Kembang Harapan di Pasar Rakyat


Kemarin pagi, aku dan temanku berbelanja bahan makanan di sebuah pasar di Ciputat, Tangareng Selatan. Pasar tradisional yang jorok, tua dan kumal itu dipadati penjual dan pembeli yang saling menawar. Begitu hidup. Begitu bergariah. Semua bebauan bercampur aduk. Selintas semilir wangi, dan lainnya bau busuk yang membuat perutku berontak. Kami berdua berjingkat di pasar yang berlumpur hitam. Dalam perjalanan itu, aku bertanya pada diriku sendiri tentang absennya pemerintah dalam mengelola pasar dimana ribuan rakyat kecil bertransaksi untuk menyambung hidup. Pasar itu begitu busuk, tua dan seperti ada di dunia lain dalam modernitas kota di perbatasan Jakarta itu. 

Aku dan temanku berkeliling mencari bahan makanan yang segar dan murah. Kami menawar harga tomat, bengkoang, jahe, ikan teri, cabe, bawang, dan terong belanda. Satu kali kami memasuki toko penjual ikan asin dan ikan teri. Ada banyak tumpukan ikan teri dengan beraga kualitas dan harga. Kami bertanya soal harga dan kualitas ikan teri, sebab mataku bertumpu 


pada beberapa ikan teri yang berbeda warna. 
"Itu ikan teri impor, mb." Kata si pedagang. 
"Masa?" Aku kan sakit hati kalau negara kita yang kaya akan hasil laut malah masak ikan teri impor. Dia kekeuh berkata itu ikan terima impor, karena berbeda dengan ikan teri dalam negeri. Aku berkata pada si pedagang bahwa mungkin tuh ikan teri ditangkap nelayan asing di perairan Indonesia dan dijual lagi ke Indonesia. 
"Bukan, mb. Ini teri impor. Itu dari Thailand. Kualitas dari sana kan lebih bagus. Disana itu yang ngelola Insinyur mb, kalau dikita kan nelayan. Makanya kualitasnya beda. Ada harga ada rupa." Katanya. Dan aku merasa sakit hati saja mendengar itu. Belum tentu juga itu ikan dari perairan Thailand. 
"Berarti ini tanggung jawab Kementerian Kelautan dan perikanan ya.." Kataku.
"Semuanya bobrok, Mb."Katanya ketus. "Pemerintah kita mah gak ada yang bener." Ia manyun sambil menimbang teri dalam negeri yang warnanya kekuningan seperti ikan asap. 

Lalu kami mengobrol soal harga Ikan laut di Papua yang segar banget. Ia bilang bahwa ikan asal Papua lebih banyak dibeli orang Filipina dibanding Indonesia bagian barat karena jarak yang dekat. Jika dijual di daerah Jawa atau Sumatera pasti akan lebih mahal karena harus bersaing dengan ikan laut dari kedua pulau tersebut plus biaya transportasi yang mahal. Pada akhirnya, meskipun kami tertarik pada tuh terima impor, kami memilih menolong nelayan Indonesia dan membeli teri murah dengan kualitas rendah. Setidaknya, kami membantu menghidupkan gairah nelayan Indonesia untuk terus menyirami kembang harapan mereka karena masih ada saudara sebangsa yang peduli produk lokal. 


Lalu kami kembali berkeliling di pasar yang becek dan bau itu. Terlintas di benakku ingin berkunjung ke Tahiland dan berbelanja di pasar tradisional di sana. Aku ingin melihat produk seperti apa yang dijual disana, apakah yang kualitas impor atau kondisinya sama saja dengan pasar lokal Indonesia. Dan semakin kami mengubek-ubek pasar, semakin kentara kalau pasar ini seperti sengaja diterlantarkan. Sumber penyakit dimana-mana. Bahan pangan segar seperti tanpa makna jika bersanding dengan kejorokan yang luar biasa itu. Pasar yang luas dan dipadati ribuan orang itu selayaknya mendapat perhatian penting pemerintah Tangsel. Bukan saja karena perputaran uang disana dipastikan tinggi, juga karena disanalah rakyat yang sesungguhnya membutuhkan pertolongan berusaha dan mengasi rezeki. 

Hari itu kami menghampiri seorang penjual petai. Tempat ia berdagang sungguh kecil dan bau. Yang ia jual hanya petai. Kami membeli petai kupas karena pengen bikin sampal petai campur ikan teri. Hatiku bergemuruh oleh pertanyaan soal penghasilan di penjual petai dan bagaimana dia menghidupi dirinya dengan hasil jualan petai yang sedikit itu. Lalu kami menghampiri seorang penjual bumbu untuk membeli cabai merah. Saat itu ia sedang merekatkan uang seribu rupiah yang sobek dengan isolasi. Miris aku melihatnya. Uang seribu rupiah sama sekali tak berharga di mata para anggota dewan yang hidup mewah, suka hura-hura dan jijik berjalan di pasar tradisional pasca pemilu berlangsung. Tetapi, bagi si pedagang, uang selembar yang hanya cukup untuk membayar 5 butir cabai itu begitu berharga. Ia melayani kami dengan khidmat dan menerima uang selembar dua ribuan dengan senyum ikhlas. Masya Allah, kemana para pejabat negara ini? kenapa mereka tak membenahi pasar busuk itu?

Lalu, kami kembali berkeliling. Mencari terasi. Tapi terasi dengan mereka yang kami maksud tak produksi lagi. Kami pun mampir ke penjual buah, membeli bengkoang buat masker wajah dan buah terong belanda buat bikin sambal terasi. Kami berjalan pulang sambil tertawa-tawa karena semua toko yang kami tanyai soal terasi mengatakan bahwa terasi yang kami cari sudah tak produksi lagi, dan semua toko itu menawarkan kami merek terasi yang lain. Saat kami berjalan pulang itu, aku melihat denyut kehidupan di mata para penjual dan pembeli yang saling menawar sambil tertawa-tawa, merayu dan sikap-sikap lainnya. 

Lihat, pasar busuk itu begitu hidup dan dinamis. Sungguh kontras dengan pasar modern yang seringkali tak ramah, dimana para pramuniaga bekerja dengan wajah ditekuk. Tak ada basa-basi diantara pembeli dan pramuniaga.Seakan-akan hidup hanya mengalir dalam selembar uang tau kartu. Aku berharap, kedepan pemerintah setempat akan memprioritaskan pembangunan pasar tradisional untuk menyokong perekonomian rakyat kecil. 

Sambal terasi terong belanda yang kami buat sepulang dari pasar. Ini resep yang diajarkan keluargaku. Rasanya unik.


Resep Sambal Terasi Terong Belanda
Bahan-bahan:
2 buah terong belanda
5 buah cabai rawit merah
5 buah cabai merah
2 siung bawang putih
2 siung bawang merah
2 sendok minyak makan
garam secukupnya
penyedap rasa secukupnya
gula secukunya
terasi seruas ibu jari

Cara membuat:
1. Cuci semua bahan kecuali terasi
2. Goreng cabai, bawang, dan terasi hingga layu
3. Setelah layu, masukkan semua bahan kedalam ulekan, campur dengan daging terong belanda, beri garam, gula dan penyedap rasa secukupnya. 
4. Ulek dengan pelan dan penuh cinta
5. Siap dinikmati bersama ikan, tahu, tempe, atau terong goreng
Ciputat, 18 Nopember 2013

Sumber gambar

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram