Membaca Warisan Islam di Eropa




24 Desember kemarin aku menonton bagian pertama film '99 Cahaya di Langit Eropa' di bioskop di Detos. Meski terdapat banyak kekurangan secara teknis khas film-film Indonesia, tetapi jantungku langsung dibuat berdebar oleh landskap Austria, terutama kota Wina dan Perancis, terutama kota Paris yang indah. Juga pilar-pilar tinggi dan perpustakaan yang apik di Universitas Wina. Dan harus diakui, meski aku kagum dengan usaha kru film yang untuk menghadirkan suasana yang membuatku berdecak kagum akan gemerlap Eropa, aku tidak bisa tidak merasa kecewa atas banyak hal teknis dalam film ini. Kesannya film ini dibuat begitu buru-buru. Aku telah membaca dua buku Hanum dengan judul yang sama dan sebuah buku lain yang mengisahkan upaya-upayanya mengenal Eropa.

Pertama, aku bisa memaklumi kenapa sebagian besar pemain adalah orang Indonesia. tetapi, kenapa sebagian dialog menggunakan bahasa Indonesia? bukankan Fatma, Aysee, Marion, dan beberapa pemain adalah repsentasi orang asing yang berbahasa Jerman, Inggris dan Perancis? Penggunaan bahasa Indonesia dalam sebagian besar percapakan menjadikan imajinasi kita tentang suasana psikologis yang dialami Hanum dan Rangga menjadi kabur. Film ini menjadi seakan-akan bercerita tentang orang-orang Indonesia yang kuliah di Eropa dan bertemu satu sama lain dalam berbagai kesempatan. Jika para pemain merasa kesulitan dengan penggunaan begitu banyak bahasa Jerman kan bisa dubbing untuk suara percakapan-percakapan berbahasa Jerman. Film ini menjadi tidak asyik. Ditambah lagi suara Adzan di Menara Eiffel yang menggunakan suara seorang Imam yang sudah familiar bagi umat Islam, buakn suara Abimana sebagai Rangga. Pokoknya bikin film ini jadi sangat aneh.

Kedua, peran Acha Septriasa dan Abimana kok rasa-rasanya nggak pas. Abimana sebagai seorang mahasiswa Ph.D dan Acha sebagai seorang Reporter putri Amin Rais, sangat tidak terwakili. Acha tidak menunjukkan karakter Hanum yang cerdas dan kritis, dan nampak tidak terpelajar. Kenapa bisa gitu ya? Apa Acha kurang melakukan pendalaman atas karakter Hanum dan kurang latihan untuk bisa menjadi representasi Hanum. Dalam film ini, justru peran yang menonjol adalah Fatma Pasha dan Marion. Peran Raline Shah dan Dewi Sandra bagus, meski ya sekali lagi, penggunaan bahasa Indonesia bikin karakter mereka menjadi aneh. Ketiga, sponsor. Ya ampun! kadangkala film-film bagus bisa hancur gara-gara muncul gambar barang-barang dengan merek tertentu sebagai sponsor. Serta beberapa kekurangan teknis lainnya. Menurutku, satu-satunya percakapan yang paling berkesan adalah ketika Fatma mengajak Hanum dan Rangga makan di sebuah restoran Arab yang bermotto: makan sepuasnya, bayar seiklhasnya. Saat Hanum dan Rangga merasa heran, Fatma menjawab "In Austria, everything run by honesty." ya, kalau restoran model begini diberlakukan di Indonesia, bisa bangkrut tuh pemilik restoran dalam waktu seminggu.

Warisan Islam di Eropa

Virgin and Child, Ugolino di Nerio, 1315–1320, Sienne.
Notice the 
Pseudo-Kufic inscriptions on the veil of the Virgin


Kisah perjalanan Hanum dan Rangga menjelajah Eropa demi melihat warisan Islam di bumi Eropa terwakili oleh beberapa hal, dimana Fatma dan Marion Latimer menjadi pemandunya. Tentu ini mengharu biru. Kecuali mereka yang melek sejarah, tentu tak ada yang menyangka bahwa peradaban Eropa bisa semaju sekarang karena terinspirasi dari 'The City of Light' yaitu Cordoba di Spanyol dimana banyak orang Eropa berguru kepada ilmuwan-ilmuwan Muslim yang saat itu sedang giat mengembangkan ilmu pengetahuan, ekonomi, seni, keuangan dan politik. Salah satunya adalah warisan dalam budaya yang bisa diwakili oleh lukisan dibawah ini, dimana ada tulisan Arab Kufic 'La ilaha Ilallah' di kerudung Bunda Maria/Maryam yang ada di Museum Louvre di Paris. Cerita tentang Museum yang membahas tentang Maria dan Yesus juga ada di film the Da Vinci Code yang diadaptasi dari buku Dan Brown dengan judul serupa.

Jika kita menelusuri jejak-jejak sejarah yang terekam baik di Eropa, maka kita akan menemukan warisan peradaban Islam yang masih ada hingga saat ini. Kita bisa menemukannya pada lukisan-lukisan, ilmu pengetahuan, makanan, arsitektur dan sebagainya. Sebut saja kopi. Minuman yang familiar di seluruh dunia ini berasal dari Ethiopia dan biasa digunakan para Sufi untuk mengusir kantuk pada malam hari saat mereka beribadah. Melalui tangan para pedagang, kopi kemudian menyebar ke Turki, lalu London lalu Italia dan bahkan Belanda melalui VOC membawa kopi ke Indonesia untuk menguasai bisnis kopi Eropa yang saat itu masih merupakan minuman kaum elit. Kini, kecuali orang-orang yang belajar sejarah kopi, mungkin seisi dunia lupa kalau kopi merupakan warisan budaya Islam. Di Eropa, juga terdapat lima kota yang menjadi saksi kegemilangan Islam di masa lampau.

Di Kota Wina misalnya, terdapat beberapa warisan budaya Islam yang merupakan hasil akulturasi budaya Austria dan Kekaisaran Ottoman saat gagal mengalahkan Austria. Juga ada Yunus-Emre-Fountain, yang terletak di Trkenschanzpark yang merupakan hadiah Turki kepada Austria tahun 1991. Kemudian Kota Algarve di selatan Spanyol yang seluruh arsitektur kotanya dipengaruhi oleh kebudayaan kerajaan Moor. Lalu kota Sevilia di jantung kota Spanyol yang pernah menjadi pusat kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam pada dinasti Umayyah. Disana, kita juga bisa melihat kemegahan katedral Giralda yang dahulunya merupakan Masjid Agung. Lalu Mezquita atau Masjid Cordoba di yang dahulunya merupakan katerdal, dan Istana Alhambra yang terkenal itu.
 



Ada beberapa kajian menarik mengenai pengaruh Islam akan kemajuan di Eropa, yaitu:
  1. Islam di Spanyol dan Pengaruhnya Terhadap Renaisans di Eropa (1)
  2. Islam di Spanyol dan Pengaruhnya Terhadap Renaisans di Eropa (2)
  3. Europe dan Islam: Shared History, Shared Identity
  4. The History of Islam in Europe
  5. Europe Revisiting History: Why Islam?
  6. Muslim in Europe
  7. Today in History: Western Civilization Saved from Islam at Battle of Tours
  8. The Truth About Islam in Europe
  9. Book: The Lost Islamic History
  10. Muslim Spain and European Culture
  11. Is There a Place for Islam in Europe?
  12. Islam's Contribution for Europe's Renaissance

Kajian Islam
Pernahkah membaca kajian Islam sebagaimana seseorang mengkaji sebuah bacaan tak bermutu? yang bahkan didalamnya terdapat penghinaan dan kesalahpahaman yang sangat kentara. Tulisan ini misalnya: Prestasi dan Warisan Muhammad, yang ada di website www.answering-islam.org, yang menurutku jauh lebih tidak sopan dibandingkan tulisan Karen Armstrong mengenai Biografi Muhammad atau beberapa sejarahwan Barat yang mengkaji Islam dan Muhammad. 

Ini bukan pertama kalinya aku menemukan website yang menuliskan hal ihwal mengenai Islam dalam pespektif non-Muslim, sehingga jika dibaca kaum Muslim akan berbahaya, yang tujuan utamanya adalah menyamarkan kebenaran Islam dan mengajak umat Islam masuk kedalam agama si pemilik website. Mempelajari teks-teks dalam website tersebut semakin menguatkan kecurigaanku pada orang-orang yang ingin memperburuk hubungan Islam-Kristen. Misalnya klaim bahwa Al-Qur'an sebagai jiplakan Injil dan Taurat, sehingga Al-Qur'an adalah buatan Muhammad. Padahal dalam Al-Qur'an sudah dijelaskan bahwa Al-Qur'an adalah penyempurna kitab-kita sebelumnya yaitu Zabur, Taurat, dan Injil sebab Muhammad sendiri adalah penutup para Nabi setelah Musa dan Isa. Tetapi, disisi lain umat kristiani enggan mengakui fakta bahwa agama mereka yang sekarang merupakan akulturasi Kristen dimasa lampau dengan agama pagan bangsa Romawi dan diperbaharui dalam Konsili Nicea, dan terus-menerus menggerus keyakinan umat Islam. 

Sebagai Muslim, aku memang tidak heran dengan mereka yang terus menerus berusaha menghancurkan Islam sampai mereka tak bisa tidur nyenyak hanya karena bingung bagaimana caranya menghancurkan Islam. Sebab, orang-orang yang berusaha menghancurkan Islam telah ada sejak zaman ketika Nabi hidup. Tetapi biasanya, fakta dan waktu selalu memberi kabar bahwa mereka yang giat menghina dan menghancurkan Islam, adalah mereka yang kemudian menjelma menjadi orang Islam yang sangat taat. Aneh, bukan? Jadi, baiklah dan tak perlu marah pada mereka. 

Ada baiknya kita saling belajar untuk saling memahami untuk menguatkan iman. Sebab, tanpa tantangan iman seringkali menjadi lemah. Dan sebaiknya setiap Muslim belajar lebih giat lagi terutama setelah mendapati fakta bahwa Islam adalah inspirasi dunia, meski dengan malu-malu dunia enggan mengakuinya. Biarlah sekarang mereka tidak mengakuinya, sebab mereka akan mengakuinya dihari yang tepat sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an. Dan film 99 Cahaya di Langit Eropa merupakan sebuah cambuk bagi umat Islam agar senantiasa menjadi agen Islam yang selalu menebar senyum, perdamaian dan kebaikan

Depok, 26 Desember 2013
Sumber gambar:

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram