Sebelik Sumpah, Sesuci Rimba Sumatera

Saat aku mengikuti diskusi dan bedah buku "Mau Kemana Minangkabau?" Yang paling menarik dari bedah buku ini adalah selain judulnya memang menarik, juga panggungnya yang berhias pelaminan pada pesta-pesta pernikahan adat Sumatera Barat. Lihat, panggungnya begitu megah dan digdaya, mengingatkan kita pada keindahan budaya Sumatera dan kekayaan alamya. 
Sabtu, 16 Nopember lalu, aku dan temanku mengunjungi berbagai stand Sumatera Barat Expo di parkir timur Senayan. Ada beragam produk dari Sumatera Barat yang memikat kami. Tapi karena dompet kami tipis, kami cuma bisa berkeliling, menikmati tenun-tenun indah sambil menelan ludah. Paling-paling kami hanya bertanya, lalu mencicipi aneka keripik yang dijajakan di berbagai stand sambil memuji, "Enak ya, gimana bikinnya? punya kartu nama? siapa tahu nanti kami bisa belajar dan mengundang uni dan uda sebagai guru." Bah! kapan pula aku punya modal untuk membangun usaha mandiri sedangkan sebidang tanah yang kupunya saja sudah menjadi tabungan kayu. Ya begitulah, aku dan temanku itu tak bisa membeli barang-barang khas Sumatera Barat yang eksotik dan unik. Bahkan kami harus menelan ludah lebih banyak saat mampir di stand Aceh dan Kalimantan, dimana ada tas etnik dan barang-barang lain yang unik yang sangat ingin kami miliki tapi tak bisa kami beli. Dompet kami sedang tipis.


Lalu kami berkunjung ke stand dari provinsi Jambi dan melihat gelang dari bahan Sebelik Sumpah. Kami mencoba gelang itu di pergelangan tangan kami dan merasakan keajaiban. Ada aliran dingin yang menyentuh kulit kami. Itu seperti meletakkan sebongkah batu es diatas kulit kami. Ya, batu-batu kecil itu mengalirkan hawa dingin, seperti kami tercebur ke sungai-sungai dingin di rimba Sumatera. Aku dan temanku memutuskan membeli dua gelang dengan batu kehijau-hijauan. Niatnya sih buat mempercantik penampilan dan tentu saja membantu Orang Rimba mempromosikan produk lokal mereka. 


Gelang Sebelik Sumpah
Sebelim Sumpah, dalam keyakinan Orang Rimba adalah semacam alat perlindungan dari perilaku jahat pihak lain. Berasal dari biji-bijian endemik rimba bukit 12, Sebelik Sumpah menjadi aksesoris yang apik dan unik. Siapa lagi coba yang mau menghargai budaya lokal bangsa ini kalau bukan kita, sedangkan begitu banyak barang impor yang murah dan menyilaukan mata. Sebelik sumpah, yang sesekali melingkar di pergelangan tanganku menjadi saksi bahwa aku menjadi bagian dari cinta Orang Rimba atas rumah mereka yang sejak beberapa tahun terakhir diusik oleh invasi perkebunan sawit. Dengan memakai gelang itu, aku sedang mengumumkan posisiku dalam percaturan antara Orang Rimba dan pengusaha perkebunan sawit. Yeah, semoga keberpihakanku ini memberi andil dalam perjuangan mereka menegakkan hak-hak rakyat dalam akses kelola lahan. 


Kita, yang katanya mencintai bangsa ini, harus mampu membuktikan cinta yang kita dengungkan. Membeli produk lokal sama dengan memberi peluang saudara sebangsa kita untuk bangkit dan menegakkan kehormatan diatas bangsa lain yang seringkali produknya kita puja bagai nirwana. Semoga ini menjadi pelajaran bagiku bukan saja soal menghargai budaya dan kekayaan bangsa sendiri, juga soal keadilan atas akses kelola sumber daya hutan dan sumber daya alam. Tabik



Ciputat, 18 Nopember 2013


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram