JURNALISME INVESTIGATIF Versus KEBENARAN



Aku bukan tipe orang yang menggantungkan kehendakku untuk membaca sebuah buku atas review orang lain mengenai buku tersebut. Sebab, aku percaya bahwa setiap orang berhak memberikan pandangan pribadi mereka atas segala sesuatu. Aku lebih mementingkan kehausanku dan rasa penasaranku akan sebuah informasi. Tak ada kata menyesal atau buang-buang waktu untuk membaca sebuah buku. Sebab, bagiku membaca buku seperti mendengarkan orang lain berbicara kepadaku tentang ide, pengalaman, pendapat, ketakutan dan harapan mereka tanpa harus bertemu muka. 

***
Awal Nopember lalu aku mengikuti sebuah pelatihan di sebuah tempat di Bogor dan bertemu dengan seorang mantan jurnalis Tempo, Metta Dharmasaputra. Ia menjadi salah satu pembicara dan juga penulis buku kontroversial 'Saksi Kunci: Kisah Nyata Perburuan Vincent, Pembocor Rahasia Pajak Asian Agri Groups" Dihari kedua, aku mendapatkan buku itu sebagai hadiah bagi kelompok terbaik dalam pelatihan tersebut. Aku merasa sangat tolol dan nggak gaul saat menyadari bahwa buku tersebut merupakan buku penting yang harus dibaca oleh penduduk Indonesia, apalagi kalau ia seorang mahasiswa, aktivis, dosen, praktisi hukum, buruh perkebunan sawit, jurnalis dan pengusaha. Setelah mendapatkan buku tersebut, lalu aku memamerkan buku tersebut di akun Twitter dan Facebook. Dari sekian temanku, hanya beberapa orang yang menanggapinya dan mengatakan bahwa kasus yang digambarkan dalam buku ini adalah kasus kontroversial. 

Karena konten buku ini lumayan berat dan mirip dengan novel detektif, maka aku baru bisa menyelesaikannya tanggal 20 Desember kemarin. Membaca buku ini, bukan saja memberiku rasa penasaran tingkat tinggi dengan sesekali mulutku melongo karena aku merasa heran atas sesuatu, atau saat aku merasa begitu tolol karena terlambat mengetahui sesuatu. Juga memberiku pengetahuan baru mengenai 'gurita Tanoto' dalam percaturan bisnis bukan saja di Indonesia, melainkan di beberapa negara di kawasan Asia dan Brasil. 

Dari beberapa review mengenai buku tersebut, keberatan terletak pada 'investigasi' yang dilakukan Metta Dharmasaputra. Katanya, ada yang salah dalam cara Metta melakukan investigasi, karena bukan saja terlalu dekat dengan  sumber data yaitu 'Vincentius Amin Sutanto', tetapi juga menerima dana Rp. 100 juta dari seorang pengusaha bernama Edwin alias Mr. X yang merupakan musuh bisnis Soekanto Tanoto sang taipan pemilik Asian Agri Group, tempat dimana Vincent bekerja dan membobol uang perusahaan. Akan tetapi, kritik serupa tidak dijatuhkan kepada beberapa dosen ilmu komunikasi UGM yang melakukan Riset Pesanan Asian Agri yang 'kesimpulan' riset telah ditentukan oleh perusahaan tersebut, meski kasus tersebut sempat heboh di kampus UGM dan beberapa media. Juga, soal cara kerja kejaksaan dalam menangani kasus ini, sebab Vincent memiliki posisi sebagai 'peniup peluit' dan 'saksi Mahkota' yang mampu membongkar skandal pajak terbesar dalam sejarah Indonesia. Bukankah review menjadi timpang? 

Secara pribadi, setelah membaca bukunya tentu saja, aku memiliki beberapa pendapat mengenai buku tersebut. Pertama, oke, jika Metta melanggar Etika Jurnalistik, maka yang melanggar juga adalah atasannya karena Metta bekerja atas perintah atasannya dan sellau melaporkan semua pekerjaannya pada atasannya. Dengan demikian, bukan Metta saja yang melakukan pelanggaran etika jurnalisme investigatif. Tetapi, dalam review diatas misalnya penulisnya menghukum Metta seorang dan tak menyentuh jurnalis lain yang terlibat dalam investigasi tersebut, misalnya atasannya. Apakah ini adil? 

Kedua, aku membayangkan jika Metta tidak melakukan banyak lobi kepada banyak kenalannya, termasuk pengusaha Edwin, maka bisa jadi Vincent sudah mati sejak 2007 lalu. Memangnya siapa yang berani melawan raksasa Asian Agri? Saat Metta mendatangi Vincent di Singapura, yang katanya sedang berfikir untuk bunuh diri saja, Soekanto Tanoto sudah menyewa detektif swasta yang menguntit Vincent. Juga melakukan teror pada istri dan ketiga anaknya di Medan. Saat Vincent mati, maka tak akan pernah terungkap skandal pajak yang dilakukan Asian Agri Group karena Vincent memiliki segudang data manipulasi pajak dan penjualan perusahaan sawit tersebut. Membaca buku ini aku tahu kenapa hanya Edwin yang mau membantu Rp. 100 juta dan untuk apa uangnya. 

Ketiga, kasus ini memberikan kita pemahaman mengenai sistem hukum di Indonesia yang dikendalikan sebagian besar pejabat jahat umpama lintah haus darah. Kita bisa belajar mengenai bagaimana perbedaan posisi seorang 'peniup peluit' dan 'saksi mahkota' di Indonesia dan di Amerika. Jika Metta dan banyak pihak tak mati-matian melindungi Vincent. bukan saja lelaki itu bisa membusuk di penjara melainkan mati di penjara. Sebab pihak Asian Agri bersumpah untuk membuatnya tutup mulut. Juga mengenai transaksi 'haram' di lembaga permasyarakatan dan keganjilan vonis pengadilan. Termasuk sikap 'ayam' aparat kepolisian yang lebih semangat mengurus pencurian Vincent atas uang perusahaan ketimbang kerugian negara akibat skandal pajak yang merugikan negara trilyun-an rupiah. Bukanlah itu lebih dari sekedar janggal? Bisakah kita membayangkan jika Vincent tak menaruh kepercayaan kepada Metta dan karena etika jurnalistik lantas Metta meninggalkannya berjuang sendirian?  

Keempat, buku ini memberikan kita informasi mengenai siapa sesungguhnya perusahaan Asian Agri Group dan Bos besar Soekanto Tanoto. Bagi kalangan aktivis, perusahaan ini tak asing sebagai perusahaan perusak lingkungan di Sumatera. Aku pernah membaca sebuah buku mengenai gerakan sosial masyarakat Sumatera Utara atas beroperasinya Indorayon yang mencemari sungai Asahan. Indorayon merupakan salah satu perusahaan Asian Agri Group yang bergerak dibidang bubur kertas. Keberadaan perusahaan tersebut bukan saja merusak lingkungan sungai Asahan akibat jebolnya tanggul penampung limbah, rusaknya hutan lindung, terbunuhnya beberapa warga akibat bentrok dengan perusahaan juga konflik horizontal yang biasa dimainkan perusahaan untuk memecah persatuan warga. Ya, perusahaan ini mewarisi strategi Belanda: Politik belah bambu. Itu bukan saja efektif untuk merusak lingkungan, juga merusak tatanan sosial dan budaya sebuah kelompok masyarakat. 

Kelima, buku ini menghadirkan kontroversi. Disatu sisi, Asian Agri Group bukan perusahaan yang bersih karena mengemplang pajak dan merusak lingkungan. Tetapi, disisi lain pemiliknya dianggap 'sang dermawan' di banyak tempat karena strategi bantuan sosial yang berjalan dengan mulus. Bukan saja di Indonesia, tapi sampai ke China dan Brasil. Bahkan, Mr. Soekanto Tanoto memiliki sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan yang tak lain adalah: TANOTO FOUNDATION (dulu, kukira yayasan ini punya orang Jepang). Pernahkah publik bertanya korelasi uang Tanoto Foundation dengan kerusakan hutan di Sumatera dan para buruh yang diperah keringatnya ibarat budak dan mereka tak kunjung kaya? Soekanto Tanoto yang dinobatkan sebagai orang terkaya di Indonesia tahun 2006 versi majalah Forbes ternyata perusak lingkungan dan pengemplang pajak? Sungguh ironis! Tidakkah publik berterima kasih atas kehadiran buku ini. Etika jurnalisme memang penting, tapi pajak Rp. 2.5 triliun (plus bunganya sehingga jadi Rp.4.3 triliun) apa gak penting? Gila, itu uang bisa bikin mata IJO.

Keenam, buku ini memberikan kita informasi mengenai praktek pencucian uang dan penjualan fiktif untuk mengakali pembayaran pajak. Menurut salah seorang pembicara dari PPATK, dalam pelatihan itu, praktek pencucian uang merupakan lingkaran setan yang melibatkan banyak transaksi yang terkadang tidak bisa diendus dan dibuktikan dalam waktu singkat. Dan buku ini memberi kita sebuah contoh mengenai kejahatan keuangan. 


Kritik atas 'riset pesanan'yang dilakukan beberapa dosen UGM. www.ugm.ac.id 
Buku ini ditulis dengan apik, dengan potongan-potongan peristiwa yang mengejutkan. Meski Metta banyak mendapat kritik, tetapi aku salut atas keberaniannya. Sebab, bukan saja dia menjadi sasaran kebencian banyak jurnalis, tetapi sempat juga ia diperiksa polisi dan keluarganya diteror saat melakukan investigasi kasus ini. Bahkan seorang pembicara sebuah seminar pernah menghinanya, "Ada apa ini? Tai kucing itu Metta," (Saksi Kunci, 2013, h. 299) ujar seorang pembicara berinisial TL saat menerangkan hasil riset 'pesanan' mengenai pemberitaan gencar Tempo atas kasus Asian Agri (ia mengira Metta tak hadir dalam seminar). TL sendiri merupakan dosen ilmu komunikasi Universitas Pelita Harapan. Pas baca bagian ini aku merada 'eneg gila' karena dosen kok ngomongnya kasar didepan publik. IRONIS OH SUNGGUH IRONIS!!!!

***
Umpama kritik atas sebuah film, banyak orang terjebak untuk percaya para kritik orang lain sebelum menonton filmnya. Kan aneh! Kritik harus berimbang. Dalam memberi kritik atas sebuah buku, ngapain percaya kritik orang lain sebelum baca bukunya? Kritik orang lain seyogyanya bukan dijadikan panduan, melainkan pengetahuan pembanding untuk proses belajar. Sebab kebenaran bukan milik siapapun melainkan kebenaran itu sendiri. 




Beberapa berita mengenai perkebunan sawit:


Depok, 21 Desember 2013

Sumber gambar: 
http://www.rimanews.com
www.mongabay.co.id

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram