PERNIKAHAN ADIKKU

 

Aku tidak berhasil menambah berat badanku hingga pesta penikahan adikku berlangsung. Aku sangat lelah hingga sering lupa makan bukan saja karena mengurus berbagai persiapan penikahan adikku. Juga mengurus aneka dokumen untuk pergi ke Amerika. Ya, ke Amerika. Pernikahan adikku dan Visa Amerika adalah dua bentuk kebahagiaan yang hadir di bulan yang sama, yang menghiburku lebih dari apapun saat ini. Saat aku menerima tamu undangan, mereka memujiku tentang ‘masa depan cerah’ yang tak lama lagi akan menjadi milikku (mereka mengira aku benar-benar kuliah di Belanda? sungguh fitnah! hehehe). Ya, mereka semua adalah para tetangga, guru-guru dan teman-temanku yang paham kehidupanku sejak aku masih ingusan. Pernikahan adikku adalah momen yang pas untuk mensyukuri nikmat kesempatan meraih pendidikan tinggi dan berbagi senyum bahagia dengan mereka semua.
             
Pernikahan adikku juga merupakan momen penting yang kutunggu seumur hidup. Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 27 tahun aku memiliki photo keluarga. Lengkap. Sejak ayah dan ibuku bercerai saat aku berumur 5 tahun, aku tak punya satu photo pun yang menggambarkan bahwa aku berasal dari sebuah keluarga kecil. Kami berlima, bersama adik iparku, berphoto. Bagiku, photo itu begitu sakral. Penantianku selama sekitar 22 tahun terkabul.
           
Pernikahan adikku umpama gerbang perpisahan. Ia akan memiliki kehidupan sendiri. Ketika masing-masing diantara kami, ayahku, ibuku dan adikku akan menapaki kehidupan mereka sendiri pasca pesta ini, maka aku pun akan melanjutkan hidupku sendiri seperti sedia kala. Aku memandangi Visa Amerika-ku, dan berharap kesempatan mengunjungi negara adidaya itu memberiku inspirasi untuk tetap tangguh dan setia menggapai mimpi-mimpiku. Aku mencoba untuk berhenti marah pada Tuhan dan melapangkan hatiku. Aku percaya, bahwa setiap takdir memiliki jalannya masing-masing dan suka atau tidak suka aku harus menjalani takdirku.

***
Agustus 2009, tepatnya setahun setelah aku lulus dari Universitas Lampung, aku melamar beasiswa untuk melanjutkan S2. Aku berfikir sederhana, mungkin saja nasib akan membawku ke Belanda, ke sebuah universitas tua dengan perpustakaan mewah bertabur buku-buku terbaik dari seluruh dunia. Aku selalu membayangkan dapat belajar di kampus yang canggih dan berinteraksi dengan manusia antarbangsa. Aku paham, pengalaman internasional akan memberikan warna dalam hidupku, lalu membantuku tumbuh menjadi manusia berbeda. 

Nah, setelah mempelajari beberapa jenis beasiswa, aku memilih untuk berjuang mendapatkan beasiswa International Fellowship Program (IFP). Berdasarkan cerita dari beberapa teman, beasiswa ini cukup bagus dan adil dalam menyeleksi para pelamar. Beasiswa ini tidak secara khusus diberikan bagi para jenius dengan IPK 4 dan kemampuan berbahasa Inggris sempurna. Secara istimewa, beasiswa ini mencari para siswa dengan komitmen sosial yang tinggi namun tidak memiliki kesempatan dan kemampuan untuk melanjutkan studi karena berbagai keterbatasan. Beasiswa ini juga tidak mengikat para penerimanya dengan perjanjian pasca lulus, namun meminta mereka untuk kembali berkarya bersama masyarakat.

Setahun lamanya aku mengikuti proses seleksi beasiswa ini. Sembari menekuni pekerjaanku di WALHI Lampung, aku terus berharap agar aku lulus dan berkesempatan kuliah di salah satu universitas bergengsi di Eropa. Saat itu, aku sudah mempersiapkan proposal yang akan ditujukan pada dua universitas ternama di Belanda: Groningen University dan Amsterdam University plus Universitas New Delhi di India. Secara berkala aku menerima pemberitahuan dari IIEF bahwa aku berhasil melewati beberapa seleksi. Saat itu, meski aku telah menjalani wawancara sebagai tahap akhir seleksi, aku masih harap-harap cemas.

Minggu pertama Agustus 2010 aku menerima email dari IIEF. Kulihat namaku ada diantara 50 orang yang diterima sebagai fellow IFP angkatan terakhir. Segala Puji bagi Allah yang telah mengabulkan doaku. Terima kasih kepada para juri yang telah mempercayaiku bahwa aku berhak menerima beasiswa ini. Dari 9000an pelamar, aku diterima bersama 49 orang lainnya. 

PROSES SELEKSI BEASISWA IFP
Inilah pengalamanku mengikuti seleksi beasiswa IFP selama setahun. Pertama, ikuti prosedur. Seleksi beasiswa terdiri dari beberapa tahap. Aku berusaha tidak meremehkan tahap pertama yaitu seleksi berkas. Seluruh berkas yang diminta pihak IIEF kuberikan semua. Kedua, aku mengemukakan alasan logis mengapa aku berhak mendapat beasiswa IFP. Dalam beberapa jenis beasiswa para pelamar perempuan dari luar Pulau Jawa bisanya mendapatkan prioritas. Bisa jadi aku masuk kedalam kategori tersebut. Berikut adalah jawabanku atas beberapa pertanyaan kunci dalam formulir beasiswa IFP:

“Masyarakat sebagai laboratorium sosial membuat saya belajar tentang banyak hal setiap saat. Pola pikir saya banyak dipengaruhi oleh perkembangan politik nasional dan dunia, terutama dalam memahami kasus-kasus yang berkaitan dengan  masyarakat dan lingkungan hidup, yang erat kaitannya dengan pekerjaan saya di WALHI Lampung. Bersama rekan kerja saya, saya telah melakukan banyak hal dalam proses penyadaran kepada masyarakat tentang hak-hak dasar manusia dan warga negara, serta memfasilitasi mereka agar mandiri dan memandang hidupnya sebagai hal yang berharga….

Isu sosial di Indonesia sangatlah kompleks. Saya tertarik untuk mempelajari isu sosial yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial. Saya ingin memberikan sumbangsih kepada masyarakat dengan memfasilitasi mereka, misalnya dalam memahami bagaimana pentingnya peran mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan konsep kearifan lokal, seperti melestarikan hutan dengan hanya memberdayakan produk hasil hutan bukan kayu. Masyarakat juga harus paham bahwasanya, kesejahteraan ekonomi harus berjalan beriringan dengan kelestarian alam. Oleh karena itu, saya berharap bisa belajar banyak di bangku universitas demi menunjang pengetahuan akademis saya di bidang kesejahteraan sosial dan peran negara dalam menjamin kesejahteraan sosial warganya.”

Ketiga. Saat aku lolos untuk mengikuti tahap terakhir, yaitu wawancara, aku mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Saat wawancara berlangsung, aku menjawab semua pertanyaan dengan baik, tidak mengada-ada dan tidak juga merendahkan diri. Finally, aku lulus. Mungkin saja aku dipilih karena aku dianggap memenuhi kriteria ini berdasarkan esai dan hasil wawancara:

“Fellow dipilih berdasarkan kemampuan kepemimpinan dan komitmen terhadap masyarakat dan pengabdian kepada bangsanya, selain keberhasilan akademiknya.” (Paragraph 2, petunjuk umum berkas lamaran beasiswa IFP)

Para penerima beasiswa IFP tahun 2010 merupakan angkatan terakhir dan kelompok kami dipanggi dengan nama cohort 9. Sayang sekali ya, padahal masih terlalu banyak warga negara Indonesia yang membutuhkan beasiswa IFP.  Beasiswa ini terdapat di 22 negara miskin dan berkembang di Asia, Russia, Afrika, dan Amerika Latin. Di Indonesia, IFP memiliki 361 alumni yang terdiri dari 186 laki-laki dan 175 perempuan dengan kualifikasi 342 orang untuk studi Master Degree dan 19 orang studi Ph.D. Jumlah ini merupakan yang terbanyak dari seluruh negara peneriman beasiswa IFP. Penerima beasiswa IFP adalah 110 orang berasal dari Pulau Jawa dan 251 dari luar Pulau Jawa, dengan rincian: 104 orang dosen, 51 orang guru, 113 orang aktivis NGO, 14 orang Pegawai Negeri Sipil, orang pegawai swasta, 21 orang peneliti dan 7 orang dari profesi lainnya. 

Aku dan teman-temanku fellow IFP cohort 9 sedang outbond di Bogor

Pada 9 September 2010, hanya berselang beberapa hari setelah Idul Fitri, aku berangkat ke Jakarta guna mengikuti Training Akademik -lebih tepatnya training akademik dan kursus intensif bahasa Inggris- selama 6 bulan di LBI UI kampus Salemba. Layaknya anak sekolah, aku belajar 5 hari dalam seminggu sejak jam 8 pagi hingga jam 3 sore. Namun bedanya, di LBI UI aku hanya mempelajari satu pelajaran saja: Bahasa Inggris. Hari-hariku selama 6 bulan itu adalah pengulangan atas rutinitas yang sama: belajar bahasa Inggris. Belajar didalam kelas dan ujian. Entah kenapa, nilai ujianku selalu jeblok. Hasil tes TOEFLku setiap bulannya tak pernah mencapai angka 500. Katanya angka 500 itu keramat, barang siapa yang bisa melewatinya meski hanya 0.01 poin menjadi 501 misalnya, maka akan dengan mudah mencapai angka 600. Argh! Itulah aku, kenapa juga aku masih tidak bisa mengerti? Intinya adalah aku tidak mengerti!

Selama proses menguliti otakku yang selalu saja tidak mengerti mengapa aku selalu gagal, aku tetap menjalani berbagai proses untuk pengajuan proposal ke tiga universitas yang telah kusebutkan. Namun, atas berbagai pertimbangan aku mencoret nama Universitas Groningen dan Universitas New Delhi di India. Setelah dibantu Ibu Rachma, salah satu pengajar selama PAT, untuk memperbaiki proposalku, aku segera mengirimkan proposal itu ke Institute of Social Studies/ ISS, Amsterdam University dan Utrecht University.

Aku berharap bisa berangkat ke Belanda, toh biasanya sebelum para siswa asing masuk Universitas mereka dikursuskan selama beberapa bulan di Maastricht University agar bahasa Inggris mereka sempurna. Jadi harapanku sangat besar untuk bisa berangkat. Aku ingin beasiswa ini menjadi sayap yang menerbangkanku ke Eropa, ke negeri yang mewarisi kastil-kastil kuno dan megah, juga negeri yang menyimpan banyak cerita tentang Indonesia sebagai negeri penghasil rempah, sepotong surga dunia di timur jauh.

Bisakah aku meminjam sepasang sayap burung dan kedua matanya, untuk dua tahun saja? Dua tahun saja! Lalu akan pulang dan mengabdikan ilmuku di tanah kelahiranku, mungkin jadi guru atau jadi petani paling sukses sedunia (Lulusan S2 jadi petani, pasti aku ditertawakan warga satu kabupaten! Tapi itulah impianku sebenarnya).

Saat harap-harap cemas itu, aku menerima kabar dari kekuargaku bahwa ada berita tentang rencanaku untuk sekolah ke Belanda di harian Lampung Post. Mereka khawatir terjadi sesuatu denganku karena aku bekerja di NGO lingkungan yang dianggap ‘galak’ dan memintaku agar jangan berurusan dengan politik (apa hubungannya ya????). Alamakkk! Saat kuubek-ubek beritanya melalui internet, benar saja bahwa berita tentangku benar. Orang-orang sekampung akhirnya tahu bahwa aku akan belajar ke Belanda, padahal kenyataannya aku masih harap-harap cemas menunggu surat penerimaan dari ketiga universitas tersebut.

Berita yang dicetak dalam ribuan eksemplar dan disebar ke seluruh wilayah Lampung itu itu adalah ulah direktur NGO tempatku bekerja. Beberapa hari sebelum berita itu dicetak, seorang wartawan mewawancaraiku via telepon karena aku sedang di Jakarta, untuk memuat profilku sebagai penggiat lingkungan hidup di rubrik baru media tersebut. Ternyata, mereka juga melakukan wawancara dengan Direktur-ku untuk melengkapi profilku. Karena beliau mendukung keputusanku untuk melanjutkan studi S2, maka beliau mengatakan bahwa aku akan kuliah ke Belanda. Hm, baiklah, lumayan jadi selebritis lokal, hehehe.

Direktur-ku memang bilang padaku, “Sekolah lah kamu yang tinggi. Lampung butuh aktivis perempuan hebat. Lebih hebat lagi kalau lulusan sekolah luar negeri. Susah kalau kayak gua mau lanjut sekolah lagi, udah punya anak-bini, gak bisa konsentrasi lagi. Gua dukung lo deh, mumpung lo masih muda dan masih sendiri. Tapi, jangan lupa, lo harus balik lagi ke Lampung.” Katanya saat menandatangani surat bahwa aku cuti bekerja untuk melanjutkan studi. Kemudian ia membubuhkan cap lembaga kami diatas surat itu.

Hari yang ditunggu itu tiba. Ketiga universitas menerima proposalku dengan surat penerimaan bersyarat karena kemampuan bahasa Inggrisku belum memenuhi syarat. Conditional Letter. Namun, membaca ketiga surat itu membuatku merasa sangat bahagia. Pertama kalinya dalam hidupku menerima surat dari Universitas di luar negeri. Pertama kalinya juga bagiku aku melihat sepasang sayap yang diberikan padaku untuk terbang jauh. Aku hanya tinggal memutuskan 1 universitas yang akan kutuju. Jalan yang hendak kutuju itu sudah kulihat didepan mataku.

Ketika tiba saatnya para siswa yang hendak sekolah ke Belanda diberangkatkan, aku ditinggalkan sendirian. Aku gagal meraih nilai tinggi untuk tes TOEFL yang terakhir. Jika aku harus menunggu hasil tes IELTS, aku tidak yakin. Sebulan kemudian, ketika aku berhasil meraih nilai 5.0 untuk tes IELTS pertamaku, jika saja aku mengambil tes tersebut sebulan sebelum jadwal keberangkatan ke Belanda, niscaya aku bisa memenuhi impianku kuliah di Belanda. Saat itu, aku sangat sedih dan kecewa pada diriku sendiri. Juga karena telah mengecewakan harapan keluargaku dan orang-orang di kampung halamanku. Pada akhirnya aku memilih untuk kuliah di Universitas Indonesia.

Lampung, 14 Oktober 2012

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram