Yang Tradisional Yang Memikat


Menu sarapan pagi yang lumayan di Hotel Kota
Ini kali kesekian aku singgah di Kota Yogyakarta. Kota pariwisata internasional yang selalu ngangeni. Aku pertama kali mengunjungi kota ini pada penghujung 2010, bersama teman-temanku untuk benar-benar berlibur. Aku benar-benar menikmati liburanku kali itu, dan menghabiskan sebagian tabunganku untuk belanja oleh2 untuk keluargaku besarku yang banyak. Kali lain, aku bahkan sampai menjelajahi Borobudur dan Prambanan. Menikmati keindahan magis di sekitarnya. Mencoba membayangkan bahwa aku bisa menembus riuh rendah peradaban masa lalu. Bertemu teman masa kecilku dan keluarga kecilnya. Menyaksikan sisa-sisa amukan Merapi. Lalu, aku kembali ke kota ini beberapa kali untuk sebuah proyek penelitian. Selalu, kota ini menyihirku untuk menelusuri lekuknya. Meski banyak hal berubah. 


Kemarin malam, aku menginap di Hotel Kota. Sebuah hotel yang bermetamorfosis dari sebuah losmen tua di tahun 1960an. Resepsionis yang menerimaku ternyata dari Lampung, dari kabupaten Pringsewu. Hotel itu terletak di lokasi yang sering dinamakan tusuk sate. Ia mudah dilihat dan ditembus mata, meski ia kecil dan berserak bersama bangunan lain yang bertahan dari gempuran zaman yang memaksa kota ini menjadi modern. Ya, hotel tradisional itu memikatku. Ia seperti menyimpan aroma yang hanya bisa ditembus kalbu. 




Malam harinya, selepas mandi, aku berkeliling Jl. Malioboro hingga ke area sekitar Keraton. Aku menyewa becak. Melintasi malam di kota yang sedang berubah. Bangunan-bangunan tua berhimpitan. Hotel-hotel baru. Warung tenda. Pusat perbelanjaan. Angkringan, Para perempuan penjaja cinta. Kendaraan bermotor yang mengotori kota seperti daun-daun tua di taman bunga. Ya, yogya berubah. Aku masuk ke Mirota Batik. Bukan buat cari batik. Tapi buat cari buku unik yang bisa kujadikan buku harian. Buku harianku yang lama habis, Aku mendapatkannya bersama sebuah gelang batu berwarna kuning unik yang memikatku. Lalu bersama becak, aku menuju lingkungan keraton. Bernostalgia dengan kenangan yang tersimpan di benakku beberapa tahun silam. Aku selalu suka lingkungan keraton yang tak banyak berubah. Adem dan sederhana. 

Semalam aku menginap di rumah pegawai kampus STPN. Kami berkendara menggunakan sepeda motor. Membelah jalanan kota yang macet. Orang-orang pulang bekerja. Berburu waktu. Menuju rumah mereka yang hangat. Tibalah kami di sebuah rumah mungil di perumahan  entah apa namanya. Aku lupa. Saat masuk, aku langsung tertuju pada rak buku yang sarat oleh aneka jenis buku. Tua dan baru. Lalu aku menuju lantas dua. Ada lebih banyak buku, Surga buku. Aku bermalam disana. Aku menemukan 'Bilangan FU' Ayu Utami, koleksi Pramoedya Ananta Toer, 'Budhha', 'Chentini', 'Arok Dedes', dan lain-lain. Aku mau punya semua buku itu. keindahan lain adalah, aku tidur ditemani nyanyian kodok. Nyaman rasanya. 




Sawah itu, yang diapit dua lokasi perumahan. Yang rumah-rumahnya ibarat rumah-rumahan saking kecilnya. Akan berubah suatu saat nanti. Yogya berubah umpama kota-kota lain di Nusantara. Entah menjadi apa sawah-sawah itu, jika bertahun-tahun kemudian aku mengunjungi rumah itu lagi. Sebab, aku berjanji, aku akan kembali ke kota ini. Aku bisa menikmati sendiri, atau bersama seseorang atau bersama-sama dengan banyak orang. Aku pasti kembali. Menikmatinya. Seperti bocah yang selalu merindukan lolipop. 


Yogyakarta, 8 Nopember 2013

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram