INDONESIA DI(dalam)RACUN KONDOM


Kampanye Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di akun twitter mereka dalam rangka menolak Pekan Kondom Nasional (PKN)

Cerpen Kondomisasi (hasil penerawangan malam buta)
Suatu hari yang cerah, sebuah bus merah masuk ke pelataran sebuah kampus. Para mahasiswa yang sedang bersenda gurau satu sama lain menghentikan aktivitas mereka. Banyak diantara mereka mulai tertarik oleh gambar seorang artis 'panas' Indonesia yang berpose wahhh di badan bus. Gaunnya merah menyala. Seperti matahari yang mau meledak. Beberapa diantara mereka memandang heran bus itu. Yang lainnya nampak sumringah.
"Wih kondom gratis..." ujar seseorang dengan mata berbinar.
"Buat apaan? lo kan belum nikah." Temannya merasa heran. Lajang kok pakai kondom.
"Terserah gue dong mo diapain. Gue jual aja kali ya. Lumayan buat beli Indomie." Katanya sambil mendekati panitia yang dengan senyum manis membagi-bagikan kondom secara gratis itu. 
"Oh, buat orangtua lo ya?" Tanya temannya. 
"Hm, mo tahu apa mo tahu banget?" Katanya bikin penasaran temannya. Sementara itu, banyak mahasiswa yang tadinya duduk diam dan memandang malu-malu mulai mendekati panitia dan menerima beberapa buah kondom. 
"Emang lo tahu buat apaan tuh kondom? Lo pernah make ya? ayo ketahuan?"
"Hush! jangan sembarangan ya. Enggak kok. Gue cuma mau ngurangin jatah kondom yang dibagiin panitia aja. Ntar gua jual ke siapa gitu."
Si temannya makin bingung dan penasaran.
"Eh, btw, rame banget ya yang pada ngambil kondom. Kayaknya panitia kehabisan stok tuh. Mereka berkali-kali masuk ke mobil buat ambil stok baru kali yah." Temannya celingak-celinguk ke berbagai arah.
"Tahu ah!" Jawabnya dengan mengangkat bahu.
"Apa mereka semua pake kondom buat melakukan penyimpangan seksual ya?"
"Mana gua tahu?!"
"Trus buat apa dong? masa iya semua punya alasan kayak anak kosan miskin kayak lo sih?"
"Tanya aja sendiri sana."
"Btw, nih Menteri kurang kerjaan banget ya. Kenapa gitu nggak bagi-bagi Indomie aja ya buat anak kos sekampus ini. Lumayan kan uang jajan bisa buat beli baju."
"Yah elo pikirannya makanan mulu."
"Ya trus tuh kondom mau lo apain? mo lo jadiin polybag?"
"Hm..."
"Jadi curiga gue, jangan-jangan...."
"Hm..."
"Gak bisa jawab kan?"
"Trus hal apa yang kemungkinan besar bakal terjadi di kos-kosan setelah teman-teman kita menerima kondom? gw ngeri deh ngebayanginnya."
"Emang lo ngebayangin apa?"
"Aborsi."
"Hah? Aborsi? Apa hubungannya?"
"Lo lihat aja kenyataan aneh ini. Kondom gratis dibagiin di kampus. Berarti mereka tahu dong banyak mahasiswa yang merupakan pelaku seks bebas. Trus, klo emang iya, siapa yang bisa jamin klo para cewek nggak hamil meski cowoknya pake kondom?" 
"Hm, mana gue tahu lah..."
"Tuh kan..."
"Trus?"
"Ya, gw bingung aja, tuh kondom mau lo apain?"
Dan dua mahasiswa itu akhirnya tertawa kecil menyikapi keramaian di kampus mereka. Dunia begitu ambigu. Negara menjadi aneh dan kenyataan di depan mata seperti laut yang bergelombang. 

*****
Sumpeh deh seumur-umur aku belum pernah lihat dan megang yang namanya KONDOM. Paling-paling lihat kotak-kotak kondom aneka rasa yang dijual di toko-toko retail modern. Meski tuh benda sekarang lagi tenar banget, aku gak harus ikutan jadi 'korban' kampanye Departemen Kesehatan sebab memang aku nggak perlu sama tuh benda. Aku bukan pelaku seks bebas dan aku juga belum menikah. Tak ada urusan apapun antara dan kondom. Aku adalah satu dari jutaan perempuan lain yang meyakini kesucian pernikahan dan hanya akan melakukan hubungan seksual bersama pasangan yang sah alias suami. Jadi, kali ini, aku hanya ingin berpendapat mengenai kehebohan Pekan Kondom Nasional (PKN) yang mendapat kritik dimana-mana. 

Beberapa berita yang menghebohkan jagad Indonesia mengenai PKN misalnya ketika Departemen Kesehatan masuk ke kampus-kampus dan melakukan pembagian kondom secara gratis menggunakan sebuah bis bergambar salah seorang artis 'PANAS' Indonesia yang berpose tak senonoh. Mirip seekor a****g yang lagi istirahat di pinggir jalan. Katanya sih, tujuan pembagian kondom gratis bermodal Rp. 2 Milyar itu guna mencegah penularan virus HIV/AIDS dalam peringatan hari HIV/AIDS Sedunia pada 1 Desember kemarin. Lho, memangnya 'semua' penyebab HIV/AIDS itu seks bebas ya? Memangnya para mahasiswa itu pelaku seks bebas dan penular HIV/AIDS ya? Bukankah masuknya bis itu ke kampus memberi tanda kepada masyarakat luas bahwa sesungguhnya kampus itu sarang penyimpangan moral ya? kok bisa-bisanya ide segila itu disetujui pihak kampus? Apa nggak malu-maluin tuh? trus apa iya para mahasiswa yang ngambil kondom dari panitia adalah pelaku seks bebas? jangan-jangan mereka para pemilik apotek dan bakal jual tuh kondom di apoteknya, hehehe. Kasihan ya para mahasiswa-mahasiswi Indonesia dipukul rata sebagai konsumen kondom dan pelaku seks bebas. 

Bus bergambar tak senonoh itu. Masa iya, gambar gituan dijadikan ikon kampanye pencegahan HIV/AIDS.  Sangat tidak bijak mendidik masyarakat untuk berubah menjadi lebih baik dengan cara yang tidak tepat. (sumber: health.detik.com)

Kampanye ini adalah bentuk kampanye berulang dari kampanye-kampanye sebelumnya mengenai penggunaan kondom sebagai alat pengaman dari kemungkinan tertular virus HIV/AIDS saat berhubungan seksual. Menurutku, kampanye ini sama sekali tidak kreatif dan tidak mendidik. Departemen Kesehatan RI nampaknya sama sekali tidak membaca psikologi sosial masyarakat Indonesia sebelum meluncurkan program mahal ini. Memangnya siapa yang bisa menjamin bahwa berkarung-karung kondom yang dibagikan itu tepat sasaran? memangnya siapa bisa menjamin bahwa tak ada remaja-remaja polos dan suci yang menjadi korban baru perilaku seks bebas akibat penasaran mencoba kondom? 

Hayo, apa jawaban yang paling tepat untuk menghadapi kenyataan pahit ini? dan Rp. 2 Milyar untuk program ini tuh bukan uang yang sedikit. Uang negara sebanyak itu jauh lebih baik  jika digunakan untuk program kesehatan yang lain, seperti kampanye kesehatan reproduksi, sanitasi wilayah perkotaan, vaksinasi, bantuan kesehatan korban bencana dan sebagainya. Kupikir, meski ekstrim, tak ada relevansi antara penggunaan kondom dan pencegahan penularan HIV/AIDS. Sebab, tak semua penyebaran virus HIV/AIDS disebabkan oleh hubungan seksual. Kenapa tak sekalian saja membagikan kondom gratis itu ke lokalisasi, dan bukan ke kampus-kampus atau tempat publik lainnya? memangnya para mahasiswa dan masyarakat umum itu layak diperlakukan seperti semacam penyebar virus? 

Program ini sungguh menghina. Sebagai warga negara yang merasa terancam oleh program yang membuang uang negara ini, aku meminta:
  1. Presiden dan DPR-RI harus meminta pertanggung jawaban Menteri Kesehatan dalam sidang yang disaksikan publik
  2. Sidang disiarkan di seluruh saluran televisi dan radio di seluruh Indonesia
Bandar Lampung, 2 Desember 2013

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram