Tuhan Nomor 4

TUHAN?

Nomor 1
Tahun 2011 lalu aku masuk ke Universitas Indonesia sebagai seorang mahasiswa magister. Aku bertemu dengan seorang gadis manis yang mirip artis. Ia seorang aktivis. Suka traveling dan mendaki gunung. Suatu hari, dalam sebuah diskusi ia mempertanyakan Islam. Ia seorang Muslim. Ia, sebagai aktivis yang menjunjung tinggi keberagaman mempertanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan konvensonalitas dalam praktek keagamaan orang Islam. Kenapa orang Islam begini, begitu. Lalu saat kutanya apakah ia sholat atau tidak dia bilang tidak. Oo..

Nah, dalam hal ini kita sering mengecoh diri sendiri. Kita mempertanyakan praktek keagamaan orang lain dan kecewa saat ia tak ideal sebagaimana layaknya seorang soleh. Tetapi, apakah ia dan aku dan kami teman-temannya pernah berkaca pada diri sendiri soal praktek keagamaan kami? Sederhananya, bagaimana mungkin seorang muslim mempertanyakan praktek keagamaan Muslim lainnya saat ia secara pribadi tidak menjalankan perintah agama? Bagaimana seorang Muslim yang tidak sholat mencemooh teman muslim lainnya yang tidak sholat? bukankah itu memalukan?

Selama aku berteman dengannya, tak sekalipun aku melihat temanku itu sholat. Sebagai Muslim yang mengetahui bahwa ia seorang Muslim, aku merasa sedih. Jika ia misalnya mengingkari Islam sebagai sebuah keyakinan dan agama yang ia anut, mengapa ia mencantumkan 'Islam' sebagai agama dalam KTPnya? Bukankah pengakuan palsu bisa menciptakan kerusakan dalam tubuh Islam sendiri? 

Apakah Tuhan itu manis?

Nomor 2
Awal Nopember lalu aku bertemu dengan seorang perempuan muda. Aktivis. Dia seorang pencinta buku dan pembuat film dokumenter. Ia pendongeng. Menulis beberapa buku. Seorang blogger. Suatu kali, setelah makan siang kami bersiap mengerjakan tugas kelompok kami di kamarku. Ia berwudhu dan meminjam mukenaku. Hendak sholat rupanya. Tetapi kemudian ponselnya berdering. Panitia meminta kami segera ke ruangan dimana kami menyelenggarakan kegiatan. Ternyata waktu sudah pukul satu siang. Lalu ia bilang,  "Yuk, kebawah. Kita udah dipanggil." Katanya, sembari menyambar tasnya. "Lho, bukannya mau sholat? Sholat dulu aja kali." Kataku keheranan. Ia lalu mengatakan bahwa ia tak jadi sholat dan yang kami perlukan adalah segera meluncur ke ruangan dimana kegiatan kami diselenggarakan. Aku cuma bisa bengong, sambil kami berjalan menuju lift. 

Nomor 3
Di sebuah desa, berdiri sebuah pesantren cabang dari sebuah pesantren besar di tanah Jawa. Diseklilingnya tinggal masyarakat yang merupakan jamaah pengajian pesantren tersebut. Suatu masa, zaman berubah dan masyarakat berubah. Tantangan zaman begitu berat untuk ditaklukan. Maka tak dapat disangkal lagi kehancuran moral dan ekonomi ketika kemudian praktek riba merajalela. Tak ada tokoh masyarakat yang bergerak untuk menyelamatkan, selain dari kegiatan ceramah pada momen Jum'at-an dan pengajian mingguan. Orang-orang Muslim yang kaya tak berani merelakan hartanya untuk membantu orang-orang miskin. Makin terjerumus lah masyarakat itu kedalam perangkap lintah darat. Ia seperti kutu yang menggerogoti kulit kepala dan akar rambut. Ia juga seperti nyamuk yang menyeruput darah kita saat kita lengah. Kehancuran itu nyata, tetapi tampak tak nyata. Ia tak ubahnya api didalam sekam. Ia mencekik pelakunya dan membunuhnya pelan-pelan. Ia mengantarkan pelakunya pada murka Tuhan? 
Tetapi bagaimana jika pemimpin berotak tumpul dan tokoh masyarakat tak mampu menolong. Maka melolonglah rakyat miskin dan bodoh itu dalam penderitaan yang berbuih-buih layaknya orang keracunan. Suatu hari, salah seorang rentenir meninggal dunia. Nah, rumah duka itu sepi pelayat. Tak ubahnya rumah sepi yang ditinggal penghuninya. Kemana orang-orang? Usut punya usut, masyarakat yang saban waktunya ngaji di pesantren itu tak sudi melayat ke rumah duka.  Mereka merasa si rentenir itu tak layak mendapatkan kehormatan. Jenazah itu terlantar. Keluarganya menangis dengan pedih. Mengapa orang-orang beragama itu sedemikian kejam, membalas kejahatan di rentenir dengan kekejaman? Bukankah mengurus jenazah adalah fardhu kifayah bagi seorang Muslim? Apakah dosanya sebagai rentenir menggugurkan kewajiban tetangga Muslimnya untuk menghormatinya sebagai manusia saat ia telah menjadi jenazah? 

Nomor 4
Aku mengenal dia tahun 2007. Tak pernah kulihat ia shalat. Ia seperti kebanyakan aktivis yang menganggap remeh keyakinan sendiri, tapi membela kebebasan orang lain dalam menjalankan keyakinanya. Tak lama kudengar bahwa ia meninggal dunia. Beberapa bulan lalu. Mendadak. Tetapi, kabar baiknya, ia menjadi sering sholat setelah mengalami beberapa muntah darah. Ia memiliki sedikit kelainan pada jantungnya. Ya, ini kasus lain. 

Pertanyaannya: apakah kita 'hanya' akan kembali pada keyakinan kita hanya ketika kita tertimpa musibah dan Tuhan menjadi kabur saat kita hidup bergelimang kesenangan? 

Bandar Lampung, 13 Nopember 2013.

Sumber gambar:

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram