Gadis Kembang Desa (2)


Dua:
Katanya dia kembang desa. Kamu percaya? Aku percaya. Akan kuceritakan padamu bagaimana sosoknya. Hm, kulitnya kuning langsat seperti kulit nenekku. Pipinya cubby dan menggemaskan seperti pipi Annisa Pohan. Senyumnya, jelas saya manis seperti senyum Dian Sastro. Jika saja pada saat itu ia ikut audisi menjadi gadis sampul, aku yakin dia menang dan sekarang pasti jadi artis dengan banyak pemuja. Tetapi, saat itu ia adalah siswa SPG. Matanya yang besar dan hitam, dengan bulu mata lentik dan tebal membuat wajahnya terlihat sangat manis, meski menurutku dia galak. Rambutnya hitam dan panjang hingga sepantat. Tebal sekali, tetapi lembut. Di zaman itu, perempuan memang sangat suka memanjangkan rambutnya. Kadang-kadang para gadis berlomba memanjangkan rambut mereka, dan para pemuda akan memuji pemilik rambut paling indah.

Ia sangat suka berkebun bunga. Di desa kami, dia terkenal sebagai gadis yang sangat rajin berkebun bunga. Halaman rumah penuh dengan aneka macam bunga. Setiap pulang bermain dari rumah temannya, ia selalu membawa bibit bunga baru. Kamu bisa membayangkan, betapa semua mata akan dimanja saat melihat keindahan bunga sekaligus pemiliknya yang juga cantik. Nah, menurutku, itulah salah satu faktor penarik mengapa ia disebut kembang desa. Tapi, saat itu aku belum tahu apa makna semua itu. Aku hanyalah gadis kecil yang belum masuk sekolah, yang hanya terpana menyaksikan hal-hal diluar nalarnya. Ah, benar kalau dia memang cantik atau memang paling cantik.


Kamu mau bertemu dengannya untuk membuktikan kata-kataku? Aku hanya punya selambar photo usang, dimana dia sedang berdiri dan tersenyum. Mungkin nenek membakar photo yang lainnya. 

 
Depok, 28 Mei 2013
sumber gambar: 
www.shnews.co 


Cerita lain....

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram