Gadis-Gadis Kelinci

Ilustrasi
Hingga usia 23 aku termasuk perempuan yang tabu membicarakan dua organ vital tubuh manusia. Apalagi dalam masyarakat Indonesia, membicarakan dua organ tubuh tersebut sering diasosiasikan sebagai hal cabul. Padahal, secara biologis keduanya memiliki fungsi yang setiap pemiliknya harus paham sebagaimana oragan tubuh lainnya. Apalagi kalau bukan payudara dan kemaluan. Keduanya memiliki nama lain yang banyak, yang berdasar pada bahasa lokal atau hal-hal cabul. Tetapi aku nggak nuli masalah itu sekarang. Yang lebih menarik perhatianku adalah hal-hal seputar jualan payudara yang bikin aku pengen banting laptop. Apa pasal? 

Ketika membuka email, sebuah website atau bahkan di mesin pencari sekalipun, aku sering merasa marah ketika gambar-gambar berbau 'jualan' payudara muncul. Ada misalnya yang berupa game 'Undress Me' atau program 'Chat'. Aku nggak ngerti itu virus atau memang iklan. Mungkin juga spam yang disebar penjahat dunia maya. Sebab, akhir-akhir ini gambar-gambarnya makin tak senonoh. Sebel banget kan klo lagi buka email ada yang begituan. Mengapa organ tubuh yang secara biologis dan kemanusiaan sangat berjasa dalam proses tumbuh kembang manusia kecil dikerdilkan hanya oleh hasrat manusia yang mencabik-cabik moral? Sebagai perempuan, aku merasa marah, terhina dan seakan-akan moralku ditelanjangi. Gimana perasaan para lelaki ya saat tampilan di email mereka ada gambar gituan? 

Orang-orang di seluruh dunia tahu bahwa simbol kebebasan seks internasional dipegang oleh perusahaan-perusahaan yang suka mengeksploitasi tubuh perempuan. Misalnya melalui majalah pria dewasa yang menampilkan photo-photo perempuan telanjang. dalam bisnis itu, perempuan bukan saja ditelanjangi tubuhnya, juga moralnya. Perempuan-perempuan muda dengan ciri-ciri tertentu menjadi semacam 'boneka' untuk memuaskan hasrat mata dan khayalan para pria dengan kesepian akut, baik mereka yang masih sendiri atau pun yang sudah berpasangan.  Seks dijadikan candu dalam alam imajinasi. Yang untung ya jelas saja si pebisnis. Mereka telah mencuci otak pembacanya dengan khayalan dan menguras uang mereka udengan menjadikan mereka pecandu majalah-majalah itu. 

Minggu lalu, aku bertemu seorang kawan yang ternyata baru mengalami sebuah pengalaman menakjubkan di Jakarta. Katanya, suatu malam ia dan seorang temannya main ke sebuah tempat semacam 'Red distric' yang ada di Belanda. Ia bukan saja pernah bertemu pagelaran tarian seks yang dilakukan perempuan-perempuan muda dalam bisnis seks di Jakarta. Perempuan-perempuan muda itu hanya menggunakan bikini, yang berfungsi menutupi dua organ vital mereka yaitu payudara dan vagina. Mereka berlenggak lenggok dan menari 'jijay' untuk menarik perhatian sekitar 5 pria jelek, gendut dan penuh nafsu yang bisa membayar mereka mahal untuk sekedar mengobrol, menuangkan minuman beralkohol, ditemani bernyanyi, atau pun melakukan transaksi lain yang hanya diketahui si model dan si 'om' klien. Yang paling mahal membayar katanya akan mendapatkan gadis yang paling aduhai. Ya, mungkin serupa dengan lelang. 

Katanya, temanku itu juga mencoba berinteraksi dengan mereka untuk memperoleh keterangan seputar bisnis mereka. Waktu itu, katanya dia dan temannya ditemani para gadis telanjang itu karokean. Nyanyi-nyanyi nggak jelas. Cerita-ceritanya membuatku bergidik ngeri seperti dikejar-kejar hantu berkepala 1000. Aku jadi bertanya, siapa perempuan-perempuan muda itu? mahasiswa kah? gadis miskin nan molek dari desa yang butuh uang? gadis polos yang tiba-tiba kehilangan rasa malu? rasa semacam apa yang terangkum didalam hati dan ingatan mereka? pernahkah aku bertemu salah satu diantara mereka dalam kesemrawutan Jakarta saat mereka masih berupa gadis manis berpakaian modis? Apakah ada salah satu diantara mereka sesungguhnya orang yang kukenal? 

Cerita-Cerita lainnya yang lebih ngeri juga bergulir, juga dari temanku yang lain. Di satu kawasan yang sangat terkenal di Jakarta juga ada bisnis begituan yang terkenal di kalangan tertentu, termasuk dikalangan bule tua bangkotan yang butuh gadis segar Indonesia. Katanya, siapapun yang masuk kesana harus menanggalkan pakaian mereka. Aduh mak, macam masuk ke pemandian umum di Jepang saja ya! Disana, banyak riset dilakukan para pria. Termasuk seorang pria dari sebuah lembaga tinggi negara. Bukan cuma kecabulan dan seks yang menciptakan aroma anyir moral disana, juga transaksi moral. Mungkinkah orang yang kesana adalah orang-orang yang sedang berproses dalam kejatuhan moral? 

Banyak manusia-manusia polos Indonesia yang mungkin tak tahu kenyataan ini, dimana mereka masih percaya bahwa moral manusia Indonesia itu jauh lebih bersih dibanding orang-orang Barat atau negara lain di kawasan Timur. Aku membayangkan jika Indonesia menjadi negara terbuka dalam hal eksploitasi tubuh dan negara menginzinkan masyarakatnya meninggalkan norma-norma yang selama ini berlaku, bisa jadi beberapa kawasan tertentu akan berubah menjadi 'Red Distric' terkenal di kawasan Asia. Bisnis seputar seks yang selama ini dijalankan secara rapi dan hati-hati akan membuka diri, menelanjangi pakaian moral bangsa. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa bangsa religius seperti Indonesia nggak akan ketiban sial dengan kerusakan moral yang kini membabi buta. 

Ketelanjangan seorang perempuan atau laki-laki bukanlah sebuah dosa dalam aspek tertentu, apalagi kalau mereka suami-istri. Sebab pada dasarnya kita semua telanjang. Dihadapan Tuhan kita telanjang. Tak ada yang bisa disembunyikan dari Tuhan meski secara fisik kita menggunakan pakaian yang kita buat dari kapas. Tetapi ketika ketelanjangan itu menjadi semacam perusak bagi sucinya jiwa manusia, maka itu bukan saja akan menyakiti diri sendiri, juga keseluruhan komponen masyarakat. Ketelanjangan berbasis uang misalnya, memangnya dengan apa lagi bisa harus menamainya selain 'prostitusi'? Terselubung atau terang-terangan, kelas kakap atau kelas teri, kelas hotel berbintang atau kelas kolong jembatan semua tetap sama: ketelanjangan tanpa 'hak' adalah jual diri. 

Ketika ketelanjangan itu telah menelanjangi kita melalui berbagai aplikasi di gadget yang kita miliki, semacam iklan atau virus yang menyerang email kita misalnya, bukan tak mungkin manusia-manusia polos akan keluar kandang dan tergoda untuk mencoba dunia panas yang sudah Tuhan wanti-wanti untuk tidak dimasuki. Kita tak bisa mengelak lagi, sebab korban terus berjatuhan. Yang paling mengenaskan adalah dunia selalu menuding perempuan sebagai penjahatnya, baik ketika mereka menjadi pelaku secara sukarela ataupun menjadi korban atas sebuah tindakan yang memaksa. Dampaknya mengular, seperti virus berakar sejuta yang terus mencari mangsa. Korbannya kini bukan lagi perempuan muda dengan payudara segarnya, tapi bayi mungil yang belum bisa melakukan apa-apa. 

Kadangkala, kita yang berusaha bersih ketiban sial juga di hari-hari konyol yang tak pernah kita prediksi. Seorang temanku misalnya, ia bercerita bahwa suatu hari ia mendapat kabar bahwa anak lelakinya yang masih SD mengaku bahwa ia pernah menonton film porno. Kok bisa? ya, ia disodori film itu oleh teman sekolahnya sendiri melalui sebuah ponsel. Padahal, ia dan istrinya yang seorang Kristen taat telah berusaha sekuat mungkin menjaga anaknya dari asupan tindakan amoral semacam itu. Tetapi, apa mungkin orangtua sekarang bisa mengawasi anaknya selama 24 jam, sedangkan mesin penghancur moral itu tersebar melalui gadget yang bahkan kini bisa dibeli dengan harga dua ratus ribu rupiah saja? Atau seorang temanku yang sedang mengendarai motor menuju sebuah kegiatan tiba-tiba memergoki sepasang remaja berseragam putih biru sedang melakukan tindakan tak senonoh di sebuah semak-semak, dipinggir jalan. Buset dah! Mereka yang melakukan itu hanya tersenyum malu karena kepergok, sedangkan temanku merasa malu dan memacu kendaraannya, ngebut. Siapa yang berbuat dosa, siapa yang malu, sekarang sudah terbalik. Tetapi begitulah adanya.  

Gadis-gadis kelinci
Pulanglah
Ibumu menunggu
Pulanglah kedalam pelukannya
Memangnya sebahagia apa
Hidup dalam nista?
Engkau akan menua
Keriput dan jelek
Pulanglah sebelum terbuang
Sebelum segala yang tak tersembuhkan
Menjadi tak tersembuhkan

Sejak beberapa tahun lalu, dan kini meski usiaku 28 (Aku tak akan pernah malu menyebut setua apa umur ragawiku, sebab perempuan itu semakin berumur semakin matang oleh pengalaman), aku tak lagi tabu bicara soal dua organ vital itu. Toh, semua manusia baik laki-laki atau perempuan memilikinya tanpa perbedaan sejak mereka dilahirkan. Bedanya, kita telah didoktrin oleh konstruksi sosial bahwa membicarakan milik perempuan adalah tabu, cabul dan menghinakan. Padahal lihatlah, bukan perempuan saja yang kini telanjang dan menjajakan diri. Laki-laki juga. Memangnya lelaki yang cuma memakai kolor saja tidak terkesan cabul dan murahan sebagaimana perempuan yang cuma pakai bikini? 

Kini, aku lebih tertarik untuk bicara mengenai cara kita yang harus sama dalam memandang dan memperlakukan semua organ tubuh kita, apapun namanya itu. Sebab, jika satu anggota tubuh kita hilang maka kita sendiri yang susah. Apapun anggota tubuh kita, bahkan sehelai rambut sekalipun (yang lucunya tak pernah diasosiaikan sebagai sesuatu yang menarik tindakan cabul) harus dihargai dan digunakan sebagaimana Tuhan kehendaki. 

Yogyakarta, 27 Nopember 2013

Sumber gambar:

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram