Beautiful Icha


Icha
Sabtu, 26 Oktober lalu, untuk pertama kalinya aku bertemu gadis kecil bermata sayu bernama Icha. Umurnya 5 tahun. Ia menjadi salah satu peserta lomba menggambar yang belum sekolah. Saat peserta lainnya sibuk menggambar dan mewarnai gambarnya, Icha hanya memperhatikan mereka. Ia hanya membuat beberapa coretan berwarna di kertas gambarnya. Dibalik matanya yang sayu, ia menyimpan sesuatu. Sulit kubaca. Tetapi aku merasa sayang padanya sejak pandangan pertama. Ia seperti bintang kecil dilangit malam yang berkabut. 


Hari itu, Icha bersama Dwi, teman bermainnya yang juga bertubuh mungil, namun lebih ceriwis dan sudah sekolah, berlari kesana kemari layaknya dua anak ayam yang baru menetas. Kemana-mana mereka selalu bersama-sama. Bahkan, pada tengah malam, ketika yang lain sudah terlelap, Icha dan Dwi masih nongkrong bersama anak-anak Mapala yang nyanyi-nyanyi dan bakar jagung. Mereka berlari ke arahku dan bertanya mengapa mereka tak jadi juara menggambar. Aku sempat bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan mereka. Setelah mendengar jawabanku, mereka tertawa-tawa lalu pergi lagi sembari menikmati jagung bakar. 


Icha dan rekan-rekan menarinya
Gadis kecil itu pertama kali tiba di Lampung, saat neneknya tak kuasa membendung kesedihan atas kondisi Icha dan kakaknya yang ditinggal ibunya ke Malaysia, dan meminta anaknya membawa dua bocah malang itu pulang. "Anak saya itu menikah dengan gadis Kalimantan. Di pelosok. Kalau saya kesana harus naik sampan dan lama sekali. Istrinya itu seperti perempuan Dayak yang suka manjangin kuping itu lho." Ujar sang Nenek saat memperhatikan Icha makan nasi goreng dengan lahapnya setelah gadis kecil itu mandi. "Saya kok ngerasa ada yang nggak genah di perasaan saya. Kalau saya telpon anak saya itu bilang mereka baik-baik aja. Saya kirim orang lah kesana untuk cek apa kejadian yang sebenarnya." Lagi-lagi ia memandangi Icha yang makan dengan tenang, seperti seekor burung kecil yang mengisap madu tanaman tanpa peduli angin yang membelai.  


Mama Icha telah setahun pergi ke Malaysia saat orang suruhan di nenek tiba disana. "Ibu Icha itu kan orang Dayak yang suka manjangin anting sama emas. Dia mau punya emas banyak, buat seluruh badannya. puluhan gram nggak cukup dia, nggak kayak kita. Makanya mungkin dia pergi. lupa suami dan anak." Ayah Icha bekerja di tambang. Icha dan kakaknya tak ada yang mengurus. Seharian mereka makan seadanya. Terkadang berkeliaran di luar rumah dalam keadaan belum mandi dan sekujur badan bau pesing karena mengompol. Tak ada tetangga yang mau memandikan atau memberi makan. Kadang-kadang, saat ayahnya pulang, Icha dan kakaknya tidur tanpa makan apapun seharian, dan nasi yang ditinggalkan ayah mereka sudah basi. "Mereka itu kasihan banget. Makanya sampai sekarang kalau malam Icha pakai pempers karena kebiasaan ngompol disana, padahal udah 5 tahun umur Icha." Ujar sang nenek.  "Nggak tahulah kenapa anak saya tuh begitu. Istrinya pergi sudah setahun, nggak bisa kontak sama sekali dan ninggalin anak-anak gitu aja. Tapi yang ada dikepala anak saya itu cuma istrinya. Kayak orang stress anak saya itu mikirin istrinya."


video
Saat Icha dan teman-temannya membawakan tari Mbok Jamu di acara Milad WALHI di Desa Bandar Agung, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung

Hari itu, Icha dan Dwi membuntutiku kemana-mana. Kadang-kadang bertanya kenapa mereka tak mendapatkan hadiah padahal mereka ikut lomba menggambar, atau menunjukkan sebuah jepit rambut dan memintaku memasangnya di rambut mereka. "Kalau Icha ditanya dimana ibunya, dia bilang ibunya sudah mati." Ujar sang nenek. Lalu aku mengujinya, "Icha kangen mama gak?" dan ia hanya mengangguk malu-malu. Kupikir, sesakit apapun perasaan seorang anak saat ditinggalkan ibunya, hatinya tak akan mampu melupakan ibunya. Ia akan terus menginginkan ibunya, meski disaat bersamaan ia merasa benci karena ditinggalkan tanpa alasan dan tanpa komunikasi. Aku rasa itu. 


Aku berharap, apapun bentuk masa depan yang kelak Icha miliki, ia akan tumbuh menjadi perempuan yang optimis, bahagia dan mandiri. 



Bandar Lampung, 29 Oktober 2013

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram