Keajaiban "Bismillah" Penjual Sayur


Penjual sayur dan bakulnya
Kemarin subuh, saat aku berangkat dari kosanku di Bandar Lampung ke Bandara Raden Intan, aku mendapat satu pelajaran baru. Karena aku memang tidak memegang taksi, maka aku berangkat menggunakan angkutan kota. Saat aku masuk, lalu duduk di belakang sopir sambil melipat payung (pinjaman, hihihi) seorang ibu duduk di pojok bersama sayuran. Di daerah Jl. Kikim, dekat terminal bus Rajabasa, ia turun. Pertama-tama sang sopir membantunya mengeluarkan kantong-kantong plastik basah dan berbau anyir ke atas trotoar. Kukira itu kantong-kantong yang menyimpan potongan ayam, tulang sapi dan ikan laut segar. Hujan tidak lagi deras saat ia turun, aku bersyukur bahwa ia tak akan terlalu kuyup. 

Lalu, ia mendorong bakul bambunya yang sarat sayuran. Sayuran itu selayaknya diletakkan didua bakul. Tetapi mungkin supaya lebih simpel, ia menumpuk sayurannya dan mengingatkannya ke bakulnya. Kulihat beberapa ikat besar kacang panjang, kangkung, bayam dan daun singkong. Ia mendorong bakulnya ke arah pintu. Lalu ia turun, membuka kain khas yang digunakan para penjual jamu gendong. Lalu melingkarkan kain itu ke bakulnya. Saat ia merasa siap, ia mengangkat bakul itu ke punggungnya seakan-akan ia sedang menggendong bayinya. "Bismillah," ucapnya singkat saat ia mulai melangkah bersama bakul dengan segunung sayuran yang nemplok di punggugnya dan kedua tangannya menjinjing dua kantong besar ikan dan ayam. Tubuh kurusnya yang berusaha kuat membawa beban seberat itu semakin menghilang dari pandanganku saat angkot yang kutumpangi melaju semakin jauh ke arah Bundaran Rajabasa. 

Bagiku, ia adalah satu bukti bahwa perempuan Indonesia adalah pekerja keras. Ada jutaan perempuan seperti dia, yang sekaligus ibu dari seorang anak dan istri dari seorang lelaki, yang dengan jujur mengumpulkan rupiah dari menjual sayuran. Para pahlawan niaga seperti mereka biasanya bangun pada dini hari, lalu pergi ke pasar untuk membeli sayuran 'harga malam' sebelum mereka menjualnya secara eceran kepada masyarakat. Begitu terus berhari-hari dan bertahun-tahun. Ajaibnya, para petualang keajaiban kerja keras seperti mereka adalah para ibu dari anak-anak sukses dan berpendidikan tinggi di kemudian hari. Bismillah, dengan menyebut nama Allah, do'a singkat itu, yang aku yakin ia ucapkan setiap kali ia melakukan hal serupa setiap harinya, menjadi semacam tangga untuk sampai pada kasih Allah. Aku berdo'a semoga ia menjadi salah satu penghuni Surga yang paling bahagia. 

Behigilah kira-kira cara si ibu yang kulihat tadi menggelar dagangannya di lapaknya yang kecil di pinggir jalan raya atau komplek perumahan. Biasanya jam 8 pagi meeka harus segera merapikan dagangannya agar tidak kena sanksi aparat kemananan. Sebagian dari mereka yang kukenal, melanjutkan menjajakan sayurannya menggunakan sepeda motor dan keliling wilayah yang menjadi area kerjanya. Kadangkala aku berfikir, betapa beratnya beban mereka saat harus berdagang di musim penghujan. Selain lapaknya basah dan dagangannya cenderung cepat busuk, juga para pelangannya yang biasanya berkurang karena enggan keluar rumah saat hujan. 
Dalam masyarakat kita, usaha informal seperti yang dilakukan para penjual sayur seperti dia merupakan salah satu upaya memerangi menjamurnya toko-toko sayur modern yang modalnya berakumulasi pada sebagian kecil orang. Mereka, walaupun kecil lapaknya dan sedikit keuntungannya, mengajarkan kepadaku bahwa setiap orang hendaknya merdeka secara finansial dan pada usahanya sendiri. Orang-orang seperti mereka, oleh seorang kawanku, disebut sebagai pengusaha merdeka dimana ia menjalankan usahanya sendiri tanpa harus terikat pada atasan, dan tak pusing-pusing membayar karyawan. Tanpa mereka, yang menjual sayur dengan murah, dan suka memberi bonus, banyak masyarakat kecil yang selamat dari 'pemaksaan harga' oleh penjual kebutuhan pangan skala besar tanpa interaksi dan tawar menawar harga. Ya, semoga kiprah mereka dalam mata rantai ekonomi kecil ekonomi Indonesia tidak punah gara-gara menjamurnya pusat perbelajaan modern yang 'menjual apa saja'. 

Yogyakarta, 27 Nopember 2013
Sumber gambar

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram