Kuntum-Kuntum Revolusi Indonesia

Budiman Sudjatmiko, si Anak Revolusi,
 Aktivis PRD yang kini merupakan anggota DPR-RI 

Tak lama setelah diluncurkan kepada publik, aku membeli buku pertama Budiman Sudjatmiko. Apalagi kalau bukan Anak-Anak Revolusi. Mengetahui bahwa buku itu ramai dibicarakan di Twitter, jelas menarik minatku untuk melihat sisi lain Indonesia berdasarkan pengalaman penulisnya. Bagaimanapun juga, aktivis PRD itu sempat kudengar namanya saat aku masih siswa SMP dulu. Ya, kupikir buku itu berupa memoar penulisnya yang ditulis dengan cara yang apik dan enak dibaca. Yang paling kusuka dan jelas menegangkan adalah bab-bab tentang Cakar-Cakar Kekuasaan. Indonesia pada saat-saat tersebut adalah Indonesia yang tak kupahami, sebab waktu itu aku masih gadis kecil yang sedang tumbuh di sebuah desa yang jauh sekali dari Jakarta. Gadis yang sedang memanjakan dirinya dengan pertemanan, aksesoris rambut dan buku-buku cerita. Hiruk pikuk Jakarta hanya kudengar lewat televisi dan radio. Tetapi aku ingat, nama Budiman pernah lewat ketelingaku saat orang dewasa di desaku ngerumpi soal politik saat mereka berjemur dibawah semburat matahari pagi. 

Buku tersebut secara garis besar menceritakan dua hal. Pertama, kisah penulis sejak ia kecil dan proses tumbuh kembangnya. Juga segala hal yang 'mungkin' memang telah ditakdirkan akan membawanya pada kisah yang lain, yaitu Reformasi. Kisah mengenai kondisi yang ia alami sebelum pecah Reformasi diceritakan dengan apik dalam bab-bab Cakar-Cakar Kekuasaan. Kisahnya penuh dengan pengalaman penulisnya saat menjalani tahun-tahun menjelang Reformasi hingga ia divonis 13 tahun penjara. Belakangan ini, banyak buku yang harus kubaca, jadi aku tidak membaca terlalu detail mengenai kisah tumbuh kembang Budiman. Padahal, ada banyak judul buku yang katanya pernah dibacanya dan mempengaruhi pikiran-pikirannya. Aku menyimpulkan bahwa tumbuh kembangnya, yang diasuh oleh pemikiran aneka tokoh lintas bangsa melalui buku-buku tersebutlah yang membuatnya menjadi aktivis. Yang juga membuatnya menjadi 'seseorang' dalam daftar hitam Orde Baru kala itu. 

Bagian Cakar-Cakar Kekuasaan menurutku lebih menarik. Itu seperti perang yang diceritakan pasca perang. Tak terbayangkan olehku Jakarta yang terbakar ketika itu. Tempat persembunyian para aktivis. Sebuah bus yang dibakar didepan kampus UI Salemba. kejar-kejaran dengan aparat hingga ia bisa melarikan diri ke Bogor. Meski ceritanya menarik dan heroik, pikiranku sama sekali tak bisa hadir pada kejadian itu. Tak ada gambaran apa-apa di kanvas imajinasiku. Tetapi, rasanya aku begitu sesak. Ya, seorang pemuda yang bersemangat membela bangsa tahu-tahu dijadikan kambing hitam 'kerusuhan' dan divonis 13 tahun penjara. Sungguh tak terbayangkan. Tetapi buku ini asyik, dan sangat bagus untuk masuk ke perpustakaan sekolah untuk mengimbangi buku-buku 'baku' yang dibuat dibawah ketek penguasa.


Kemudian pertanyaan demi pertanyaan menumpuk di kepalaku. Misalnya, jika para pelaku yang disebutkan dalam buku tersebut masih hidup dan membaca buku itu, bagaimana perasaan mereka? akankah mereka merasa bersalah atau justru merasa biasa saja? bagaimana dengan para pengkhianat itu? atau jangan-jangan mereka bertemu di parlemen dari partai politik yang berbeda? akankah ada semacam pertemuan antar mereka untuk sekedar mengutarakan alasan atas perbuatan dimasa lampau, untuk meminta maaf atau untuk hal-hal lain? ataukah penulis dan korban lainnya sudah memaafkan semuanya?

Tak sabar rasanya menunggu sekuel buku ini, sebab penulisnya sengaja menggantung kisah cinta pertamanya untuk bisa dibaca sepenuhnya di buku kedua....

Bandar Lampung, 1 Desember 2013
Sumber gambar

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram