A Muslim from Indonesia



Hm, jadi ingat satu diskusi penting dengan teman internasionalku dua tahun silam. Karena penampilanku berbeda dengan siswa dari negara-negara Arab, seringkali teman-teman asal Amerika Selatan atau Amerika Tengah bertanya padaku, “Are you a Muslim, Ika?” Dengan senang hati aku menjawab “Yes.” Lalu kami berdiskusi mengenai banyak hal. Ternyata, ada banyak orang yang sama sekali tidak tahu tentang Islam selain dari berita yang mereka baca di internet, televisi atau koran nasional di negara mereka. Berdiskusi dengan mereka membuatku merasa menjadi duta, seorang duta Islam dari Indonesia. Tapi saat seorang cowok Arab bernama Abdul Madjid bertanya hal serupa aku hanya bisa bengong sebelum menjawab “Ya.”

Apakah baginya Islam adalah agama buat orang Arab dan seputaran Timur Tengah saja, atau memang dia gak pernah baca buku-buku mengenai persebaran Islam? Ckckckck, kasihan sekali dia! Padahal kami tinggal di apartemen yang sama, sering bercanda dan berdiskusi bersama, menunggu bis bersama, belajar bahasa Inggris bersama sampai photo-photo bersama. Dia adalah salah satu cowok Arab yang pertama kali berkenalan denganku di apartemen itu. Jadi?Nah, temannya si Abdul Madjib bilang padaku bahwa mereka punya pandangan buruk tentangku. “I think you are not a Muslim because you speak with men.” Katanya lugas. Ups! Ya, kuakui bahwa aku cukup akrab dengan teman-teman cowok dari Amerika Latin dan Amerika Tengah, juga teman akrabku dari Vietnam, Irak dan Libya. Lalu mereka menceramahiku soal hukum Islam mengenai pergaulan antara laki-laki dan perempuan. “But, all of you speak with women. Some of you hug Christian woman and hang out with them. I saw it every day.” Balasku karena memang demikian adanya. Mereka speechless!
           
Lalu aku bercerita pada mereka mengenai Islam di Indonesia. Betapa banyak orang Arab yang tinggal di Indonesia dan menjadi penyebar Islam dimasa lampau. Aku juga bercerita bahwa banyak pria Arab yang melakukan nikah Mut’ah di Jawa Barat. “It is prostitution.” Kataku. “But it is under the law.” Katanya protes. “No. There is no marriage by contract in Islam. Our Prophet said that kind of marriage is illegal. So, if you don’t know about it and the reality about Islam in Indonesia or around the world, you have reading many books. Islam is not religion for Arab and for men. Islam is for the all people.”Kataku balik menceramahi mereka.

Saat hiking ke hutan di musim gugur

Suatu hari saat kami istirahat, aku baru selesai berwudhu di restroom, seorang student Arab yang baru saja membenahi cadarnya bertanya padaku. “Where are you from?” dan kujawab, “Indonesia.” Lalu dia bertanya lagi, “Are you a Muslim?” dan kujawab “Yes, of course.” Lalu dia bilang, “Good.” Katanya sambil pergi tanpa bilang apa-apa untuk mengakhiri percakapan dengan sopan, bahkan kami belum sempat berkenalan. Aku hanya bisa melongo sambil membenai jilbabku lalu tersenyum pada pantulan diriku di cermin.
           
Pada suatu hari yang lain, aku berdiskusi dengan teman sekelasku yang berasal dari Irak. Dia berhasil menjadi salah satu teman Arab yang sering berdiskusi dan bercanda denganku karena aku cukup cerewet ketika di kelas. Namanya Mohamad Bazne. “I live in Kurdistan. We have our own president. I am not Shia or Sunni. I am a Muslim.” Katanya. Gila, bikin bingung aja; masa ada negara dalam negara dan Irak punya dua presiden? “It is like in America. They have Obama as a President of the United States, and they have a Governor to lead Arkansas State. So, Kurdistan is like Arkansas for the United State. Kurdistan is land of Kurdish people. I am a Kurdish.” Lanjutnya. Ia banyak bercerita mengenai kondisi Irak dan hal-hal konyol tentang kehidupannya. Karena ia bersikap terbuka, bahkan terhadap temanku dari Vietnam yang Kristen, kami bisa berbagi cerita mengenai kondisi negara kami masing-masing.
           
Setelah diskusi selesai, temanku yang berasal dari Arab, bernama Azza bertanya padaku apakah Bazne seorang Muslim. “Ika, is he a Muslim? I think he is not a Muslim.” Tanyanya padaku. “Yes, he is a Muslim. He said to me that he is a Muslim. He also said that he is not Shia or Sunni.” Apa mungkin karena Azza tak pernah melihat Bazne shalat berjamaah bersama teman-teman Arab yang lain? Aku juga nggak pernah lihat sih.
           
Ini hanya sekelumit kisah yang kualami. Aku tidak membenci kawan-kawan Arabku yang bersikap demikian, karena aku yakin bahwa tingkat baca sebagian mereka terhadap ensiklopedi Islam dan perkembangan dunia Islam sangat rendah. Aku hanya berharap mereka bisa bersikap sopan dan redah hati, sehingga tak akan ada lagi yang bilang, “Ika, I don’t like Arabian student.” Bagaimanapun juga, setiap Muslim memiliki tugas untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Secara simbolis, tentu saja itu terbeban di pundak orang Saudi Arabia yang diketahui sebagai tempat Islam lahir dan berkembang pada 14 abad lalu.

Depok, 1 Januari 2014

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram