Ceritaku Soal si Burung Biru


@wijatnika45
Tampilan akun Twitter-ku yang berlatar belakang lukisan aktivis bernama Andreas Iswinarto tentang kerbau-kerbau yang berkubang dibawah matahari. Aku suka sekali komposisi warna lukisan itu, dan aku mendapatkan lukisan itu dari pelukisanya langsung saat kami ngobrol di TIM, Jakarta, beberapa bulan lalu. 


Aku ingin hidup bahagia. Nggak populer. Nggak terlalu sibuk. Nggak dikerubutin teman palsu. Aku ingin hidupku berjalan penuh kesajahaan. Punya banyak waktu buat baca, nulis, masak, moto, menikmati hujan, melukis dan berkebun. Karena itulah, aku selalu mencoba untuk tidak tergiur menjadi pemilik aneka akun jejaring sosial. Sejauh ini aku hanya menggunakan Facebook, Google+, dan Linkedin. Aku juga nggak pakai BBM, meski kini katanya udah bisa didonlot bagi pemakai android. Alasanku cuma satu: aku nggak mau waktuku tersita. Apalagi dengan ping! BBM yang pasti bikin tidurku nggak nyenyak. Bahkan aku baru gabung di twitter 10 Oktober lalu, gara-gara harus ngawal kampanye soal perjuangan lingkungan hidup di Lampung. Ya, aku mulai berkicau. Dan yah, sekian persen waktuku kini teralih ke akun ini, buat berkicau dan baca informasi. Moga aja nggak menyita perhatian untuk aktivitas lain, karena aku mengelola aku lain selain akunku sendiri. 

Sekian ceritaku soal si Twitter, si burung biru yang imut. 

Depok, 5 Nopember 2013

Wijatnika Ika

1 comment:

  1. menurutku, nge-twit lebih asyik ketimbang nge-fesbuk. twitter lebih personal.

    ReplyDelete

PART OF

# # # # #

Instagram