Pengalaman Membuat Visa Amerika


22 Oktober 2012, Bandara Internasional Soekarno-Hatta: Aku mengantri bersama para penumpang antarbangsa yang akan transit dan menuju bandara Narita, Jepang. Kami mengantri dengan tertib. Semua orang nampak membawa beberapa koper ukuran sedang dan besar. Aku sendiri hanya membawa koper ukuran sedang yang berisi pakaian dan makanan, serta sebuah ransel di punggung. Tepat didepanku, ada sepasang manusia -entah suami istri entah bukan- asyik berciuman sambil sesekali mendorong empat buah koper besar milik mereka. Aku berprasangka baik saja, mungkin mereka adalah wisatawan dari salah satu negara di Asia yang baru pulang berbulan madu di Bali, hehehe 

Setelah proses check-in selesai, aku duduk di ruang tunggu. Selain aku merasa aneh karena aku akan berangkat ke sebuah negara adidaya, yang tidak pernah kurencanakan. Aku kembali teringat akan beberapa proses yang kulakukan untuk memperoleh Visa Amerika. Ya, setelah gagal untuk sekolah ke Belanda, aku mengantongi Visa Amerika dengan proses yang singkat. Entah keajaiban, entah takdir. Aku hanya mencoba menghayati tiket internasional yang akan membawaku pada satu petualangan yang tak pernah terbayangkan dalam hidupku. Bahkan, aku tak pernah berencana sekalipun untuk mengunjungi Amerika, negaranya Pak Obama. Sembari memandangi Visa itu, aku teringat kembali proses hilir mudik Depok-Jakarta untuk mengurusnya.

***

Saat mendapat email dari pihak Spring International English Center (SILC) Universiy of Arkansas, pada 1 September 2012, aku sangat senang. Akhirnya terkabul juga keinginan ke luar negeri pakai beasiswa (belajarlah sampai ke negeri Amerika). Meski ya harus tabrakan sama kegiatan terpenting tahun terakhir sebagai mahasiswa Magister alias melakukan pra riset untuk menulis Tesis. Hmmm, tapi penasaran juga gimana merasakan tinggal di negara empat musim pas transisi dari musim gugur ke musim dingin. Gak kebayang gimana aku bakal semaput karena kedinginan. Katanya, di kota Fayetteville, negara bagian Arkansas, tempat yang akan kutuju itu, udara udah mulai dingin banget, yang sangat nggak cocok sama orang-orang yang berasal dari daerah tropis.

Dimulailah proses pembuatan visa.  Aku menggunakan jasa pembuat visa yang berkantor di Sabang Business Center di Jakarta (wilayah kuliner di Jl. Sabang, Jakarta). Prosedur yang dilakukan adalah bikin pas photo 5x5 yang kelihatan daun telinga, kening dan sedikit leher (Rp. 30.000). Pas kutanya kok bikin photonya aneh begitu, katanya itu prosedur normal untuk bikin data tubuh kita disimpan di komputer dan supaya mudah mengenali identitas diri. Aku masih bingung kenapa nggak pake iris mata aja, kok nyampe daun telinga segala, hehehehe, trus isi formulir (DS 160) tentang data diri dan pastikan yang input adalah si pembuat jasa (Rp. 100.000) dan bayar uang pembuatan visa (Rp. 1.520.000). Beberapa hari kemudian, barulah dapat informasi wawancara visa. Aku mendapatkan jadwal wawancara pada tanggal 1 Oktober atau Hari Kesaktian Pancasila dan bertepatan dengan naiknya tarif Commuter Line menjadi Rp. 8000. Sakti sekali kan?


Info tentang pembuatan Visa bisa dicek di website kedutaan besar Amerika
Pagi-pagi sekali aku menuju Jakarta, ke kedutaan Amerika Serikat. Berhubung pakai taksi pasti mahal sekali, jadi sebagaimana biasanya kalau ke Jakarta aku menggunakan Commuter Line. Sangat percuma dan cuma mimpi untuk dapat tempat duduk di kereta Depok-Jakarta pada senin pagi. Kulewatkan 2 commuter line yang penuhnya gilaaaaaaa meski aku sudah kesiangan dari jadwal yang ditentukan yaitu 7.30 wib. Commuter line sama aja dengan kereta ekonomi, bedanya di commuter line gak ada atapers, meski bayarnya jauh berbeda. Hari itu tarif commuter line naik dari Rp. 6.000 menjadi Rp. 8.000. Ini benar-benar bikin bangkrut penumpang kereta aja. Dengan berdesak-desakan, akhirnya aku sampai di stasiun Gondangdia, Jakarta dalam keadaan lapar, haus dan capek karena berdesak-desakan selama di kereta. Melajulah aku ke kedutaan Amerika dengan menggunakan taksi. Pas nyampe sana, widiiiihh antriannya panjang.

Nah, soal beberapa dokumen yang sudah berat-berat kubawa itu ternyata nggak ada yang ditanyakan sama sekali. Padahal ada beberapa orang yang gagal karena salah satu dokumennya kurang lengkap. Mungkin kasusnya acak ya supaya setiap orang bersiap dengan kemungkinan yang terjadi. Oh ya aku nggak tahu siapa nama pewawancaraku, yang pasti dia orang Amerika berperawakan tinggi berambut pirang. Di loket sebelahku pewawancaranya orang China dan loket sebelahnya kayak orang Arab. Para peserta yang lain kebanyakan mau ke Amerika buat tugas kenegaraan, berobat, liburan dan bisnis. Mungkin hanya aku yang mau sekolah.

Dokumen untuk wawancara Visa Amerika (harus asli)
  • Paspor
  • Lembar konfirmasi wawancara
  • Bukti pembayaran Sevis (kalau aku J-1: dari sononya dari pihak SILC Arkansas)
  • Pas Photo khusus visa
  • Rekening koran/ buku tabungan dengan print keuangan 3 bulan terakhir
  • Kartu Keluarga
  • Akte Kalahiran
  • Ijazah Terakhir
  • Grant (karena aku fellow sebuah beasiswa)
  • KTP dan KTM (kalau mahasiswa)
Untuk keperluan wawancara tersebut, harus membawa dokumen-dokumen penting sebab kalau nggak nih ya, bisa dapet kertas merah muda alias harus mengulang jadwal wawancara. Pas nyampe pintu satpam kedutaan (gak tahu dimana pintu gerbangnya) akan diminta paspor, trus diminta ngantri dekat pintu. Pas ngantri dikasih nampan plastik buat naruh benda-benda seperti HP, kamera, USB, dan segala benda yang terlarang dibawa kedalam termasuk gunting kuku. Kemudian masuk ke sebuah ruangan berpintu besi dan melakukan scanning barang-barang yang dibawa, termasuk ikat pinggang dan sepatu. Hm, untung aja para jarum pentul di jilbabku gak harus dilepas.

Kemudian akan dapat nomor penitipan barang dan kartu tanda pengenal. Selanjutnya menuju ke sebuah loket berpartisi untuk menyerahkan paspor dan formulir Sevis (aku J-1), kemudian diberi nomor kelompok untuk sidik jadi dan wawancara. Sebelum itu, bersabar menunggu di ruang tunggu. Kalau lapar dan haus, di ruang tunggu ini ada air minum gratis atau bisa beli minuman lain dan roti di cafetaria. Menunggu disini lama banget. Nah, pas nomor kelompok dipanggil masuk lagi ke sebuah ruangan untuk sidik jari secara elektronik. Lalu menunggu lagi di ruang tunggu. Kalau bosan bisa baca buku atau majalah tentang Amerika yang tersedia di ruangan itu tapi nggak boleh dibawa pulang



10 menit wawancara Visa Amerika

Nama kamu siapa? wijatnika  
Mau ngapain ke Amerika? study english and leadership training 
Kok kamu bisa dapet formulir J-1? from my scholarship
Scholarship apa? interntional fellowship program from the ford foundation
Yang biayain siapa? international fellowship fund
Gimana cara kamu dapetin info scholarship ini? from a friend
Kok bisa dapet scholarship ini? I worked at an environmental NGO and have done some works with communities in Lampung Province. I want to be a local leader and I need this scholarship to help me improve my leadership skill.
Ke Amerika-nya dimana? Fayetteville city, Arkansas State
Programnya apa? The IFP English language and leadership training program at Spring International Language center, University of Arkansas
Buat apa kamu dapat beasiswa ini? to help me to get higher education and expand my network both of national and international level. This scholarship is the best.     
Apa yang akan kamu lakukan nanti? I have a commitment to help local communities to develop their life through skill and knowledge. I wish, I will be a local leader.

Udah, gitu aja wawancaranya.
 
Persiapan  ke Amerika
Ke Amerika, bukan sekedar berangkat berbekal paspor, visa dan form J-1, tapi juga segala hal remeh temeh yang kalau tidak disediakan bakal bikin repot. Meski tugasku disana hanya belajar sejak jam 8 pagi sampai jam 3 sore, 24 jam alias 5 hari selama seminggu, dan melakukan hal-ahl lain sebagaimana telah diatur penyelenggara kegiatan. Ke Amerika, bukan sekedar menjawab rasa penasaran dengan pengalaman yang akan kujalani selama 9 minggu, melainkan aku sungguh pusing dengan segala persiapan. Mulai dari mendaftar isi koper sampai dengan mencari souvenir. Tapi ya, aku senang sih.

Oh ya, karena di Amerika sedang musim gugur dan katanya sangat dingin maka aku juga menyiapkan sejumlah jaket dan pakaian tebal. Selain itu, aku juga menyiapkan makanan khas Indonesia, khawatir susah nemu di negara itu. Maklum lah pengalaman pertama ke luar negeri. Jadinya, isi koperku terdiri atas dua kelompok. Setengahnya berisi pakaian, dan setengahnya lagi makanan seperti indomie, aneka bumbu instan, bon cabe, kopi, sampai sambal pecel. Hm, isi koperku lebih mirip dengan mahasiswa yang mau buka lapak makanan Indonesia sih daripada mau menjalani short course. Oh ya, tak lupa juga membawa oleh-oleh untuk kuhadiahkan kepada guru-guru yang akan mengajarku, teman-temanku dalam kelompok penerima beasiswa IFP, dan untuk teman-teman lainnya yang akan segera kukenal. 

Di Amerika
Penerbanganku dari Cengkareng, transit sebentar di Narita, Jepang. Untung saja aku bertemu dengan seorang perempuan pengusaha Indonesia yang punya bisnis di California, sehingga punya teman jalan-jalan di sekitar bandara, sebelum melanjutkan penerbanganku ke bandara intercontinental di Houston, Texas yang sangat luas. Setelah itu, barulah aku terbang dengan pesawat kecil ke Arkansas dan dijemput langsung oleh manajer program kami yaitu Ms. Alannah Massey. Perempuan yang sangat ramah ini kemudian membawaku ke apartemen mahasiswa tempatku tinggal bersama kelompokku dari sejumlah negera di Asia Tenggara dan Amerika Latin. Di apartemen itu, aku serumah dengan dua mahasiswi dari Jepang dan China. Dan aku sekamar dengan si mahasiswi Jepang, namanya Ms. Ryoko Honda seorang auditor keuangan yang bekerja di Tokyo, Jepang. 

Georgetown Apartment, tempat tinggalku selama di Arkansas, Amerika Serikat (foto: Maria)
Georgetown Apartment pada musim dingin, Januari 2013 (foto: Yudai Hironaka)
Kegiatan belajar dan pelatihan yang kujalani memang tidak lama. Hanya dari Oktober-Desember 2012. Aku tinggal di kota Fayetteville, nggak jauh dari kampus University of Arkansas. Fayetteville adalah sebuah kota pelajar yang bersih, damai, tenang, minim tindakan kriminal dan tentu saja sangat sepi jika dibandingkan dengan kota pelajar manapun di Indonesia. Meskipun demikian, kegiatan yang kuikuti banyak sekali dan sangat padat, sehingga aku tidak merasa begitu kesepian. Aku juga bersyukur mendapatkan kesempatan ini. Rasanya ingin kembali belajar di kota itu suatu hari nanti.

Hiking ke Devil's Den State Park, Arkansas bersama rekan mahasiswa internasional (foto: Maria)
Bersantai di halaman gedung SILC saat menunggu bis untuk pulang ke apartemen (foto: Rizia)
Mejeng dulu dong (foto: Maria)
Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembacaku yang sedang mengajukan visa Amerika. Khususnya untuk yang baru pertama kali mengajukan visa Amerika. 

Jakarta, 12 Desember 2013

2 comments

  1. Asiik banget bisa pergi ke luar negri..
    Seru ceritanya... ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai konten gaptek, terima kasih sudah mampir. Iya, alhamdulillah rezeki...

      Delete

follow me on instagram