Belajar Bahasa Inggris di Amerika

Aku bersama rekan sekelas dan guru bahasa Ingrrisku di Spring International Language Center, Univrsity of Arkansas.
Ke Amerika adalah pengalaman pertamaku ke luar negeri. Dengan kemampuan bahasa Inggris pas-pasan -dan ingat hasil tes TOEFL terakhir yang sangat tidak memuaskan- aku merasa deg-degan saat masuk ke lambung pesawat All Nippon Airways (ANA) yang mengantarku hingga ke Jepang. Penerbangan belasan jam itu akhirnya hanya kulalui dengan makan, minum, tidur atau memandangi awan. Penerbangan pertamaku meninggalkan Indonesia membuatku hanya ingin meyakinkan diriku mengenai rasa aman. Bahwa pesawat besar yang mengangkut ratusan penumpang dan barang itu tak akan meledak di udara dan menjatuhkanku di suatu tempat asing. Aku duduk bersebelahan dengan seorang ibu muda yang katanya menjalankan bisnis bersama suaminya di San Francisco. Kami tidak banyak bicara, ia lebih suka membaca majalah, sementara aku lebih suka mendengarkan musik atau nonton kartun.

Saat harus transit di Bandara Internasional Narita, Jepang kupikir aku akan kesulitan berkomunikasi dengan orang Jepang. Ternyata, bahasa Inggris mereka juga nggak bagus-bagus amat. Ditambah lagi bicara mereka yang cepat. Jadi 50:50 deh. Tak banyak orang asing bertampang Amerika atau Eropa di bandara itu. Kebanyakan wajah Asia. Saat aku transit di George Bush Intercontinental Airport barulah aku agak kesulitan. Terutama saat melewati bagian security check. Mereka mana peduli bahasa Inggrisku pas-pasan atau jeblok sama sekali. Mereka bicara cepat sekali sementara aku masih linglung akibat perjalanan panjang melintasi Pasifik. Tapi, aku berhasil melalui semua itu.

Hari pertamaku di Spring International hanya dihabiskan untuk mengikuti orientasi, ujian penempatan, mengurus kartu mahasiswa dan asuransi kesehatan, serta membuka rekening bank. Meski aku hanya belajar selama dua bulan saja, aku terdaftar sebagai mahasiswa University of Arkansas. Aku memiliki kartu mahasiswa. Aku juga memiliki email universitas dan mengikuti sistem yang berlaku di kampus, misalnya untuk mengecek nilai dan melihat berbagai pengumuman melalui fitur bernama Blackboard. Selain itu, aku juga memiliki rekening di Bank of America dan menerima sebuah kartu berwarna merah menyala untuk keperluan transaksi keuangan sehari-hari. Uang yang kuterima dari IFP dalam bentuk cek yang langsung didepositkan melalui sebuah mesin layaknya mesin ATM, tapi jauh lebih canggih.

Saat masuk kedalam Bank ditemani Casey, aku seperti terlempar ke film-filk koboi bersetting tahun 1980an. Pekerja bank di Amerika tidak berseragam seperti di Indonesia. Kami tidak perlu mengantri karena saat itu sudah sore dan tak ada pengunjung selain kami. Aku hanya mengisi beberapa formulir dan menyerahkan pasporku untuk dicocokkan dengan data di komputer mereka. Hanya butuh waktu 10 menit. Aku pun menerima kartu. Lalu aku diantar menuju sebuah mesin ATM dan mendepositkan cek senilai USD 1.100 pemberian Alannah. Dalam waktu 24 jam aku sudah bisa menggunakan uangku. Benar-benar seperti gabungan Amerika di tahun 1980an dan Amerika di zaman sekarang.

Hari pertamaku di Spring International sesungguhnya merupakan hari kedua bagi keseluruhan siswa baru. Aku terlambat karena terjadi masalah dalam jadwal penerbanganku. Sebelum aku berangkat, pihak IFP yang dikoordinatori oleh Ms. Alannah sudah mengirimkan itinerary ke emailku. Disana tertera jadwal penerbanganku Pergi-Pulang (PP) Indonesia-Arkansas. Dalam tiket berharga mendekati ribuan dollar tersebut dinyatakan bahwa aku akan terbang ke Hong Kong bersama Garuda Indonesia.

Di hari keberangkatan, ternyata terjadi kesalahan informasi dari pihak Garuda Indonesia sehingga aku ditinggalkan pesawat. Pengen banget ‘nangis bawang bombay’ saat itu karena sudah terlalu lelah dan sangat kesal, tapi masa iya nangis di bandara. Jadi jadwal dibuat ulang, sehingga aku terlambat datang. Pengalaman itu, dan aku yang menghadapinya sendirian, termasuk berkomunikasi dengan pihak IFP dengan waktu yang berbeda 18 jam, membuat aku sangat lelah.

Hari pertama itu, setelah aku mengisi beberapa formulir untuk keperluan administrasi, aku mengikuti Michigan Test atau tes penempatan. Aku bertemu dengan seorang gadis asal Meksiko bermana Michele. Ia baru lulus SMA dan pindah ke Arkansas untuk melanjutkan kuliah di universitas. Kami ngobrol tentang banyak hal termasuk saat ia mengomentasi jilbabku. Kami juga berdiskusi tentang Islam dan Kristen. Ternyata ia termasuk kedalam golongan yang sangat memuja Virgin Mary atau Maryam ibunda Nabi Isa as.

Lalu aku bercerita siapa Virgin Mary dalam Islam, sehingga ia merasa sumringah. “You know well the story! And you can explain it both in Islam and Christian perspectives!” Katanya. Aku menjelaskan padanya bahwa sebagai Muslim aku harus mempelajari Kristen dan Yahudi sebab itu bagian dari perintah agama. “And…you speak well in English.” Pujinya. Aku berterima kasih. 

“I really hate to learn English. But my mom told me that I have to study English because from now I live in Arkansas, not Mexico.” Ia mengeluh karena harus meninggalkan negaranya yang menurutnya sangat cantik dan nyaman. Di Arkansas, ia tidak hanya belajar di Spring Internasional sebelum mendaftar ke universitas, juga bekerja paruh waktu di salah satu restoran Mexico di Northwest Arkansas Mall, namanya Mariachi. “I don’t like the weather. It is cold and boring, hehehe..” katanya sambil tertawa. Bagiku, wajah manisnya terlalu tua untuk seorang lulusan SMA, tetapi matanya memang menunjukkan bahwa ia masih berusia 20 tahun. Entah di minggu keberapa, aku lupa tanggalnya, dalam dua bulanku di kota Fayetteville, aku dan teman-teman grupku menyempatkan makan di restoran Mexico tersebut. Saat itu Michele tidak bekerja karena sedang kurang sehat.

Para siswa yang belajar di Spring Internasional berasal dari berbagai negara. Dalam beberapa tahun terakhir, siswa terbanyak datang dari Saudi Arabia. Mereka belajar di tempat itu dengan berbagai alasan, mulai dari untuk mendapatkan nilai IELTS atau TOEFL tinggai sebelum melanjutkan sekolah Master atau Ph.D ke universitas, atau hanya sekedar belajar saja sebelum kembali pulang ke negara mereka. Memang sebagian besar mereka berasal dari golongan kaya dan hidup mewah, tetapi sebagian diantaranya berasal dari kalangan biasa dan menggantungkan biaya hidup atas beasiswa yang diberikan pemerintahnya.

Aku bertemu dengan seorang pria asal Uzbeskistan bernama Abdul Jabbar yang bekerja di Saudi Arabia. Ia berada di level 2. Tapi ia selalu bicara dan sangat cerewet. Sama denganku, saat bicara ia tidak peduli pada Grammar, yang penting bisa berkomunikasi dan nyambung. Ia sangat suka memasak masakan Arab dan selalu mengundang kami, teman-teman satu apartemennya, untuk menikmati masakannya yang selalu dicampur susu. Ia memanggilku Wija. “Hey Wija, come to my apartment,” katanya suatu hari. Ternyata ia sedang memasak ayam dan nasi khas Arab yang serupa bubur dicampur susu. Ia orang yang sangat ceria dan supel, bergaul dengan siapa saja tak peduli agama dan jenis kelamin.

Aku juga bertemu dengan seorang Arab lainnya bernama Abdul Madjid. Dia belajar di level 1, selevel dengan Michelle. Benar-benar pemula. Ia selalu membuntuti rekan satu grupku dari Meksiko bernama Maria. Ia seringkali kudapati mengunjungi apartemen Maria untuk berdiskusi mengenai homework-nya yang menurutnya membuatnya sangat pusing. Sesekali aku pernah dimintainya untuk mengajarinya mengenai beberapa kata dalam bahasa Inggris yang merupakan kosa kata baru yang ia peroleh di kelasnya. Aku yang bukan tipe pengajar jelas bosan sekali mengajari siswa yang suka mengeluh dan merasa bahwa semua pelajaran sulit. Kadangkala, aku lebih sering melipir kalau sudah bertemu dia di apartemen Maria. Aku tidak suka mengajari teman yang suka mengeluh, tapi suka ngotot dengan pendapatnya sendiri.

Aku di lobby gedung Spring International Language Center yang telah dihias demi menyambut musim dingin
“Your English good…good…I can’t speak like you.” Ia selalu mengaku demikian saat aku mengoceh dengan cerewet. Aku hanya bilang padanya untuk melupakan bahasa Arab saat belajar di Spring Internasional ataupun di apartemen. Tapi ya, rata-rata siswa Arab memang keras kepala kalau kubilang mereka harus menekan interaksi dengan sesama siswa Arab di sekolah kalau mereka ingin maju.

Beberapa teman Arabku yang perempuan, yang suka sekali berbahasa Arab didalam kelas, suatu hari mengatakan bahwa aku speak well meski nilai Grammarku masih belum memuaskan. Hal itu diamini teman sekelasku asal Vietnam yang tidak suka pada mereka. “Their speaking is not good, buat their tes result is higher than you and me.” Keluhnya. Kujelaskan padanya bahwa mereka sedang berjuang untuk memperoleh nilai tes yang tinggi supaya bisa mendaftar ke universitas, maka mereka menngandalkan ingatan untuk memahami teori-teori yang diajarkan guru-guru kami. Sementara aku dan Y Lot tidak terbebani dengan itu sehingga kami tidak mementingkan proses ‘to remember’ daripada proses ‘to understand’. Sebagai siswa, kami hanya berusaha menghargai sebuah jalan yang sudah diberikan pihak sekolah: speak English only.

Siswa Arab menurutku sama keras kepalanya dengan siswa asal Amerika Tengah dan Ameirka Latin yang seringkali menggunakan bahasa Spanyol dan Portugis dalam banyak percakapan sehari-hari. Terutama mereka yang belajar di level 1 dan 2. Mereka selalu berkata kepadaku “Your English is good, Ika. You speak, well,” tanpa berusaha memahami bagaimana aku meniadakan bahasaku sendiri saat beromunikasi dengan teman-teman sebangsa. Termasuk saat aku meredam rasa terasing saat mereka berbicara dalam bahasa mereka sendiri dengan sesamanya.

Suatu hari aku sedang berbincang dengan teman Arabku bernama Faisal. Tiba-tiba datang temannya tanpa mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Faisal langsung berbicara dengan temannya tersebut tanpa permisi kepadaku karena memotong pembicaraan kami. Sebagai orang non-Arab, aku jelas merasa tersinggung. Akhirnya aku bilang padanya, “Oke Faisal,  I am go.” Aku meninggalkannya begitu saja. Saat aku masuk kelas untuk pelajaran selanjutnya Faisal minta maaf padaku. Aku bilang padanya bahwa tindakannya tersebut tidak sopan dalam pergaulan internasional. Terlebih bahwa orang-orang Arab menanggung citra sebagai umat beragama Islam. Aku juga bilang bahwa banyak siswa yang tidak suka dengan siswa Arab karena mereka tidak sopan. Lagipula hanya sedikit siswa Arab yang nilainya tinggi, jadi kenapa tidak rendah hati untuk disukai secara tulus. Faisal mengangguk saja, entah ngerti entah tidak.

Jadi, dalam program yang kuikuti ini, banyak siswa yang merasa tidak percaya diri dalam berbahasa Inggris sehingga mereka memilih bergaul dengan teman sebangsanya dan berkomunikasi dengan bahasa mereka sendiri. Sedangkan aku termasuk siswa yang tidak peduli apakah orang lain akan menertawakan cara berbahasaku atau tidak, toh di lembaga ini tugasku adalah untuk berani berbahasa Inggris dan sejenak melupakan bahasaku sendiri. Jadi, sangat sah bagiku atau siswa lain untuk saling menegur siswa manapun yang tidak berbahasa Inggris didalam gedung atau selama kelas berlangsung.

Depok, 31 Desember 2013

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram