Embrio Perpustakaan # 2



Berita gembira, ya, cukup gembira, meski belum bisa dikatakan semua yang tahu kisah ini mesti gembira. Dalam tulisan-tulisanku sebelumnya aku mengatakan bahwa aku bertekad membangun kampungku dengan buku. Ya, inilah saatnya. Tahun 2010 lalu, saat aku ke Jakarta lalu ke Depok untuk melanjutkan studiku setelah diterima sebagai Fellow beasiswa IFP dari the Ford Foundation, aku menitipkan koleksi buku-bukuku pada temanku. Hm, dia teman SMPku dan punya cita-cita yang sama denganku terkait buku, perpustakaan dan hal-hal berbau ilmu pengetahuan. Tetapi, hingga saat ini tak ada perkembangan yang cukup memuaskan mengenai langkah yang sudah kami mulai.

Akhirnya, aku memutuskan sebuah jalan cerdas. Ya, meski aku tahu bahwa prosesnya mungkin lebih lambat dari perjalanan seekor siput, tetapi aku selalu yakin pada prinsip 'sedikit-demi sedikit lama-lama menjadi bukit'. Maka, tahun ini aku memutuskan untuk mengulang segalanya dari awal. Langkah ini memang cukup berat saat diayunkan pertama kali, tetapi aku paham bahwa jika aku tak pernah berani melangkah maka aku tak akan pernah bisa melihat wujud impianku dimasa depan. Bukan saja karena kondisi keuangan pribadiku belum stabil (karena masih harus bayar SPP semester akhir dan proses penelitian), juga karena aku melakukan pekerjaan serupa di tempatku bekerja. Ya, dua proyek perpustakaan yang dikerjakan bersamaan.
Donal Bebek! Rp. 3.000/ eksemplar. Hm, jadi ingat waktu masih SMP, seneng banget baca komik Donal Bebek
 Dokumenter tentang kegiatan Muhammad Yunus dan Bank Kaum Miskin. Nih CD diobral Rp. 10.000/ keping. Lumayan lah ngirit..
Supaya anak-anak kecil pada suka pelajaran Geografi.
Ada berbagai alasan mengapa aku memilih untuk mengorbankan kesenangan pribadiku demi mewujudkan impianku yang sebenarnya lebih banyak berguna untuk masyarakat dibanding untuk diriku sendiri. Pertama, kampung halamanku itu, sejak 22 tahun lalu, yaitu sejak aku mengenal bangku sekolah, tidak banyak berkembang alias mandeg. Orang-orang yang sekolah kebanyakan tak kembali lagi, tidak meninggalkan jejak kecerdasan mereka kecuali kenangan-kenangan masa kecil kami. Tak ubahnya kulit kacang yang ditinggalkan isinya, tak tahu rimbanya. Dalam keadaan ini aku memandang bahwa kecerdasan warganya tak menguntungkan desaku. Orang-orang cerdas hidup untuk diri mereka sendiri dan untuk bos-bos yang membayar tenaga mereka ditempat mereka bekerja. Maka, aku tak ingin menjadi orang-orang yang kubicarakan itu. Minimal aku harus memberi sesuatu yang bermanfaat, toh, kampungku itu akan menjadi tempatku pulang selamanya. 


Kedua, saat sebuah PLTA dibangun yang menyebabkan terendamnya 240 ha sawah dan terhentinya sekian persen kegiatan pesawahan, roda ekonomi di kampungku mandeg. Sejak itu, hampir seluruh penduduk desa bergantung dengan penghasilan tahunan dari tanaman musiman berupa kopi dan lada. Dan kenanganku tentang sungai Way Besai yang jernih umpama cermin, kegiatan di sawah dan mengejar itik berhenti saat itu juga. Rasanya sebagian hidup kami tercerabut. Sementara anak-anak muda yang tak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang universitas memilih untuk merantau, bekerja di pabrik-pabrik di Batam atau Jakarta dan sekitarnya. Bagi mereka, kampung hanya merupakan tempat mudik selama beberapa hari saat Lebaran tiba. Sisanya, hanya orang-orang yang setia bertahan hidup dari sektor pertanian yang tetap tinggal. Oleh karena itulah, semakin hari praktek ekonomi kotor bermunculan dan kegiatan para rentenir tak terelakan. Orang yang tidak terjebak rantai renternir hanya bisa dihitung jari. Tetapi kadangkala, mereka yang tak terjebak jurang riba itu pun melakukan praktek ekonomi kotor yang lain. Ya, berita-berita semacam itu, yang menyebar dari mulut ke mulut, membuatku resah. Sementara, tiga institusi Pesantren di dua desa tak mampu membendung praktek haram itu, sebab kebanyakan orang-orang Santri adalah yang berpenghasilan lemah. Miris sekali. Karena itulah aku ingin masuk melalui buku, meski aku tahu aku belum bisa menjadi teladan meski level pendidikan formalku lebih tinggi dari mereka semua. Setidaknya, aku sedang membuat jalan untuk sebuah perbaikan. Dan aku berharap, ada tangan-tangan lain yang mau berjalan bersamaku. 


Sawah-sawah yang terendam itu, yang kelak entah menjadi apa karena terlalu banyak tumpukan sedimen, kini kami menyebutnya Danau Kuning
Ketiga, ketika aku masuk Universitas, banyak teman-temanku yang cerdas tak mampu melanjutkan sekolah karena alasan ekonomi. Ternyata, akhir-akhir ini aku tahu bahwa ada segudang beasiswa bagi siswa cerdas untuk belajar didalam maupun di luar negeri. Ya, informasi. Itulah yang menjadi kendala terpojoknya rekan-rekan cerdasku. Jika saja para pendahulu kami mau berbagi informasi, tentu mereka akan menikmati bangku universitas sepertiku. Oleh karena itu, aku ingin memulai langkah dan memberi jalan bagi masuknya informasi-informasi berharga itu. Aku tak mau generasi muda di kampungku tidak melanjutkan sekolah ke universitas hanya karena alasan ekonomi, sebab masa depan yang akan mereka hadapi tentu sangat kompetitif. Keempat, aku ingin selalu punya alasan untuk pulang. Ya, jika aku memiliki tanggungjawab moral atas impianku sendiri, maka tangankulah yang harus menyelesaikan misi tersebut dari awal hingga akhir, hingga semuanya benar-benar berguna. 


Saat ini, perpustakaan yang kemudian dinamai 'Bina Cendikia' ini masih berupa embrio. Buku-buku koleksinya masih berupa buku-buku koleksi pribadiku. Namun, setelah beberapa hari ini aku terus menerus berkomunikasi dengan beberapa kawan dan mengirimkan proposal donasi buku, aku mendapatkan kabar bahwa seorang kawan dari Surabaya telah mengirimkan sejumlah buku dari komunitasnya sebagai donasi. Itu langkah maju. Sebuah keajaiban. Mengapa? sebab dizaman yang sulit ini orang-orang yang masih memikirkan kepentingan orang lain itu langka. Aku berterima kasih bahwa teman tersebut mau berbagi, padahal komunitasnya sendiri sedang membangun kegiatan serupa. 


Hari ini, aku membeli 12 eksemplar komik-majalah Donal Bebek di pasar bawah Ramayana, Bandar Lampung. Saat melihatnya, aku seperti melihat masa-masa SMPku yang keranjingan membaca komik Balerina dan serial Wiro Sableng bersama seorang sahabat. Dan, aku suka sekali serial Donal Bebek, karena lucu dan menggemaskan. Nah, aku ingin membagi kesenangan itu pada anak-anak kecil di kampung halamanku. Kupikir, kegiatan membaca dan tertawa bersama beberapa kawan akan membawa dampak positif pada psikologis mereka ketimbang kecanduan acara televisi atau gadget. Kemana mencari bacaan-bacaan itu sekarang? 


Begitulah cerita hari ini. 

Bandar Lampung, 14 September 2013

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram