Love in Fayetteville


Kamu membuka pintu. “Oh My God! So cold!”  Kamu meringis saat udara dingin menampar wajah mungilmu yang tersembunyi dibalik topi jaket. Setelah mengunci pintu kamu segera memakai sarung tangan sambil berjalan sangat cepat. Lima menit lagi Red Bus akan tiba di halte. Kamu tidak boleh terlambat atau harus menunggu dua puluh menit untuk bus selanjutnya.
            
Sebagai siswa yang dibiayai beasiswa kamu tentu tidak boleh bertindak memalukan, mesti terlambat 5 menit saja untuk datang ke kelasnmu setiap hari. Jiwa pemimpin yang kamu banggakan sebagai tiket meraih beasiswa tersebut setahun lalu, dan untuk bisa sampai ke Amerika, harus kamu jaga dengan baik. Kamu tidak ingin merusak image-mu sebagai siswa yang layak menerima beasiswa internasional yang saat itu menghidupimu. Bahwa sejak awal hingga berakhir kontrak beasiswa itu, kamu adalah siswa yang baik. “Aku siswa yang baik.. Semangat empat lima!!!” Katamu pada dirimu sendiri. Maka kamu berjalan cepat-cepat, sambil sesekali melihat angka-angka pada jam tanganmu.
            
Angin dingin yang berhembus kencang pagi itu layaknya panah-panah es yang membuatmu terpaksa mempercepat langkah. Kamu nyaris berlari. “Hiiiiii. Wait for me.” Teriakmu pada Tuka, temanmu dari Thailand yang kamu lihat tengah berjalan tergesa-gesa bersama dua orang lain yang belum kamu kenal. “Come on!” Teriak Tuka sembari melambaikan tangan. Kamu berlari ke arah mereka, sepuluh meter jauhnya. Kabut yang mengaburkan pandanganmu pagi itu membuatmu merasa sedang berlari menuju dunia jauh.

“Hi, I am Biya. I am from Indonesia.” Kamu bersalaman dengan dua orang lain yang belum kamu kenal.“I am Lukas from Brazil.” Ujar seorang pria tampan dengan lesung pipi yang membuatmu mengembangkan senyum manis. “I am Patricia from Mexico.” Ujar seorang perempuan yang wajahnya terlihat sangat Indian. Kamu baru tahu bahwa Lukas dan Patricia baru pindah dari apartemen tetangga dua hari lalu. Mereka teman barumu. 

Kalian pun berjalan tergesa-gesa bersama dan saling mengoceh soal udara yang sangat dingin sehingga kalian terpaksa harus memakai jaket tebal dan mendadak merasa menjadi beruang. “Yeah, I wanna drink a cup of hot chocolate and sleep…” Patricia, teman Mexican-mu yang cantik dan kamu pikir keturunan suku Maya itu cekikikan sambil menyembunyikan kedua tangannya kedalam saku jaket. “I miss my girlfriend. I miss her so much…” Lukas meringis.
            
Kamu terkekeh mendengar keluhan Lukas tentang pacarnya, yang menurutmu terlalu pagi. Sesekali kamu memandang langit. Langit Amerika.

Langit kota Fayetteville mendung bagai disiram tinta cumi-cumi. Angin dingin berhembus kencang. Saat berjalan menuju halte bis yang tepat berada di depan sebuah pom bensin, kalian sempat mengomentari rerumputan yang membeku, burung-burung hitam yang terbang berkelompok dan daun-daun Mapel yang berguguran. “I am hungry, you know. I wake up late this morning. I skip my breakfast. I slept too late because I have some asignment. Arghhhh I forgot my lunch!!!!” Patricia ngomel-ngomel saat ia membuka ranselnya dan mendapati kotak makan siangnya ketinggalam. “Don’t worry. We can share my lunch.” Hibur Lukas. “Thank you, Lukas. Graciasssssss…” Patricia tersenyum lega.

Seorang lelaki mendekat ke arahmu. “Hi. I am Philip from Venezuela. I saw you yesterday. But, I don’t know your name. Are you from Saudi Arabia or somewhere in Middle East?” Lelaki itu memandang kedua matamu dan mengulurkan tangan untuk berkenalan. “Biya. I am from Indonesia.” Kalian bersalaman dan tersenyum satu sama lain. Pipimu menghangat seperti kejatuhan bintang-bintang dari galaksi tetangga yang hendak menggoncang Bimasakti. Matanya, matanya!!  Suara didalam hatimu berteriak kencang.
            
Setiap pagi, di dua halte yang berseberangan, dua kelompok siswa menunggu bis pada jam yang sama. Kamu dan teman-temanmu menunggu Red Bus menuju gedung Spring International. Sedangkan kelompok mahasiswa yang menunggu di seberang, menunggu bis apa saja yang menuju kampus University of Arkansas. Halte itu hanya ditandai oleh sebuah plang kecil bertuliskan jenis bus dan jadwal keberangkatan bis dari stasiun di kampus. Tak ada kursi, apalagi tempat berlindung jika hujan turun. Tidak sama dengan kebanyakan halte yang pernah kamu singgahi di Jakarta atau Bandar Lampung.

Dalam dingin kamu menunggu. Kamu memandangi langit. Kamu memandangi burung-burung hitam yang terbang berkelompok. Kamu merapatkan jaket tebalmu. Kamu memandangi wajah orang-orang asing yang sama sedang memandangmu. Kamu mungkin merasa asing, tetapi kamu kemudian berbangga bahwa kamu tak perlu menutup hidungmu untuk mencegah asap dari knalpot kendaraan. Kamu pun akhirnya tahu, semua kendaraan bermotor di Fayetteville menggunakan gas sebagai bahan bakar. Dalam sekejap, hatimu merasa bersyukur, bahwa kota yang belum seminggu kamu singgahi itu bebas polusi.

Red Bus tiba tepat waktu, 7.43 pagi waktu Fayetteville. Kamu tersenyum dan berburu bersama teman-temanmu untuk segera masuk. Sebagaimana orang-orang kamu pun berkata “Good morning,” pada kondektur berambut gondrong yang selalu tersenyum pada penumpangnya. Kamu memilih duduk di bangku belakang, kamu sangat suka duduk di kursi bagian itu, sama sepetri ketika kamu bepergian antara Lampung-Jakarta, karena bisa memandangai jalanan dan melihat pepohonan yang sedang mengugurkan daun-daunnya. Bagimu, musim gugur di kota itu sangat indah.

“Excuse me, can I sit here?” Lelaki asing yang baru kamu tahu bernama Philip itu berdiri memandangmu. “Ya...” Jawabmu sambil tersenyumKamu berfikir bahwa lelaki asing itu terlalu sopan. Mengapa harus minta izin untuk duduk di kursi kosong disampingku? Ini kan kendaraan publik! Kamu bicara pada dirimu sendiri. Lelaki bernama Philip itu duduk disampingmu dan mengatakan terima kasih.  Kamu merapatkan jaket, menyandarkan kepalamu ke kaca, melipat tanganmu dan sepanjang jalan hanya fokus memandangi pohon-pohon berdaun merah yang lebih mirip pohon palsu made in China. Philip sesekali memperhatikanmu sejenak, tak berani bicara. Mungkin merasa heran. Kemudian, ia memilih tenggelam dalam keasyikannya sendiri mendengarkan musik dari ponselnya.
Bagiku hari kedua, bagimu hari ketiga. Pertama kali matamu memandang mataku dan aku memandang matamu. Kamu nampak ingin tahu sesuatu. Kamu orang asing pertama yang memandangku dengan cara itu. Pun pada hari-hari lainnya. Hm, mungkin karena aku tidak seksi seperti perempuan di negaramu. Mungkin karena aku selalu tertawa. Mungkin karena aku selalu memungut daun Mapel dan menyimpannya didalam saku jaketku.

Matamu seolah bersenandung. Selalu ingin tahu. Mata seekor kucing yang terheran-heran pada tulang ikan. Pun saat kamu mengapit lenganku. Waktu itu aku nyaris limbung. Kepalaku pening karena udara terlalu dingin. Matamu masuk kedalam mataku. Kamu bersamaku selalu, sejak saat itu. Bersiap memungut daun Mapel, mengapit lenganku saat aku mulai pening. Kamu mengikutiku bagai awan pada angin. Kamu menungguku di pintu, setiap pagi dan kita berjalan bersama-sama. Kamu juga membawakanku coklat hangat setiap kali hujan.

Orang-orang bilang kita pacaran. Kamu bilang jangan dengarkan jika aku tak suka. Aku bilang kita teman. Kamu dan aku, teman.

Sampai suatu hari, kamu bilang kita bukan teman.
Tapi apa? Kamu bilang aku beruang kutub kedinginan, kamu penyelamat.
Kita sama suka duduk di halaman. Menikmati matahari. Kita sama suka menyaksikan daun-daun berguguran.Kita sama suka menunggu salju dan memandangi langit berlama-lama.
Saat Philip keluar gedung, ia mendengar beberapa siswa Arab sedang membicarakanmu. Apakah kamu selebriti? “Oh, an Indonesian girl!! She is too different with our girls. She is not like a Muslim girl. Where is she put on her modesty?” Ujar salah seorang diantara mereka. “She is Muslim. I saw that she Shalat yesterday.” Ujar yang lain. “She is Muslim. She told me yesterday. She covered her body like Arabian girl, too. It is clear sign, isn’t it?” Philip menanggapi pembicaraan mereka sembari memandangmu di halaman.

“Who exactly you are? Are you her boyfriend?” Tanya mereka. Philip hanya tersenyum, “I will be her boyfriend soon,” jawabnya enteng. Ia masih memandangimu yang menari berputar-putar di halaman berumput. “She is enjoying weather. She loves blue sky and fresh air. It is kind of how to thanks to God.” Lanjutnya.  “Ya, I know.” Kata seorang diantara mereka. Angin bertiup kencang, daun-daun Mapel yang kuning dan merah berguguran. Kamu sedang menikmati duniamu saat orang-orang berfikir lain tentangmu. Kamu mungkin tidak akan pernah tahu. Kamu mungkin tak peduli, tapi lelaki asing itu tahu.

Saat Philip hendak melangkah, ia melihat Lukas, Patricia dan George berjalan ke arahmu. Patricia melempar ranselnya dan menari-nari gembira bersamamu. Patricia mengangkat kedua tangannya ke udara dan tertawa-tawa menikmati angin dingin. Beberapa helai daun Mapel mengenai wajah kalian. Lukas dan George tertawa-tawa melihat tingkah kalian, lalu mereka berdua telentang diatas rumput dan menikmati langit yang biru. Namun tak lama kemudian, George terduduk dan memandangimu. Dari tempatnya berdiri, Philip hanya tersenyum kecut. Lalu ia memainkan kameranya.

“Hey Philipp! Come here! Take some pictures!!!” Patricia berteriak ketika ia mendapati lelaki asing itu memotret kalian dari kejauhan. Philip menghampiri kalian. Lukas dan George berdiri, mendekat kearah Patricia dan kamu. Ia agak kesal melihat wajah bahagia di wajah George saat berdampingan denganmu.

“Hei Mr. Hogs. Take some for me!!” Ia terus memontert kamu, terutama saat ia mendengar seseorang berteriak bahwa Red Bus sudah sampai lampu merah di dekat Bank of Arkansas. Ekspresi keterkejutan di wajahmu sungguh bagus untuk sebuah photo. Philip tersenyum. Kamu merasa asing dengan senyumnya. 

Philip lalu membuntutimu yang berjalan berdampingan dengan George. Ia memontretmu lagi dan lagi. “Biya...” Ia memanggil namamu, dan memotretmu kala kamu menoleh dan tersenyum manis. “Take her with me.” Pinta George. Kamu tersenyum manis. Sebelum masuk ke lambung Red Bus yang sudah penuh, ia memungut sebuah daun Mapel yang baru saja jatuh.

Kalian berdiri di dekat kondektur berambut gondrong yang kalian temui setiap hari, lalu mengucapkan ‘Good afternoon’ saat masuk kedalam bus, dan ‘Thank you,” saat kalian turun.. Tempat duduk sudah penuh. Philip memontretmu yang berdiri berdampingan dengan George. Lalu memberikan daun Mapel itu padamu sembari tersenyum melihat wajah George yang nampak kebingungan. “Special for you.” Katanya lembut. “Give her hundreds of flower, not a Maple leaf.” Sakiko, teman Japanense-mu yang mungil dan cantik mencemoohnya dengan suara lantang dan membuat para siswa melihat kearah kalian dan tertawa bersama. Wajahmu merona. Kemudian kamu berterima kasih kepada Philip.

“The first gift from Philip, our lovely Mr. Hogs. Thank you.” Kamu memamerkan daun Mapel itu kepada teman-temanmu yang sontak tertawa. Philip memandangi sepasang  matamu yang selalu basah seolah-olah sedang menangis, terutama saat kamu tertawa. George memandangi Philip yang sedang memandangimu. Lelaki asal Bolivia itu bertukar pandang dengan Patricia dan Lukas, tapi mereka berdua hanya mengangkat bahu dan menggeleng tanda tak tahu. Kamu tahu itu. Kamu menikmati keasingan saat bercengkerama dengan teman-teman asingmu. Juga Philip, lelaki asing pertama yang selalu melakukan hal-hal asing bagimu. Kamu tersenyum.
Budayamu asing, budayaku asing. Kupikir, kita asing karena tempat lahir kita berjauhan, bahasa kita berbeda dan kita tak pernah bertemu sebelumnya. Lalu, kita sama-sama tinggal di negeri asing. Semuanya asing karena baru, bukan bagian dari kehidupan kita sebelumnya. Kita hanya pernah melihat atau mendengarnya berthaun-tahun lalu, atau setahun lalu, dari berita-berita di televisi dan internet. Berminggu-minggu sudah. Kamu tetap memandangku, ingin tahu. Diskusi tak cukup, katamu. Kamu ingin aku. 

Kamu menungguku di meja itu setiap kali makan siang. Kamu membawakanku jus jeruk setiap kali kita berjanji makan malam. Kamu menelponku setiap kali aku pergi bersama temanku. Kamu menungguku di pintu. Lalu matamu masuk kedalam mataku.

Di kelas, kamu selalu membantuku membuka tirai jendela, membiarkan panas matahari menghidupiku saat teman-teman yang lain memilih menutupnya. Kamu menungguiku melamun di pojok gedung saat aku merindukan daun-daun yang meninggalkan pohon Mapel tua di belakang gedung.

Kamu selalu datang diwaktu yang sama. Kamu duduk saja disampingku tanpa bicara. Kamu membiarkanku diam, menikmati lamunanku. Kamu memejamkan mata, mendengarkan musik dan mendengarkan degup jantungku. Kamu sangat menyadari, sebagai manusia tropis aku seperti seekor ikan yang terlempar kedalam kulkas saat tiba di tanah ini.

Kamu membiarkan apa kata orang-orang. Kamu bilang tak perlu ditanggapi jika aku tak suka. View, katamu. Setiap orang melihat dengan ’view’nya, dari tempat mereka. Anggap saja mereka burung Hog, katamu.

Kamu menggenggam tanganku sesekali.
Philip menuju apartemenmu saat mendengar kabar bahwa George, Patirica, Lukas dan seorang perempuan Jepang sedang makan malam bersamamu. Ia memencet bel. Ia langsung memberikan selembar daun Mapel yang baru dipetiknya padamu dari sebuah pohon Mapel rendah di halaman saat kamu membuka pintu dan mempersilakannya masuk.

“Arghhh you late, Philip.” Ujar Patricia yang sedang menikmati sup. “Sit here!” Kamu meletakkan sebuah mangkuk dan piring di meja, dan mempersilakan Philip duduk disamping Patricia dan Sayuri, teman sekamarmu, teman Sakiko sejak kecil. “We are still enjoying Puspita’s cook. Indonesian taste.” Patricia memperlihatkan sup ikan dalam mangkuknya kepada Philip. “Hey you, Hogs. Let’s eat what you want.” Ujar George. Ia duduk disampingmu dan baru saja mengisi gelasmu dengan jus jeruk. Saat itu, kamu merasa bahwa kedatangan Philip ke apartemenmu adalah sesuatu yang asing, tetapi kamu menikmatinya. Kamu berfikir bahwa teman asingmu yang baik itu suka berteman denganmu. Tidak takut karena kamu Muslim dan berasal dari Indonesia, negeri yang dalam berita-berita disebut sebagai wadah teroris. Kamu merasa semua orang asing itu percaya padamu, mencintaimu dan ingin bersahabat denganmu.

“She cooked Indonesian salad. Try this one.” Sayuri menggeser piring berisi Gado-Gado. “It is Gado-Gado, Indonesia salad wih peanut sauce.” Kamu turut menggeser mangkuk berisi saos kacang kearah Philip dan berkata bahwa kamu membelinya dari salah satu supermarket di Jakarta. Kamu hendak menekankan bahwa makanan itu made in Indonesia.“Hm, delicious!” Puji Philip dan tersenyum kearahmu yang sedang menikmati sup ikan. Kamu tertawa renyah malam itu. Kamu menikmati canda tawa dan pujian teman-teman asingmu.

“Philip, what you mean that you give her a Maple leaf? Can you give ger a flower like Rose?” Sayuri memancing Philip untuk buka suara mengenai hubungan spesialnya dengamu. Semua penghuni apartemen tahu bahwa kamu sedang dekat dengan George, lelaki Bolivia yang katanya masih keuturunan suku Inca.“Oh, I like her.” Philip menjawab pendek sambil memandang kedua matamu yang selalu basah. Ia berharap kamu tersenyum malu-malu atau senang. Tapi, kamu malah tertawa meledak dan akhirnya kalian semua tertawa. “Ya. He like me and he gave a Maple leaf as gift. So romantic, hahaha.” Dan semua tertawa. “I don’t need a thousands of flower. Really. It is enough.” Kamu tersenyum pada Philip yang tersenyum puas saat bisa membuat wajah George lesu. “Don’t worry, George. You still have thousands opportunities.” Hibur Patricia.

Seusai makan malam yang gembira itu, kamu dan George mencuci piring bersama. Patricia, Lukas dan Sayuri melihat-lihat koleksi photo dalam kamera Philip. “I think they have dinner two times a week.” Kata Sayuri. “Really? Are they dating, aren’t they?” Tanya Patricia tak percaya. “No. George has a fiancee!!!” Lukas memelototi dua gadis yang sedang tertawa cekikikan memandangi photo-photo dalam kamera. “Whattttt?! Oh GOSH!!!” Patricia dan Sayuri melotot kearah Lukas. “Hey Hogs, rescue her.” Patricia menoleh kearah Philip yang sedang memandangimu yang tertawa-tawa dengan George. “I will.” Katanya. Kamu tentu saja tidak tahu bagaimana Philip memandangmu waktu itu. Kamu sibuk dengan piring-piringmu.

“Oh, you relly a Hogs. You..really..” Mereka menonjok bahu Philip saat mereka tahu bahwa sebagian besar model dalam photo itu adalah kamu. “Ya, I like her. I don’t care about George. He is not handsome.” Ujarnya terkekeh. “But, George won her heart. It is trouble for you.” Ledek Patricia.

Suatu hari, sebelum kelas melukis keempat dimulai, kamu memberiku sebuah gambar. Aku tak tahu siapa yang kamu lukis di kertas putih itu. Kamu bilang itu aku. Aku bilang itu bukan aku.

Berhari-hari kemudian kamu terus saja berusaha melukis wajahku. Satupun tak ada yang menyerupai wajahku. Kamu memintaku diam, aku diam. Kamu memintaku tersenyum, aku tersenyum. Kamu memintaku memandangmu, aku memandangmu. Semuanya gagal.

Lantas kamu bilang bahwa kamu belum bisa merasaiku. Kamu belum bisa menemukanku didalam imajinasimu. Kamu memandangiku lagi-lagi, berhari-hari. Semuanya gagal. Kertas-kertas yang kamu bilang bergambar wajahku semuanya tak serupa wajahku. Matamu ingin merasuki mataku. Kamu ingin aku.

Suatu hari aku akan tahu tanpa kamu beritahu, katamu. Kamu memandangiku seperti samudera yang hendak menelan bulan. 
“Here.” Ia berdiri disampingmu yang sedang menengadahkan wajah ke puncak pohon Mapel tua di halaman apartemen. Pohon berwarna hitam itu telah berusia puluhan tahun. Cabang-cabangnya keras dan kulitnya umpama sisik ikan yang mengelupas. Daun-daunnya yang merah sebagian besarnya telah berguguran dan memenuhi halaman. Kamu menerimanya. Daun Mapel ke enampuluhKamu tahu bahwa Philip memetiknya dari pohon Mapel yang lebih rendah di halaman belakang, dekat laundry room.

”Philip. Why you gives me a Maple leaf everyday? Can you find Rose or dandelion? You know, in my country I really like Orchid. Special Orchid from rain forest. Do you have orchid in your country?” Kamu memutar-mutar daun itu didepan hidungmu, seakan-akan daun itu berbau bunga mawar. “Because I like you.” Katanya ringan. Lalu kalian berdua duduk di ayunan di bawah pohon Mapel tua itu. Kamu memandang lurus kedalam sepasang mata milik Philip yang sedang memotretmu dengan kedua matamu yang basah. Apakah kalian saling menyukai dan bicara menggunakan mata?

“You have a perfect partner for dinner. But, I am a man who will give you this everyday and take your picture everytime.” Ia duduk disampingmu dan memperlihatkan photo-photo yang baru saja diambilnya. Kamu tertawa-tawa. “Too much, Hogs. I am your model? How about my daily payment? There is no contract, Hogs…..” Kamu mendengus. Tetapi dengusan kecil itu, yang membuat bibirmu manyun hanya membuat lelaki asing itu semakin bernafsu memotretmu.

Kamu membiarkan saja Philip memotretmu. Saat itu kamu berfikir bahwa lelaki asing yang katanya menyukaimu itu hanya sedang mengujimu: samakah perempuan Asia dan perempuan Latin? Samakah perempuan Asia asal Jepang dan Indonesia? Samakah perempuan Asia yang Muslim dari Saudi Arabia dan Indonesia? Kamu juga berfikir mungkin lelaki asing itu tulus tapi kamu tidak punya cukup waktu untuk mengujinya

“What your full name?” Ia memotret kedua matamu yang menyipit karena tertawa. “Hm. Zahabiya Mumtaz Mahal.” Ia mengangguk. “Is it Indonesian name? I think it is having similar name with an Indian building.” Philip kembali memperlihatkan photo terbarunya. Kedua matamu yang menyipit diterpa cahaya mentari pagi. Kedua matamu sama basah, tanpa harus menangis. Kamu tahu itu.

“Ya. Because my parents really love story behind Taj Mahal building. It is about a lovely wife. A lovely wife of Syah Jehan, a King of India in the Mughal Kingdom. My Father wants me to be a lovely daughter and a lovely girl for everyone.” Kamu kembali memainkan daun Mapel itu didepan hidungmu. Kalian tak banyak bicara setelah itu dan hanya menikmati angin pagi yang berhembus dan daun-daun Mael yang berguguran

Lalu, kamu memejamkan kedua matan dan sesekali menghembuskan nafas saat kamu merasa bahwa pagi itu begitu indah. Kamu ingin merasakan pagi secerah itu di Jakarta, duduk di ayunan dibawah pohon Mapel tua.“Can I kiss your eyes?” Wajah Philip sudah ada tepat di depan wajahmu saat kamu membuka mata. Kamu cukup kaget. Kamu terdiam saat kamu memandangi kedua mata lelaki asing itu, coklat berkilau, seperti batu didasar sungai.

“Hogs. Your eyes so beautiful.” Kamu mengakui bahwa kamu menyukai matanya. Kamu ingin masuk kedalam matanya. Lalu kalian berdua tertawa dan berayun bersama dibawah pohon Mapel yang sedang menggugurkan daun-daunnya yang merah kecoklatan. Kamu berharap bahwa akan seperti itu setiap hari, bersama lelaki asing yang membuat hatimu bergetar.
         
“I like you since first time I saw you.”
“Hm. Two months ago. In Grammar class you can say ‘I have been looking for you for two months’ and in the future when you return to your country and you remember this moment you will say:  ‘I looked for her since the first day we met at Spring International’, Hm…” Kamu mengayunkan kakimu, seakan-akan dedaunan itu ombak di Pantai Klara yang bersih di Teluk Lampung. 
            
“Yes.”Philip menjawab sambil mengutak-atik kameranya. “Because of that you took my picture everytime and give me a Maple leaf every day? Hogs, why you like me? I am a Muslim girl.” Kalian terdiam. Daun-daun Mapel masih berguguran. Beberapa teman kalian sedang berjalan kearah kalian. Patricia berteriak saat mendapati kalian berdua duduk bersama di ayunan. George hanya tertawa. Sementara Lukas mengapit lengan George dan menyeretnya ke tempat lain. Kalian tertawa bersama melihat tingkah mereka.
            
“I like you because you are a Muslim girl. Are you covers your body everyday?” Kamu mengangguk mengiyakan. “Because of that I like you. You are different with Arabian girls. You smile at me, and also laugh everyday like a little girl. Some of them just looked at me like an enemy because I am a Christian.” Kamu hanya diam mendengarkan.
            
“George said that he likes me since the first time he saw me, similar as you. I know that he has a fiancee. He will marry that girl soon. So, you guys, two of you say like me because I am different with girls in your own country. It is just shock.” Kamu  memandang ke kejauhan, pada George yang sedang duduk-duduk dan bercanda dengan Lukas dan Patricia, yang sesekali melihat ke arah kalian.
            
“Biya. No, it is different. I am not George. My feeling is sincere.” Philip menghadapkan tubuhnya kearahmu. Lelaki asing pertama yang benar-benar dekat denganmu dan mengatakan hal-hal yang kamu anggap terlalu absurd untuk dipercaya. “Look at me. Look at my eyes, please!” Kamu menoleh dan melihat kedua matanya. Kamu tak menemukan apa-apa. Kalian tak sadar bahwa Patricia, Lukas, Sakiko dan Tuka sedang sibuk memotret kalian berdua. “Let’s be friend. It is better.” Katamu tersenyum. Lelaki asing itu hanya memandangmu tak percaya. Mungkin ia mengira bahwa kamu tidak mau mencoba. Kamu hanya diam, memandang matanya dan kamu tetap tidak menemukan apa-apa.

“Oh oh oh, I am famous now!!!” Kamu seketika tertawa saat teman-temanmu mendekat dan memotretmu layaknya jurnalis majalah gossip paling top di kota Fayetteville. “You two will be famous couple on Facebook.” Lukas terbahak-bahak sembari memasukkan kameranya kedalam tas. Kamu mengibaskan tangan mengusir mereka, lalu bangkit dari ayunan. Philip menggenggam tanganmu tiba-tiba. “I am sincere.” Katanya. Matanya memandang matamu. Tetapi kamu merasa asing dengan kata-kata itu. “Let’s go.” Katamu sembari melepaskan genggaman Philip.
            
“Let’s go. It is late!” George berteriak. Sebuah van putih baru saja tiba. Kalian akan mengunjungi Crystal Brigde Museum of American Art di kota Bentonville. Kalian berdua menuju van dan berebut duduk di tempat paling nyaman. George sudah menyiapkan spot yang bagus untuk duduk bersamamu, dan membuat Philip mendengus kesal. “Let’s make Hogs jealous, George.”

Dunia bergerak. Kamu dan aku bergerak. Kita masih sama suka menikmati daun-daun yang berguguran. Kita masih sama suka memandangi langit yang biru. Sampai suatu waktu, langit menjadi pucat, lalu abu-abu. Kamu dan aku mengira akan turun salju, pada malam atau esok pagi.
          
 Sinar matahari menghilang. Aku tak dapat menikmatinya meski kamu membuka tirai jendela kelas, menemaniku duduk di pojok gedung atau menungguinya muncul di halaman berumput yang semakin pucat. Daun-daun menghilang dari dahan-dahan pohon. Angin dingin berhembus kencang, melarikan daun-daun yang bersembunyi di semak-semak yang layu. Jaket kita semakin tebal, minuman kita semakin menjadi panas, wajah kita semakin pucat dan kita lebih suka berkumpul dalam kelompok kecil ketika menunggu bus.
Beberapa penghuni apartemen West Lawson sedang berkumpul dan menikmati Brazilian cake buatan Lukas di apartemen Patricia. Mereka juga berbincang mengenai kedua teman mereka yang sama-sama mengaku menyukaimu sejak hari pertama mereka bertemu. Mereka bingung sebab mereka tahu betapa agresifnya George meski ia diketahui telah memiliki tunangan. Mereka suka bergosip diantara kesibukan belajar yang padat.

“You know that he has fiancee from his Facebook? I think it was fake girlfriend....” Patricia mengomentari dugaan Lukas bahwa George benar-benar akan menikah. Ia sibuk melihat-lihat seluruh informasi di akun Facebook George, lalu akun milik Philip dan akunmu. Gadis berambut panjang ikal itu seolah-olah bertindak sebagai mata-mata yang sedang bertugas mengumpulkan seluruh informasi paling rahasia mengenai kalian bertiga tersebut. “Where is he?” Tanyanya kemudian pada Lukas yang mengira bahwa George dan Philip sama-sama sedang berada di apartemenmu, sementara kamu sibuk mengerjakan tugas.
“Which one the best? George or Hogs?” Tanyanya kemudian, Sakiko dan Tuka menggeleng. “Philip is good. But I am not sure with George.”

“Have George and Biya ever sleep together?...” Pertanyaan Lukas belum usai, tapi seketika Patricia, Tuka dan Sakiko melemparinya dengan bantal. “She is not easy girl!!!” Sayuri lalu melempari Lukas dengan kulit kacang. “She is beautiful, I know.” Lukas mengaku. “Aish! Women are beautiful. There is no handsome women in this world, Lukas.” Patricia menonjok bahu Lukas.

Di apartemenmu, George dan Philip sedang tertawa-tawa mendengar ceritamu tentang masa kecilmu. Waktu itu kamu bercerita tentang kegiatan weekendmu semasa kecil, yaitu mengejar-ngejar bebek untuk mencuri telurnya bersama teman-temanmu, atau ketika naik pohon mangga tapi tak bisa turun karena kamu melihat banyak semut merah yang berhamburan dari sarangnya.  Abdul Jabbar baru saja selesai memasak camilan khas Uzbekistan dan kalian bertiga segera menyerbunya. “Where is Sayuri?” Kamu hanya menggeleng saat lelaki Arab paling ramah seantero apartemen itu merasa kecewa bahwa perempuan Jepang pujaan hatinya tak ada. “I will find herWait for me, friends…” Katanya setelah meletakkan beberapa piring kecil di meja. Kamu bertiga lalu menyerbunya selagi masih hangat.

Tak lama kemudian Abdul Jabbar kembali bersama Sayuri, Sakiko, Patricia, Lukas dan Tuka. Mereka lalu menyerbu makanan yang masih mengepul itu sembari menggoda George dan Tuan Hogs. “So, who will marry Biya?” Tanya Lukas pada George dan Philip. “I might  will marry someone who following me to my country.” Katamu disambut ledakan tawa teman-temanmu. George dan Philip hanya saling berpandangan. “Yes. It is good challenge, Biya-san. I will wait and see in Japan.” Sayuri menepuk pundakmu.

“Do something different from your own culture, hey George and Hogs. If you like her, do something according to her perspective and culture.” Sayuri lalu menepuk pundak George dan Philip. Kalian semua tertawa.

Kamu masih setia mengamit lenganku saat aku mulai pening. Kamu menggenggam tanganku saat aku tertidur didalam bus. Kamu mulai membawa dua jaket. Kamu memberiku jaketmu saat aku menggigil saat turun hujan.

Mungkin aku tak akan pernah melihat salju, katamu. Salju akan terlalu dingin untukku, katamu lagi. Salju mungkin akan membuat aku sebeku ikan dari laut Cina Selatan didalam lemari pendingin Walmart, katamu lagi dan lagi. Salju mungkin akan turun besok, maka kamu mengajakku membeli sekantong coklat bubuk di Harps. Kamu membeli sebotol madu dari Farmers Market.
           
Pada suatu pagi, saat salju pertama kali memupuri kota Fayetteville, kamu bilang aku terserang demam. Kamu dan beberapa kawan khawatir aku tak bisa membuka mata untuk selamanya. Kamu bilang aku tidur lelap serupa mayat. Salju, salju. Kamu bilang bahwa aku mengigau tentang salju.
Musim berganti. Pohon-pohon Mapel tak lagi berdaun. Sejak Januari, kota menjadi putih atau perak. Salju menutupi rerumputan. Kamu membayangkan bahwa di Indonesia Maret adalah bulan yang panas menjelang musim kemarau, dan orang-orang sedang menghitung kapan waktunya panen kopi dan lada. Kamu berdiri di lapangan berumput yang diselimuti salju, menengadahkan wajahmu ke langit, menikmati taburan salju. Seakan-akan kamu bercumbu dengan malaikat. Philip menghampirimu. Berdiri di sisimu lalu mengenggam tanganmu. “It is beautiful, isn’t it?” Kamu hanya menjawab dengan berdehem.

“There is no snow in my country, only in Jayawijaya mountains.” Ujarmu kemudian.“It might be another snow for you.” Ia menyakinkanmu. Berdua saja kalian berdiri ditengah halaman bersalju, seperti dua anak yang menunggu para malaikat yang membagikan permen, jika dilihat dari langit. “It might my first and last time to enjoy snow. I wanna keep them in my memory. After return to my country, I have a plan to stay in an Island for some time. I will do research.” Kamu menikmati butiran halus salju yang mengenai wajahmu. Philip hanya berdehem. Ia sama asyiknya menikmati butiran salju yang mengenai wajahnya. “It is so fresh.” Katanya singkat.

Kalian tak peduli meski beberapa orang-orang berteriak bahwa kalian akan mati kedinginan, atau pilek sepanjang malam. Kalian berdua malah cekikikan, seakan-akan berbulu tebal seperti beruang kutub.  “Hogs, will you come to my country? Maybe for vacation?” Kamu lalu bercerita mengenai beberapa lokasi wisata yang ingin kamu kunjungi jika telah kembali ke Indonesia.

Kamu bilang ingin keliling Indonesia. Kamu ingin menikmati hutan-hutan perawan, pantai berpasir putih, dan makanan-makanan tradisional. Kamu juga bilang ingin keliling Jakarta. Kamu bilang bahwa kamu berterima kasih pada beasiswa internasional yang telah membawamu ke Amerika, dan mempertemukan kalian. Kamu bilang mungkin itu maunya Tuhan.
           
Kalian lalu berjalan menuju halte bus, yang hanya ditandai plang kecil berwarna merah, tanpa tempat duduk dan tempat berteduh. Kamu melihat George tersenyum menyambutmu. Para siswa berkumpul dalam lingkaran-lingkaran kecil untuk menghangatkan diri.
           
Red Bus tiba dan para siswa berebut masuk. Lelaki asing itu menarik tanganmu dan menjauh dari bus. Ia membiarkan George memandang kalian heran dari dalam bus yang melaju. Kamu hanya diam. Ada bus lain di belakangnya. Kalian masuk kedalam bis situ dan duduk di bangku belakng. “Maybe it is a last Maple.” Katanya sembari memberikan selembar daun Mapel kering padamu. Daun Mapel ke-seratus delapan puluh. Kamu menerimanya dan menyimpannya dalam saku jaketmu. Lalu kamu menyandarkan kepalamu dibahunya. Tangan kalian masih bergenggaman erat. Bus melaju dan salju memenuhi jalanan.
           
Malam harinya, Philip  menyerahkan satu file yang berisi ribuan photomu dan file lain yang berisi kegiatan kelompok kalian selama 6 bulan. Kamu terdiam dibuatnya. Itu pertama kalinya dalam hidupmu seorang lelaki asing begitu ingin tahu tentangmu. “I will come to your country if I have an opportunity.” Ia kemudian membantumu membereskan beberapa barang kedalam koper. “What will yo do with those Maple leaves?” Ia melihat kotak berisi daun-daun Mapel yang setiap hari ia berikan kepadamu. Ia melihat hatinnya disana. Setiap lembar daun yang ia berikan adalah kepingan kecil hatinya yang tulus.

“Don’t need to cry, Hogs. Everything will be back to our original place. Just pretend that you never will meet with me. Just remember it just a dream.” Kamu memberikan selembar tisu padanya. Kedua matanya mulai basah. Kamu memandangi kedua matanya yang basah, tapi kamu tidak menemukan apa-apa. Lelaki itu melap airmatanya. “Cengeng sekali kau.” Kamu berujar.
            
Ia mendongakkan kepalanya, “What? What you say?” Tanyanya penasaran. Ia kira kamu berbicara bukan bahasa Inggris.  “Hm, you. You like a baby, too easy to cry, so childish.” Lalu kalian tertawa bersama.  Saat kamu masih sibuk membereskan koper, ia hanya memperhatikanmu.
            
“Zahabiya, I will miss you.” Ujarnya pelan. Kamu hanya tersenyum. “Me too.” Balasmu sembari tersenyum. Lalu kamu merapikan kopermu, meraih cangkir teh dan menyeruput habis isinya. Kamu berharap, teh panas tersebut mampu menyiram hatimu yang dingin. Kamu mulai terisak, lalu menangis. Itu pertama kalinya kamu menangis didepan seorang asing. Pertama kalinya kamu menangis tanpa kamu tahu penyebabnya. Pertama kalinya orang asing itu memelukmu yang menangis seperti anak kecil. “Don’t need to cry. Everything just a dream, right?” Philip memelukmu erat. Bahumu masih berguncang karena tangis pertamamu di kota yang akan segera kamu tinggalkan. “We will back to our home. It is the happiest thing that I feel in my heart. And I will miss you so much.” Philip mulai terisak.

Bel berdering. Sayuri datang bersama George, Lukas, Abdul Jabbar dan Patricia. “Hi Hogs! What the hell you two…crying together???”Patricia dan Sayuri berteriak bersama, lalu mengepungmu dan Philip dengan pelukan. ”Don’t need to cry, hey Miss Maple and Mr. HogsWe will make last party. I bought some foods.” Abdul Jabbar mengacungkan dua kantong plastik berisi makanan. “Let’s cook delicious food, Miss million Maple.” Abdul Jabbar dan Sayuri menyeret mu ke dapur. Malam itu, kalian tertawa-tawa bersama mendengar cerita Sayuri tentang kepiting, dan memakan semua makanan yang terhidang di meja. Di luar, salju turun begitu lebatnya.

***

Waktunya pulang. Kamu mengantarku ke bandara. Kamu duduk disampingku. Kamu menggenggam tanganku sepanjang perjalanan. Tak pernah melepasnya. Kamu memandangiku saat aku check in. Kamu memandangiku, seolah ingin tahu sesuatu. Kamu bilang akan sangat merindukanku. Aku bilang datanglah ke negeriku untuk berlibur.

Itulah hari terakhir aku melihatmu. 

Depok, 28 Desember 2013
Cerita berdasarkan kisah dua orang yang bertemu di Fayetteville, jatuh cinta lalu berpisah.




Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram