Arkansas Rice Depot: Berbagi Kasih ala Amerika



Bagiku, berkesempatan belajar di Amerika bukan hanya sebuah anugerah untuk ‘jalan-jalan gratis’ yang tidak dinikmati oleh seorangpun dari rekan SDku (*aih). Ada banyak pelajaran tentang kebijakan, pelayanan publik, toleransi hingga cinta. Saat kami berlibur ke Little Rock, ibukota Arkansas State, pada 30 November 2012 aku dan kawan-kawanku sempat mengunjungi sebuah gudang makanan yang sangat luas, layaknya sebuah gudang pabrik semen ternama di Teluk Betung, Lampung.

Tempat tersebut bernama Arkansas Rice Depot. Tempat itu tidaklah sama dengan gudang Bulog sebagaimana yang ada di seluruh Provinsi di Indonesia. Jika Bulog hanyalah tempat ‘menampung’ beras untuk mengamankan stok beras dalam negeri, ARD adalah tempat menampung aneka bahan pangan yang kemudian dibagikan secara cuma-cuma kepada orang-orang kelaparan, orang miskin dan korban bencana alam.

Kami berkunjung ke tempat itu pada sore hari dan sedang tidak banyak relawan disana. Kami disambut seorang relawan yang kemudian mengajak kami berkeliling gudang dan menjelaskan program-program ARD. Lembaga itu merupakan sebuah organisasi non pemerintah yang berdiri sejak tahun 1982. Lembaga itu bekerja dibawah keyakinan, 
“If you give food for hungry people and satisfy those who are in need, the darkness around you will turn to the brightness of noon” yang merupakan sebuah ayat dari Injil.
God say, ‘if you love me, you have to love people’. That’s why we work for feed hunger people in Arkansas. You can see so many foods here! It is amazing!” Relawan itu menjelaskan filosofi gerakan mereka. Lelaki jangkung itu percaya bahwa melayani kebutuhan sesama yang kesulitan sama artinya dengan melayani Tuhan. Itu mereka lakukan untuk meraih cinta Tuhan.

Pertama tama ia membawa kami ke gudang makanan yang ‘nyaris siap’ untuk didistribusikan. Bahan pangan seperti beras, kacang merah, herbal, dan macaroni dibungkus dalam satu plastik sepanjang 30 cm dengan tebal 5-6 cm. Lalu ia mengajak kami ke gudang yang lebih besar dengan stok makanan yang lebih banyak lagi mulai dari roti, susu, beras, biskuit, sereal, kacang-kacangan, jus, buah-buahan, ikan dan daging kalengan, buah kalengan, sayuran, hingga daging yang diawetkan dalam lemari pendingin raksasa.

Kita mungkin mengira bahwa Amerika itu semakmur negeri-negeri dalam kisah-kisah dongeng ala Disney. Tapi, di negeri yang katanya adidaya ini orang miskin dan lapar ada dimana-mana. Alam subtropis yang keras membuat orang-orang lemah tak bisa hidup sekuat orang Indonesia yang bisa makan singkong rebus dan tinggal di rumah geribik. Tanpa makanan yang cukup dan bergizi, atau tanpa rumah yang layak sesuai standar pemerintah, orang-orang itu bisa mati kelaparan sekaligus kedinginan. Kadangkala, orang-orang tak punya penghasilan yang cukup dari pekerjaan mereka sementara harga-harga begitu mahal dan pajak begitu tinggi. Belum lagi biasa kesehatan yang selangit.  
Meski Arkansas adalah bagian dari Amerika Serikat, tapi negara itu merupakan yang termiskin. ARD mencacat bahwa sebanyak 18.8% penduduk Arkansas hidup dibawah garis kemiskinan, 1 dari 6 orang Arkansas harus berjuang keras memberi makan keluarga mereka dan terdapat 26.6% anak-anak yang hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. Sedangkan bagi para pensiunan dan orang-orang tua uang yang tersisa dari penghasilan mereka rata-rata $79/ bulan setelah dipotong biaya sewa dan utilitas. 
ARD mencacat bahwa hingga akhir tahun 2011, lembaga ini telah memberi makan sebanyak 15% penduduk Arkansas dan telah mendistribsikan nyaris 9 juta pounds atau setara 4.500 tons makanan dan suplai setiap tahunnya. Karena hanya memiliki staff kurang dari 20 orang dan lembaga ini lebih banyak dibantu relawan, maka lembaga ini menggunakan 98% dana yang masuk dari para relawan untuk kebutuhan membeli suplai dan membiayai pengiriman makanan. ARD juga bekerja sama dengan 75 counties/kabupaten/distrik dan 1 lembaga foodbank dalam penyaluran makanan ke seluruh negeri.

Terdapat 4 program lembaga ini dalam upaya mengurangi jumlah orang lapar di Arkansas. Pertama, foods for families. Program ini diselenggarakan bersama dengan 300 gereja dan organisasi komunitas di seluruh Arkansas. Ada beberapa faktor yang kadangkala menjadikan sebuah keluarga tidak memiliki uang untuk membeli makanan, misalnya karena kehilangan pekerjaan atau harus membiayani pengobatan medis anggota keluarga. Bekerjasama dengan gereja dan lembaga komunitas merupakan satu upaya untuk mengeratkan hubungan ketetanggaan dan agar antara satu keluarga dan keluarga lainnya disebuah lingkungan saling mengetahui jika ada tetangga mereka yang kesulitan dan bisa segera dibantu.

Kedua, foods for kids. Anak-anak yang kelaparan tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar sehingga nilai mereka cenderung buruk. Hal tersebut meresahkan para guru, sehingga mereka bekerja sama dengan ARD. Lebih dari 35.000 anak-anak di 600 sekolah publik di Arkansas mengalami kelaparan. Setiap anak tersebut memiliki kebutuhan yang berbeda soal kapan mereka butuh dikirimi makanan. Ada yang setiap malam membutuhkan kiriman makanan, dan ada yang membutuhkannya hanya diakhir minggu saja. Hari Jum’at mereka hanya diberi makanan untuk makan malam dan makanan ringan, sedangkan untuk Sabtu dan Minggu anak-anak ini diberi makanan mulai dari sarapan pagi, makan siang, makan malam dan makanan ringan. Makanan yang diberikan kepada anak-anak ini biasanya berupa instant oatmeal, fruit cup, peanut butter cracker, milk, cereal bar, chef Boyardee dinner, pudding cup, green beans, chicken noodle soup, dan sebagainya. Program itu juga memberikan makanan kepada para ibu muda yang masih berusia belasan tahun dan bayi dalam kandungan mereka, agar setelah melahirkan mereka bisa tenang bahwa ia dan bayinya tidak akan kelaparan, dan agar mereka tetap bisa menyelesaikan SMA.

Ketiga, foods for seniors. Para manula yang tak lagi punya penghasilan ini seringkali berada dalam dilema dalam membelanjakan uang mereka, antara kebutuhan makanan dan kesehatan yang sama-sama mahal. Untuk membantu mereka, maka setiap bulannya sekelompok relawan dikirimkan bersama sekotak makanan dan perlengkapan pribadi untuk masing-masing lebih dari 70 manula. Setiap bulan, mereka merasa berbahagia saat tim relawan dari ARD datang ke rumah mereka dan mengirimkan makanan yang mereka rindukan dan butuhkan.

Keempat, foods for disaster relief. Setiap musim, Arkansas selalu dilanda tornado. Salah satu tornado dahsyat yang menyerang Amerika Serikat sejak awal hingga pertengahan tahun 2011 lalu misalnya merenggut nyawa ratusan orang dan menghancurkan rumah-rumah dan fasilitas umum. Pada 24 Mei tornado kembali menyerang dan menewaskan 9 orang di Oklahoma State, 4 orang di Arkansas State dan 5 orang di Kansas City. Sementara ratusan orang lainnya mengalami luka-luka. Dalam masa itu para relawan ARD mendistribusikan Disaster Relief kits yang mencakup makanan, personal care, selimut, pakaian, obat-obatan hingga alat penerangan pada para korban. Juga menyediakan kits khusus untuk bayi dan anak-anak dimana kadangkala mereka terpisah dari orangtuanya dan membutuhkan pelayanan dan perlengkapan khusus seperti diapers dan susu khusus bayi. Kadangkala ada sebuah keluarga yang membutuhkan pertolongan karena tiba-tiba mereka bangkrut gara-gara rumah mereka terbakar dan mereka tak punya apa-apa meski sedikit makanan.

Makanan dan donasi dalam bentuk uang datang dari banyak pihak, mulai dari pemerintah, perusahaan seperti Walmart, restoran hingga para petani dan peternak yang menyumbangkan hasil panen mereka. Terdapat berbagai metode yang digunakan ARD untuk mengkampanyekan misi mereka memberi makan orang-orang kelaparan di Arkansas, selain tentu saja mengkampanyekannya lewat gereja, organisasi komunitas, sekolah dan lembaga pemerintahahn. Pertama, ARD mengajak para dermawan huntuk menjadi a Hunger Hero. Metode ini semacam donasi berupa uang mulai dari $ 30 sampai $ 200 atau dengan jumlah yang dikehendaki donatur. Mereka akan mengisi sebuah formulir dan jumlah donasi bulanan mereka dan mengirimnya via rekening. 

Kedua, adopt a school. Dalam metode ini, pimpinan gereja, direktur perusahaan atau pimpinan oragnisasi menyetujui untuk mengadopsi sebuah sekolah dengan siswa-siswa yang kelaparan. Mereka kemudian mengisi formulir dan mengkopi sebuah halaman bergambar berisi sekolah yang belum lengkap atau tak berdinding. Bangunan itu harus dilengkapi 240 buah kupon yang akan menjadi batu bata dan menjadikan sekolah tersebut sempurna. Setiap kupon dihargai $10, sehingga jika sebanyak 240 kupon terbeli maka akan terkumpul donasi sebesar $2.400 sebagai bentuk pembayaran atas adopsi sekolah. 

Ketiga, ARD juga memanfaatkan momen seperti Natal dan libur panjang untuk membantu relawan mendonasikan makanan atau uang mereka. ARD biasanya membuat daftar makanan yang dibutuhkan untuk semua umur, kemudian mereka akan memublikasikannya sehingga para dermawan akan mengirimkan makanan-makanan tersebut sebagai hadiah Natal bagi para siswa melalui ARD. ARD juga memiliki sebuah toko kecil yang menjual berbagai pernak-pernik khas ARD seperti topi, kaos hingga aneka bahan pangan dan herbal. Berbagi pada sesama adalah tugas utama manusia.

Aku telah diajarkan mengenai berbagi melalui konsep Zakat, Infaq dan Sedekah. Hanya saja, manajemen ketiganya belumlah baik di Indonesia, sehingga dana yang terkumpul sebesar apa pun dari hasil ketiganya tak akan efektif dalam mengurangi kemiskinan dan memberi makan orang lapar. Dari konsep ala ARD aku belajar mengenai manajemen. Kebaikan tanpa manajemen tak akan terlihat hasilnya. Hal ini bahkan telah dijelaskan Khalifah Ali bin Abu Thalib 14 abad yang lalu. Kita hanya harus belajar dan melaksanakannya dengan segala kerendahan hati.

Depok, 31 Desember 2013


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram