Jadi Fasilitator Bapak-Bapak


Selama dua hari, 11-12 Oktober, aku menjadi fasilitator pembantu pada sebuah kegiatan pembuatan Rencana Strategis (Renstra) Tata Kelola Sumber Daya Hutan Gunung Rajabasa, Lampung Selatan. Kegiatan ini melibatkan para pihak seperti KPHL Dishut gunung Rajabasa. WALHI Lampung, SLPP, Mitra Bentala, Kawan Tani dan Risel Sumur Kumbang. Aku dan tiga teman lain membantu fasilitator utama dalam kegiatan ini. Setiap fasilitator akan memfasilitasi perwakilan dari tiga desa yang menjadi proyek percontohan Hutan Desa di Lampung. Idealnya sih, seluruh desa disekitar gunung Rajabasa menggunakan skema Hutan Desa dalam tata kelola sumber daya hutan, namun kami harus membuktikan efektivitas pendampingan yang kami lakukan kepada 3 desa percontohan sebelum melakukan pendampingan lanjutan pada desa-desa lainnya. Yup, inilah ceritaku

Hari pertama:
Aku dan tim berangkat dari Bandar Lampung pukul 7 pagi, dan tiba menjelang pukul 10 pagi. Perwakilan masyarakat dari 3 desa sudah berkumpul disekitar balai desa Sumur Kumbang, menunggu kami, yang mungkin dianggap terlambat. Sebagian mereka duduk-duduk sambil mengobrol di balai desa, sebagian lainnya asyik mengobrol di pinggir-pinggir jalan sambil menikmati matahari pagi di desa yang terletak di kaki gunung Rajabasa itu. Saat kami turun dari mobil, aku melihat pandangan penuh tanya dimata mereka. Siapa perempuan itu? tentu saja maksudnya aku. Setelah bersalaman dan berbasa-basi ala masyarakat setempat, segera kami menyiapkan seluruh perlengkapan mulai dari spidol, kertas plano, banner, bahan presentasi, kertas meta-plan, dan tentu saja semangat kami. Khususnya aku yang memang mempersiapkan mental double untuk berhadapan dengan 99% kaum pria selama kegiatan berlangsung. Well, selama aku punya kemampuan dan melakukan tugasku dengan baik, aku layak menjadi fasilitator mereka. 

Saat fasilitator utama memberikan arahan mengenai kegiatan kami selama dua hari
Saat aku menyampaikan materi tentang SHK dan Hutan Desa. Lihat, ada seorang peserta yang tertawa lepas! Hm, apakah dia merasa bahagia?

Setelah melakukan seremoni pembukaan kegiatan, kami, dipimpin fasilitator utama, mulai masuk ke inti kegiatan. Kepala KPHL Rajabasa memberikan keterangan mengenai pentingnya menjaga gunung Rajabasa sebagai kawasan hutan lindung yang menjadi tolak ukur keberhasilan pengelolaan hutan oleh masyarakat. Lalu, fasilitator memberikan arah kegiatan kami selama dua hari, sehingga peserta paham apa yang akan mereka pelajari dan pentingnya partisipasi penuh mereka dalam kegiatan. Lalu, aku memberikan materi mengenai Hutan Desa. Dalam kegiatan ini dan bulan-bulan selanjutnya, masyarakat merupakan subjek dari kegiatan sehingga secara teori dan hukum mereka harus paham apa yang akan mereka hadapi dan lakukan untuk kepentingan mereka sendiri. 

Pada hari pertama, kami memulai dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk membuat peta desa dan peta lahan kelola berdasarkan pengetahuan mereka. Pada momen ini, aku bisa melihat bagaimana watak masyarakat saat mereka beradu pendapat. Ada yang berpatisipasi penuh, ada yang tidak mau kalah, ada yang sabar, ada yang manggut-manggut saja, ada yang diam tak melakukan apa-apa, ada yang menyingkir dan menikmati rokoknya, ada yang sibuk memperhatikanku (maksudnya kok ini anak perempuan bisa begini?), dan ada yang selalu membantah ini-itu. Sikap-sikap semacam itu harus dihadapi dengan bijak, harus terus senyum meski mulai sangat kegerahan dan otak sudah capek. Kadangkala harus memfasilitasi pendapat yang berbeda dan menerangkan ulang hal-hal yang tidak dimengerti. Setelah setiap kelompok melakukan presentasi dan kemudian bersama-sama melakukan pembahasan, hari pertama pun dilewati dengan sukses.  
Hari Kedua: 
Sejak pukul 8-3 sore, aku sudah bersama kelompok-ku. Kami melakukan pemetaan berbagai potensi desa dan lahan kelola, membuat program kerja dan rencana tindak lanjut. Poses dihari kedua ini lumayan berat. Hari ini udara sangat panas dan angin yang bertiup dari arah gunung tidak membantu mendinginkan tubuhku, alergiku mulai kambuh (karena udara sangat panas) dan sedikit gatal dan tentu saja suaraku mulai berubah karena terus-terusan bicara dan sedikit minum. Dalam proses ini, sebagai perempuan, aku menghadapi cukup tekanan emosional, dimana aku harus bisa membuat kelompokku fokus pada apa yang menjadi tugas kami, bukan fokus padaku sebagai perempuan asing yang banyak bicara dihadapan mereka. 

 Pelajaran penting: masyarakat harus belajar dari perempuan, dan mengakui fakta bahwa perempuan bisa memimpin dan memiliki kemampuan setara dengan laki-laki..

Kelompokku ini adalah warga perwakilan desa Sumur Kumbang, yang didominasi pria berumur lebih dari 40 tahun. Gap usia, jenis kelamin, pendidikan formal dan pengalaman dalam bermasyarakat memperlihatkan padaku tentang cara pandang mereka terhadapku. Aku berusaha mengatasi jurang itu dengan menggunakan bahasa. Meskipun kami sama-sama Sunda, tetapi asal kami menunjukkan perbedaan bahasa yang kami gunakan, sebab asalku dari Tasikmalaya tak sama dengan bahasa Sunda mereka yang asal Banten. Meski demikian, mereka cukup senang dan menghargai usahaku untuk memahami mereka berdasarkan budaya lokal mereka. Selain itu, aku juga mencoba membuang jauh-jauh bahasa akademis dan bahasa kota yang tidak familiar bagi mereka. Aku selalu berusaha menggunakan bahasa yang paling sederhana dan tidak lupa meminta maaf jika aku melakukan kekeliruan. Aku mau mereka memahami bahwa mereka tidak harus tunduk patuh dan menerima semua omongan fasilitator, sebab mereka punya hak untuk berpendapat, mengkritisi dan diperhatikan. Dan, kegiatan kami berakhir setelah rencana tindak lanjut dibuat dan masyarakat sepakat untuk bergerak, memulai lembaran baru hidup mereka. 

Membantu peserta yang tidak bisa menulis untuk menuliskan pendapatnya...
 Photo bersama usai kegiatan....

Dalam kegiatan ini, aku adalah satu-satunya perempuan. Bukan berarti, aku menihilkan peran para ibu yang memasak makan siang dan makanan ringan untuk kami selama dua hari. Tapi, aku selalu merasa terganggu jika perempuan tak dilibatkan dalam kegiatan semacam ini. Jika kita menilik secara sederhana kegiatan tata kelola kebun, sangat tidak mungkin jika laki-laki melakukannya sendirian. Bagaimanapun juga, setiap keluarga pasti melibatkan perempuan dalam tata produksi di lahan kelola sebagai bagian dari manajemen ekonomi keluarga. Perempuan sama kedudukannya dengan laki-laki, maka perempuan berhak belajar dan mengetahui cara membuat peta desa, cara melakukan identifikasi potensi desa dan lahan kelola, cara menyusun program kerja dan hal-hal yang selama ini dianggap hanya bisa dilakukan laki-laki. Sebagai manajer keluarga, perempuan wajib dan harus tahu mengapa sumber-sumber air tidak boleh dimonopoli oleh kelompok atau perusahaan tertentu misalnya, perempuan juga harus tahu mekanisme pasar dan jalur distribusi hasil kebun mereka. Ah, aku benci membahas hal-hal klasik ini...

Yang nyelip:
Ba'da maghrib pada 11 Oktober, setelah mandi sore, aku dan timku melanjutkan perjalanan ke sebuah desa di kecamatan lain di Lampung Selatan. Kami diundang oleh aparat desa untuk melakukan konsultasi hukum dan tata kelola sumber daya alam di desa mereka. Wow! ini pengalaman mengangumkan. Dalam pertemuan itu, masyarakat mengaku merasa perlu meminta kami melakukan pendidikan dan pendampingan berkelanjutan untuk menyelamatkan desa mereka dari politik demokrasi 'kerbau' dan krisis pangan akibat ketidaktahuan masyarakat akan kebenaran dalam realitas Indonesia saat ini. Kami mengobrol tentang banyak hal sampai jam 10 malam. Lelah sekali, dan badanku rasanya mau remuk. Tapi, aku merasa bahagia bahwa masih ada masyarakat yang sadar bahwa Sawit itu MERUSAK!, bahwa pupuk kimia itu MERUSAK! bahwa mereka perlu menyelamatkan diri dari praktek politik BUSUK! bahwa mereka perlu pendidikan kritis dan aneka pelatihan, bahwa mereka memerlukan kami dan bahwa mereka percaya pada kami disaat banyak pihak berusaha menjatuhkan kami dan cari keuntungan dengan menjual murah nama kami. 

Bandar Lampung, 14. Oktober 2013

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram