Isi Tas Perempuan Miskin



Makan malam semalam
Sepulang rapat, aku merasa sangat lapar. Tetapi aku harus buru-buru mengenap barang-barangku sebelum berangkat ke Jakarta via bus Damri. Daripada aku masuk angin karena kelaparan dan semakin kurus,  aku mampir ke salah satu warung sate di Jl, ZA Pagar Alam, tak jauh dari kampus Umitra. Kupesan satu porsi sup kambing dan lontong sayur. Eh, si pelayan nyeletuk sama bosnya, "Mbak itu aneh, kok makan sup sama lontong." Aku diam saja. Aku nggak peduli nyambung apa enggak. Yang penting aku makan nggak pake ngunyah dalam waktu lama. Maka kumasukkan beberapa sendok acar timun yang rasanya manis, sesendok sambal yang tidak pedas kedalam piringku. Supnya lumayan asin dan kurang dagingnya. Kebanyakan tulang belulang. Lumayan lah walaupun memang lontong dan sup kambing itu nggak nyambung dan rasanya di lidah tuh jadi aneh aja, hehehe. 

Cerita ngeri semalam
"Mau kemana, Mbak?" Tanya si sopir.
"Ke Jakarta." Kataku
"Sendirian? Suaminya mana?" (emang tampangku seperti perempuan bersuami ya?hihihi)
"Di rumah." Kataku, boong 5000%. Trus geser pantat, menjauhi si sopir yang lagi celingak-celinguk ke arah belakang buat melihat angkot lain yang lewat. 
"Ngapain ke Jakarta?"
"Ada kerjaan."
"Udah punya anak?"
"Belum." (ya iya lah secara belum ada bapaknya, kwkwkwkwkwk)
"Berapa bulan sekali ke Lampung?"
"Saya orang Lampung. Kelahiran sini. Besar disini." (Nyambi mikir kapan-kapan klo pergi-pergi pengen bawa pisau lipat. Sebab kali ini cuma jarum pentul di jilbab aja.)
"Oh."
Dst....


Setelah makan, aku menuju ke stasiun KA Tanjung Karang menggunakan angkot jurusan Rajabasa-Tanjung Karang. Angkotnya butut. Nggak ada penumpangnya. Sopirnya mencurigakan.. Dan, bener aja pas dekat kampus DCC dan IBI Darmajaya, tuh angkot berhenti. Alasannya aku akan dipindah saja ke angkot lain yang lewat. Katanya, karena dia nggak bisa bawa banyak penumpang, maka dia malu pulang aja. Nah, aku kan jadi takut. Tadi itu potongan percakapan aku dan sopir angkot yang lagi nunggu angkot lain. Jujur, aku merasa agak ngeri dengan gelagat supir angkot satu ini. Imajinasiku dipenuhi kejadian-kejadian negeri para perempuan korban kejahatan seksual dan kriminalitas di angkutan umum. Pas angkot yang ditunggu datang, aku sungguh bersyukur. Akhirnya aku tiba di stasiun dengan selamat. 




100/ day

Dalam sebulan ini, aku membeli beberapa buku bagus, mendapat dua kardus buku gratis untukku pribadi dan untuk perpustakaan komunitas yang sedang kubangun. tetapi, aku tak bisa terlena dan bersenang-senang dengan semua buku itu karena aku harus menyelesaikan Tesisku terlebih dahulu dan sebuah penelitian yang lumayan terbengkalai, disamping pekerjaanku. Aku hanya bisa menyelesaikan Novel ringan bertema Cinta dan Kucing yang bikin ngakak ampe guling-guling di lantai, dan novel "Saman" Ayu Utami. Selebihnya, aku harus bisa menahan diri dari melahap semua buku itu sampai aku punya waktu luang untuk melahapnya layaknya orang kelaparan. Saat ini, aku sedang mencoba menyelesaikan buku "Anak-Anak Revolusi" tulisan Budiman Sudjatmiko yang baru bisa kubaca hingga halaman 40. 


Aku bukan perempuan kaya yang mampu menghidupi kehausannya dengan membelanjakan uangnya. Karena aku belum kaya, maka aku akan memperkaya diriku dengan membaca buku dan mengumpulkan buku. Bagiku, buku adalah teman yang tidak berisik dan tidak meninggalkanku. Ia juga kapital sosialku. Jika orang kaya membangun status sosialnya dengan uangnya. Maka aku akan membangun status sosialku dengan isi otakku dan buku-buku yang kubaca. Maka, aku berjanji, bahwa setiap hari aku harus membaca minimal 100 halaman dan mengisi tasku dengan buku yang wajib kubaca pada setiap harinya. Yup, tetap semangat dan siap tercerahkan. 



Jangan heran jika kau berkesempatan melihat tasku. Dompetku tebal, tapi isinya tipis, hehehe. Akan ada sebuah buku yang sedang kubaca pada hari saat kau membuka tasku, dan sebuah diari tipis yang memang selalu kubawa kemana-mana. Aku sedang rajin-rajinnya nulis segala aktivitasnya di buku harianku. 



Menteng, Jakarta, 14 Nopember 2013
-Nulis nyambi ngemil keripik pisang dan keripik talas, dan secangkir kopi dengan krimer, mendengarkan berbagai presentasi kawan-kawan soal pekerjaan kami kedepan-


Sumber gambar


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram