Lelaki Baik dan Sekumpulan Cinta




"Bang Ndut." Begitulah aku menyapa lelaki bernama Ade Zakaria sejak pertama kali bertemu dengannya. Ya, sebagaimana orang lain akui, kuakui bahwa ia orang baik. Mungkin tahun 2007 atau 2008. Waktu itu aku baru menjadi relawan WALHI dan pernah beberapa bulan lamanya mengumpulkan rupiah dari kegiatan menjadi fasilitator lapangan pada out bond yang dikelolanya di sebuah lokasi wisata di kota Natar. Santai, tidak pelit, suka melucu dan tegas memegang prinsip. Begitulah aku mengenalnya. Ya, intinya lelaki itu orang baik. 



Suatu hari aku menerima sebuah pesan singkat bahwa lelaki baik itu meninggal dunia. Mendadak. Di Kalimantan, saat ia sedang melakukan sebuah pekerjaan. Aku duduk di kursi di kamarku. Memandangi isi pesan itu. Menepuk pipiku beberapa kali. Tak percaya. Telah banyak kusaksikan kematian. Bahkan mereka yang paling dekat denganku. Rasanya, setiap berita semacam mendatangiku, rasanya aku ditelanjangi oleh sebilah pisau yang mengelupas selembar demi selembar keberanianku. Seperti ketika kita mengupas kulit bawang. Ketika mereka pergi, aku takut ditinggalkan bersama orang-orang jahat, sedang aku belumlah menjadi orang baik. Dalam beberapa tahun saja, beberapa orang baik yang baru kukenal pergi dari dunia ini, bersama isak tangis dan keterkejutan orang-orang yang mencintainya. Yang kehilangan bukan saja keluarga dan sahabatnya, juga komunitas dan organisasi dimana orang-orang baik seperti dia berbakti pada negeri. 



Apakah Tuhan sedang memberi pelajaran pada kita dengan memanggil orang-orang baik untuk tak berlama-lama hidup dengan rasa sakit di dunia ini? Apakah Tuhan akan mengambil semua orang baik sebelum aku menjalani masa tuaku? 
Saat Jenazahnya tiba...
Tetapi, dalam masa berkabung itu, aku belum sempat singgah ke rumahnya. Dimana istri dan dua anaknya menyelubungi diri mereka dengan airmata yang kesedihan yang tak usai. Ya, siapapun akan berat ditinggalkan orang baik seperti dia. Ada saja hal-hal yang menghalangiku. Meski begitu, aku menangis di kamarku, sendiri, saat menyaksikan betapa begitu banyak orang yang mencintainya, bahkan setelah kematiannya.  Pernahkah dalam dunia ada ada sekelompok orang yang membuat film dan mengadakan pertemuan sahabat dalam skala besar untuk memperingati kematian seseorang selain dia, dan orang-orang tersohor di dunia karena kekayaan mereka? Ini pertama kalinya bagiku. 

Inilah ungkapan jujur istrinya dalam akun Facebooknya
Puisi dari temannya
Ungkapan sahabatnya yang lain
Klik: ADE ZAKARIA untuk menyaksikan bagaimana film yang dibuat itu menyiratkan cinta dari orang-orang yang mengenalnya sepanjang hidupnya.  

Para keluarga, sahabat, kolega dan orang-orang yang mencintainya memperingati 40 hari kematiannya denan mengadakan berbagai kegiatan. Ini momen berkumpulnya para pecinta kebaikannya. Sayangnya, hari itu aku sedang di kota lain. 
Semoga lelaki baik itu mendapat tempat terbaik disisi Allah SWT, dan memberikan syafaat kepada keluarga yang ditinggalkannya. Semoga semua kebaikannya menjadi teladan bagi semua orang yang mengenalnya, termasuk aku...


Bandar Lampung, 11 Nopember 2013



Sumber gambar:

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram