari Guatemala dan Meksiko bernama Nehemias dan Maria. Nehemias memang berolahraga setiap sore jika kami tak ada kegiatan grup. Ia memulai pemanasan di halaman belakang apartemen lalu lari bolak-balik sejauh 10 kilometer. Aku dan Maria tidak sanggup mengikutinya dan kami berpisah. Aku dan Maria hanya berjalan saja sambil menikmati suasana sore. Kepalaku sangat sakit dan hidungku siap-siap mimisan karena pakaian yang kupakai kurang tebal. Malamnya aku memang mimisan dan sedikit demam.

Disepanjang jalan kami menikmati pepohonan warna-warni yang sedang menggugurkan daun-daunnya, menghitung jenis tanaman yang tidak ada di Indonesia, menikmati canda burung-burung yang terbang, berteriak-teriak saat melihat sekumpulan itik terbang di sebuah lahan pertanian yang luas dan menikmati biji-bijian diantara pohon-pohon dan gemericik aliran air di sungai kecil yang sungguh jernih dan bebas sampah. Kami juga berpapasan dengan beberapa orang yang berlari atau mengendarai sepeda, dan bercengkerama seorang ayah yang memangku anak kecilnya di pundak. Jikalah ada fasilitas semacam itu di Indonesia, tentu bercengkarama sambil berolahraga bersama keluarga dan tetangga bisa jadi obat stress yang sangat ampuh.

Suatu malam ketika ada Friday Night big sale, aku bersama dua orang teman Vietnamku menyusuri track itu kembali pada malam hari. Kami berangkat dari Apartemen menuju Walmart yang letaknya tak jauh dari gedung Spring International Language Center tempat kami belajar pada pukul 6 malam dan kembali pada jam 12 malam dan berjalan kaki sepanjang 20 mil atau sekitar 16 kilometer. Disepanjang perjalanan, aku melihat bagaimana alam dikelola dengan baik. Sungai, bantaran sungai dan wilayah berawa adalah wilayah yang asri dan bersih dan menjadi tempat para mahasiswa dan dosen universitas melakukan penelitian. Bahkan dalam jarak sekian meter, terdapat kursi untuk duduk seakan-akan tempat itu adalah sebuah taman. Sepanjang kami berjalan dan menikmati malam sembari bercanda, kami merasa aman. Kami tidak khawatir pada orang jahat karena angka kejahatan di Fayetteville sangat kecil.

Selain itu, jarang sekali kutemui sampah berceceran di jalanan, apalagi sungai. Meskipun tidak serumit di Jepang, pengelolaan sampah di Arkansas cukup terpadu dan patut diacungi jempol. Setiap apartemen misalnya akan dilengkapi sebuah kontainer besar dan tertutup tempat mengumpulkan sampah. Aku tak perlu repot-repot memisahkan sampah, aku hanya perlu membuangnya dalam keadaan terbungkus plastik kedalam kontainer itu. Secara berkala truk pengangkut sampah akan mengambilnya dan membawanya ke tempat pengelolaan sampah entah dimana. Bahkan sungai Arkansas yang lebar di Little Rock saja bersih. Tak ada aliran busa atau cairan limbah warna-warni seperti yang sering kulihat di sungai-sungai di Jakarta, apalagi menjadi bak sampah. Bahkan toko-toko seperti Harps menyediakan  kotak khusus untuk beberapa jenis sampah yang bisa didaur ulang seperti kertas, plastik, botol dan kaleng. Sedangkan di tempat-tempat umum, semua orang dengan patuh membuang sampah ke tempat sampah sesuai dengan kategorinya. Sementara sampah-sampah yang berserakan di jalanan utama sering dibersihkan oleh para narapidana berseragam orange secara berkala dan berkelompok. Seragamnya mirip petugas penyapu jalan di Jakarta, hehehe.

Little Rock High School, saksi sejarah tentang politik rasial di dunia pendidikan di Arkansas pada masa lampau
Orang-orang Fayetteville juga suka bunga dan berkebun sayuran, dan hanya bisa menikmati kegiatan berkebun pada musim demi dan musim panas. Jika di Indonesia kita bisa membeli bunga di banyak tempat di taman-taman kecil dengan langit terbuka sepanjang tahun, di Fayetteville bunga-bunga dijual di tempat khusus yang disebut Nursery. Karena cuaca yang keras maka Nursery yang menjual aneka ragam bunga, pupuk dan peralatan berkebun berbentuk rumah kaca. Terkadang, beberapa buket bunga dijual di dalam mal dan harganya mahal. Jenis bunga yang dijual juga berdasarkan musim. Misal ada jenis bunga tertentu seperti Kaktus Natal dan beberapa jenis bunga hanya dijual menjelang Natal. Terlepas dari itu semua, aku sungguh salut pada kerja keras mereka untuk mencintai alam dan lingkungan.

Saat dalam perjalanan menuju Devil’s Den State Park dan Little Rock pada saat yang lain aku bertanya mengenai kondisi hutan di Arkansas. Sepanjang jalan memang hutan terdiri atas pohon yang seragam dan hanya berbentuk perbukitan, yang sangat jauh berbeda dengan hutan-hutan di Indonesia yang heterogen dan bergelombang. Karena saat itu musim gugur, maka hutan berwarna coklat, kecuali sedikit pohon cemara yang selalu hijau. Aku bertanya mengenai aturan soal penebangan kayu. Alannah, mentorku hanya menjawab bahwa pemerintah memiliki aturan itu dan nampaknya tak pernah terlihat jejak penebangan liar. Ya, mungkin karena penduduk Arkansas tak banyak dan tak perlu menebang kayu secara illegal untuk dijual ke luar negeri sebagaimana marak terjadi di Indonesia. Lalu bagaimana soal kayu untuk memenuhi kebutuhan kertas dan perumahan? Alannah hanya menjawab tidak tahu dan pemerintah mereka punya aturannya. Aku jadi curiga, jangan-jangan negara itu membeli produk-produk hasil pembalakan liar di Indonesia yang telah dijual ke luar negeri dan dijual ulang dengan kemasan baru made in negara tertentu.

Taman Nasional pun demikian adanya. Saat aku dan rombongaku menyusuri hutan yang menurutku bukan hutan itu, benar-benar tak ada jejak perusakan atau penebangan liar. Hutan begitu rapi, terdiri atas pohon-pohon berjenis sama, berwarna sama, dengan tinggi dan besar yang sama, plus sedikit tanaman perdu, rumput dan lumut. Saat kami tiba disebuah tempat istirahat yang merupakan bekas patahan batu purba, sejauh mata memandang hutan nampak rapi dan terjaga.  Siapa saja bisa berkunjung ke tempat itu, bahkan membawa serta anak kecil. Hiking tidak menyebabkan lelah, lapar, haus apalagi berkeringat. Kami malah berlari-lari sambil berphoto-photo ria. Di lembah, di bantaran sungai terpencar area perkemahan, taman tempat pengunjung nongkrong lengkap dengan kuris-kursi dan meja yang terbuat dari semen atau kayu, lapangan parkir, toilet umum dan kantin. Katanya, orang-orang akan ramai mengunjungi taman nasional tersebut saat musim semi karena taman nasional begitu indah dan sungai mengalir deras. Benar-benar pengalaman hiking yang berbeda.

Orang Amerika, setidaknya yang kukenal di kota Fayetteville, adalah orang yang sangat mengagumi bangsanya lebih dari apapun. Kebanggaan itu dengan mudah bisa dibaca dalam banyak kegiatan yang kuikuti. Pertama, mereka selalu bangga sebagai ‘an American’ dan hidup bersama ‘American Spirit’. Contoh yang membuatku sangat terkesan sekaligus terheran-heran oleh kepolosan mereka adalah saat seorang guruku menunjukkan sebuah surat kabar yang dalam salah satu halamannya memuat nama-nama tentara Amerika yang tewas dalam perang di Irak. Disana ditulis bahwa mereka adalah ‘Hero’. Dengan bangga guruku menjelaskan misi Amerika dalam mewujudkan perdamaian dunia dan menjadikan tentara-tentara yang tewas sebagai pahlawan.

Dengan sedikit ceroboh dan sok tahu aku mengatakan kepada guruku di kelas Speaking itu bahwa menurutku sebagai bagian dari masyarakat internasioal mereka bukan pahlawan karena tidak sedang berperang melawan penjajah demi mempertahankan Amerika dari invasi negara lain, tapiu mereka mati di tanah yang mereka invasi bernama Irak. Guruku hanya bengong dan bilang, “Really, Ika?” Saat aku bertanya kepada Bazne sebagai orang Irak, dia hanya menjawab ‘tidak tahu’ karena katanya yang luluh lantak adalah Baghdad, sementara tempat tinggalnya di Kurdishtan di bagian utara Irak aman-aman saja. Ya, ternyata limit pengetahuan yang kita terimalah yang memproduksi alur pikir kita tentang fakta sosial.

Apakah perasaan bangga sebagai orang Amerika membuat sebagian rakyat Amerika menutup mata dari realitas dunia dan menganggap pemerintah negara mereka benar-benar pencipta perdamaian? Seorang teman Indonesia yang sudah dua tahun tinggal dan belajar di Fayetteville mengatakan padaku bahwa sebagian orang Amerika itu ‘bodoh’ karena mereka hanya dicekoki berita dari media Amerika saja. “Coba perhatikan berita-berita di televisi di apartemenmu, juga tayangan-tayangan lain. Semuanya cuma tentang Amerika. Tak ada tentang dunia lain. Terlebih lagi, di Fayetteville ini semua tayangan berasal dari TV lokal Arkansas saja. Hebat buat mereka yang bisa mengikuti perkembangan dunia melalui berbagai beirta di Internet. Tapi, kan rata-rata penduduk Amerika itu percaya saja dengan pemerintahnya.” Meski demikian, aku tak bisa menganggap semua orang Amerika sama, sebab penduduk Fayetteville hanya sebagian kecil dari Amerika Serikat yang banyak. Namun aku tetap salut pada tingkat kepercayaan mereka pada pemerintahnya dan kebanggaan personal mereka sebagai orang Amerika. 

Menjadi tamu di satu keluarga Amerika di kota Fayetteville dalam rangka merayakan Thanksgiving Dinner bersama seorang rekan dari Korea Selatan
Kedua, orang Amerika percaya bahwa mereka adalah orang yang terbuka dan menghargai perbedaan, serta selalu mempromosikan bahwa Amerika merupakan ‘Land of Hope’ atau ‘Land of Opportunity’ atau ‘Land of Peace’, dan sebagainya yang baik-baik. Dalam kunjungan-kunjunganku dan grupku ke berbagai museum, keluarga Amerika, sekolah dan kampus, tempat-tempat pelayanan publik, kantor pemerintahan, perpustakaan, taman nasional, dan tempat perlindungan anak adalah beberapa upaya untuk menunjukkan bahwa ‘American System’ bisa menjadi ‘role model’ untuk pembangunan di negara kami masing-masing selaku negara berkembang. Cara mereka sungguh mengena karena misalnya aku dan grupku adalah penerima beasiswa IFP dan pekerjaan kami berkaitan dengan apa yang mereka tunjukkan baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, pekerjaan sosial, human right, kesetaraan gender, perlindungan perempuan dan anak dan difable, hingga penyelamatan lingkungan hidup.

Meski Fayetteville adalah kota sepi dan Arkansas adalah negara miskin, aku bisa menyaksikan begitu banyak mahasiswa internasional yang menimba ilmu di universitas dan orang-orang cerdas dari berbagai bangsa yang menjadi dosen disana. Jumlahnya memang mungkin sangat sedikit jika dibandingkan dengan mereka yang belajar di kota-kota padat dan universitas paling ternama di Amerika. Tetapi, bagiku pemandangan itu merupakan satu bentuk keterbukaan Amerika untuk seluruh bangsa di dunia. Dengan menjadikan kampus-kampus mereka sebagai kampus berkelas internasional, mereka mendatangkan uang dari berbagai negara dan memberikan sumber kehidupan bagi warganya. Misalnya, aku bertemu orang Indonesia yang bekerja di bagian administrasi kampus, atau orang Jepang yang bekerja di perpustakaan, orang Korea yang menjadi guru Bahasa Inggris dan Asisten Professor atau orang Arab yang bekerja di Midle East Study Center dan sebagainya. Ya, mungkin kampus-kampus di Amerika merupakan surga bagi para pelajar internasional untuk belajar bahkan bekerja sebagai pengajar. 

Ketiga, standar. Segala hal di Amerika nampaknya harus memiliki standar. Yang paling mudah untuk dipelajari tanpa harus memahami teori adalah mengenai perumahan. Misalnya, apartemen-apartemen di sekitar kampus harus memiliki standar tertentu. Menurut seorang teman, rata-rata apartemen di Fayetteville dikelola oleh perusahaan, atau semacam developer jika di Indonesia. Setiap apartemen harus memenuhi fasilitas minimal mulai dari ranjang, lemari, televisi, mesin cuci dan mesin pengering, mesin pemanas dan pendingin ruangan, alat pengontrol asap dan rokok, berbagai macam peralatan mulai dari peralahan untuk membersihkan ruangan hingga kotak P3K. Setiap apartemen dikelola dengan manajemen yang rapi. Penghuni tidak perlu menyapu sampah dan memotong rumput di halaman, karena secara berkala ada petugas khusus yang mengerjakannya dengan mesin pemotong rumput dan penyedot sampah yang berisik. Jika terjadi kerusakan dan sebagainya, penyewa bisa menghubungi manajer dan dengan segera kerusakan dengan segera diperbaiki. Setiap penyewa, harus meninggalkan apartemen dalam keadaan bersih seperti sediakala, dan tak boleh meningagalkan barang pribadinya atau uang jaminannya tidak dikembalikan. 

Bandar Lampung, 1 Januari 2014

Wijatnika Ika

2 comments:

  1. Halo Mbak Ika, Salam Kenal. Saya Syauqi dari B. Lampung juga. Browsing di google ttg razorbacks menghantarkan saya ke blog mbak. Kebetulan juga saya dlu pernah berkesempatan mengunjungi Arkansas pada tahun 2009 untuk program IELSP.Senang membaca tulisan mbak...nostalgia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Syauqi, makasih sudah mampir. Terima kasih juga sudah membaca tulisan sederhana ini.

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram