Suami Idaman # 1: Lelaki Sopan dari Barat


Aku masih kecil. Gelas itu pecah didepan mataku. Pecahannya berhamburan. Seperti pecahan bintang putih diatas lantai. Orang-orang hanya berkomentar. Tidak melakukan apapun. Aku tetap saja memandanginya. Aku bertanya didalam hati, pada diriku sendiri. Mengapa gelas itu pecah. Lalu aku mendekat, mengambil satu kepingan terdekat. Jemariku terluka. Darah segar mengalir. 
_______________________________________________

Suri. Begitulah kusebut namanya dalam kisah ini. Aku mengenalnya tiga tahun lalu. Kini, akan kuceritakan kisah istimewanya padamu. Kisah cinta yang tak serupa kisah Cinderalla dan pangeran tampan yang tersihir sepatu kaca. Tak pula Habibie dan Ainun yang punya sumpah setia hingga maut memisahkan. Kisah ini, berlangsung di zaman ini. Tanpa sorot kamera, tanpa puisi pujangga dan tanpa kalimat maut penulis novel cinta. 

Suri kecil tumbuh di keluarga sederhana di suatu daerah di Sumatera. Ia sulung dari tiga bersaudara. Kedua adiknya adalah laki-laki. Ia menjadi satu-satunya peri dalam rumah itu. Ia suka membaca buku. Ia suka bertualang ke tempat-tempat dimana sebuah dongeng dikisahkan. Tetapi, ibunya bilang bahwa untuk menjadi pintar dan juara ia tak perlu buang-buang uang membeli buku-buku cerita khayali itu. Ia dan dua adiknya hanya boleh membaca buku pelajaran. Sebab disanalah ilmu. Disana pula lentera masa depan akan ditemukan. 

Suri selalu terpukau akan kisah-kisah dari negeri antah berantah. Ia selalu tersihir kehidupan orang-orang Barat yang ia lihat di film-film. Ia merasa ada tradisi yang seharusnya ada di rumahnya, tapi justru memang tak pernah hadir dalam masyarakatnya. Ia bermimpi bisa mengikuti rapat keluarga dan menyatakan pendapatnya tanpa harus patuh pada semua keputusan ayahnya. Ia bermimpi terlelap karena ayah atau ibunya membacakan berbagai dongeng padanya. Ia bermimpi untuk mengunjungi tempat-tempat yang ada dalam buku cerita atau pun di film-film Barat. Baginya Barat itu unik. Misteri. Sebab apa yang ada di Barat tak pernah ia lihat di kampung halamannya. 

Lalu, keluarganya pindah ke daerah pantai barat. Tak jauh rumahnya dari Samudera Hindia. Ia bisa melihat beberapa lelaki asing yang tinggi. Sesekali, ia dan temannya memanggil turis itu nakal. "Hai Mister...." teriaknya dengan seorang temannya. Mereka mendekat pada lelaki asing itu dan memegang tangannya. Ia melihat bahwa kulitnya berbeda dengan milik lelaki asing itu. Ia pun bertekad untuk bertemu lebih banyak orang asing dan melanjutkan sekolah ke jurusan Bahasa Inggris, sedangkan temannya ke jurusan Matematika. Ia berharap bahwa suatu saat ia akan ke negeri Barat, dimana banyak cerita dibangun dan menyihirnya. 

Dalam berbagai film tentang dunia Barat yang ditontonnya, ia sering terpikat pada peristiwa pernikahan. Maka ia pun membayangkan bahwa kelak ia akan menikah dengan lelaki asing. Mungkin yang bermata biru atau hijau. Ia tersihir dengan cerita-cerita itu. Ia ingin masuk kedalam cerita mereka. Ia ingin menjadi bagiannya. Ia ingin menjadi salah satu puteri. Ia tak mungkin mewujudkannya dengan orang-orang seperti yang ia selalu lihat di kampungnya. 

Tumbuhlah ia menjadi gadis manis. Banyak jejaka memujanya. Tetapi ia tak bergeming. Ia bercita-cita ingin merayakan ulang tahunnya di luar negeri. Ia ingin bertemu lebih banyak orang asing. Ia ingin menikah dengan orang asing. Lalu ia bekerja di sebuah perusahaan penerbitan ternama di negeri ini. Menjadi seorang editor. Terwujudlah satu keinginannya untuk bertemu banyak orang asing. Baginya asyik bekerjasama dengan orang asing. Dengan demikian ia bisa melihat sisi lain dunia. Lalu, ia bingung harus kemana merayakan ulang tahunnya yang ke 30. Ia tak punya uang cukup untuk sekedar berlibur ke luar negeri. Tetapi saat itu usianya sudah 29. Ia pun menerima saran teman-teman kerjanya. Bahwa ia bisa menabung selama beberapa bulan untuk mengumpulkan ongkos berlibur ke luar negeri. Menabunglah ia. 

Tak lama kemudian, ia menerima pemberitahuan penerimaan beasiswa internasional. Ia lolos. Teman-temannya mengucapkan selamat. Artinya, ia bisa merayakan ulang tahunnya di luar negeri saat usia 30 persis seperti mimpinya. Bahkan tanpa harus menggunakan uang tabungannya. Tahun 2011 berangkatlah ia untuk melanjutkan studi Master ke Amerika, sponsornya yang beasiswa internasional itu. Ke sebuah kampus bergengsi di wilayah barat daya Amerika. Sangat bergengsi. Ia pun bahagia. Ia melakukan perjalanan ke benua terjauh. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ia pun sibuk mempersiapkan studinya. Merajut mimpi baru di tanah Barat yang film-filmnya tersimpan di memorinya. 

Teman masa kecilnya, yang juga tetangganya, yang dulu suka berlari-lari dengannya di pantai sambil memanggil para wisatawan asing menghubunginya. Ia mengingatkannya kembali tentang mimpi masa kecilnya. Berjodoh dan menikah dengan orang asing. Ia kemudian bertekad mewujudkan mimpinya untuk menikah dengan lelaki asing. Lalu ia mulai bergaul, mencari belahan jiwanya. Tak mungkin baginya menjadi pasif dan menunggu. Memangnya siapa yang datang jika tak jelas siapa yang ditunggu? Ia kemudian bertemu seseorang, sebut saja Al. Ia teman sekelas temannya, sebut saja Mim,  yang sesama penerima beasiswa asing itu. Mim tak mendukung Suri pacaran dengan Al. Mim pikir Al bukan lelaki baik buat Suri. Benar saja, pada kencan ketiga Al meminta hubungan seks dengan Suri, meski dalam pertemuan awal mereka Suri sudah mengatakan bahwa mereka pacaran tanpa seks diluar pernikahan. Al, orang Amerika, tak setuju. Dan mereka putus. Patah hati ia. Murung. Ia merasa kalah. Mengapa bukan aku yang memutuskan lelaki yang dipikirannya cuma seks? begitu ia mengutuk dirinya sendiri dalam penyesalan. 

Melihat Suri galau, beberapa temannya memberinya petunjuk. Ada beberapa lembaga mak comblang online yang bisa Suri ikuti untuk bertemu belahan jiwanya. Ia pun bergabung dengan sebuah program online dating berbayar. Ia menulis resume-nya. Juga menulis kriteria belahan jiwanya. Misalnya, ia menulis bahwa lelaki itu harus bergelar Ph.D atau sedang menempuh studi Ph.D; tidak merokok; mapan; tinggi; inetelektual dan berwawasan luas termasuk wawasan kultural; dan sebagainya. Seminggu kemudian, ia memperoleh respon mengejutkan. Banyak pria tertarik padanya. Dimulainya dating demi dating pada setiap akhir minggu. Tetapi, setiap pria tak sanggup jika mereka dating tapa melakukan hubungan seks. What? Apakah semua orang di Amerika ini harus menyertakan seks dalam pacaran? 

"Why?" tanya pada pria yang menginginkan Suri. "I am not mine. I have family." Suri menjelaskan bahwa seks pra nikah itu seperti, ya, bukan saja melukai harga dirinya, juga keluarganya dan masyarakat Indonesia yang selama ini dikenal menjaga norma sosial dan agama dengan ketat. Suri jengah dengan gaya dating seperti itu. Bukan itu keinginannya. Bukan seperti itu pangeran pujaan hatinya. Bukan seperti itu pula hubungan pra nikah yang ia harapkan. Ia pun memutuskan keluar dari program tersebut. 

Atas saran teman-temannya pula, ia bergabung ke sebuah online dating tak berbayar. Ia menemukan sebuah metode berbeda. Program yang baru ia ikuti menyertakan 60 pertanyaan untuk melihat kecocokan masing-masing orang dengan pasangan yang mereka cari. beberapa pertanyaan itu misalnya: gimana posisi dan peran keluarga?  apa pendapatmu tentang seks pra nikah? dll dll dll. Seminggu kemudian, hasilnya menunjukkan bahwa 90% jawabannya cocok dengan jawaban seorang pria bernama Bryan, katakanlah begitu, dan mereka mulai berkomunikasi. 

Pertama-tama, Bryan memberikan surat elektronik yang berisi banyak pertanyaan ke email Suri. Saat itu ia sedang banyak paper dan harus konsentrasi pada studinya. Seminggu kemudian ia membaca kembali surat dari Bryan dan menjawab hal-hal yang penting saja. Lalu mereka memutuskan untuk bertemu. Saat itu, Suri mengijinkan Bryan menjemputnya di apartemennya untuk hang out ke sebuah tempat. Makan es krim dan mengobrol. Itulah pertama kalinya dalam sejarah dating-nya, ia mengizinkan teman kencannya menjemputnya ke apartemennya. Sebelumnya, ia selalu meminta teman dating-nya menemuinya di tempat lain, khawatir kepergok teman-temannya. Suri merasa nyaman dengan Bryan sejak pandangan pertama. Lelaki tinggi, tampan dan punya senyum manis. Itu impiannya. Suri terpana saat melihat lelaki itu datang dari kejauhan, sebagai titik kecil yang menjelma pangeran impiannya.

Apakah bisa sang pangeran melompat dari komputer? 
ya, Suri menemukannya. 
"Hei...." Sapanya untuk pertama kalinya pada Bryan. Ia merasa malu sendiri dengan suaranya yang renyah dan manja. "Hei.." Brian membalasnya dengan senyum renyah, setelah ia mampu menyeimbangkan dirinya dari keterkejutan karena bertemu dengan gadis manis Asia yang ditunggunya selama ini. Mereka merasa telah saling mengenal dimasa lalu. Mereka merasa saling menemukan. Mereka lalu berjalan-jalan ke taman dan menikmati es krim sambil mengobrol. Bryan memperlihatkan photo-photo keponakannya yang lucu dari ponselnya. 

"I had fun with you." Kata Bryan saat mereka hendak mengakhiri pertemuan pertama mereka. Dalam budaya Barat, perkataan itu adalah sebuah pesan tak langsung bahwa seseorang senang bertemu denganmu dan ingin bertemu kembali di lain waktu. Suri pun merasa pertemuan itu membuatnya nyaman dan bahagia. Ini pertama kalinya baginya sebahagia itu. "Me too." Suri membalas. Ia berharap semoga Bryan cocok untuknya. Pangeran impiannya. Ia seperti menjadi Cinderella yang ditemukan pangeran impiannya tanpa harus buru-buru pulang dari pesta sehingga meninggalkan sepatu kaca dengan ceroboh. 

Setiap minggu mereka dating. Suri semakin nyaman dengan Bryan. Mereka pun menjalani dating konservastif bagi pergaulan zaman sekarang. Anti mainstream. Mereka tidak ke diskotik atau ke bar untuk hura-hura, mabuk dan melakukan seks bebas. Layaknya anak muda metropolitan di Amerika. Mereka ke Gereja bersama, ke perpustakaan bersama meski hanya untuk meminjam sebuah kaset, menonton film bersama, makan es krim bersama, mengkaji Bible bersama, mengerjakan paper bersama dan hal-hal lain yang sama sekali berbeda dalam sistem kencan di Amerika. Sekali waktu, bahkan Bryan mengenalkan Suri pada keluarganya dan mereka berkomunikasi melalui Skype karena keluarganya tinggal di Arizona. Kali lain, Bryan membawa Suri ke rumah keluarganya saat libur musim panas. Keluarganya menyambut Suri hangat, seperti seorang puteri yang hilang bertahun-tahun lamanya. Ia juga memiliki beberapa kemiripan dengan ibu Bryan dan membuat Bryan meyakini bahwa Suri memang perempuan pilihannya, setelah ia melakukan banyak dating melelahkan sebagaimana yang pernah Suri alami dalam proses pencarian mereka. 

Suatu hari, Suri bertanya pada Bryan. Mengapa lelaki itu memilihnya. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa Bryan tak main-main dengannya. Sebab di usianya saat itu ia bukan lagi sedang mencari pacar,  bukan hendak menenggelamkan diri dalam having fun dan menjalin kisah cinta picisan, tetapi ia telah siap lahir batin untuk sebuah pernikahan. 


"Why me?" Tanya Suri. Ia hanya ingin meyakinkan perasaannya. Ia berharap semua yang hadir dalam hidupnya saat itu bukan mimpi. Bukan dongeng. 
"First, because you're cute. And, because we share the same value." Pangerannya meyakinkannya. Matanya yang lembut menusuk mata Suri. Ya, mungkin saja benar bahwa Tuhan menjawab doa masa kecilnya. Ia kini menemukan impiannya.


Suri bilang bahwa untuk mencapai belahan jiwa kita, kita memang harus menentukan kriteria apa yang ingin kita temukan dari dia. Kita juga harus dengan percaya diri menyatakan bahwa kepribadian kita layak masuk dalam daftar kriteria yang dibuat oleh seseorang yang mencari kita. Misalnya, ia telah menemukan bahwa ia dan Bryan memiliki kesamaan pandangan dalam hal alkohol, free seks, ilmu, pernikahan, keluarga, cinta dan banyak hal. Ia merasa bahwa, ya, ia dan Bryan benar-benar telah menemukan belahan jiwa yang sempat terpisah dan siap untuk bersatu menjadi utuh.

Saat ini, Suri sedang memendam kerinduan yang dalam. Ia ingin segera menikah dengan Bryan. Tetapi, ia harus tinggal selama 2 tahun di Indonesia untuk memenuhi komitmen sosial sebagai penerima beasiswa asing itu.  Setiap hari Ia dan Bryan saling berbicara dan menyampaikan kerinduan melalui telepon. Sesekali ia juga bercakap-cakap dengan orangtua Bryan dan sangat perhatian padanya. Ia berharap, bahwa Bryan menjadi bagian hidupnya dan temannya menjalani sisa hidup. Jadi, sekarang Suri menjalani Long Distance Relationship...

Kisah ini belum selesai. Bisa jadi bersambung di episode selanjutnya. Apakah mungkin kita menunggu Suri dan Bryan untuk menikah di dua tahun mendatang? who knows?

***
Suami Idaman adalah serial terbaruku di blog ini setelah Ben dan Juwita. Mengapa Suami Idaman? Karena aku hendak mengumpulkan kisah-kisah para perempuan yang menemukan suami idaman mereka dengan cara sederhana, atau rumit dan penuh perjuangan. Setiap perempuan memiliki kisahnya masing-masing dan kisah-kisah mereka mungkin saja menjadi inspirasi. 

Ciputat, 19 Nopember 2013
-Ngetik di pagi buta. Ya maklum, ceritanya baru selesai dikisahkan sama yang punya, yang namanya kuganti jadi Suri. Dan aku lagi susah tidur-

Sumber gambar:


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram