Tersesat di Yogyakarta



Gara-gara pengalaman kecil pagi ini, aku jadi pengen tersesat di Yogyakarta. Keinginan yang nyentrik memang, mengingat sebenarnya aku cukup takut tersasar, apalagi kalau tersasar di kota besar dan isi dompetku tipis. Jika kelak aku sengaja tersesat di Yogyakarta, cukuplah dengan menggendong satu ransel untuk menampung laptop, pakaian dan camilan; kamera; pake sepatu kets; dan uang cukup di dompet. Rasanya akan menyenangkan tersesat di kota antik yang didapuk sebagai Heart of Java. Seminggu tersesat rasanya cukup untuk mengeksplorasi hal-hal unik di kota yang selalu ramai saat musim liburan tiba.  

Hari ini aku ada kegiatan di kampus STPN di Godean. Jadi, semalam, setibanya di Yogyakarta aku menginap di kosan seorang teman di Jl. Kaliurang. Dulu, aku pernah kesana bersama temanku yang lain tak lama setelah bencana letusan gunung Merapi. Nah, karena berniat menyusuri lekuk tubuh Yogyakarta, aku memutuskan tidak menggunakan taksi menuju ke kampus. Melainkan menggunakan bus jalur 15. Bus tua dan rombeng yang seharusnya diganti oleh bus tingkat semacam bus-bus di Inggris sehingga menarik minat wisatawan lokal dan asing. Memang, menjelajahi Yogyakarta menggunakan taksi, Trans Jogja, Motor dan bus rombeng memiliki kesan masing-masing. Kadangkala, ada hal-hal yang menarik dalam masyarakat yang hanya bisa diketahui jika kita menyusuri jalanan menggunakan bir rombeng yang melewati jalur tertentu saja, dan kadangkala kalau menggunakan sepeda motor. Rasanya, saat melihat segala hal yang mungkin luput dari jangkauan mata wisatawan 'mahal' akan membuat jiwaku lebih hidup. Ya, bahwa hidup memang hidup, tak kaku sebagaimana rumah-rumah modern bergaya minimalis yang sedang digilai para pengembang perumahan. 


Saat aku keluar dari kosan temanku di Gg. Mijil, gak jauh dari toko buku Central Kampus dan Hoka-Hoka Bento Kaliurang, aku menggunakan ojek untuk mencapai Bus Shelter yang terletak di kampus UGM. Ternyata, setelah sampai di lokasi, petugasnya bilang klo gak ada layanan Trans Jogja ke arah Godean. Jadi ia menyarankanku naik bus jalur 15. Oke, meski awalnya merasa sia-sia naik ojek seharga Rp. 7.000, setidaknya aku punya pengalaman baru dengan membayar Rp. 3000 untuk mencapai Jl. Tata Bhumi dimana kampus STPN berdiri. 

Gerimis mulai memupuri kota Gudeg ini saat aku baru saja duduk di jok yang sudah mulai menipis dan rusak disana-sini. Hujan semakin deras dan menghalangi jarak pandang. Sembari melihat tanda-tanda keberadaan jalan menuju kampus STPN (sekali lagi takut tersesat), aku menikmati campur aduk pemandangan kehidupan masyarakat Yoyakarta, yang selama ini belum pernah kulihat. Misalnya, ada bangunan-bangunan tua yang nampaknya telah dialih fungsikan sebagai kafe. Rumah-rumah bergaya Belanda itu seperti memanggilku untuk datang ke masa lalu, dimana pada zaman itu, rumah-rumah itu merupakan tempat tinggal orang-orang Eropa. Juga warung-warung kecil yang bertebaran, dimana para tukang becak, tukang ojek dan supir bus rombeng menikmati sarapan dan makan siang sambil sesekali menilai perkembangan kota mereka. 

Hujan semakin deras. Aku dag dig dug. Takut tersesat. Saat bus berbelok ke satu wilayah dan aku mendapati satu tanda seperti bangunan, sungai, kampus, gedung pemerintah dan sebagainya yang pernah kulihat sebelumnya aku menjadi tenang. Saat ini, aku malas tersesat sebab hari hujan, aku ada kegiatan dan aku tak punya cukup uang untuk mengongkosi ketersesatanku. Sebab, tersesat kan butuh ongkos beberapa ribu rupiah dan tentu saja biaya makan dan minum, hahahaha. Lagi dan lagi, sambil menikmati pemandangan Yogyakarta yang semakin dingin dan basah, aku melihat-lihat tanda-tanda dimana jalan menuju kampus itu berada. Dan yup, aku sampai juga. Aku melompat keluar bus dan langsung meminta seorang tukang becak mengantarku ke kampus. 

Tetapi sebenarnya, aku tidak mau menjalani wisata 'tersesat di Yogyakarta' sendirian. Pasti bete dan nggak ada teman buat tertawa saat senang atau marah saat kecewa. Semoga, ketika wisata ini kelak siap kujalani, aku sudah punya teman seperjalanan, hehehe...

Yogyakarta, 27 Nopember 2013

Sumber gambar:

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram