Serba-Serbi Rasa Berkawat Gigi


Ilustrasi saat dan setelah pasang kawat gigi
Selama tiga hari ini aku nyaris bedrest. Seluruh tubuhku panas-dingin. Kepalaku sakit sebelah. Rahang kiriku sakitnya bukan kepalang. Gusiku linu. Angin bertumpuk di tubuhku. Selera makanku hilang. Ya, mungkin karena kelelahan. Atau karena pada tanggal 27 lalu aku pulang menggunakan ojek dari Bandara raden Intan pada pukul 9 malam sepulang dari Yogyakarta, ya masuk angin. Oke, aku tak tahu penyebab yang sebenarnya. Faktanya aku tidak produktif selama tiga hari ini karena serangan sakit di beberapa bagian tubuhku. 

Sebenarnya, aku tidak merasa asing dengan sakit yang tiba-tiba menyerang tubuhku saat aku segar bugar sejak aku menggunakan kawat gigi selama 2 tahun ini. Merawat gigi dengan perawatan dari dokter ortodonti memang berdampak pada kesehatan. Aku ingat, selama satu bulan pertama selepas aku memutuskan untuk memasang kawat gigi pada seorang doktor ahli, aku tak bisa makan apapun selama 1 bulan penuh. Aku hanya mengonsumsi makanan yang sebelumnya telah dihaluskan seperti bubur dan jus. Benda asing berupa metal dan karet yang menempel di gigi-gigiku membuat seluruh rahangku sakit, gigiku linu dan aku demam berkali-kali. Alhasil berat badanku saat itu turun 2 kg. Padahal selama ini aku selalu berusaha menaikkan berat badanku untuk mencapai 50 kg. Sementara itu aku berhenti makan daging, ikan, keripik dan buah-buahan yang berdaging keras seperti apel dan jambu. 

Dokterku bilang bahwa rahangku yang kecil kelebihan 4 buah gigi, jadi aku harus mencabut keempat gigi tak diperlukan itu. Setiap kali telah dicabut gigi per 2 bulan, aku menderita sakit yang sama seperti yang sedang kurasakan saat ini. Dibutuhkan waktu sekitar 1 minggu untuk pulih. Naasnya, selama proses perawatan gigi ini berlangsung, gigi bungsuku tumbuh sebanyak 4 buah. Parah sekali pokoknya, sebab 6 bulan sepanjang 2012 aku menderita sakit yang sama karena pertumbuhan gigi bungsu dan perawatan gigi. Nah, ketika 2 gigi bungsu lain tumbuh di awal tahun 2013, juga berbarengan dengan jadwal pencabutan gigi terakhir yang harus dicabut. 

Duh, sungguh sakit yang tak pernah usai. Menurutku, dari semua sakit yang pernah kurasakan, sakit karena berhubungan dengan gigi adalah sakit yang paling tidak kusukai. Sebab, sakit ini melumpuhkan produktifitas dan daya pikir. Bayangkan saja, sebuah gigi yang bertahun-tahun tinggal di satu posisi, tiba-tiba harus bergeser ke ara lain, mengisi gusi yang kosong. Sakiiiiiittt sekali. Obat pereda nyeri  yang katanya paling ampuh sekalipun tak banyak memberi perubahan, sebab si gigi memang sedang merobek gusi dan sel-sel gusi harus menyesuaikan diri dengan bentuk rahang. Tetapi memang, hasil dari semua itu cukup memuaskan. Gigiku sudah mulai kelihatan rapi. 

Menemukan dokter ahli
Sebelum aku memutuskan melakukan perawatan gigi pada akhir tahun 2011 lalu, aku melakukan survei ke beberapa lokasi dan mengumpulkan banyak informasi mulai dari artikel di internet dan pengalaman teman-teman kuliahku yang memang menggunakan kawat gigi. Saat itu aku mendapatkan informasi harga dan tempat perawatan gigi. Pernah aku melakukan survei ke salah satu klinik gigi di Depok yang cukup murah, Rp. 6.000.000. Padahal standar rumah sakit harganya mencapai Rp. 10.000.000. Makanya aku heran dan penasaran untuk melihat seperti apa tempat prakteknya. Ketika aku datang ke lokasi itu, aku sungguh kaget bahwa kliniknya nampak seperti klinik abal-abal. Tampak murahan dan tak terlalu bersih. Tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung kabur. Jangan sampai aku terjerat iklan perawatan yang murah tapi berujung pada kegiatan mal praktek tuh klinik. 

Jangan pakai kawat gigi untuk gengsi ya
Banyak informasi mengenai dokter yang terpercaya dan biaya perawatannya lumayan murah. Tapi letaknya di Jakarta. Setelah dipikir-pikir, akan sama saja sebab ke Jakarta itu akan keluar ongkos yang banyak juga. Apalagi kan rata-rata jadwal konsultasi gigi di klinik atau rumah sakit di jakarta itu sore. Setelah menghitung untung-rugi, akhirnya aku memilih untuk merawat gigiku di klinik Nirmala, Depok. Aku ditangani oleh Drg. Yudi Sugiarto, SP (spesialis Orto). Untuk kasus gigiku, aku kena biaya perawatan Rp. 8.000.000 dan biaya konsultasi bulanan Rp. 200.000. Itu belum dengan obat-obatan yang harus kubayar untuk meredakan nyeri pasca dicabut gigi. Atau ketika salah satu metal lepas dan aku harus pakai yang baru. Plus sikat gigi dan pasta gigi khusus (yang harganya juga khusus). Setelah dihitung-hitung yang kena Rp. 13.000.000-an selama dua tahun ini. Nah, perawatan nggak selesai sampai disini. Entah kawat jenis apa lagi yang kelak akan dipasang dalam tahap akhir perawatan.

Tips
Untuk siapa pun yang bermaksud melakukan perawatan gigi alias memakai behel/kawat gigi, aku menyarankan beberapa tips berikut ini:
  1. Pikirkan apakah benar membutuhkan perawatan yang menggunakan kawat gigi? kalau gigi udah bagus dan sehat, ngapain juga buang-buang udang buat bayar dokter gigi. Mending ditabung aja buat liburan atau bikin usaha.
  2. Kalau memang memerlukan perawatan gigi dan itu mendesak, lebih baik kumpulkan informasi sebanyak mungkin dari berbagai sumber, termasuk pengalaman mereka yang terlebih dahulu menggunakan kawat gigi, sebelum datang ke dokter gigi.
  3. Ada banyak penyebab gigi seseorang rusak dan memerlukan perawatan khusus dan mahal ini. Bisa saja memang gigi tidak dirawat sejak kecil karena kurangnya perhatian orangtua, karena kecelakaan, karena kebiasaan makan yang buruk sehingga gigi yang bagus dan rapi menjadi maju/ monyong, karena penyakit lain yang berpengaruh pada gigi. Tak perlu heran pada orang yang kita anggap giginya sudah rapi eh pasang kawat gigi. Ya, mungkin saja dia memang punya keluhan yang tak perlu kita tahu. 
  4. Kalau memang perlu banget perawatan gigi, dan keuangan belum mencukupi, mending sabar nyambi cari uang. Jangan sekali-kali tergiur dengan harga murah yang ditawarkan klinik gigi atau Tukang Gigi. Sebab, jika perawatan gigi tidak dilakukan oleh dokter khusus Ortodonti, akibatnya fatal. Bukan saja uang terkuras, tapi kesehatan juga bisa terancam. Jangan-jangan malah jadi korban mal praktek. Misalnya, jika bahan metal yang digunakan murahan dan mudah karatan, maka akan menyebabkan infeksi pada mulut dan gusi, dan itu sangat berbahaya. 
  5. lamanya perawatan gigi biasanya bergantung pada kasus gigi. Ada yang 1 tahun, ada juga yang empat tahun. Nah, selama perawatan itu kita harus bisa mengontrol diri terutama dalam hal makanan. Misalnya kalau makan sate jangan digigit karena itu akan bikin gigi goyang dan perawatan nggak ada gunanya. Klo makan apel atau buah-buahan berdaging keras di jus aja, daripada karet giginya copot. Stop makan makan-minuman terlalu panas atau dingin, sebab akan mempengaruhi umur karet. 
  6. Harus siap sakit. Sebab selama perawatan, si sakit tiba-tiba aja datang. Banyak-banyak sabar pokoknya. 

Makanan adalah yang pertama-tama melemahkan iman pengguna kawat gigi

Akibat-akibat tambahan
  1. Mulut jadi moyong untuk sementara, hahahahaha
  2. Sikat gigi sering-sering alias lebih dari 4 kali dalam sehari
  3. Nggak bisa ketawa ngakak
  4. Harus rajin-rajin bersihin plak
  5. Capek banget karena gak bisa gigit setiap makanan. Paling cuma bisa gigit pisang, pepaya, pisang rebus, ubi rebus dan singkong rebus. Kalau makan es krim harus yang pake sondok. 
  6. Pernah suatu kali setelah makan, trus sukat gigi, trus ngaca, eh ada salah satu metal yang hilang. Apalagi namanya kalau bukan tertelan, kan, hehehehe. Pas konsultasi bulanan ke dokter aku dimarahi, katanya mahal tuh harga metal. Jadi untuk satu metal yang hilang aku harus ganti Rp. 100.000 untuk metal baru dipasangkan di gigiku. Yah, mungkin karena udah berumur nyaris 2 tahun, jadi kekuatan perekatnya memang berkurang. Tapi emang bener-bener canggih tuh lem, kuat banget nempelin metal di gigi selama 2 tahun. Saking mahalnya tuh lem, cuma dokter yang bisa akses tu lem dan selalu dibawa kemanapun dia praktek. Entahlah dibuat dimana tuh lem. Oh ya, pas dipasang dulu, lemnya rasanya asin banget kayak buah lemon dan warnanya ungu kayak terong. 
  7. Seringkali aku kehilangan karet perekat antar metal tuh pas sikat gigi pas mandi. Enak aja gosok gigi, eh pas ngaca karetnya udah ilang. Atau pas lagi makan karetnya putus. Geli juga sih mengingat pengalaman ini, hihihi.
  8. Klo ketemu anak-anak kecil di kampung, mereka pada negliatih dan tanya gigiku diapain. Pas kubilang gigiku dipagar supaya nggak ilang mereka terkikik-kikik dan pengen juga katanya gigi-gigi ompongnya dipagarin kayak gigiku, wkwkwk... 

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram