Dija's Lover (versi terbaru)


 (Dikembangkan dari kisah asli yang dituturkan ‘D’ yang sosoknya dalam cerita ini bernama ‘Nien’. D bertutur padaku tentang Dija pada tahun 2011 dan kami terus mengikuti perkembangan hidup Dija hingga 2013. Kisah ini adalah tentang perubahan perspektif dan konsekuansi atas pilihan-pilihan hidup. Aku bertemu Dija melalui akun Facebooknya. Kisah ini dibuat atas permintaan Nien)

***
Tak ada seorangpun yang dapat mengukur kedalaman hati seorang perempuan sebab perempuan itu seumpama kotak didalam kotak. Saat kau mencoba melongok hati perempuan, kau akan menemukan sebuah kotak. Saat kau buka kotak itu maka kau akan menemukan sebuah kotak lain. Begitu seterusnya sampai kelelahanmu membuka setiap kotak menyadarkanmu bahwa hati perempuan itu adalah rahasia diatas rahasia.

Perempuan adalah rahasia.
Seperti Dija yang kini kuceritakan padamu. Cerita dari Nien.

***
Dija tengah memandangi sawah bapaknya yang tak cukup lagi menghidupi keluarganya. Kemiskinan yang menimpa desanya telah menguras airmatanya sejak kanak-kanak. Pun airmata anggota keluarganya. Kemiskinan yang tak pernah berakhir. Kemiskinan yang menyakitkan, yang telah menelan segala cita-citanya, masuk ke sisi terjauh ke dalam lumpur yang telah ribuan kali mengotori tubuh bapaknya. Kemiskinan menelan jiwanya, jauh kedalam pusaran hidup yang kian menyakitkan. Dija melap airmata yang menggenang di ekor matanya dengan ujung jilbabnya. Semua akan berakhir, katanya pada dirinya sendiri dengan tangis yang tak dapat ditahannya.

Sebelum bertemu Nien, ia hanya paham bahwa miskin atau kaya adalah takdir Tuhan. Setelah ia lulus dari Pesantren dan bekerja di sebuah LSM lokal yang didirikan Nien dan teman-temannya di kota Kediri, ia baru paham bahwa sebagian besar kemiskinan di dunia ini terjadi karena kehendak orang-orang yang menguasai negara. Ia pun punya kosakata baru dalam hidupnya yang miskin. Kemiskinan struktural. Ia ingat sekali bahwa Nien mengatakan bahwa kemiskinan yang berasal dari Tuhan hanya bisa disingkirkan dengan bekerja keras, tapi kemiskinan yang disebabkan oleh kesengajaan negara harus dilawan. Negara ini bukan milik Presiden atau pengusaha, tapi milik rakyat, semuanya. Begitu ia selalu ingat kata-kata Nien.

Lalu ia menemukan cinta. Cintanya tiba-tiba terpatri pada seorang tentara. Disaat bersamaan, saat ia menemukan harapan bersama cinta, ia melihat kemarahan dimata Nien. Perempuan itu begitu benci tentara. Bagi perempuan yang telah lama bergelut dengan perjuangan petani miskin itu, tentara tak ubahnya senjata yang selalu menumpahkan darah. “Bapakku mati ditangan tentara gara-gara dia bela tanahnya yang diklaim negara. Dia dituduh antek komunis. Itu tentara kalau kamu mau tahu.”

Percakapan singkat di kantor LSM Daun tempo hari, membuatnya patah. “Kamu yakin? bukankah kamu sendiri yang berkata dengan berapi-api bahwa tak ada apapun yang dapat membelimu, kecuali Tuhanmu? Dija, mengapa kau lakukan semua ini?” Dija terguncang manakala kata-kata Nien, sahabatnya, yang menghujamnya tepat di jantungnya, di denyut kehidupannya, menggelitik telinganya dan membuka pintu ingatan yang pelan-pelan ditutupnya.

Dija sesengukan di galengan sawah yang basah oleh embun yang belum beranjak. Halaman pikirannya kian penuh oleh kelebatan-kelebatan perjuangan bapak dan ibunya di sepetak sawah yang membentang di depan matanya. Ayunan cangkul, sabetan arit, cucuran keringat yang memupukinya, dan pandangan mata kedua orangtuanya yang sangat menyakitkan hatinya.
Nien yang ditungguinya dilihatnya tengah berjalan ke arahnya. Dija segera menghapus air matanya, menghembuskan nafas, beristighfar, lalu bangkit untuk menyongsong Nien. Dilihatnya wajah Nien yang tirus karena terlalu banyak melakukan pekerjaan-pekerjaannya di malam hari.

Mata Nien yang layu, bibirnya yang kering, dan wajah yang dipenuhi beban. “Seorang pejuang tak pernah melewatkan hari-harinya kecuali untuk menghapus beban rakyat yang terbeban ke kehidupan pribadinya,” Dija ingat kata-kata Nien saat mereka baru bertemu. Dija berusaha tersenyum manis meski sesungguhnya dia tahu bahwa sahabatnya itu akan segera tahu bahwa Dija baru saja menangis. “Nangis?” Nien menyambut uluran tangannya. Mereka duduk berdampingan di galengan sawah sembari menikmati pemandangan yang hijau ke arah sungai dan pegunungan yang rebah di arah yang jauh.

“Pertama kali mengenalmu, aku dan kawan-kawan punya harapan yang terang untuk desa ini. Harapan itu seterang matahari yang sedang menyinari kita. Lihatlah ke langit, hangat, bukan?” Dija mengikuti Nien, menengadahkan kepalanya ke langit dan matanya menemukan kehangatan semesta. Dija tertunduk. “Kami membawamu pada realitas.” Nien melemparkan segumpal tanah ke arah sungai dan jatuh diatas permukaan sawah yang belum lagi dibajak.

“Kami tahu, kamu punya banyak kelebihan daripada teman-temanmu yang lain. Kamu istimewa. Cara berfikirmu cerdas dan kritis. Seribu satu perempuan desa macam kita yang memanfaatkan kecerdasan sosial semacam itu.” Nien mencabuti rumput di dekat kakinya sambil tersenyum tipis. Dija tahu bahwa Nien tengah berusaha keras menahan genangan air mata yang nyaris tumpah. Dija tahu bahwa Nien tak akan pernah dengan tolol sengaja menangis didepannya, untuk memperlihatkan kerapuhan yang telah lama dibungkusnya dengan kemandirian. Mereka diam.

Udara diantara mereka seakan beku. Dija ingin mendengar lebih banyak isi pikiran Nien. Nien ingin mendengar lebih banyak alasan logis yang dapat diterimanya dari Dija. Semakin lama mereka terdiam dan Nien yang ditunggunya bicara tak bicara sepatah kata pun, semakin sempit dadanya. Dija merasa udara disekitarnya menghangat laksana api yang mulai membesar di tungku tempat ibunya memasak makanan untuknya dan adik-adiknya.

“Lalu, apa yang mau kamu sampaikan hari ini?” Nien akhirnya bicara. Dija tersenyum. Meski pedih, luka itu hanya akan disimpannya sendiri. Dija hanya ingin Nien tahu bahwa apa yang dilakukannya bukan semata untuk kesenangannya. Dija ingin agar Nien tahu bahwa semua keputusan itu diambil semata-mata untuk keluarganya.

“Aku akan berangkat ke Kalimantan.” Dija merasa ribuan batu dari sungai ditimpakan seisi desa ke kepalanya, merajamnya. Nien diam. “Aku sudah bicara pada bapak dan ibu, Mbak Niken, juga adik-adikku. Mereka mendukungku. Mereka percaya bahwa dengan keputusan ini aku akan memiliki masa depan yang lebih baik. Mungkin dalam pandangan kita selama ini. semua ini lebih tepat dikatakan sebagai sebuah pemaksaan. Bagaimanapun kami semua perempuan, Mbak. Bapak dan ibu sudah sangat terbebani. Membesarkan anak-anak perempuan begitu sulit.”  Dija melirik Nien yang masih diam.

Nien duduk dengan tenang. Dija tak dapat menebak apa yang tengah dipikirkan perempuan itu. Pekerjaannya yang menumpuk atau cerita bodoh yang tengah disampaikannya. Dija tak peduli. Dija hanya ingin Nien tahu, bahwa mereka tak berhak mempermasalahkan masa depan yang dipilihnya. Setiap manusia merdeka.

Bicaralah, Mbak!!! jerit Dija dalam hatinya. Dija tak tahan melihat Nien yang hanya diam saja. Beri aku seribu kalimat bahwa ini bukan keputusan yang salah. Kau tak berhak mempersalahkan takdirku dengan lelaki itu atau kemiskinan yang membuatku menjalani cinta buta. Mbak, kumohon, bicaralah. “Aku mau ke sungai, rendam kaki. Disini udah terlalu panas. Mau ikut? mau ikut?” Kata Nien, dingin. Dija ternganga sesaat.

Mereka berdua berjalan menuju sungai. Melewati beberapa pematang sawah dalam diam, mereka sampai di sungai kebanggaan mereka. Sungai yang perawan dan suci. Dija melihat Nien duduk diatas sebuah batu besar dan merendam kakinya, membiarkan air melewati betisnya. Dija lalu duduk di sebuah batu tak jauh dari Nien. Ia berharap mereka bisa bicara dengan kepala dingin, sedingin air sungai yang membius mereka.

“Segar, dingin, jernih. berpuluh tahun kedepan, saat kita mungkin telah meninggalkan desa ini, sungai ini masih jernih nggak, ya?” Nien melirik Dija yang tengah memainkan kakinya didalam air. “Kita nggak pernah tahu masa depan kita gimana, Dija. Kita hanya berusaha membuat masa depan itu baik dengan upaya yang baik. Kita telah berusaha idealis, bukan?” Kali ini mata mereka bertemu. Dija menunduk. “Kapan ke Kalimantan? dengan siapa? kamu yakin mau kesana dan menyelesaikan segala sesuatunya?” Nien membersihkan sebutir batu dari lumut yang membungkusnya. Lalu menaruhnya kembali kedalam air. Dia ingin Dija melihatnya. “Kamu sudah meminta petunjuk padaNya bahwa dia benar-benar sesuai dengan yang kamu yakini? Aku sungguh sangat menyayangkan tindakanmu, kau masih muda dan polos.” Nien bangkit dan memandangi Dija sesaat. Dija tak mampu membaca pikiran Nien, dan pancaran matanya yang tak terduga.

“Kalian bukan sedang jatuh cinta. Kalian hanya sedang gila. Kalian nggak waras. Kamu juga, terlalu polos untuk membedakan antara cinta dan tergila-gila. Ingat, Dija, masa depanmu masih panjang, lebih panjang dari masa depanku. Nggak usah mengkambing hitamkan kemiskinan keluargamu, kita semua ini miskin, tapi kamu akan menambah daftar kemiskinanmu. Kamu tahu apa itu? karena kamu telah mengemis bahkan menjual harga dirimu demi cinta. Kamu jual idealismemu demi cinta yang buta itu.” Nien meninggalkan Dija yang termenung sendirian. Dari kejauhan ia bisa mendengar samar-samar tangisan Dija.

***
Saat pertama kali dikenalkan dengan Dija, Nien berharap bahwa gadis itu akan menjadi ujung tombak perubahan desanya. Pertama kali bertemu, Nien telah melihat semangat membara dalan jiwa gadis itu. Gadis yang cerdas, soleh, rajin, dan kritis. "Khadijah," Gadis itu mengulurkan tangannya yang serta merta mengalirkan kehangatan kedalam jiwa Nien.

"Panggil saja Dija. Anak kedua pak Hasan. Senang bertemu Mbak dan kakak-kakak sekalian." keramahannya seketika memikat Nien. Gadis yang potensial, pikir Nien. "Aku mendengar dari bapak tentang Mbak sekalian, dan kupikir aku mau bergabung. Gerakan kalian hebat, cerdas. Mata batinku baru terbuka. Betapa kemiskinan dan kebodohan yang melumut di desa ini benar-benar bentukan negara." Dija membuat Nien terpana. "Sewaktu masih di pesantren, aku hanya tahu bahwa untuk kesejahteraan bangsa ini maka kita harus menegakkan pemerintahan Islami sebagaimana yang pernah dicontohkan Rosululloh dan penerusnya. Bahwa kupikir dunia ini semuanya baik."

Perkenalan dengan Dija awalnya membuat Nien bersemangat untuk terus melakukan pendampingan bersama LSM Daun. Dija yang idealis, kritis dan cerdas memberi Nien sebuah harapan bahwa apa yang mereka lakukan untuk desa itu pasti akan berhasil berkat Dija. Nien sungguh berharap Dija dapat membangun dirinya, keluarganya dan desanya menjadi lebih baik. Namun, sebagaimana banyak perjuangan yang tak menemukan muaranya, Nien harus kecewa ketika Dija memilih untuk tidak meneruskan apa yang tengah mereka perjuangkan melainkan gadis itu pergi pada impiannya sendiri.

Awalnya, entah bagaimana caranya mereka bertemu, Dija mengaku pada Nien bahwa ia jatuh cinta pada seorang pemuda. Dija mengaku bahwa lelaki itu sangat baik, taat beribadah, rajin dan merupakan sosok menantu idaman keluarganya. “Dia tentara, bertugas di Kalimantan,” terang Dija suatu saat pada Nien. “Apa? kamu mau menikah dengan tentara?” Dada Nien bergemuruh, seakan-akan langit hendak menumpahkan semua hujannya.

“Kami baru setahun berhubungan jarak jauh. Maklum lah ya Mbak,” Dija tersenyum malu-malu. “Ohh, jadi itu yang membuat tagihan telepon membengkak dan kamu sering sekali terlambat untuk rapat? Dija, mana idealismemu? mana kemandirianmu? mana ketegasanmu?” Nien kecewa dengan pembelaan Dija yang panjang lebar.

“Pacaran itu urusanmu, kenapa harus pakai fasilitas kantor? Kamu tahu kan uangnya darimana? Dari donor yang percaya bahwa orang-orang yang mengelola organisasi ini orang jujur, yang nggak korup meski cuma satu rupiah! Dari pajak! Sinting kamu!” Nien membanting tubuhnya sendiri ke atas sofa. Dija yang hanya bisa diam.

“Dija, hey, kamu ini lulusan sekolah agama, pesantren. Kok bisa kamu berfikiran demikian? mana semua konsep hidup yang kamu pegang erat-erat selama ini? apakah konsep itu robek hanya karena kamu terpikat ketampanan seorang tentara? kamu tahu tentara itu apa? kamu pikir tentara itu pahlawan?” Nien sungguh tak habis pikir kepolosan Dija dapat menjerumuskannya pada persoalan pelik. Dija membela diri,

“Mbak, aku sungguh-sungguh. Dia akan melindungiku dan mengubah semua kehidupanku menjadi lebih baik. Aku percaya padanya, keluargaku percaya padanya, aku yakin dia akan menjadi suami yang baik. Mbak jangan pernah berfikir bahwa hanya ustadz, aktivis atau guru saja yang baik untuk jadi suamiku. Memangnya ada apa dengan tentara? Apa salah aku mencintai tentara dan menikah dengannya?” dan Nien terkejut dengan pembelaan Dija yang begitu dalam. Cinta telah membutakan Dija.

Nien ingin melindungi Dija. Nien melihat kepolosan gadis itu telah membuatnya buta. “Dija, kamu baru 23. Masih muda. Kamu baru pertama kali kenal dengan lelaki siapa namanya tadi, Bima? tentara itu namanya Bima? kamu baru melihat realitas  yang rusak ini setelah sekian tahun terkurung di pesantren yang membuatmu punya pikiran bahwa seisi dunia ini baik. Kamu baru kenal dengan Bima dan katamu kalian baru 2 kali saja bertemu. Dia juga tak datang ke acara wisudamu. Dia tidak menepati janjinya padamu. Dia tak datang secara baik-baik pada orangtuamu. Lelaki baik macam apa?”.

Nien muak pada ribuan perempuan cerdas yang menjual dirinya pada laki-laki dengan iming-iming pernikahan. Mengapa perempuan selalu bergantung pada laki-laki untuk memutuskan masa depannya. Memangnya kenapa jika perempuan yang memilih sendiri rencana pernikahannya dan tak bergantung pada penilaian laki-laki yang akan dinikahinya? Nien sungguh tak habis pikir cinta buta secepat itu mengubah Dija yang idealis menjadi aneh dan berkhianat pada perjuangannya.

Nien menitikkan air mata untuk Dija. Sungguh tak terbayangkan nasib Dija jika benar-benar menjadi istri seorang tentara. “Dija, kamu bisa menikah dengan lelaki yang lebih baik. Kami punya banyak kenalan. Kami akan mencarikan yang tepat buatmu. Tolonglah lepaskan dirimu dari fantasimu yang ngawur itu. Buka matamu dari semua kekosongan ini. Kamu akan menderita, Dija.” Berulangkali Nien menasehati Dija dan Dija tetap tak bergeming. Dija tak mau mengubah keputusanya.

“Mbak, Bima membuatku merasa lebih hidup dari sebelumnya. Alangkah senangnya jika kelak dapat membangun desa ini dengan bekal kehidupanku di lingkungan tentara. Jangan picik begitu memandang orang, Mbak. Tentara adalah manusia yang memiliki sisi baik dan buruk. meski mereka robot negara, banyak kan yang baik. Bima termasuk yang baik, Mbak. Tolong mengerti aku. Mbak punya impian juga, bukan? impian yang kadang tak dimengerti orang lain? ini impianku dan Bima adalah rekanku untuk mewujudkannya?” Dija membuat Nien dan kawan-kawan mereka di LSM Daun tak berkutik lagi. Entah cara baik apa lagi yang dapat mereka lakukan untuk membebaskan Dija dari cengkaramn cinta butanya.

***
Jakarta, Maret 2011.
Nien gemetaran saat membuka surat dari Dija yang belum dibacanya sejak seminggu lalu. Nien tak ingin membaca kalimat-kalimat yang tak diinginkannya. Namun Nien telah berjanji bahwa dia akan melindungi Dija semampunya. Nien membuka kedua matanya perlahan-lahan dan mulai membaca surat dari Dija.

Teruntuk,
Mbak Raihana yang sangat baik
Assalammu'alaikum.

Semoga Mbak selalu dalam lindungan Alloh swt, semoga Mbak betah di Jakarta dan dapat belajar dengan rajin. Dalam surat yang singkat ini aku hanya ingin menyampaikan bahwa minggu depan aku berangkat ke Kalimantan. Aku telah memutuskan untuk menikah dengan Bima. Kami akan melangsungkan akad nikah di Kalimantan, di kediaman keluarga Bima. Sebelumnya, aku akan tinggal di rumah kerabat jauh Bapak di Kalimantan. Bapak dan ibu akan menemaniku ke Kalimantan dan di hari pernikahanku nanti.

Mbak, aku berharap semua ini tidak Mbak kaitkan dengan persoalan idealisme. Aku tetap Dija sebagaimana yang Mbak kenal. Aku akan terus berjuang untuk desaku, untuk memajukan kaum miskin seperti keluargaku, memajukan perempuan sebagaimana yang kubutuhkan. Aku berharap Mbak tidak menuduhku menjual diri karena aku pernah berkata bahwa dengan menikah dengan Bima nasib perekonomian keluargaku akan sedikit membaik. Menurutku bukan sesuatu yang tabu dalam sebuah pernikahan. Aku tahu Mbak punya lebih banyak pengalaman, termasuk mengenai cinta. Aku tahu Mbak selektif. Namun, Mbak akan segera merasakan apa yang kurasakan, bahwa cinta mampu membuat kita hidup. Sebelum cinta sejati datang menghampiri, hidup kita hanya setengah, bukan? dan cinta yang menggenapkannya.
Mbak, terima kasih telah datang dalam hidupku, telah datang ke desaku dan membuka mata kami semua tentang semangat untuk maju. Mbak adalah inspirasiku, yang membangunkanku dari mimpi panjang dunia Islam yang nyata-nyata tengah terpuruk. Mbak telah menyadarkanku bahwa sebagai Muslim kita harus berjuang semampunya untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan Islam dan negara ini.

Mbak, percayalah padaku, bahwa aku bisa melewati semua ini dengan baik, tak seburuk perkiraan Mbak dan kawan-kawan. Menikah dengan tentara bukan hal buruk sebagaimana menikah dengan pejabat yang korup bukan kejahatan bagi sebagian perempuan. Aku berharap Mbak dapat melihat sisi baik dari keputusan yang kuambil. Tentara bukanlah aktivis, guru, ustadz ataupun diplomat. Tentara hanyalah boneka negara yang harus diselamatkan dari pemujaan yang berlebihan pada negaranya. Kumohon do'a agar aku dapat melakukan perubahan kecil dalam melalui keluargaku nanti. Do'akan pernikahan kami barokah dan penuh rahmat.

Wassalammualaikum.
Salam sayang,
Khadijah.

Nien terhenyak. Keputusan yang mendadak. Nien tahu bahwa Dija berbohong untuk menyelamatkan cintanya. Rekan-tekannya di Kediri mengabarkan bahwa Dija berangkat sendirian ke Kalimantan, tanpa seorangpun kerabat. Anak gila! rutuk Nien. “Kenapa kalian membiarkan Dija pergi sendirian? Memangnya kenapa sampai-sampai dia pergi tanpa keluarga sama sekali? Aku tahu, di bohong, dia tak punya kerabat di Kalimantan. Kenapa kalian biarkan Dija melakukan hal gila itu? Kalian nggak takut sesuatu yang buruk akan menimpa Dija?” Nien marah pada Ainun dan Arif melalui telepon karena mereka tak mampu menahan Dija.

Nien menangis untuk Dija. Dimatanya Dija telah mengambil keputusan yang keliru. Masa depan Dija masih panjang dan gadis itu layak mendapatkan yang terbaik. Gadis itu tak harus berbohong, dengan mengkambing hitamkan persoalan kemiskinan keluarganya untuk mengejar cinta buta yang kelak bisa menyeretnya pada penderitaan kekerasan dalam rumah tangga.

Nien berdiri mematung di jembatan penyeberangan kampus UI Salemba, memandangi jalanan Jakarta. Mungkinkah kekacauan jalanan Jakarta layak disamakan dengan kekacauan Dija yang digulung cinta buta? Ah, cinta, Nien muak dengan cinta yang mencekik dan memposisikan perempuan sebagai pihak 'harus dibeli' dan harus 'laku' dan bukan menempatkan wanita dalam posisi sama dengan kaum pria, berhak menentukan.

Jika saja bisa, ia ingin menyudul Dija dan membawanya kembali pulang. Tapi ia tak punya waktu. Ia harus menyelesaikan tugasnya selaku penerima beasiswa IFP dan menyelesaikan masa trainingnya di Jakarta sebelum terbang ke Belanda untuk melanjutkan studi Masternya. Kedua matanya basah, bahunya bergetar. “Semoga Allah melindungimu, Dija.” Nien menghapus airmatanya. Perlahan, Nien melangkahkan kaki, menuruni anak-anak tangga yang mulai rusak disana-sini, sementara halaman pikirannya mencoba mencari-cari Dija. Nien berharap halaman pikiran Dija juga tengah mencarinya dan mereka bisa berkomunikasi. Nien ingin mengajak Dija pulang kembali ke Kediri. Nien ingin Dija menikah dengan lelaki baik yang dapat menuntunnya ke surga.

***
Kalimantan, Mei 2011.
Dija menghapus airmatanya. Tak ada lagi waktu untuk menangis. Gadis itu telah memutuskan untuk hidup bersama Bima, sang abdi negara. Sembari merapikan pakaian dan riasan wajahnya didepan cermin, Dija berharap bahwa Nien tengah berdo'a untuk kebaikan pernikahannya. Ia berharap Nien akan bertemu jodohnya manakala telah sampai di Belanda, dan bisa melanjutkan studinya dengan lancar. Ia berbangga pada Nien yang bertahan dalam idealismenya, sampai-sampai Tuhan memberinya hadiah berupa beasiswa internasional yang sangat bergengsi. Beasiswa yang ia pikir tak mungkin bisa diraihnya karena ia tak memiliki karya sehebat Nien dalam membangun masyarakat. Dija berpikir bahwa dirinya bahkan tak layak, sebab ia telah melarikan diri dari kenyataan. Bersembunyi dalam cinta.
Ia menatap wajahnya yang memantul penuh kemuraman di cermin.

Jakarta, Mei 2011
Nien merapikan kopernya. Ia tersenyum melihat canda tawa teman-temannya. “Aku wis kerasan lah di Jakarta. Moga-moga aku kerasan juga di Belanda sana. Hm, paling-paling aku bakal kangen pisan karo pecelnya si Mbah di depan kosan kita di Salemba itu lho. Itu pas banget dilidahku.” Katanya saat teman-temannya berdiskusi mengenai rencana mereka dalam menghadapi cuaca dingin negeri kincir angin yang akan segera mereka tuju.

Tak lama lagi mereka akan terbang ke Belanda, melanjutkan kuliah dan menikmati dunia Internasional di Eropa Barat. Lalu ia teringat Dija. Tapi buat apa mengingat Dija? Pikirannya terbelah menjadi kepingan. Seperti idealisme yang dengan mudahnya menjadi kepingan kala berhadapan dengan cinta.

Nien bersama 9 temannya, sesama penerima beasiswa International Fellowship Program itu akan segera meluncur ke bandara internasional Soekarno-Hatta, lalu ke Belanda. Mobil jemputan mereka sudah menunggu, sambil tertawa-tawa dan berceloteh soal makanan yang kelak paling mereka rindukan, mereka membawa koper masing-masing. Dalam beberapa jam kedepan, Jakarta dan Indonesia akan menjadi sebuah titik di kejauhan, layaknya bintang di angkasa. Nien menatap masa depannya dan bayangan tentang tinggal selama lebih dari 2 tahun di negeri Tulip itu.

Ia tersenyum, sebagaimana teman-temannya, dan duduk didalam van, bersiap menuju bandara. Ia yakin selalu ada jalan bagi setiap impian. Ia masih bermimpi tentang masa depan desanya, juga Dija yang sangat disayanginya. Disepanjang perjalanan menuju bandara, ia hanya diam dan menikmati pemadangan Jakarta dimalam hari. Jakarta yang indah, megah dan piawai menyembungikan keburukannya pada siang hari.

Wageningen, 2012
Nien akhirnya tahu kabar terbaru Dija melalui Facebook. Ia tengah hamil saat berhasil melihat photo-photo Dija dan keluarga kecilnya. Dilihatnya juga Dija telah memiliki pekerjaan, dan mengontrak rumah bersama suaminya yang tentara. Nien menghembuskan nafas, mengelus-elus perut buncitnya dan memandang jauh ke luar jendela. Tak lama lagi ia akan melahirkan. Ia tak membiarkan dirinya berlama-lama untuk merenungi nasib Dija, toh ia pikir Dija bahagia dengan kehidupan barunya. Nien melihat jam di layar laptopnya dan mengeluh karena suamianya belum juga datang. “Cuma beli es krim saja perginya seabad.” Tangannya segera meraih sebuah buku tebal, lalu membuka file Tesisnya.

Kediri, Juni 2013
Nien ternganga saat melihat Dija berdiri di pintu. Ia menggandeng tangan seorang bocah kecil, sementara perutnya membuncit. Dibelakangnya berdiri seorang pria berwajah tegas. Nien mempersilakan mereka masuk. “Silakan duduk.” Nien lalu memanggil suaminya yang sedang menimang putranya yang baru saja dimandikan. “Wah gantengnya.” Puji Dija saat melihat suami Nien membawa putra mereka yang baru saja terlelap. Dija hanya memandangi mereka.
“Aku baru tiga hari yang lalu dari Kalimantan. Sengaja pulang ke Kediri buat lahiran anak kedua. Aku dengan kabar dari kalau Mbak Nien juga disini buat penelitian.” Dija tersenyum semanis mungkin, meski ia paham bahwa Nien sedang berpura-pura bersikap manis. Nien memangku Syahid yang tampak tenang dalam tidurnya, sementara suaminya menyiapkan minuman bagi tamu mereka.

Dunia bergerak. Dunia berubah. Keduanya duduk diam. Keduanya bersikap kaku layaknya tak pernah bertemu sebelumnya. Dija mengelus-elus perut buncitnya, Nien menyingkirkan anak-anak rambut dari pelipis bayinya. Suaminya datang membawa beberapa gelas teh hangat dan camilan. Matahari meninggi.

Depok, 28 Desember 2013
Ditulis sebagai versi terbaru kisah Dija's Lover pada April 2013 di Lampung

Sumber gambar:
www.360nobs.com 

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram