Teman dari Jepang dan China


 
1500 Jam di Amerika
Kisah Seorang Penerima Beasiswa IFP yang
Tinggal dan Belajar di Kota Fayetteville, Amerika

(Draft gagal masuk penerbit, akhirnya diterbitkan di blog ini, selamat membaca...)


Saat tiba di apartemen, aku diantar ke kamarku oleh Alannah dan bertemu dengan nona China di kamar sebelah. Aku sekamar dengan nona Jepang. Saat itu nona Jepang sedang hang out dengan teman-temannya entah dimana, dan nona China sedang pacaran di kamaranya, dengan siswa Arab. Setelah membereskan baju-bajuku, aku ke dapur untuk menaruh berbagai bumbu yang kubawa dari Indonesia. Mataku terbelalak saat semua tempat di kulkas sudah penuh, dan tak ada tempat kosong di lemari.

Keesokan harinya, setelah pulang sekolah, aku bicara dengan nona Jepang, bahwa nampaknya kami harus berbagi tugas membersihkan rumah dan membagi tempat di kulkas maupun lemari untuk menaruh makanan kami. Saat kami beres-beres ternyata baru kutahu bahwa sebagian besar makanan yang ada di kulkas maupun di lemari adalah milik nona China.

Kami bertiga tinggal di room bernomor 103. Sebagaimana yang lainya, apartemen kami berlantai dua. Lantai pertama adalah ruang tamu, ruang makan, dapur, gudang dan toilet. Sedangkan di lantai dua ada dua kamar dan satu bathroom. Aku dan nona Jepang tinggal sekamar di kamar Timur, dan nona China tinggal sendiri di kamar Barat. Ukuran dan fasilitas kamar kami seragam, tapi kami masih tidak mengerti mengapa aku harus sekamar dengan nona Jepang sementara nona China tinggal  sendirian. Selain itu teman kami di apartemen 104 tinggal sendirian. Ternyata, lemari kecil di kamar mandi pun dipenuhi barang-barang nona China.

Usut punnya usut, nona China yang berasal dari keluarga kaya di China sana memang suka banget belanja. Bahkan suatu hari, nona Jepang bicara padaku bahwa ia baru saja mendapat kabar bahwa nona China mengeluh kepada teman kami yang lain, yang kebetulan orang China juga, bahwa ia tidak lagi punya tempat untuk menaruh makanannya di kulkas di apartemen kami sehingga ia harus menitipkan sebagian makanannya di apartemen teman kami tersebut. Aku hanya bisa melongo sementara nona Jepang mendengus kesal. Karena kami sangat tahu dan sadar bahwa 50% ruangan didalam kulkas dipenuhi makanan si nona China. Sementara aku dan nona Jepang berbagi 50% sisa ruangan didalam kulkas, sebab kami memang tak mungkin gila belanja seperti si nona China karena kami tak punya banyak uang.

Karena kami bertiga berasal dari latar belakang budaya dan kelas ekonomi yang berbeda, maka tinggal bersama selama dua bulan sangat terasa berbeda bagiku. Si nona China tidak pernah piket. Aku dan nona Jepang seringkali kesal mendapati rumah kami tidak rapi dan wangi pada minggu si nona China harusnya piket. Mungkin karena berasal dari keluarga kaya dan sehari-hari ia dilayani pembantu, ia bahkan seringkali meninggalkan cucian kotor di tempat cuci piring, buah yang membusuk di meja, hingga sampah yang menggunung.

Aku tidak pernah bersedia untuk mencuci peralatan dapur kami yang ditinggalkan begitu saja oleh si nona China, karena aku bukan pembantunya. Meski kadang-kadang peralatan yang kotor tersebut kami butuhkan untuk memasak. Mungkin karena kami tak bisa lebih lama lagi menunggu, si nona Jepang akhirnya membersihkan peralatan kotor itu. Kubilang padanya, bahwa ia melakukan hal yang bodoh dan membuat si nona China semakin berani berbuat kesalahan serupa karena toh bakal ada nona Jepang yang berbaik hati mencuci peralatan kotor hasil perbuatannya. Menolongnya tidak membuatnya respek.

Sebagai remaja yang usianya 6-7 tahun dibawahku, si nona China mungkin masih labil dan tak tahu sopan santun, meski dalam beberapa hal dia memang pemalu. Tak pernah sekalipun ia meminta izin kepadaku atau nona Jepang saat membawa teman-temannya masuk ke apartemen kami. Bahkan seringkali kudapati bahwa beberapa teman dekatnya, bahkan si cowok Arab, masuk begitu saja ke apartemen kami tanpa mengetuk pintu, tanpa berbasa-basi melainkan lewat begitu saja, dan tentunya tak pernah membantu membersihkan sampah yang mereka hasilkan. Selalu harus aku dan nona Jepang.

Saat timbul masalah. Si nona China tak peduli. Misalnya, suatu hari aku terbangun dari tidurku karena suara ribut di dapur. Saat aku ke dapur untuk membuat coklat hangat, kulihat si nona China dan temannya, sedang mencuci piring di toilet. Ternyata sink tempat kami biasa mencuci piring dan membuang sampah sayuran ke septic tank mampet. Padahal sebelumnya, sekitar jam 7-8 malam aku dan nona Jepang masak dan makan ubi bersama, dan semuanya baik-baik saja. Saat kami konfirmasi si nona China tidak mengaku bahwa ia melakukan kesalahan, padahal itu terjadi saat ia dan temannya masak-masak. Pada akhirnya nona Jepang langsung bicara pada pemilik apartemen dan meminta sink kami diperbaiki. Sejak saat itu nona Jepang kesal sekali dengan nona China, tapi aku tak ambil pusing. Anak labil tak usah diladeni toh…

Masalah lain terjadi saat toilet kami mampet dan mesin pemanas ruangan mati. Juga saat teman-teman si nona China memotong rambutnya di bathroom dan tidak membersihkan sampah rambutnya dengan sempurna. Juga saat lantai dapur kotor dan sampah menggunung. Kesalnya bukan main saat si nona China tak ambil pusing. Karena bosan menunggu si nona China ambil bagian dalam meresolusi masalah internal kami dan selalu mengelak dengan bilang “I don’t know,” maka si nona Jepang langsung menghubungi pemilik apartemen. Sejak saat itu ia tak lagi bicara dengan nona China     

Untuk pertama dan terakhir kalinya nona China membersihkan apartemen kami adalah ketika kami akan segera pulang, dan memang harus berbagi tugas untuk membersihkan apartemen, atau uang deposit kami masing-masing USD 200 tidak akan dikembalikan oleh pemilik apartemen. Saat itu, aku dan nona Jepang sudah mengerjakan tugas kami masing-masing, si nona China akhirnya membersihkan ruang tengah dengan bantuan pacar barunya yang orang Taiwan. Sekaligus membersihkan semua barang di kamarnya karena ternyata hari itu ia pindah ke apartemen Noble Oak, tetangga kami.
           
Dimalam terakhir sebelum aku pulang, aku sempat memeluk nona Jepang dan pamitan. Aku tak tahu saat itu nona China sedang dimana. Apartemen kami terasa sepi, dan bau makanan sudah lama menghilang. Kulkas dan lemari kami sudah kosong. Dapur benar-benar bersih dari aroma makanan. Dua bulan hidup bersama seakan tak menyisakan bekas untuk diingat selain dalam memori.

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram