Modus Baru Pekerja Anak di Kota Depok


Ilustrasi pengemis anak
Perempuan Misterius
Karena aku kos di daerah Jl. Kober, maka aku sering sekali melihat perempuan itu. Puluhan dan mungkin ratusan kali kulihat ia tak pernah kemana-mana selain satu area sejak pagi hingga malam hari.  Ia mangkal di sebuah tempat, di dekat dinding tempat para konsumen sebuah warnet memarkir motor mereka. Setiap hari ia mengenakan pakaian dengan warna yang sama. Hitam. Ia selalu mengurai rambut panjang sepinggangnya yang hitam. Wajahnya cokelat tanpa riasan, tetapi ia juga tak tampak sebagai perempuan miskin yang kelaparan. Sesekali kulit ia keluar dari warnet, entah numpang pipis atau entah menggunakan salah atau komputer untuk menunjang kegiatannya. Tetapi, meski aku merasa melihat keganjilan atas sikap perempuan itu, aku sama sekali tak curiga misalnya kalau ia adalah salah satu bagian dari pengelola para pengemis di kota Depok. Aku juga tak pernah bertanya pada orang-orang yang berdagang disekitar situ untuk mengetahui identitas si perempuan misterius. Lalu aku pun pindah ke Lampung, memboyong seluruh barang-barangku. 

16 Desember, aku kembali ke Depok untuk menyelesaikan Tesisku. Aku tiba-tiba merasa perlu untuk mencari secara lebih jauh siapa perempuan itu. Suatu hari, 23 Desember, Aku duduk saja di sebuah kursi milik penjual bingkai photo dan cermin, sembari menunggu temanku karena kami memiliki janji untuk ke bioskop dan nonton film Soekarno. Perempuan sedang berdiri. Rambutnya terurai. Sesekali aku melihat ke arahnya. Kami bertemu muka. Aku berniat merekamnya, tetapi pertama-tama aku merekam jalanan Margonda yang padat sebelum merekamnya agar ia tak curiga. Tetapi, sial, dia tahu modusku dan dengan serta merta ia duduk dibalik motor-motor yang terparkir itu sehingga aku tak bisa melihatnya. Oke, meski aku tetap merekamnya, aku merasa gagal memperlihatkan sosoknya yang misterius. Tetapi, jika aku punya kesempatan, aku mau merekam sosoknya. tetapi aku harus memikirkan tempat strategis agar ia tak menyadari rencanaku. 

video

Bocah yang Dipekerjakan Bapaknya
Suatu malam, aku dan kawanku makan malam di sebuah warung makan lesehan yang bertempat di halaman sebuah dealer mobil. Saat sedang menunggu pesanan kami disiapkan, seorang lelaki yang terlihat sebagai lelaki bersih, tukang ibadah dan sehat membawa alat musik. Lalu seorang bocah laki-laki bergerak ke arah kami sambil membawa kantung plastik. Aku menolak memberi anak ini koin, sebab aku merasa marah para ayahnya yang menjadikan anaknya sebagai tameng kemiskinan dan merampas hak mereka untuk belajar atau tidur di rumah. Aku memandang ke arah lelaki itu, dan ia seperti menyadari bahwa aku tidak menyukainya. Setelah anaknya selesai mengedarkan kantong uangnya pada seluruh pengunjung, mereka pun berlalu dan melanjutkan kerja mereka. Sayang sekali, saat itu aku tak membawa tabletku sehingga tak bisa merekamnya. 

Hari lainnya, 23 Desember, saat aku baru saja merekam aksi si perempuan misterius, ada pengamen lain dengan motif serupa. Ia mengalungkan alat musik di lehernya yang mengalunkan lagu dangdut. Ia sama sekali tak menyanyi atau bahkan memegang pengeras suara sebagaimana yang dilakukan oleh para pengamen Waria. Ia seperti mengantar bocah lelakinya untuk mengedarkan kantong uang yang terbuat dari bungkus permen bekas kepada setiap orang yang ditemuinya. Saat aku merekamnya, si bocah sedang masuk ke sebuah gedung. Si ayah lalu menyadari kegiatanku yang sedang merekamnya. Ia memandangiku yang sedang merekamnya dengan wajah marah. Tetapi aku tak peduli dan terus saja merekamnya. Setelah anaknya keluar dari Indomart, mereka pun pergi ke jalan Kober. 


video

Heran aku, kemana dinas sosial Kota Depok? Apa mereka buta akan kondisi yang kian mencemaskan di kota tersebut? Pengemis di mana-mana, dan kantor pemerintahan sangat dekat dengan tempat-tempat para pengemis (yang nampaknya tidak miskin tersebut) berkegiatan. Apa mereka nggak malu kotanya jadi kota rimba? padahal Depok itu dihuni banyak mahasiswa asing dan sekat sekali dengan dunia kampus. Aku jadi sangat penasaran, jangan-jangan mereka belum khatam Kovenan PBB tentang Hak Anak dan UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Padahal Depok dikampanyekan dengan gencar sebagai Kota Layak Anak dan menjadi salah satu lokasi percontohan Kota Layak Anak se-Indonesia. Tetapi, kenyataan ini sungguh memalukan dan menyatakan sebaliknya. 

Berikut beberapa isi UU Perlindungan Anak: 

Pasal 1

Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan :
  1. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
  2. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Bagian Kedua
Kewajiban dan Tanggung Jawab Negara dan Pemerintah

Pasal 21
Negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab menghormati dan menjamin hak asasi setiap anak tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran anak, dan kondisi fisik dan/atau mental.

Pasal 22
Negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan anak.

Pasal 23
  1. Negara dan pemerintah menjamin perlindungan, pemeliharaan, dan kesejahteraan anak dengan memperhatikan hak dan kewajiban orang tua, wali, atau orang lain yang secara hukum bertanggung jawab terhadap anak.
  2. Negara dan pemerintah mengawasi penyelenggaraan perlindungan anak.

Pasal 24
Negara dan pemerintah menjamin anak untuk mempergunakan haknya dalam menyampaikan pendapat sesuai dengan usia dan tingkat kecerdasan anak.

Bagian Ketiga
Kewajiban dan Tanggung Jawab Masyarakat

Pasal 25
Kewajiban dan tanggung jawab masyarakat terhadap perlindungan anak dilaksanakan melalui kegiatan peran masyarakat dalam penyelenggaraan perlindungan anak.

Bagian Keempat
Kewajiban dan Tanggung Jawab Keluarga dan Orang Tua

Pasal 26
(1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk :
a. mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak;
b. menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya; dan
c. mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.

Depok, 27 Desember 2013
Sumber gambar:
archief.rnw.nl

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram