Akhir Tahun yang Mendebarkan





Selama November-awal Desember 2013, aku telah menyelesaikan 5 buku diatas. Kelimanya merupakan bacaan terbaik bagiku di penghujung tahun 2013. Juga sebagai pengobat stress akibat mengejar deadline Tesis. Kelimanya berat dan butuh perenungan panjang saat membacanya. Ayu Utami dengan 'Saman' dan 'Larung' yang sangat terlambat kubaca sejak pertama kali ia terbit dan populer hingga ke mancanegara, memberiku pemahaman mengenai bagaimana jalinan antara kekuasaan, angkara murka, cinta, aktivisme dan masa lalu dalam sejarah Indonesia. Juga bagaimana kepiawaian Ayu Utami dalam merangkai kisah yang tidak ideal, tetapi realistis sehingga begitu dekat dengan keseharian. Dan rasa hormatku untuk Khaled Hoseini atas karya terbarunya yang meramu kisah berbagai tokohnya lintas waktu. Meski ada beberapa bagian yang membosankan dan terasa berlebihan, tetapi aku menikmati caranya menguasaiku untuk menuntaskan karyanya dengan kejutan-kejutan yang rasa-rasanya belum dimiliki penulis Indonesia (atau memang aku belum menemukan penulis Indonesia dengan yang memiliki kemampuan menulis seperti dia). Dunia Sophie, menarik dan menggemaskan. Tetapi, aku perlu membaca ulang buku ini sebab aku melewatkan semua bagian 'pelajaran Filsafat' yang menurutku membosankan jika dibaca sebagai selingan mengerjakan Tesis. Dan, 'Saksi Kunci' adalah yang paling mendebarkan. Kisah kucing-kucingan antara pejahat kelas kakap dengan pejuang keadilan yang memiliki banyak musuh, dan 'ayam-ayam' di pemerintahan yang memalukan. 

***
Tahun 2013 hanya tersisa 6 hari lagi. Lalu, seisi dunia bergerak pada harapan baru yang biasanya dilandasi beberapa resolusi dan perayaan kecil. Namun bagiku, perayaan apapun tak akan pernah pantas dan cukup untuk menyambut kedatangan 'angka' dari usia bumi yang semakin menua. Aku tak pernah menyalakan lilin tradisi untuk menyambut tahun baru. Sebab apa? sebab saat angka tahun semakin bertambah, maka kesempataknku di dunia ini semakin berkurang. Tuhan akan segera memanggilku saat waktunya tiba. Lalu buat apa merayakan bumi yang semakin menua? Refleksi, menurutku jauh lebih penting dan berguna, sebab di bumi yang menua ini seluruh manusia sedang berjalan pada krisis yang tak lagi bisa dibantah. Setiap orang perlu memikirkan resolusi atas upaya optimal untuk bisa bertahan hidup dalam kondisi krisis yang keras. 

Badai yang meluluh lantakkan filipina; juga yang menimpa sebagian warga Kanada hingga mereka mengalami krisis energi, air, dan pangan; perang yang terus berlanjut di Timur Tengah; banjir di beberapa kota di Indonesia; aksi kekerasan yang dilakukan sebuah perusahaan sawit asal Malaysia yang menggunakan aparat negara untuk mengusir Suku Anak Dalam dari rumah mereka di hutan-hutan di Jambi; kisah dramatis aparat pemerintahan yang masih menjilat para Koruptor yang sudah menjadi tahanan KPK; isu tentang beberapa pejabat top pemerintahan yang sedang dibidik KPK; gonjang-ganjing pemilukada; artis-artis yang kian seronok; kisah memalukan seorang Bupati yang memblokir seluruh Bandara karena kesalahan dirinya; dan saat Rupiah kembali melemah menjadi Rp. 12.000 per US$ 1. Krisis macam apa yang akan kita hadapi sepanjang 2014 bermodal krisis yang sedemikian rupa di 2013?

Kadangkala aku merasa takut untuk melangkah ke masa depan. Bukan karena aku takut bahwa Tuhan akan meninggalkanku. Melainkan karena dunia menjadi semakin keras sebagaimana telah diramalkan pada berabad silam. Aku takut menjadi tidak tahan, sebab semakin kita bertambah dewasa, semakin besar godaan yang siap menyongsong kita. Meluluh lantakan kepolosan, kejujuran, idealisme, cinta kasih, persahabatan, dan kepercayaan. Aku telah menyaksikan banyak orang baik yang terjerumus saat mereka mendaki kedewasaan. Banyak diantaranya menjadi sosok jahat yang tak pernah terbayangkan oleh siapapun. Aku takut bertemu dengan mereka, atau aku menjadi kaki tangan mereka atau bahkan menjadi satu diantara mereka. Karenanya, meski aku tersenyum untuk kedatangan tahun 2014 karena berarti aku akan menyongsong beberapa hal baru dalam hidupku, tetapi selebihnya aku merasa sangat khawatir. 

Entah kenapa, bagiku, akhir tahun ini sungguh mendebarkan. Rasa-rasanya, akan ada banyak peristiwa besar dan tak terbayangkan yang akan kusaksikan di 2014 sampai-sampai jiwaku resah duluan. Tetapi, karena semua hal belum terjadi, maka ya aku berusaha berfikir positif, sebab energi positif sangat baik baik. Semoga tanah airku baik-baik saja. 

***
Oh ya, suatu pagi di 16 Desember aku makan-makanan ini di salah satu toko modern di Stasiun Gambir. Memang bukan makanan terbaik, tapi ini makanan yang menyelamatkanku dari kelaparan selama lebih dari 11 jam karena muntah akibat mabuk perjalanan dan kemacetan Jakarta. Nasi kuningnya lumayan....


Depok, 25 Desember 2013
-hujan sebentar, lalu mendung. Aku ingin pulang tapi terpaksa stuck di Depok. Kere pula, hahahaha....-

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram