Thesis : Super Mandeg


Sampai hari ini nggak banyak perkembangan berarti dari Tesisku. Ya, ada sih yang dikerjain, tapi gak signifikan. Nggak memuaskan. Apalagi kan pasca lebaran lokasi penelitianku memanas akibat upaya penertiban yang dilakukan tim gabungan. Duh, jadinya ngumpet dulu deh. Sayang ke ke sana buat buang nyabung nyawa, hehehehehe. Gak gitu-gitu amat sih sebenarnya, cuma ya kayaknya suasananya gak pas aja. Di lapangan lagi sengit, musim kemarau yang panasnya bikin mendidih dan kulitku gatal-gatal, lagi males-malesnya dan ya ada kerjaan baru yang bikin perhatian dan konsentrasi teralihkan. 

Dua mingguan ini aku malah sibuk sama aneka agenda masa depan. Selain mengirimkan proposal donasi buku kemana-mana buat perpustakaan komunitas yang sedang kugagas, ngerjain proposal pesanan bos, bikin makalah buat ikut konferensi internasional, nulis hasil riset bareng kawan, melamar beasiswa buat ikutan short course di Belanda dan di Yogyakarta, juga kepikiran buat lanjut another master degree. Incarannya sih beasiswa dari The Asean Foundation. Sekolahnya di NUS, Singapura. Asyik kali ya belajar Development Studies dalam kelas internasional yang super kompetitif, pasti berasa semakin semangat muda, hihihi. Alasannya karena aku gak puas dengan studiku selama di UI. Entah kenapa, pokoknya gak puas. Ya, meksi aku sadar klo sekolah ke Singapura itu sama halnya sekolah ke Eropa kali ya: Bahasa Inggrisnya itu loh, harus bagus untuk academic purpose. Hm, apapun hasilnya nanti, dari semua rencana-rencana itu, yang penting dijalanin dulu. 

Alasan lain buat lanjut S2 lagi sih buat persiapan untuk rencana lanjut sekolah S3. Setidaknya kan pengalaman belajar di iklim internasional bisa bikin aku punya perencanaan matang. Lagipula S3 itu kan lama. Singapura kan gak jauh, pulang sesekali ke Indonesia juga gak terlalu mahal, jadi kerjaan di Lampung bisa tetep dijalanin. Hm, pede banget ya. Hm, ya pede-pede aja lagi. Klo gak pede, nggak ada yang bisa nolong orang miskin kayak aku. Setiap orang miskin kan harus bangkit atas namanya sendiri, beda sama orang kaya yang bisa bangkit karena nama keluargya. Perbedaan itulah yang membuatku pantang menyerah. Apalagi kan sekarang Rupiah-Dollar Amerika gila-gilaan, serem bener kayaknya hidup ini. Tempe-tahu aja nggak ada di meja makan, ngenes banget kan?

Balik lagi ke Tesis. Pembimbing Tesisku itu baik. Sejak awal bimbingan beliau bilang via email aja, soalnya sayang kertasnya. Lagian klo bimbingan paling lama 20 menit. Ya email emang bikin simpel.  Klo dikit-dikit nge-print, kan boros. Kan kita harus hemat dan cinta lingkungan katanya. Hm, pas banget kan sama kerjaanku. 

Nah, beberapa hari yang lalu aku sempat ngobrol sama mantan direktur tempatku kerja. Dia menyarankan aku untuk ikut A, B, C, ya pokoknya posisi jabatan publik yang potensial. Hm, aku merasa masih muda dan kupikir belum waktunya aku kesana. Aku sudah punya rencana masa depan tentang jabatan publik apa yang ingin kupegang. Tapi ya aku harus mengumpulkan amunisi dulu. Masa iya mau berperang pakai modal dengkul, hehehehe. 

Ya, begitulah hidupku pasca lebaran. Besok, selama 10 hari kedepan, aku bakalan sibuk. Aku jadi anggota tim penilai lomba kebersihan se-kota Bandar Lampung. Yup, meski panas, ini waktunya cuci mata di seantero Bandar Lampung dan saatnya merekam kerusakan-kerusakan lingkungan yang mesti diadvokasi. 

Bandar Lampung, 12 September 2013

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram